“Dinamika Pilgub DKI 2017: Antara Parpol dan Independen.” - 23 JUNI 2016 

  Selasa, 21 Februari 2017        Nona        Rilis Survei

JAKARTA. Sejak 2 bulan terakhir, beberapa partai seperti Nasdem, Hanura, dan Golkar, sudah 


mendeklarasikan akan mendukung Gubernur Ahok untuk bertarung di Pilgub DKI 2017. Namun 


demikian, ada beberapa partai seperti PDIP yang akan mengusung Ahok dengan syarat Ahok 


mengikuti proses seleksi. Tarik menarik antara parpol dan independen ini yang menarik untuk 


diukur, apakah sebenarnya pencalonan lewat jalur parpol dan independen mempengaruhi suara 


masyarakat atau bahkan tidak ada pengaruhnya sama sekali. Survei ini dilakukan melalui wawancara 


tatap muka dengan 400 responden, di 6 wilayah DKI Jakarta yaitu Jakarta Utara, Jakarta Selatan, 


Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu. Survei ini menggunakan metode acak bertingkat 


(multistage random sampling) dengan margin of error ±4.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Survei 


ini juga bertujuan untuk melihat tren dukungan publik di Jakarta dan melihat potensi kandidat yang 


semakin menguat dukungan elektoralnya dibanding survei sebelumnya yang sudah dilakukan pada 


bulan Desember 2015, Februari 2016, dan April 2016.   


Dalam survei ini, Populi Center mendapatkan beberapa temuan menarik. Petama, data 


menunjukkan bahwa 42% masyarakat DKI menyatakan tidak mempermasalahkan jalur parpol dan 


jalur independen. Namun, secara spesifik, 33.2% masyarakat Jakarta menginginkan Ahok maju 


kembali menjadi calon Gubernur lewat jalur independen dan 9% menginginkan Ahok maju lewat 


jalur parpol.  


Kedua, 13.5% masyarakat DKI sudah berpartisipasi memberikan KTP melalui Teman Ahok. 


Sementara itu 69.8% menyatakan belum berpartisipasi. Dari 13.5% masyarakat DKI yang sudah 


berpartisipasi memberikan KTP melalui Teman Ahok, paling banyak adalah masyarakat dengan 


preferensi partai Nasdem (33.3%), disusul oleh masyarakat dengan preferensi partai Perindo (25%) 


dan PDIP (20.2%). Kemudian, 38.5% masyarakat masih akan tetap mendukung apabila Ahok ganti 


maju lewat jalur partai politik. Saat ditanya partai yang paling cocok untuk mencalonkan Ahok, 25.2% 


masyarakat DKI memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, disusul oleh partai Gerindra (9.2%), 


dan Nasdem (8.8%). Namun demikian, paling banyak masyarakat yang memilih untuk tidak tahu dan 


tidak jawab saat diberi pertanyaan ini, yaitu sebesar 36.8%.  


Ketiga, untuk tingkat popularitas, mayoritas persentase popularitas tokoh naik dibanding bulan April 


2016. Sementara itu, popularitas Gubernur Ahok masih berada di posisi pertama. Sementara itu, 


untuk penilaian terhadap 14 tokoh, hanya Abraham Lunggana (Haji Lulung) dan Ahmad Dhani yang 


masuk dalam top ten untuk popularitas namun memiliki penilaian negatif lebih banyak dibanding 


penilaian positif. Ini artinya Haji Lulung dan Ahmad Dhani popular karena penilaian negatifnya. Hal 


menarik lainnya yaitu penilaian positif Rano Karno menempati posisi pertama, mengalahkan Ahok 


yang berada di posisi kedua. Padahal, untuk popularitas, presentase popularitas Ahok mengalahkan 


Rano Karno.  


Keempat, untuk tingkat elektabilitas top of mind, elektabilitas Gubernur Ahok sedikit naik dibanding 


bulan April lalu, yaitu dari 50.8% menjadi 51.2%. Kenaikan Yusril Ihza Mahendra juga cukup signifikan 


dari 5% pada bulan April 2016 menjadi 10.2% pada bulan Juni 2016 dan masih berada di posisi 


kedua. Hal yang menarik dari temuan ini, bahwa elektabilitas Ridwan Kamil naik dibanding bulan 


April lalu, yaitu dari 1% menjadi 3.5%, meski sebelumnya sudah sempat menyatakan bahwa dia tidak 


akan maju dalam Pilgub DKI 2017. 


Kelima, Saat Ahok berlawanan head to head dengan Yusril Ihza Mahendra dan Sjafrie Sjamsoeddin, 


elektabilitas Ahok sedikit naik dibanding bulan April lalu, yaitu dari 56% menjadi 61% di bulan Juni 


2016. Temuan menarik dari elektabilitas head to head adalah persentase Yusril dan Sjafrie apabila 


berlawanan dengan Ahok, masih sama dibanding bulan April lalu. Ini menunjukkan bahwa 


masyarakat tidak cepat‐cepat menjatuhkan pilihan, namun masyarakat juga ingin melihat seberapa 


kompeten bakal  Calon Gubernur yang lain. Selain itu, saat Ahok berkompetisi melawan Tri 


Rismaharini, Ahok juga masih lebih unggul dengan angka 59.2% dibanding Risma dengan persentase 


23.8%. Risma kemungkinan besar akan kalah apabila berkompetisi melawan Ahok dan menjadi 


kerugian bagi masyarakat Surabaya karena harus kehilangan Walikota yang baik apabila Risma 


dipaksa untuk maju dalam Pilgub DKI 2017.  


