DIDI KEMPOT DAN KITA

DIDI KEMPOT DAN KITA

Didi Kempot ibarat sebagian besar kita; terbelah antara desa dan kota. Namun Didi mengelolanya dengan tetap memeluk erat akar awal lengkap dengan kebersahajaannya. Sebagai pemusik ia juga memiliki energi kreatif yang terus menyala. Bagaimana membaca fenomena lintas-etniknya?

Populi Center dan Smart FM Network bekerjasama dengan the Maj membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Didi Kempot dan Kita”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB. Diskusi dilakukan menggunakan aplikasi Zoom.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Hamid Basyaib (Komisaris Utama Balai Pustaka, Penulis), Nezar Patria (Pemimpin Redaksi Jakarta Post, Penulis), Restia Dela (Newstainment Manager Kompas TV), Wicaksono Adi (Pengamat Seni-Budaya, Penulis), dan Binti Nikmatul Afdila (Mahasiswa, Penggemar Didi Kempot asal Kediri). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Mengawali diskusi, Restia Dela menceritakan bahwa pada 3 April 2020 dari kawan-kawan seperti Blontang ingin melakukan konser dari rumah, dan rencana tersebut disiapkan dalam waktu 7 hari. Sebelum acara dimulai, dana yang sudah masuk mencapai 1,6 miliar dan pada akhirnya dana terkumpul hingga 5,2 miliar setelah penampilan almarhum Didi Kempot.

Wicaksono Adi menceritakan bahwa Didi Kempot merupakan penyambung akar kejawaan baik bagi orang Jawa sendiri atau bagi diaspora Jawa. Karena bahasanya yang digunakan adalah bahasa sehari-hari, maka kehadirannya cepat diterima di masyarakat.

Hamid Basyaib juga menjelaskan bahwa dalam penggunaan bahasa, memang Didi Kempot secara sadar memilih bahasa yang mudah diterima oleh masyarakat luas. Ini berbeda dengan cara penggunaan bahasa dari musisi Manthos atau Waljinah. Meskipun dulu Didi juga menggunakan bahasa yang rumit, namun di era Didi yang booming saat ini dia mencoba untuk dekat dengan orang-orang muda. Kondisi ini juga didukung dengan meningkatnya teknologi yang mendorong naiknya nama Didi. Dari sisi musikal memang tidak ada yang terlalu istimewa dari Didi, sangat sederhana, namun kekuatannya berada pada liriknya. Faktor lainnya adalah kosongnya gelanggang musik Indonesia, itu juga terlihat dari musik-musik pop Indonesia.

Nezar Patria menjelaskan juga bahwa kekuatan Didi itu terletak dari menciptakan lagu dan lirik yang bisa diterima bahkan bukan dari pendengar Jawa. Ini menjadi stimulus bagi musisi-musisi Jawa lain seperti Via Vallen yang juga memberikan lagu pop Jawa yang sangat enak didengar oleh para pendengar yang sebenarnya tidak paham dengan bahasa Jawa. Di sini terlihat ada pop culture Jawa yang meningkat seiring dengan penikmat lagu Jawa dari kalangan milenial.

Afdila menceritakan pengalaman personalnya sebagai penikmat lagu Didi Kempot. Afdila tumbuh di daerah kampung yang banyak petani. Biasanya para petani ini istirahat siang di sawah dengan mendengarkan lagu Didi Kempot dan itu yang menjadikan dia mulai menggemari musik-musik Didi. Meskipun kebangkitan Didi juga beriringan dengan K-Pop di dunia milenial, namun pasar Didi Kempot jangkauannya lebih luas.

Menutup diskusi Afdila menjelaskan bahwa bagi para musisi memang dibutuhkan kreativitas dan tidak berjarak dengan siapa pun. Restia Dela menilai bahwa Didi kempot itu adalah orang yang sangat tekun. Ketekunan ini yang bisa jadi contoh bagi para milenial untuk terus kreatif. Nezar Patria melihat bahwa musik di Indonesia itu berkualitas, namun memang secara strategi pengenalannya belum maksimal. Berbeda dengan K-Pop yang memang digarap dengan serius. Namun, beruntung karena kita ada Didi Kempot yang terus konsisten dalam berkarya.

Wicaksono Adi menilai bahwa yang perlu diambil dari Didi adalah belajar bagaimana membuat ekosistem yang baik dalam bermusik. Sehingga apabila sudah tidak ada Didi, muncul musisi-musisi baru yang juga konsisten. Bukan karena popular secara kebetulan atau bakat alam yang memiliki keterbatasan. Hamid Basyaib menutup diskusi dengan menjelaskan bahwa kelemahan musik kita terkadang targetnya setelah popular sudah merasa puas. Etos kesenian kita belum terbentuk secara maksimal.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.