Akhirnya Tanpa Ujian Nasional

Akhirnya Tanpa Ujian Nasional

JAKARTA. Ujian Nasional (UN) yang saat ini menjadi tolak ukur kompetensi akademik siswa akan dihapus. Pemerintah bakal melakukan moratorium atau penghentian sementara UN pada 2017.

Untuk membahas perkembangan terbaru di bidang pendidikan ini, Populi Center bekerja sama dengan Smart FM Network mengadakan diskusi Perspektif Indonesia bertemakan “Akhirnya Tanpa Ujian Nasional”, Sabtu (3/12) di Gado-Gado Boplo Menteng Jakarta. Dalam diskusi ini hadir Mantan Konsultan Depdikbud Medrial Alamsyah, Wartawan Senior Budi Setiawan, dan Pengamat Pendidikan Doni Koesuma.

Pengamat Pendidikan Doni Koesuma mengatakan evaluasi di bidang pendidikan harus melihat makna dan fungsinya. Sistem UN secara sistemik merusak pendidikan karena tidak menumbuhkan proses pembelajaran yang otentik. Menurut Doni, siswa harus diuji pada tataran yang sama.

“Bagaimana ingin mengadu seseorang dengan hal yang sama di mana satu orang kuat dan sehat pendidikannya, sementara yang lain tidak,” ujarnya. Inilah yang kemudian menyebabkan ada sekolah di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang seluruh siswanya tidak lulus UN.

Kualitas sarana dan prasarana yang berbeda serta kualitas guru yang berbeda membuat sistem UN yang disamaratakan tidak adil. Tugas menguji kualitas siswa adalah tugas guru dan sekolah. UN sudah tidak terbukti meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah harus mencari cara lain untuk mengukur kompetensi siswa seperti bagaimana terhadap sekolah-sekolah terpencil bisa melihat situs-situs bersejarah dan mengembangkan penguatan karakter.

Wartawan Senior Budi Setiawan menjelaskan sistem pendidikan Indonesia harus diubah. Sebagai orang tua, dirinya mengakui harus mendidik anak-anak sebagai orang yang berkarakter dan berpendidikan kuat. Hal ini bisa dilihat dari kreativitas anak.

“Yang terpenting adalah bagaimana ciptakan kreativitas dan mereka bisa mandiri,” terang Budi. Penciptaan kreativitas ini tergantung dari masing-masing daerah. Namun, pemerintah harus membuat benchmark di tingkat nasional yang menjadi gol bersama.

Ambil contoh mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Dalam pelajaran ini, siswa bisa diajarkan tata cara berkomunikasi dengan masyarakat. Bentuk pembelajarannya bisa berupa school project dan tidak text book. Sistem pendidikan seperti ini perlu diterapkan di Indonesia.

Budi menambahkan, perbedaan pendidikan Indonesia dengan negara lain seperti Amerika adalah kerangka sistem pendidikannya. Amerika konsisten dengan sistem pendidikannya dari tahun ke tahun. Semua siswa di sana tidak ada yang tidak naik kelas. Kalau ada siswa yang nilainya rendah dan tidak bisa masuk ke universitas bisa masuk ke poli teknik.

Mantan Konsultan Depdikbud Medrial Alamsyah menambahkan, masalah di dunia pendidikan Indonesia juga pada data. Pemerintah tidak mempunyai data yang jelas mengenai setiap sekolah. Apabila ini ada maka petanya bisa menjadi jelas dan kebijakan yang diambil pun bisa tepat sasaran. “Jangan dengan UN baru memetakan. Sekarang masing-masing Dirjen itu ngarang. Seharusnya benar-benar berdasarkan fakta ini,” imbuhnya.

Tags:
No Comments

Leave a Reply