Duhh…, Pendidikan Tak Pernah Sepi Persoalan

Duhh…, Pendidikan Tak Pernah Sepi Persoalan

JAKARTA. Pendidikan di Indonesia tidak pernah luput dari pemberitaan. Berbagai persoalan tulang punggung generasi bangsa ini terus berseliweran mulai dari orang tua memukul guru hingga kontroversi sekolah sehari penuh oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru dilantik 27 Juli 2016.

Untuk membahas persoalan tersebut, Populi Center bekerja sama dengan Smart FM Network mengadakan diskusi Perspektif Indonesia bertemakan “Duhh…, Pendidikan Tak Pernah Sepi Persoalan” di Gado-Gado Boplo Menteng Jakarta, Sabtu (13/8). Dalam diskusi ini hadir Praktisi Pendidikan Antarina F. Malik, Antropolog Sosial Amich Alhumami, dan Mantan Juru Bicara Kemendikbud Ibnu Hamad.

Praktisi Pendidikan Antarina F. Malik mengatakan dirinya prihatin atas kondisi pendidikan Indonesia saat ini yang menurutnya belum memiliki kepemimpinan dalam bidang pendidikan. Kepemimpinan dalam hal ini berarti seseorang yang menguasai bidang pendidikan yang bisa membuat blue print. Jika menterinya diganti maka blue print menjadi pegangan.

Jika pemerintah ingin mendesain blue print harus dimulai dari output yang diinginkan. “Kalau mau bangun rumah harus tahu mau bangun rumah seperti apa,” ujar Antarina. Di sisi lain, kualitas guru juga menjadi permasalahan tersendiri.

Rasio guru dan murid yang ideal adalah 1:20 yaitu satu guru untuk 20 murid. Kalau di sekolah swasta rasio tersebut sudah menjadi hal yang umum, namun di sekolah negeri rasionya masih 1:30-45. Mantan Juru Bicara Kemendikbud Ibnu Hamad menjelaskan, yang tidak ada dalam pendidikan adalah keberlanjutan. Hal ini yang kemudian ketika menteri berganti maka kebijakannya pun diganti.

Ibnu bilang, Menteri Pendidikan harus mempunyai outline mengenai standar sekolah seperti sarana prasarana sekolah dari Sabang hingga Merauke. Mengenai full day school, ia mengaku pemerintah harus menyusun proposal sekolah sehari penuh tersebut. Misalnya, apakah setiap sekolah memiliki shift pagi dan petang.

“Ide bagus ini mestinya dilanjutkan dengan proposal grand desain, lalu dilempar ke publik,” terangnya. Antropolog Sosial Amich Alhumami menambahkan, siapapun yang menjabat sebagai pengelola pendidikan harus memahami terlebih dahulu persoalan mendasar seperti pemerataan pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Untuk tingkat SD relatif tidak ada masalah di mana semua sarana prasana terfasilitasi. Namun, ketika masuk ke tingkat SMA atau Madrasah terdapat kesenjangan fasilitas. Amich melanjutkan, anggaran pendidikan di tahun 2016 mencapai Rp 419 triliun dengan 52 persen porsinya dialokasikan untuk gaji dan tunjangan.

Sementara itu, anggaran untuk guru masih kecil. Dari sisi jumlah, jumlah guru mencukupi namun tidak mencapai semua daerah. “Kualitas guru kita pun dari skala 1 sampai 10 hanya 5,3. Kualitas pengetahuan tidak memenuhi,” akunya. Guru dalam hal ini menjadi tantangan mengenai bagaimana meningkatkan kompetensi. Tidak hanya soal pengetahuan, tetapi juga bagaimana berinteraksi dan mengelola kelas.

Tags:
No Comments

Leave a Reply