Eks ISIS Hendak Mudik

Eks ISIS Hendak Mudik

Kekuatan inti ISIS luluh-lantak, termasuk tewasnya beberapa pimpinan puncaknya. Sebanyak 600-an WNI termasuk terlunta-lunta di sana. Sebagian besar ingin kembali. Bagaimana sikap kita?

Populi Center dan Smart FM Network membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Eks ISIS Hendak Mudik”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 8 Februari 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB, bertempat di Pizza Kayu Api, The MAJ Senayan, Jl. Asia Afrika Pintu IX, Senayan, Jakarta.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Makarim Wibisono (Mantan Diplomat, Pengajar Hubungan Internasional), M. Choirul Anam (Komisioner Komas HAM), Bonar Tigor Naipospos (SETARA Institut), dan Ali Munhanif, PhD (Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Mengawali diskusi, Bonar Tigor Naipospos mengatakan persoalan saat ini adalah otoritas Kurdi di sana sudah tidak dapat lagi mengasuh. Hal yang kami takutkan lainnya adalah anak-anak yang masih sangat kecil, di satu sisi mereka akan terus dilakukan indoktrinasi. Masalahnya sekarang kan posisinya ada di kamp internasional. Mengingat berada di kamp internasional, oleh karenanya cepat atau lambat negara harus segera bersikap. Oleh karenanya, terlepas dari masalah kemanusian, maka cepat atau lambat negara akan tetap harus mengambil sikap.

Makarim Wibisono mengatakan bahwa dalam aturan UU Kewarganegaraan, di sana telah dijelaskan apabila ada WNI yang sudah mengatakan bahwa mendukung pihak lain, maka sudah tidak lagi menjadi warga negara. Kita harus melihat persoalan ini dari berbagai dimensi. Pertama, terkait dengan status hukum warga di sana. Kedua, memperhatikan masalah masa depan anak kecil di sana. Ketiga, bahwa secara sukarela mereka meninggalkan Indonesia.

Choirul Anam mengatakan bahwa terhadap hal yang perlu dipahamkan terlebih dahulu, bahwa ISIS merupakan organisasi teroris. Bahkan terdapat tuntutan dari komunitas HAM untuk melakukan sidang atas perilaku keji mereka. Terdapat dua alasan mengapa mereka dapat dipulangkan. Pertama, belum ada UU yang membuat mereka bukan lagi WNI, mengingat ISIS bukan negara. Kedua, harus terdapat kategorisasi terhadap para warga ini. Apakah mereka kombatan atau bukan. Kalau kombatan, maka harus diadili secara serius.

Ali Munhanif mengatakan perlu untuk kategorisasi orang-orang yang terlibat di ISIS. Selama ini Indonesia kan termasuk salah satu negara yang sukses mengatasi terorisme. Oleh karenanya tidak perlu ditakuti untuk dapat membawa mereka kembali ke Indonesia. Harusnya saat ini sudah menunjukkan bahwa ISIS telah gagal. Ini merupakan saat yang tepat bagi pemerintah untuk menjelaskan bahwa tidak cukup membuat negara hanya dengan berbasiskan pada ideologi saja.

Di akhir diskusi, Bonar Tigor Naipospos mengatakan Indonesia harus mengacu pada satu otoritas yang kokoh. Sudah saatnya wakil Presiden leading dalam persoalan ini. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa perlu untuk menyiapkan masyarakat untuk dapat terlibat. Makarim Wibisono mengatakan bahwa Indonesia harus aktif dalam pergaulan dunia, termasuk mendorong persoalan ini di PBB.

M. Choirul Anam mengatakan bahwa memulangkan warga ke Indonesia memang butuh langkah-langkah yang komprehensif. Sudah seharusnya kita memiliki formula untuk mengatasi persoalan ini, sehingga di masa depan tidak perlu ada lagi pertanyaan-pertanyaan terkait dengan hal ini. Ali Munhanif mengatakan hampir seluruh negara mengalami persoalan yang sama terkait dengan eks ISIS. Kita harus menunjukkan bahwa siap ketika menghadapi persoalan-persoalan seperti ini.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.