BLBI yang Nyaris Terlupa

BLBI yang Nyaris Terlupa

JAKARTA. Bantuan Langsung Bank Indonesia (BI) menjadi kasus yang terlupakan setelah terjadi pada 1998. Namun, tertangkapnya buronan BLBI Samadikun Hartono setelah belasan tahun buron adalah alarm pengingat masyarakat Indonesia terhadap kasus BLBI.

Untuk membahas ini, Populi Center bekerja sama dengan Smart FM Network menggelar diskusi Perspektif Indonesia bertemakan “BLBI yang Nyaris Terlupa” pada Sabtu, 23 April 2016 di Gado-Gado Boplo Menteng Jakarta. Dalam diskusi ini hadir Anggota Komisi III DPR Syaiful Bahri Ruray, Guru Besar Universitas Pertahanan Prof. Dr. Salim Said, Direktur Info Bank Institute Eko B Supriyanto, dan Aktivits Mahasiswa 98 Ray Rangkuti.

Direktur Info Bank Institute Eko B Supriyanto mengatakan BLBI lahir pada tahun 1997 ketika terjadi krisis ekonomi. IMF mengatakan pada waktu itu Indonesia krisis dan 16 bank tutup. Kondisinya, pemerintah tidak menjamin dana nasabah sehingga timbullah  kekacauan.

Pada Januari 1998 seluruh jaminan bank dijamin pemerintah dan dibentuklah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pada waktu itu kondisi yang terjadi adalah utang-utang pemerintah tidak bisa dibayar dan Indonesia tidak bisa diberikan kredit lagi. Eko bilang, BI pun turun tangan dengan menalangi utang-utang pemerintah tersebut dan lahirlah BLBI.

“Ada Rp 144,53 triliun BLBI dan Rp 58 triliunnya bermasalah,” ujarnya. Yang bermasalah itu adalah 48 bank. Tujuan BLBI memang benar untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia, namun dalam praktiknya pembajak datang menggunakan BLBI untuk kepentingan pribadi.

Anggota Komisi III DPR Syaiful Bahri Ruray menjelaskan, ditangkapnya Samadikun Hartono bukanlah peristiwa hukum. Penangkapan tersebut harus dilihat sebagai bagian dari konsensi ekonomi politik China terhadap Indonesia. Presiden Jokowi saat ini memberikan konsensi listrik yang besar dan proyek kereta api cepat terhadap negeri tirai bambu tersebut. China pun mengincar pembangunan pelabuhan besar dalam tol nusantara.

Syaiful menerangkan, Samadikun hanya ditangkap oleh polsek setempat dengan level kepolisian setingkat briptu. Ini menunjukkan betapa mudahnya menangkap Samadikun. “Jadi benar ini adalah keputusan politik,” terangnya.

Guru Besar Universitas Pertahanan Prof. Dr. Salim Said melihat Indonesia dan China mempunyai hubungan investasi yang baik. China ingin menunjukkan kepada Indonesia bahwa mereka tahu berterimakasih dan mau membantu Indonesia. Buktinya, Samadikun tidak sulit untuk didapatkan.

Lepasnya Samadikun adalah keputusan politik. Dalam deal politik perlu ada modal dan di mata China, Indonesia mempunyai modal sehingga mau membantu. Kondisi ini berbeda dengan orang Indonesia yang membawa uangnya ke Singapura. “Modal kita dengan Singapura tidak banyak,” papar Salim.

Aktivits Mahasiswa 98 Ray Rangkuti menambahkan, pemerintah harus menangkap sisa buron BLBI. Dalam hal ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beserta kejaksaan perlu bekerja sama. Saat ini KPK sedang menangani lima kasus BLBI. “Kita tunggu KPK bekerja,” imbuhnya.

Tags:
No Comments

Leave a Reply