Nudging Policy di Masa Pandemi COVID-19

Pandemi membuat masyarakat harus melakukan perubahan perilaku dan beradaptasi dengan cepat. Dalam mendorong percepatan perilaku adaptif, langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan kebijakan yang sederhana melalui pendekatan nudge. Apa sebetulnya yang dimaksud dengan pendekatan nudging dalam kebijakan publik? Bagaimana pendekatan ini dapat membantu proses adaptif dalam masa pandemi?

Untuk mengupas persoalan tersebut, Forum Populi mengangkat tema “Nudging Policy di Masa Pandemi COVID-19” pada hari Jum’at, 3 Desember 2021 dengan narasumber Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., (Dosen Psikologi, Universitas Gadjah Mada), Dr. Ridwan (Dosen Ilmu Politik, UPN Veteran Jakarta), dan Satria Aji Imawan, S.IP., MPA (Peneliti, Magister dan Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, Universitas Gadjah Mada). Diskusi dipandu oleh Rafif Pamenang Imawan (Peneliti, Populi Center) dan dilaksanakan secara daring melalui aplikasi zoom.

Pada diskusi kali ini, Satria Aji Imawan mewakili Magister dan Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (MDKIK) Universitas Gadjah Mada menekankan bahwa pendekatan nudging pada dasarnya merupakan pendekatan psikologis dalam kebijakan publik. Apabila selama ini kebijakan publik lebih banyak didominasi oleh pendekatan yang struktural dan didasarkan pada regulasi, maka pendekatan nudging lebih banyak menekankan pada aspek psikologis. Tidak ada padanan yang serupa dalam bahasa Indonesia untuk menggambarkan kata nudging, namun dapat pula disebut bahwa nudging sebagai sebuah pendekatan yang didasarkan pada insentif psikologis.

Satria Aji Imawan mengatakan “pada pendekatan nudging, seseorang secara psikologis dipaksa untuk dapat berubah dan mengikuti perubahan tersebut tanpa sadar. Pada penerapannya, pendekatan ini sering kita lihat di pusat perbelanjaan, seperti mall. Kita secara tidak sadar mengikuti garis antrean untuk menjaga jarak atau hal lain seperti kebijakan simbol kaki di ekskalator agar penggunanya turut menjaga jarak. Pada banyak kasus, insentif yang diberikan lebih bersifat menyenangkan dan layaknya sebuah permainan, seperti tong sampah yang di atasnya diberikan ring basket, agar orang secara psikis lebih mau berpartisipasi dalam aksi memilah sampah.”

“Persoalannya pendekatan dalam kebijakan ini tidak berlangsung lama, hanya berlaku dalam satu jangka waktu tertentu. Hal ini disebabkan orang akan lebih cepat bosan dan tidak lagi mengikuti insentif psikologis yang diberikan dalam kerangka kebijakan. Hal lain yang perlu diperhatikan ada pada penerapan kebijakan yang sangat perlu untuk melihat karakteristik masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Hal ini akan sangat berpengaruh pada implementasi kebijakan pendekatan nudging.” lanjut Satria

“Dalam konteks kebijakan publik di era Pandemi. Pendekatan nudging telah banyak mendorong perubahan perilaku masyarakat, mulai dari menjaga jarak (physical distancing) hingga digitalisasi proses pemerintahan, mulai dari rapat online, hingga koordinasi berpemerintahan. Pendekatan nudging ini penting dalam penanganan kebijakan publik, terutama mengingat tantangan pandemi yang terus berubah, oleh karenanya kebijakan jangka pendek dalam model nudging dapat menjadi pilihan.” pungkas Satria

Menanggapi pemaparan tersebut, Dr. Ridwan memberi tambahan bahwa pendekatan nudging dalam kebijakan publik membutuhkan aspek alam bawah sadar untuk membuat seorang individu mengikuti implementasi kebijakan nudging secara tidak sadar. Dimensi alam bawah sadar tersebut bergantung pula pada norma yang mengatur di masyarakat tersebut. Bekerjanya norma moral turut menjadi faktor penting yang mempengaruhi insentif psikologis dalam penerapan pendekatan nudging.

Dr. Ridwan mengatakan “aspek moralitas dan alam bawah sadar menjadi aspek penting untuk menerapkan pendekatan nudging. Sebagai ilustrasi, seseorang akan tetap membuang sampah sembarangan, meski terdapat ancaman sosial. Perilaku tersebut hilang begitu ada ancaman doa yang membawa Tuhan, seperti kutukan masuk ke neraka bagi orang yang membuang sampah sembarangan.” ujar Ridwan

Menanggapi pemaparan dua pembicara sebelumnya, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menuturkan bahwa nudge merupakan pendekatan yang sasarannya merubah perilaku masyarakat. Perubahan perilaku yang terjadi dapat berbentuk dari buruk menjadi baik, atau berbicara mengenai semakin berkurangnya frekuensi, intensitas, dan durasi terkait dengan hal negatif.

Rahmat Hidayat mengatakan “dalam kasus COVID-19, penerapan nudge dapat berupa kebijakan dengan melakukan sentilan atau dorongan halus untuk merubah perilaku yang semula tidak mau menggunakan masker menjadi mau menggunakan masker. Secara umum nudge dapat lebih efektif dibandingkan pendekatan lain dalam merubah perilaku masyarakat menurut berbagai studi. Efektivitas pendekatan tersebut setidaknya ditentukan dari dua faktor yakni motivasi dan kemudahan kelompok sasaran.” tutur Rahmat.

“Dalam motivasi kita perlu melakukan segmentasi masyarakat, pertama, segmen masyarakat yang bersikap positif menerima positif segala program pemerintah. Kedua, kelompok yang ragu dan belum yakin sepenuhnya bahwa menggunakan masker bisa melindungi. Ketiga, kelompok yang apatis, karena ideologis, seperti hidup mati merupakan suratan Tuhan. Nudging harus dijalankan sesuai dengan segmentasi tersebut dengan melihat aspek motivasi dan kemudahan tersebut.” tutup Rahmat.

Contact Person

Rafif Pamenang Imawan / 081325727778

@ Populi Center 2022