“WAJAH BARU IDAMAN WARGA JAKARTA DI PILGUB DKI 2017” - 22 Februari 2016 

  Selasa, 21 Februari 2017     Nona     RILIS SURVEI

JAKARTA. Setelah mengadakan survei evaluasi akhir tahun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada bulan Desember 2015, Populi Center kembali mengadakan survei jelang Pilgub DKI Jakarta 2017. Lembaga kajian nirlaba tentang opini dan kebijakan publik ini ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat Jakarta mengenai wajah baru dan kriteria calon Gubernur yang diinginkan sebagai pemimpin DKI Jakarta periode 2017‐2022. Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 400 responden di 6 wilayah DKI Jakarta yaitu Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu. Survei ini menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error ± 5% pada tingkat kepercayaan 95%, dan dibiayai melalui kas internal Populi Center. Dalam survei ini, Populi Center menemukan beberapa temuan menarik.

Pertama, untuk tingkat popularitas selain Ahok,  tokoh yang memiliki popularitas tinggi  adalah Rano Karno (96%), Ahmad Dhani (93.5%), Yusril Ihza Mahendra (78%), dan Ridwan Kamil (75.2%). “Ini berarti nama Yusril dan Ahmad Dhani yang baru saja mulai muncul di bursa cagub Jakarta cukup dikenal masyarakat Jakarta dan berpotensi untuk mendulang dukungan dalam Pilgub 2017 nantinya dibandingkan nama‐nama lainnya,” ujar Nona Evita, peneliti Populi Center.  

Kedua, dari elektabilitas top of mind, sebanyak 49.5% masyarakat menyebut nama  Gubernur Ahok saat diberi pertanyaan siapa yang akan dipilih untuk menjadi Gubernur DKI  Jakarta periode 2017‐2022. Sementara itu, 34.5% masih cenderung tidak tahu akan pilihannya dan memilih untuk tidak menjawab. Posisi kedua ditempati oleh Ridwan Kamil (sebesar 7%), namun angka ini jauh lebih kecil dibanding swing voters.

Ketiga, dari elektabilitas head‐to‐head, nama Yusril Ihza Mahendra berpotensi menjadi kuda hitam. Memang nama Ahok kalau diadu dengan sejumlah nama baru seperti Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, Adhyaksa Dault, Ahmad Dhani, maupun dengan tokoh muda Ridwan Kamil, persentase elektabilitas Ahok sudah diatas 50%. Ini menunjukkan bahwa Pilgub DKI Jakarta Februari 2017 mendatang berpotensi hanya 1 putaran. Namun, nama Yusril menunjukkan angka elektabilitas yang menjanjikan kenaikan. Sebaliknya, persentase elektabilitas Ridwan Kamil malah semakin menurun. “Seharusnya Ridwan Kamil segera deklarasi karena masyarakat bisa semakin meragukan keseriusan Ridwan Kamil yang dinilai tidak tegas dan tidak berani mengambil keputusan. Artinya semakin lama mengambang, semakin jauh jarak head to head Ridwan Kamil dan Ahok,” ujar Nona Evita.  

Download  Klik di sini 

 

Berita Terkait


Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Update Kajian Indonesia Timur dan Tenggara

Kawasan timur Indonesia seringkali dilihat sebagai wilayah yang bermasalah, dari ancaman separatisme, daerah rawan konflik, hingga persoalan keterbelakangan. Adakah perspektif yang bisa memberikan energi positif bagi kita dalam memandang Indonesia timur dan tenggara? Populi Center membahas hal tersebut dalam seri kedua Forum Populi dengan tema “Update Kajian Indonesia Timur” pada

  Senin, 31 Juli 2017        Sudi        FORUM POPULI

Potret Konflik Syiah Sampang di Karang Gayam

Sebagai bangsa yang multikuktural, Indonesia dianugerahi kemajemukan baik dari segi sosial budaya maupun agama. Kondisi ini pada satu sisi merupakan nilai plus dalam kerangka memperkaya khazanah bangsa. Namun di sisi lain dapat menjadi ancaman serius terhadap persatuan dan kesatuan bangsa jika kebhinekaan tersebut tidak disikapi secara bijak. Konflik Syiah di

  Senin, 31 Juli 2017        Sudi        ESSAI/OPINI
Top