APA KABAR PILEG?

APA KABAR PILEG?

Di tengah gemuruh dan gempita Pemilihan Presiden (Pilpres), keberadaan Pemilihan Legislatif (Pileg) seperti tertelan. Padalah memilih Anggota Legislatif sama strategisnya. Apa penyebabnya? Apa saja kendalanya? Bagaimana kiat para Caleg mengatasinya?

Populi Center bekerjasama dengan Smart FM Network mendiskusikannya dalam Perspektif Indonesia, edisi 23 Februari 2019 bertempat di Gado-Gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat. Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Mahfuz Sidik, MSi (Anggota DPR RI), Dr. Ferry Kurnia Rizkiansyah (Komisioner KPU 2012 – 2017, Pengurus Netgrit), dan Heroik M. Pratama (Peneliti Politik Perludem). Diskusi dipandu host Perspektif Indonesia, yakni Ichan Loulembah.

Mahfuz Sidik, pada awal diskusi meyampaikan kritik terhadap pelaksanaan Pileg dan Pilpres yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Setidaknya menurut Sidik, Pemilu serentak justru akan menengelamkan substansi Pemilihan Legislatif. Hal ini menurutnya tidak terlepas dari dua hal. Pertama. Pelaksanaan Pileg dan Pilpres yang bersamaan sangat mempengaruhi kinerja dari para Calon Anggota Legislatif (Caleg) dalam mensosialisasikan dirinya ke masyarakat. Ambiguitas di lapangan sangat terasa, terutama bagi Caleg yang berada di lingkungan yang mayoritas tidak sama terhadap dukungan Pilpresnya. “Misalnya ada satu daerah yang menjadi basis 01, maka Caleg-Caleg dari 02 ini kan jadi gagap, antara mengkampanyekan dirinya atau satu paket dengan Capresnya, jangan-jangan saya mengkampanyekan Capres saya, kursi legislatif jadi hilang”. Imbuhnya.

Kedua. Kontestan Pilpres yang hanya dua Paslon lebih mudah dikenali oleh masyarakat dibandingkan dengan begitu banyaknya Caleg. Lebih lanjut menyoroti persoalan tersebut, Sidik menilai pembatasan-pembatasan oleh KPU dalam regulasi kampanye turut andil dalam menciptakan kondisi tersebut. “Misalnya pembatasan-pembatasan daerah-daerah untuk pemasangan alat peraga, lalu sebagian atribut disediakan oleh KPU walaupun secara kuantitas  tidak memadai untuk menjangkau 180 juta lebih pemilih secara nasional”. Menurutnya kondisi ini dikhawatirkan menjadikan Caleg menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kursi.

Heroik M. Pratama, Peneliti Politik Perludem, berbeda dengan mengatakan bahwa tujuan awal pemilu serentak adalah untuk menjalankan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Pemilu serentak diharapkan mempengaruhi efisiensi anggaran politik. “Pertama soal efisiensi tadi, meskipun politik butuh anggaran tapi postur anggaran pemilu dibiayai penyelenggara. Esensi utama pemilu serentak untuk efektivitas pemerintahan,” ucapnya.

Heroik juga menyampaikan durasi kampanye yang cukup panjang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh para Caleg untuk mensosialisasikan diri dan programnya kepada konstituen. Heroik juga menekankan pentingnya sosialisasi tata cara pencoblosan 5 (lima) kertas suara. Menurutnya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui soal banyaknya kertas suara nanti. Dengan kata lain Caleg pun seharusnya ikut melakukan voters education. Oleh karenanya kedepan perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Pemilu serentak ini. “Kita perlu ada evaluasi betul-betul untuk Pemilu serentak lima surat suara ini.” Ungkapnya.

Ferry Kurnia Rizkiansyah, Komisioner KPU 2012-2017, menyoroti persoalan “tenggelamnya” Pileg oleh Pilpres. Fery Kurnia menekankan pentingnya pelibatan aktif masyarakat yang seluas-luasnya, termasuk dalam mengakses data profil caleg-caleg sehingga masyarakat akan mengenal calon-calon mereka. “Dengan melibatkan masyarakat seluas-luasnya, maka gegap gempita Pemilu Legislatif akan terasa”.

Selain itu, Ferry menambahkan bahwa KPU sebagai penyelenggara seharusnya dapat membantu mensosialisasikan profil para caleg kepada masyarakat. “Penyelanggara harusnya membuka lebar seluas-luasnya sosialisasi bukan hanya bagaimana nanti tanggal 17 April. Tapi sosialisasi siapa partai yang ikut pemilu siapa calon-calon anggota legislatif yang di dalamnya bagaimana mencoblosnya,” ungkapnya. Pada akhir sesi diskusi, ketiga narasumber sepakat bahwa kedua Pemilu (Pileg dan Pilpres) merupakan sama pentingnya. Untuk itu perlu sinergi bersama semua pihak untuk melakukan voters education kepada masyarakat sehingga Pemilu serentak dapat berjalan dengan baik.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.