Dunia dan New Normal

Dunia dan New Normal

New Normal menjadi kosakata baru dalam peradaban global. Bagaimana sesungguhnya negara-negara dunia menjalaninya? Populi Center dan Smart FM Network bekerjasama dengan the Maj membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Dunia dan New Normal”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 30 Mei 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB. Diskusi dilakukan menggunakan aplikasi Zoom.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Dr. Makarim Wibisono (Diplomat Senior, Pengamat Hubungan Internasional), Dr. Muliaman D. Hadad (Duta Besar RI untuk Swiss), Gigin Pradinanto (Jurnalis Senior), dan Prof. Dr. Tirta Mursitama (Guru Besar Universitas Bina Nusantara). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Mengawali pemaparan, Muliaman D. Hadad mengatakan bahwa persoalan Covid-19 pada dasarnya merupakan situasi yang luar biasa dengan dampak yang besar terhadap dunia internasional. Pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa pada dasarnya terkesan bahwa negara-negara secara terpaksa melakukan pelonggaran. Saat ini beberapa perusahaan farmasi besar sedang berusaha untuk mendapatkan vaksin terhadap persoalan Covid-19. Persoalannya jangan sampai ada kekosongan kepemimpinan global dalam menangani pandemik Covid-19.

Tirta Mursitama mengatakan penyebaran Covid-19 membuat beberapa negara mengurangi komitmennya untuk mengatasi virus ini. Lembaga internasional seperti WHO yang didanai oleh negara-negara tersebut, pada akhirnya tidak mendapatkan dukungan dari negara-negara adikuasa. Persoalan pelonggaran di negara-negara menunjukkan bagaimana kemampuan dari pemerintahnya untuk dapat mengatasi mengontrol warga negaranya.

Makarim Wibisono mengatakan bahwa WHO pada dasarnya merupakan lembaga yang menangani persoalan-persoalan kesehatan yang berat, termasuk menyeimbangkan kepentingan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang. Seperti persoalan SARS, dimana WHO memberikan vaksin-vaksin kepada negara-negara berkembang. Saat ini posisi WHO telah dianggap menjadi ranah persaingan diplomasi negara, termasuk kompetisi antara negara.

Gigin Pradinanto mengatakan bahwa banyak politisi di Jepang yang grogi terhadap situasi seperti saat ini, yakni dengan menyelamatkan ekonomi dan menyelamatkan kesehatan masyarakatnya. Hal yang menguntungkan adalah kultur masyarakat Jepang yang sejak awal memang jarang berinteraksi fisik dalam interaksi kesehariannya, termasuk masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang telah akrab dengan penanganan bencana.

Di akhir diskusi, Tirta Mursitama mengatakan bahwa perlu terdapat revitalisasi lembaga global, seperti WHO yang perlu ditata ulang. Muliaman D. Hadad mengatakan bahwa masyarakat harus membantu pemerintah karena kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia telah sesuai dengan apa yang dilakukan oleh negara lain, termasuk menjamin bahwa sektor-sektor ekonomi utama tetap diperhatikan.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.