Corona dan Kondisi Kebutuhan Pokok Kita

Corona dan Kondisi Kebutuhan Pokok Kita

Penyebaran virus corona belum terlalu signifikan, namun demikian perlu kehati-hatian mencermati perkembangan kebutuhan pokok kita. Apalagi komponen impor masih lebar dan sempat terjadi kepanikan pasar. Bagaimana mitigasinya?

Populi Center dan Smart FM Network membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Corona dan Kondisi Kebutuhan Pokok Kita”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 7 Maret 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB, bertempat di Pizza Kayu Api, The MAJ Senayan, Jl. Asia Afrika Pintu IX, Senayan, Jakarta.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Sandiaga Salahuddin Uno (Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia 2015-2018), Prof. Dr. Bustanul Arifin (Guru besar Ekonomi Pertanian, Peneliti INDEF), Eka Sastra (Wakil Ketua Umum HIPMI), dan Yustinus Sadmoko (Pelaku Usaha Bisnis Daging dan Sapi). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Mengawali diskusi, Yustinus Sadmoko mengatakan kekhawatiran dari pengusaha bukan pada persoalan penyakitnya, sedangkan yang menjadi kekhawatiran adalah terkait dengan suplai barang. Meski demikian kekhawatiran tidak terlalu besar, mengingat impor masih diberlakukan. Apabila dari sisi suplai tidak ada masalah, namun yang menjadi persoalan adalah masalah permintaan. Kekhawatiran ada pada pengaruh kepada kegiatan ekonomi, termasuk pola konsumsi masyarakat yang berubah.

Eka Sastra mengatakan bahwa sektor yang paling ter dampak dari penyebaran virus corona adalah sektor pariwisata dan bahan baku impor. Apabila mengacu pada situasi yang ada, maka tidak ada kekhawatiran yang besar mengingat suplai barang. Meski demikian, beberapa aktivitas ekspor-impor tertahan selama beberapa waktu. Pengaruh dari penyebaran virus Corona ini adalah beberapa kegiatan ekspor-impor yang sedikit tertahan, serta beberapa perjanjian harus tertunda.

Bustanul Arifin mengatakan sektor yang paling banyak terkena dampak adalah peternakan dan pariwisata. Pertama, sektor peternakan dikarenakan virus Corona berasal dari hewan. Kedua, sektor pariwisata yang sudah mulai sepi. Komoditas yang saat ini banyak ter dampak adalah impor bawang putih kita, karena impor bawang putih kita berasal dari China. Saat ini sudah ada ijin penambahan impor bawang putih yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengamankan cadangan bawang putih menjelang lebaran.

Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan saat ini merupakan kondisi yang sulit terkait dengan penyebaran pandemik Corona, terutama terkait banyak sekali ketidakpastian di saat-saat ini. Dikarenakan tidak adanya kepastian, maka masyarakat mengambil langkah sendiri dengan membeli barang sendiri. Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah. Pertama, memastikan bahwa pasokan barang itu aman. Kedua, penting untuk memastikan bahwa distribusi barang juga lancar. Persoalan distribusi dan pasokan ini harus dipastikan informasinya sampai ke masyarakat.

Di akhir diskusi, Yustinus Sadmoko mengatakan bahwa dibutuhkan kepastian dari pemerintah, terkait dengan ijin impor daging yang meliputi berapa banyak daging yang dapat diimpor dan kapan. Akan lebih baik apabila ijin diberikan selama satu tahun. Eka Sastra mengatakan dibutuhkan sistem ekonomi yang transparan, terbuka, dan adil, agar dapat menghasilkan kembali pengusaha-pengusaha baru. Harus terdapat perbaikan ke arah sistem yang lebih terbuka tersebut.

Bustanul Arifin mengatakan kebutuhan pokok harus ditangani dengan baik, terutama menjelang bulan Ramadhan. Perlu ada penyederhanaan impor untuk dapat memastikan ketersediaan stok barang. Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan harus dipikirkan betul bagaimana pasokan terpenuhi dan distribusi dapat efektif. Ke depan, ekonomi pasti akan melambat, mengingat tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah masih tinggi, oleh karenanya pemerintah perlu untuk menjaga kepercayaan publik tersebut dengan tidak memberikan pernyataan-pernyataan yang kontraproduktif.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.