EKONOMI, BISNIS, DAN FISKAL SAAT INI

EKONOMI, BISNIS, DAN FISKAL SAAT INI

Sebagai krisis kemanusiaan, wabah Corona menjalar ke perekonomian. Bagaimana daya tahan ekonomi, bisnis dan fiskal kita? Populi Center dan Smart FM Network bekerjasama dengan the Maj membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Ekonomi, Bisnis, dan Fiskal Saat Ini”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 2 Mei 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB. Diskusi dilakukan menggunakan aplikasi Zoom.

Adapun diskusi menghadirkan lima pembicara, yakni Marsekal Chappy Hakim (Pengamat Penerbangan/Pusat Studi Air Power Indonesia), Dr. Suryani SF Motik (Wakil Ketua Umum KADIN), Eka Sastra (Wakil Ketua Umum HIPMI, Anggota DPR 2014-2019), Awalil Rizky (Pengamat Fiskal, Kepala Ekonomi Institut Harkat Negeri), dan Tauhid Ahmad (Direktur Eksekutif INDEF). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Chappy Hakim mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa salah satu bidang yang paling terdampak pada masa pandemik COVID-19 adalah dunia penerbangan. Indonesia yang berbentuk kepulauan memang memerlukan sistem perhubungan udara, oleh karena itu dengan kondisi sistem penerbangan yang terhambat, mekanisme administrasi logistik yang hanya dijangkau dengan penerbangan juga terhambat. Oleh karena itu diperlukan langkah pemerintah untuk menangani hal tersebut. Jika dikalkulasi kemungkinan dunia penerbangan merugi 30-40 persen, meskipun dunia penerbangan saat ini berusaha mengakomodasi penerbangan kargo.

Suryani menerangkan bahwa persoalan COVID-19 sangat berdampak pada dunia UMKM. Selain itu dunia industri juga sedang mengalami kesulitan. Persoalan lain juga terlihat dari pemasaran hasil industri tidak berjalan lancar. Banyak pasokan kita diimport, namun banyak juga hasil industri atau misal, tangkapan ikan, tidak bisa diperjualbelikan ke pasar. Jelas kondisi ini berdampak pada tenaga kerja. Banyaknya pengangguran juga tergantung dari nafasnya para pengusaha dalam kemampuan finansial di industrinya masing-masing. Eka Sastra menjelaskan hampir semua sektor terdampak. Akan tetapi dari HIPMI melakukan dukungan, misal bekerjasama dengan OJK untuk menunda pembayaran.

Awalil Rizky melihat bahwa memang dalam kondisi saat ini, untuk menjawab bagaimana gerak ekonomi atau fiskal kita, yang terpenting adalah kesinambungan dari toritas ekonomi, yakni Pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK. Sebenarnya tidak hanya pelaku usaha, pemerintah juga terdampak. Di sisi lain pemerintah juga sadar sudah melakukan belanja untuk COVID-19, namun karena belanja naik maka defisitnya melebar. Beberapa usulan adalah mungkin dengan pemotongan PPN, namun yang sedang dilakukan pemerintah adalah melakukan mekanisme pajak.

Tauhid Ahmad mengatakan bahwa pertanyaannya kemudian adalah apakah kita bisa bertahan atau tidak. Memang betul transportasi terdampak, dan selanjutnya ke industri. Secara makro di tahun 2020 jauh lebih turun dibanding tahun-tahun sebelumnya tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terkait dengan bantuan, bantuan masih belum berjalan dengan maksimal. Ada anggaran, namun yang diberikan masyarakat belum sesuai. Sehingga serapan dan daya beli masyarakat rendah dan tidak menstimulus roda ekonomi.

Di akhir diskusi, Cepi Hakim menjelaskan bahwa prinsip utama adalah pengendalian keterpaduan ekonomi, agar dapat mengukur skala prioritas mana yang harus didahulukan dalam penanganan ekonomi. Suryani Motik menjelaskan bahwa panglima kondisi saat ini adalah kesehatan. Oleh karena itu segala daya dukung dan transparansi di bidang kesehatan harus jelas, sehingga gerakan ekonomi selanjutnya juga bisa dipetakan.

Eka sastra mengapresiasi langkah pemerintah, meskipun langkahnya banyak yang kurang tepat, oleh karena itu kita membutuhkan gugus tugas pemulihan ekonomi. Awalil Rizky menjelaskan bahwa pemerintah mengalami kesulitan fiskal yang serius, sehingga pendapatan rendah dan sulit untuk memberikan bantuan kepada masyarakat. Namun perlu untuk mendahulukan kepentingan rakyat, dan juga tidak boleh menyingkirkan kepentingan negara. Tauhid Ahmad berharap bahwa ekonomi bisa tumbuh pada 2020-2021 dan yang penting didukung adalah basis konsumsi masyarakat harus diperkuat.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.