“Elit dan Pemilih Terbelah? Peta Pilgub Jakarta yang Makin Mengerucut.” – 30 AGUSTUS 2016

2018-02-08T05:56:35+00:00
Rilis Survei
Nona Evita
Nona Evita
November 14, 2017

JAKARTA. Jelang 1 bulan pendaftaran pasangan calon dari jalur partai politik, nama‐nama yang

bergulir di bursa Pilgub Jakarta semakin merujuk ke beberapa tokoh tertentu. Sejumlah kelompok

relawan juga sudah mulai muncul mendeklarasikan dukungan terhadap calon tertentu. Hal inilah

yang menarik untuk diukur, apakah sebenarnya pilihan elit partai sejalan dengan pilihan masyarakat

DKI Jakarta? Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 400 responden, di 6 wilayah

DKI Jakarta yaitu Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu.

Survei ini menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of

error ±4.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Survei ini juga bertujuan untuk melihat peta politik di

Pilgub DKI Jakarta 2017 jelang pendaftaran pasangan calon dari partai politik.

Dalam survei ini, Populi Center mendapatkan beberapa temuan menarik. Petama, sebanyak 76.4

persen masyarakat DKI Jakarta merasa puas dengan kinerja pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam

kurun waktu setahun terakhir. Persentase ini meningkat dari survei Juni 2016 yang mencatat

persentase kepuasan masyarakat DKI Jakarta sebesar 69.8 persen. Sementara itu, data lainnya

menunjukkan 22 persen masyarakat Jakarta mengaku tidak puas dengan kinerja Pemprov DKI

Jakarta setahun terakhir. Persentase ini menurun dari survei Juni 2016 yang mencatat ketidakpuasan

sebesar 28.5 persen.

Kedua, masyarakat Jakarta mengaku puas dengan kinerja Gubernur BTP dengan persentase 74.3

persen pada Agustus 2016. Persentase ini meningkat dari Juni sebelumnya yang mencatat kepuasan

sebesar 71 persen.  Kepuasan kinerja Gubernur BTP ini berbanding lurus dengan kepuasan kinerja

Pemprov DKI Jakarta. Hal ini berarti kinerja Pemprov DKI Jakarta dan kinerja Gubenur BTP saling

mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Untuk rapor kepuasan publik terhadap Gubernur BTP,

pada Agustus 2016, sebanyak 84.7 persen masyarakat Jakarta menyatakan puas terhadap kinerja

Gubernur BTP. Sebelumnya, pada Juni 2016 sebesar 85.2 persen masyarakat Jakarta mengaku puas.

Sementara itu, pada April 2016 sebesar 81.5 persen masyarakat Jakarta menyatakan puas, turun dari

posisi 85.5 pada Februari 2016. Meskipun cenderung fluktuatif, penurunannya tidak signifikan

sehingga masih relatif stabil.

Ketiga, untuk penilaian kinerja Pemprov DKI dari indikator program kerja, masyarakat DKI paling

banyak puas dengan program pelayanan kantor kelurahan (93.4%), pasukan oranye (91%), dan

pelayanan prima puskesmas dan rumah sakit daerah (88.2%). Sementara itu, program kerja yang

paling tidak dirasa memuaskan oleh masyarakat yaitu program QLUE Jakarta Smart City (46.7%), uji

coba nomor kendaraan ganjil dan genap (37%), dan pengendalian harga bahan pokok  (34.2%).

Keempat, untuk penilaian kinerja BTP dari indikator program kerja, masyarakat DKI paling banyak

puas dengan program kesehatan (88.3%), pendidikan (87.3%), dan penghijauan (79.3%). Sementara

itu, untuk program kerja yang paling tidak dirasakan memuaskan oleh masyarakat yaitu program

pemberantasan korupsi (54%), perekonomian (41.6%), dan kemacetan (24%).

