Buku Masih Laku?

Buku Masih Laku?

Ditengah masifnya serbuan literasi digital, gairah perbukuan ternyata tidak surut. Setidaknya itu yang tergambar dari perhelatan London Book Fair beberapa pekan lalu. Tidak seperti dunia surat kabar cetak yang mulai terancam eksistensinya oleh media massa online, minat khalayak untuk merasakan sensasi kertas yang disentuh dalam bentuk buku nampaknya masih cukup tinggi. Terkait dengan hal itu, bagaimana kondisi perbukuan di Indonesia? Apa saja pokok masalahnya? Bisakah perbukuan meningkatkan mutu perkubuan politik, misalnya?

Populi Center dan Smart FM membahasnya dalam diskusi Perspektif Indonesia edisi 23 Maret 2019, bertempat di Gado-gado Boplo Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Pada diskusi kali ini menghadirkan Prof Salim Haji Said (Ketua Institut Peradaban), Hamid Basyaib (Komisaris Utama Balai Pustaka), Erlan Primansyah (CEO Buqu), serta Yusi Avianto Pareanom (Penerbit Banana). Diskusi dipandu oleh host Perspektif Indonesia, Ichan Loulembah.

Sebagai awalan, Erlan Primansyah mengatakan buku memiliki dunianya sendiri yang berbeda dengan surat kabar atau media cetak, karena secara konten mereka juga berbeda. “Cara mendapatkan buku dengan surat cetak juga berbeda, pun dengan cara menikmatinya” katanya. Meskipun begitu, Erlan yang juga merupakan Anggota Komite Buku Nasional ini memiliki tantangan tersendiri yang dihadapi para penerbit buku di tengah era digital ini, yaitu apakah konten akan dimuat dalam bentuk kertas cetak atau digital. Oleh karena itu beberapa penerbit besar di luar negeri seperti Oxford dan lain-lain, yang dijual ialah lisensinya, bukan dari penjualan buku itu sendiri. Ini yang membedakan dengan di Indonesia, dimana book fair lebih kepada penjualan buku.

Pembicara selanjutnya Yusi Avianto memberikan perhatiannya mengenai strategi pemasaran para pegiat dunia perbukuan, khususnya bagi para milenial. “Kita mesti tahu dulu apa minta milenial. Mereka itu senang dengan sesuatu yang menjadi tren, dan itulah yang harus dimanfaatkan,” ujar Yusi yang merupakan penulis sekaligus penerbit indie. Ia mencontohkan pameran buku Big Bad Wolf yang memberikan pemasukan yang besar. “Ini menunjukkan minat masyarakat Indonesia terhadap buku masih cukup tinggi. “Oleh karena itulah para pegiat industri buku harus memiliki strategi pemasaran yang baik agar buku karya hasil penulis tanah air bisa diminati masyarakat luas,” imbuhnya.

Pembicara yang lain, Hamid Basyaib menyatakan di era digital industri buku justru terbantu dari segi promosi dan produksi. “Sekarang untuk mencari ahli desain grafis atau mencari percetakan buku yang murah bisa lewat internet. Promosi juga lebih mudah dan cepat lewat media sosial,” ujar Komisaris Utama Balai Pustaka tersebut. Beberapa penulis buku juga terbantu oleh media sosial. Ia mencontohkan Danny Siregar, yang mempunyai follower ratusan ribu. Dari media sosial itu ia mempromosikan bukunya secara mandiri dengan harga yang terjangkau.

Salim Said menyoroti minat baca yang berhubungan dengan peradaban suatu negeri. Ia menyatakan, maju mundurnya peradaban sebuah bangsa sedikit banyaknya ditentukan oleh tradisi keilmuan dan menghargai para pejuang pustaka dan literasi. Makanya, kata Salim, tidak menjadi heran apabila negara Indonesia tertinggal oleh negara Malaysia terkait peradabannya. Namun demikian, Salim menilai masih banyak para pemikir, ilmuan, praktisi, hingga pejuang yang masih peduli akan nasib bangsanya. Hanya saja, tidak mendapatkan ruang yang disediakan oleh pemerintah.

Di akhir diskusi, Erlan Primansyah menekankan bahwa promosi masih perlu dalam dunia buku di Indonesia, meski sekarang sudah banyak media untuk mempromosikan buku. Perlu ada pandangan yang baru tentang industry perbukuan. Pembicara yang lain, Yusi Avianto mengatakan bahwa selama dapat mendekati industry buku dengan tepat, maka sebenarnya dunia buku dapat survive. Perlu untuk membangun kebanggan untuk memiliki buku, ini yang perlu untuk disusupi. Hamid Basyaib mengatakan bahwa dunia buku masih kuat, dapat dilihat dari event Big Bad Wolf yang cukup kuat. Ternyata minat baca itu besar dan ternyata banyak penulis dari luar. Hal ini menunjukkan bahwa penulis buku kita jelek.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.