DEBAT BELUM HEBAT?

DEBAT BELUM HEBAT?

Debat perdana sudah tergelar. Media sosial dan konvensional sebagian mengarahkan kritik pada penyelenggara debat. Masih bisakah menaikkan mutu debat berikutnya?

Populi Center bekerjasama dengan Smart FM dan didukung the Atjeh Connection membahasnya dalam acara diskusi radio Perspektif Indonesia dengan tema “Debat Belum Hebat?”. Diskusi ini dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2019, pukul 09.00 – 11.00 WIB bertempat di the Atjeh Connection di Gedung Sarinah, Lantai UG di Jl. MH. Thamrin No.11,  Menteng, Jakarta Pusat.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Sudirman Said (Direktur Materi & Debat Pasangan Prabowo-Sandi), Lena Maryana Mukti (Jurubicara Pasangan Jokowi-Ma’ruf), Sigit Pamungkas, MA  (Komisioner KPU 2012 – 2017), dan Dr. Afrimadona (Peneliti Senior Populi Center). Diskusi ini dipandu oleh host Perspektif Indonesia, Ichan Loulembah.

Pada kesempatan pertama, Afrimadona memberikan gambaran umum bahwa debat pertama belum memberikan jawaban-jawaban yang mendalam, meskipun telah ada kisi-kisi pertanyaan. Padahal dari kacamata masyarakat, dibutuhkan keberpihakan yang secara jelas dari dua kandidat. Seperti misalnya dalam isu HAM, isu ini sebenarnya adalah balance issues, dimana ruang perdebatan tidak terlalu bisa dielaborasi atau dengan kata lain mayoritas masyarakat setuju dengan penegakan HAM, hanya saja publik perlu mencari bagaimana kedua kandidat akan mencapai/menjawab persoalan tersebut.

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Sigit Pamungkas, bagi dirinya KPU seharusnya minta maaf ke publik, karena debatnya tidak menarik, tetapi justru menjadi tidak menarik, karena kedua kandidat justru menggunakan catatan. Otentisitas dari kedua kandidat justru terbelenggu oleh catatan-catatan yang telah disediakan oleh tim sukses. Belum lagi, moderator terlalu ketat terhadap waktu debat, sehingga ide-ide dari dua kandidat tidak dapat terelaborasi.

Senada dengan Sigit Pamungkas, Lena Maryana Mukti menekankan pentingnya posisi moderat. Pada debat perdana kemarin, moderator terlalu procedural dan kehilangan sisi substantifnya. Secara teknis, seharusnya tidak perlu dibuat mekanisme yang terlalu rumit. Hasilnya, moderator menjadi tidak mendorong pengolahan substansi, dan lebih banyak menjadi time keeper.

Dari sisi berbeda, Sudirman Said menilah bahwa terdapat unsur proteksi yang berlebihan, sehingga ruh debat menjadi hilang. Aturan debat sebaiknya dibuat lebih dinamis, termasuk dengan waktu agar masyarakat dapat menangkap gagasan-gagasan yang besar dari dua kandidat. Hal yang paling penting yang dinantikan oleh publik adalah respon spontan dari kedua kandidat.

Di akhir diskusi, keempat pembicara menekankan pentingnya peningkatan kualitas debat pada debat yang akan datang. Sigit Pamungkas mengatakan “KPU harus kembali memegang kendali terhadap penyelenggaraan debat, tanpa harus kemudian berkompromi terhadap tim pasangan calon. Debat kedepannya lebih baik tanpa kisi-kisi, dan juga panelis ditentukan saja tanpa perlu kompromi dengan kedua pasang calon.”

Apa yang disampaikan oleh Sigit Pamungkas, disetujui oleh Lena Maryana Mukti yang mengatakan “Sebaiknya panelis yang menyiapkan pertanyaan itulah yang kemudian bertanya langsung kepada calon. KPU sebenarnya dapat meminta masukan kepada penyelenggara KPU sebelumnya, maupun unsur lain seperti akademisi.” Di sisi lain, Sudirman Said mengatakan perlu aturan yang lebih akomodatif, sehingga unsur spontanitas dapat keluar dari kedua kandidat. Sebagai penutup, Afrimadona menenkankan perlunya panelis untuk dapat bertanya langsung kepada kedua kandidat pada debat selanjutnya.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.