Ikhtiar Melawan Corona

Ikhtiar Melawan Corona

Wabah Corona masih meringkus sebagian besar dunia. Berbagai upaya dicari untuk memendekkan durasi serta menahan laju jatuhnya korban. Salah satunya, Lembaga Eijkman menggandeng PMI berusaha menemukan serum dari para penyintas. Bagaimana peluangnya?

Populi Center dan Smart FM Network membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Ikhtiar Melawan Corona”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 18 April 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB, bertempat di kantor pusat Smart FM. Diskusi Perspektif Indonesia dilakukan dengan menggunakan sambungan telepon, mengingat penyebaran virus Corona yang semakin meluas.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Dr. Abidinsyah Siregar (Dewan Pakar Ikatan Dokter Indonesia, Mantan Pejabat Senior Kemenkes & BKKBN), Prof. Dr. Amin Soebandrio (Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman), Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH (Dokter Kesehatan Masyarakat), dan Sudirman Said, MBA (Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia). Diskusi ini dipandu oleh Olla Nurlija.

Mengawali pemaparan, Abidinsyah Siregar mengatakan bahwa pada dasarnya kita pernah memiliki pengalaman mengatasi persoalan virus H1N1. Kita pada waktu itu sudah dapat merespons secara cepat penyebaran virus H1N1. Persoalan penyebaran virus corona, sebenarnya sudah dapat diprediksi, seharusnya pemerintah dapat berkaca pada bagaimana penanganan virus H1N1. Seharusnya pemerintah dapat menggunakan masyarakat untuk dapat mengoptimalkan partisipasi masyarakat, terutama dengan membuat pula peta wilayah hijau yang bebas dari virus corona. Dengan adanya daerah merah dan daerah hijau, kita dapat lebih memiliki peta penyebaran virus corona.

Sudirman Said mengatakan bahwa saat ini tidak ada negara yang sudah aman dari penyebaran virus corona. China sedang menunjukkan bahwa saat ini sedang menghadapi gelombang kedua penyebaran virus corona. Apa yang terjadi di Amerika Serikat menjadi contoh yang penting, mengingat kebijakan negara federal yang berbeda-beda. Melihat perkembangan yang ada sekarang ini, maka kebijakan social distancing merupakan kebijakan yang paling masuk akal. Saat ini PMI sedang memberikan sosialisasi ke masyarakat di pedesaan, untuk melakukan social distancing. Hal lain yang sedang disiapkan adalah penyiapan bantuan sosial, terutama untuk kepada masyarakat dengan kelas ekonomi bawah.

Amin Soebandrio mengatakan bahwa kerja sama dengan PMI berangkat dari keprihatinan terhadap penyebaran virus corona. Terutama mengingat data di negara kita, banyak yang masih berada di usia muda dapat terkena virus corona. Eijkman dan PMI saat ini sedang ada pemikiran untuk melakukan plasma darah, terutama dari masyarakat yang sehat untuk diberikan kepada masyarakat yang terkena virus corona. Salah satu pengujian yang dilakukan adalah dengan memberikan tes terhadap virus corona, yakni dengan dua sampel yakni plasma darah dengan anti bodi dan tanpa antibodi.

Di akhir diskusi, Hasbullah Thabrany mengatakan hal yang paling penting adalah bagaimana kita memahami kelemahan dari fasilitas kesehatan kita, terutama apabila kasusnya meledak terus menerus. Penambahan yang begitu cepat, tidak akan sanggup kita tangani. Hal yang paling penting adalah menghindari penularan yakni dengan menerapkan PSBB. Kita dapat melihat bagaimana kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Jepang maupun China, kontrol terhadap masyarakat yang kuat inilah yang membuat kasus di daerah tersebut menurun. Berbanding terbalik dengan kasus yang terjadi di negara-negara barat. Pemerintah ada baiknya memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk menyadari bahwa kapasitas pelayanan kesehatan di Indonesia terbatas.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.