Kelima, saat diberikan pertanyaan terbuka mengenai siapa tokoh yang paling layak dipilih untuk

menjadi Gubernur DKI Jakarta, responden menjawab BTP sebesar 46.8 persen. Sementara itu

elektabilitas Tri Rismaharini berada di posisi kedua dengan persentase 16.5 persen dan Sandiaga Uno

di posisi ketiga dengan persentase 7.5 persen. Adapun Yusril Ihza Mahendra dan Ridwan Kamil

masuk dalam top five tokoh dengan elektabilitas tinggi. Naiknya elektabilitas Risma maupun

Sandiaga ini tentu dipengaruhi oleh munculnya beberapa relawan pendukung, deklarasi dukungan

untuk nama‐nama tersebut, maupun kegiatan pra‐kampanye untuk mensosialisasikan mereka.

Keenam, untuk elektabilitas 4 tokoh, BTP menempati posisi pertama dengan persentase 48.2

persen, disusul oleh Risma diposisi kedua (26.5 persen), Sandiaga (9.2 persen), dan Yusril (7 persen).

Sementara itu masih untuk elektabilitas 4 tokoh, posisi BTP juga masih menduduki peringkat

pertama dengan persentase 53.2 persen, dan posisi kedua ditempati oleh Sandiaga Uno dengan

persentase 18 persen, Djarot di posisi ketiga dengan persentase 5.5 persen dan Anies Baswedan

dengan persentase 4.8 persen. Untuk elektabilitas 3 tokoh, apabila BTP, Risma, dan Sandiaga Uno

bertarung di Pilkada DKI 2017, BTP untuk sementara masih mengungguli elektabilitas 3 tokoh

tersebut dengan persentase 50.2 persen, kemudian Risma (27,2 persen) dan Sandi (11.5 persen).

Ketujuh, saat BTP head to head dengan Yusril persentasenya menurun dibanding bulan Juni lalu yaitu

dari 61 persen menjadi 56.2 persen. Begitupula saat head to head dengan Risma dan Sandiaga.

Sementara itu, untuk persentase Risma dan Sandiaga sedikit meningkat dibanding BTP. Ini

menunjukkan bahwa gerakan relawan pendukung Risma dan Sandiaga berperan dalam mendongrak

elektabilitas mereka.

Ketujuh, berdasarkan analisa sederhana crosstabulation, partai politik berbasis massa Islam seperti

PKB, PKS, PAN, dan PPP, cenderung lebih memilih Risma dibanding BTP. Temuan ini tercermin dari

banyaknya pendukung Risma yang berasal dari masyarakat DKI dengan preferensi partai PKB, PKS,

PAN, dan PPP. Sementara itu, masyarakat DKI dengan preferensi kepartaian PDIP lebih memilih BTP

dibanding Risma, padahal sejumlah elit partai PDIP pernah berwacana akan mengusung Risma di

Pilgub DKI mendatang. Tidak hanya itu, masyarakat dengan preferensi partai Demokrat dan Gerindra

juga lebih banyak yang memilih BTP dibanding Risma. Hal ini bisa dijadikan pertimbangan sejumlah

elit partai untuk menentukan siapa calon pilihan rakyat yang akan diusung.

Sebaliknya, masyarakat dengan preferensi partai berbasis Islam seperti PKB, PKS, PPP, dan PAN

terbelah saat diberi pilihan antara BTP atau Sandiaga Uno. Masyarakat DKI dengan preferensi PKB

dan PAN lebih memilih BTP dibanding Sandiaga. Ini menujukkan bahwa Sandiaga belum dapat

sepenuhnya mengkonsolidasi suara masyarakat DKI dengan afiliasi partai berbasis Islam. Keinginan

pendukung PDIP juga lebih banyak yang mendukung BTP dibanding Sandiaga Uno. Temuan ini

sifatnya indikatif mengingat jumlah responden yang terbatas untuk masing‐masing kategori.

***

Contact Person: Nona Evita (Researcher Populi Center) (HP: 081289614064)

 

 Download