Dunia Mencari Jalan Melawan Corona

Dunia Mencari Jalan Melawan Corona

Wabah global Corona belum menampakkan penurunan berarti. Berbagai pemerintah, parlemen dan masyarakat terus mencari jalan mengatasi masalah dan menyusun skenario memitigasi implikasinya.

Populi Center dan Smart FM Network membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Dunia Mencari Jalan Melawan Corona”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 11 April 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB, bertempat di kantor pusat Smart FM. Diskusi Perspektif Indonesia dilakukan dengan menggunakan sambungan telepon, mengingat penyebaran virus Corona yang semakin meluas.

Adapun diskusi ini menghadirkan lima pembicara, yakni Prof. Dr. Firmanzah (Rektor Universitas Paramadina), Dr. Philips Jusario Vermonte (Direktur Eksekutif CSIS), Dr. Muhammad Qodari (Direktur Eksekutif IndoBarometer), Eva Mazrieva (Jurnalis VOA, Washington DC), dan Richard Susilo (Koresponden Tribunnews.com, Tokyo). Diskusi ini dipandu oleh Olla Nurlija.

Mengawali pemaparan, Eva Mazrieva mengatakan bahwa saat ini New York merupakan daerah yang paling parah mendapatkan virus Corona, sudah terdapat 18 ribu orang yang meninggal dunia di seluruh Amerika Serikat dikarenakan virus Corona. Mengingat jumlahnya yang besar, masyarakat banyak yang mematuhi peraturan untuk tetap berada di rumah. Tingginya masyarakat yang terkena virus di Amerika Serikat, dikarenakan memang sudah banyak masyarakat yang melakukan tes terkait dengan virus Corona. Saat ini segala sesuatu selalu dikaitkan dengan virus Corona, mengingat pada tahun ini terdapat pemilihan umum di Amerika Serikat. Kebijakan yang diambil saat ini adalah membuat gugus tugas yang dipimpin oleh Wakil Presiden Amerika Serikat.

Richard Susilo mengatakan saat ini keadaan pada dasarnya sudah lebih baik di Jepang di akhir bulan Maret. Meski sudah mereda, terdapat beberapa persoalan serius, mengingat saat ini sedang dalam masa musim semi, sehingga banyak orang yang berada di luar rumah. Akibat dari persoalan tersebut, pada akhirnya angka masyarakat yang terkena virus corona kembali naik. Saat ini sudah ada aturan dari pemerintah Jepang untuk membatasi kegiatan bisnis di Tokyo, termasuk dalam hal memberikan insentif ekonomi kepada para pedagang ini. Bantuan ini membuat banyak masyarakat yang mengikuti aturan dari pemerintah Jepang.

Philips Vermonte mengatakan bahwa pada dasarnya pemerintah Indonesia sedikit terlambat dalam merespons penyebaran virus corona, terutama sejak kasus pertama diumumkan. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, pertama bahwa Indonesia merupakan negara demokratis yang terdesentralisasi. Kedua, pandemik ini memang kondisi yang tidak dapat diprediksi oleh banyak negara. Dari banyak aspek, pemerintah daerah merupakan daerah yang harus sangat diperhatikan. Mengingat persebaran virus ini sudah keluar dari wilayah Jakarta yang merupakan episentrum dari penyebaran virus. Oleh karenanya koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi krusial.

Muhammad Qodari mengatakan bahwa pada dasarnya satuan gugus tugas dapat dipecah perannya. Mengingat eskalasi penanganan corona sudah meningkat, oleh karenanya perlu untuk diperbesar organisasi untuk menangani persoalan tersebut. Ada baiknya tim gugus tugas dibagi menjadi empat, salah satunya berfokus pada pengawasan yang meliputi menemukan pasien yang terkena corona. Caranya dapat dilakukan dengan cara melakukan tes massal kepada masyarakat banyak. Hal yang perlu untuk diperhatikan sekarang adalah bagaimana menghadapi persoalan dampak sosial dari persoalan ini.

Di akhir diskusi, Firmanzah mengatakan bahwa data terakhir dari kementerian tenaga kerja mengatakan bahwa sudah terdapat 452 ribu orang yang dirumahkan (PHK). Eskalasi dampak sosial dan terhadap ekonomi sangat tergantung pada bagaimana kemampuan untuk mengatasi penyebaran virus corona, mengingat apabila tidak dapat diatasi dengan baik, maka akan memiliki dampak ekonomi yang besar. Firmanzah menegaskan bahwa kebijakan lock down, karantina wilayah, atau PSBB membutuhkan persiapan. Di luar hal tersebut, dibutuhkan prioritas utama yakni menyelamatkan nyawa manusia.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.