Bagaimana Menggairahkan Ekonomi…

Bagaimana Menggairahkan Ekonomi…

Apa boleh bikin, kita harus membahas ini lagi: ekonomi kadung terpuruk, wabah Corona belum pasti kapan takluk. Apa saja langkah ekonomi tidak biasa yang harus dilakukan? Bagaimana wajah bisnis dalam new normal?

Populi Center dan Smart FM Network serta didukung The MAJ Senayan membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Bagaimana Menggairahkan Ekonomi.” Diskusi daring ini berlangsung pada Sabtu, 11 Juli 2020 pukul 09.00-11.00 WIB‎. Diskusi dilakukan menggunakan aplikasi Zoom.

Adapun diskusi ini menghadirkan Andi Rahmat (Anggota DPR 2004-2014, Pelaku Usaha), Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika (Guru besar Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Brawijaya), Dr. Enny Sri Hartati (Ekonom Senior INDEF), Kafi Kurnia, MBA (Pengamat Bisnis), dan Prof. Tirta Mursitama (Pengamat Ekonomi, Universitas Bina Nusantara) serta dipandu oleh Ichan Loulembah.

Enny Sri Hartati mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa saat ini kita harus menyelesaikan persoalan pandemi terlebih dahulu. Konsekuensinya memang akan berdampak pada perekonomian dan kehidupan kita. Karena di saat ini kita hanya terjebak pada perdebatan tentang mana yang terlebih dahulu ditangani, yakni antara kesehatan terlebih dahulu atau ekonomi dahulu. Saat ini, Enny Hartati menegaskan, kita perlu langkah konkret.

Erani Yustika menjelaskan bahwa tidak ada satu pun negara yang membuat respon persis sama untuk menghadapi COVID-19. Maka, di beberapa negara tertentu ada yang punya kapasitas mitigasi yang baik, namun ada pula yang lemah. Di Indonesia, dari berbagai aspek, kita tidak bisa dibilang buruk dalam penanganan COVID-19 tersebut. Di sisi kesehatan banyak instrumen kebijakan dibuat pemerintah untuk menyediakan alat-alat kesehatan seperti masker, APD, dan lainnya yang sudah dikerjakan bahkan sebelum wabah ini benar-benar masuk ke Indonesia. Selain itu, masyarakat kita juga berkontribusi cepat untuk melakukan penanganan penyebaran di wilayah masing-masing. Kelemahannya, soal ekonomi, maksud dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah belum begitu jelas. Sehingga gerak ekonomi di daerah sedikit mengalami kebingungan.

Kafi Kurnia menekankan bahwa dari sisi pelaku usaha, hal yang paling dirasakan adalah banyak pengusaha banting setir. Seperti banyak dari masyarakat yang kemudian bisnis makanan. Contohnya Go-jek yang kemudian membuat dapur bersama untuk memfasilitasi para pengusaha makanan dalam skala kecil agar tetap beraktivitas ekonomi. Model-model seperti ini yang perlu dilakukan oleh para pengusaha, yakni kelenturan dalam berimprovisasi dalam berekonomi.

Tirta sebagai narasumber untuk menggantikan Andi Rahmat menjelaskan bahwa dalam setiap krisis itu pasti ada opportunity. Dalam hal ini, ada peran kultural yang mampu mendukung peningkatan ekonomi. Kita tidak melulu harus menengadahkan tangan ke pemerintah, tapi maksimalkan peran-peran dari leader di daerah agar langkah gerak di akar rumput tetap berjalan.

Di akhir diskusi ini Kafi Kurnia menegaskan bahwa kondisi ini merupakan kesempatan kita untuk riset ekonomi. Kemudian Prof. Erani menegaskan ada empat hal yang perlu dilakukan, yakni digitalisasi sebagai arus utama ekonomi ke depan, spesialisasi agar tidak ada super hero corporate, diversifikasi, dan juga kolaborasi.

Selanjutnya Andi Rahmat, yang bergabung di akhir diskusi menekankan pada empat aspek untuk meningkatkan perekonomian di masa pandemi ini. Keempat fokus yang ditekankan adalah pengembalian fungsi dana desa, mengalokasikan anggaran ke pemerintah daerah, memaksimalkan lembaga keuangan pemerintah di luar perbankan, dan memaksimalkan infrastruktur dari supply change. Enny menutup diskusi dengan menerangkan bahwa UMKM itu tidak pernah cengeng, namun saat ini memang butuh pendampingan karena mereka juga yang pernah menolong ekonomi kita dan yang tidak kalah penting adalah jangan menganak-emaskan oligarki.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.