Arah Bisnis dan Ekonomi Indonesia Di Tengah Pandemi Virus Corona

Arah Bisnis dan Ekonomi Indonesia Di Tengah Pandemi Virus Corona

Pandemi Virus Corona, makin mengganas meski angka sembuh telah meningkat. Ekonomi dan Bisnis berada pada titik nadir. Pemerintah mengambil sejumlah kebijakan yang diharapkan masih memberikan nafas dan ruang bergerak bagi pertumbuhan bisnis dan ekonomi.  Masihkah ada asa bagi ekonomi dan bisnis di Indonesia

Populi Center dan Smart FM Network membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Arah Bisnis dan Ekonomi Indonesia Di Tengah Pandemi Virus Corona”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 25 April 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB, bertempat di kantor pusat Smart FM. Diskusi Perspektif Indonesia dilakukan dengan menggunakan sambungan telepon, mengingat penyebaran virus Corona yang semakin meluas.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Aviliani (Pengamat Ekonomi Indonesia), Erik Nainggolan (Wakomtap Kadin Indonesia, Industri Kreatif), Silih Agung Wasesa (Praktisi Branding Indonesia), dan Hadi Kuncoro (CEO PowerCommerce.Asia). Diskusi ini dipandu oleh Olla Nurlija.

Mengawali pemaparan, Hadi Kuncoro mengatakan bahwa adanya penyebaran virus corona mendorong pengembangan digitalisasi ekonomi. Dalam beberapa waktu terakhir, terdapat banyak sekali perubahan terkait dengan bisnis e-commerce. Saat ini hampir semua lini bisnis beralih ke model e-commerce atau membuat digitalisasi ekonomi. Terdapat beberapa perubahan yang dinamis, meski demikian industri retail tidak dapat beralih ke digitalisasi ekonomi. Selain terkait dengan hal tersebut, terdapat tantangan yang tidak kalah penting, yakni bisnis makanan yang harus berubah. Terutama terkait dengan konteks distribusi barang. Saat ini banyak bisnis yang berubah, saat ini penyebaran corona sudah menjadi realitas yang baru.

Aviliani mengatakan terdapat perbedaan yang besar antara krisis tahun 1998 dengan krisis sekarang. Apabila dibandingkan dengan krisis tahun 1998, di tahun tersebut perusahaan-perusahaan besar yang terkena dampak terlebih dahulu, sedangkan di tahun ini yang terkena dahulu adalah UMKM. Masalah utamanya adalah tidak semua UMKM dapat ikut serta di dalam e-commerce. Tidak semua sektor dapat kembali pulih pasca virus corona mereda, dikarenakan pasti akan terdapat perubahan yang besar di dalam dunia bisnis. Barangkali salah satu bisnis yang terkena ada pada bisnis properti, dikarenakan terdapat perubahan model bisnis.

Silih Agung Wasesa mengatakan bahwa saat ini kondisi yang akan menetap. Saat ini merupakan kondisi yang sudah menjadi normalisasi baru, yakni mau tidak mau aktivitas bisnis harus hidup berdampingan dengan penyebaran virus corona. Persoalan corona ini memaksa harus melakukan konsumsi ke kebutuhan dasar, termasuk kembali ke keluarga. Kondisi saat ini membuat kita harus percaya kepada UMKM. Saat ini UMKM justru harus kembali mempertahankan ikatan kepercayaan yang sudah dibangunnya.

Di akhir diskusi, Erik Nainggolan mengatakan bahwa sulit untuk mendorong UMKM untuk beralih ke bisnis e-commerce. Terdapat dua cara untuk mendorong UMKM menuju ke digitalisasi ekonomi, apakah melalui kerja sama dengan unicorn-unicorn ekonomi yang ada di Indonesia, atau dapat melakukan digitalisasi ekonomi melalui asosiasi. Persoalannya, apabila digitalisasi ekonomi didorong dengan melalui asosiasi, maka proses tersebut dapat lebih lambat dibandingkan kerja sama dengan unicorn yang ada di Indonesia.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.