Keenam, tingkat kepuasan terhadap kinerja Pemprov DKI Jakarta sedikit menurun, dari 73.3% di 


bulan April 2016 menjadi 69.8% di bulan Juni 2016. Sementara itu untuk  persentase tingkat 


kepuasan terhadap kinerja Gubernur Ahok juga menurun, yaitu dari 73.7% di bulan April 2016 


menjadi 71% di bulan Juni 2016. Meski demikian, secara keseluruhan, tingkat kepuasan publik 


terhadap kepemimpinan Gubernur Ahok meningkat, dari 81.5% di bulan April 2016 naik menjadi 


85.2% di bulan Juni 2016. Sementara itu, di bulan Februari 2016, 85.5% masyarakat DKI menyatakan 


puas dan 77.7% menyatakan puas di bulan Desember 2015. Tren ini meski fluktuatif, namun masih 


tetap berada pada level stabil karena naik dan turunnya persentase tidak signifikan.  


Ketujuh, untuk isu‐isu yang sedang bergulir seperti isu kasus suap Reklamasi Teluk Jakarta, 32.2% 


masyarakat Jakarta masih menyatakan tidak percaya bahwa Ahok terlibat kasus suap reklamasi 


Pantai Utara Jakarta. Sementara itu, 30.2% masyarakat memandang bahwa kebijakan reklamasi 


tersebut sebaiknya digunakan untuk perumahan rakyat.  Kemudian untuk kasus banjir ROB yang 


terjadi di seluruh kawasan pesisir dari Marunda hingga Muara Angke, 35.2% masyarakat DKI 


menyarankan agar pemprov DKI membangun tanggul raksasa di Pantai utara Jakarta.  


Kedelapan, untuk kinerja DPRD DKI Jakarta, 62.2% masyarakat DKI tidak puas dengan kinerja DPRD 


DKI Jakarta dan 60.8% merasa bahwa DPRD DKI tidak mewakili aspirasi rakyat. 


Kesembilan, untuk simulasi pasangan, masyarakat DKI lebih memilih Ahok‐Heru dengan persentase 


44.8 persen dibanding Ahok‐Djarot dengan persentase 18.5 persen. Sementara pasangan Ahok‐Heru 


masih berada di posisi pertama apabila diadu dengan sejumlah nama pasangan yang disimulasikan, 


seperti Yusril Ihza Mahendra‐Djarot Saiful Hidayat, dan Sjafrie Sjamsoeddin‐Sandiaga S. Uno.  


Kesepuluh, untuk penilaian lembaga Negara, top three lembaga Negara dengan tingkat kepuasan 


tertinggi diraih oleh TNI (76.4%), Presiden (73%), dan KPK RI (70.2%). Sementara itu lembaga yang 


masuk posisi bottom three yaitu Partai Politik (25.7%), DPR RI (33%), dan Kejaksaan (40.3%).  


*** 


Contact Person: Nona Evita (Researcher Populi Center) (HP: 081289614064)  


Download Klik di sini

Berita Terkait


LOWONGAN KERJA

Lembaga kajian Opini dan Kebijakan Publik, Populi-Center, Jakarta, mencari 1 (satu) orang staf program/peneliti penuh waktu untuk kontrak kerja selama sekurang-kurangnya satu tahun dengan kemungkinan kontrak kerja diperpanjang sesuai kinerja yang bersangkutan.

Kriteria dan syarat-syarat untuk seorang Staf Program yang dibutuhkan:

•Pria/Wanita umur tidak lebih dari 32 tahun .

•Memiliki integritas dan rekam-jejak yang baik pada pekerjaan sebelumnya (cantumkan nama, alamat, dan nomor kontak pemberi referensi).

  Selasa, 16 Mei 2017        Yudha        Publications

PERSPEKTIF INDONESIA: MENGOBATI LUKA PILKADA - 22 April 2017

JAKARTA. Pilkada DKI Jakarta 2017 baru saja selesai. Pilkada kali ini terasa mendorong pemisahan di masyarakat. Luka akibat pemilihan kepala daerah masih menganga. Pembelahan akibat Pilkada Jakarta makin terasa di dunia maya. Apakah hal ini disebabkan oleh durasi kampanye terlalu lama? Ataukah ini memang refleksi realitas politik saat ini? Bisakah politik tidak terlalu menguras energi?  

Untuk membahas isu ini, Populi Center bekerja sama dengan Smart FM Network mengadakan d

  Senin, 24 April 2017        Rafif        Perspektif Indonesia

Quick Count Pilgub DKI: Anies-Sandi Unggul Atas Basuki-Djarot 

Press Release 19 April 2017  

Populi Center kembali menggelar exit poll dan hitung cepat (quick count) di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 putaran ke 2. Exit poll Populi Center menggunakan metode single random sampling dengan margin of error 2% dan menggunakan sample sebesar 2.000 responden. Sementara untuk quick count, Populi Center menggunakan sample sebesar 500 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dari total 13.034 TPS.

Selengkapnya dapat anda download Read More -->

  Rabu, 19 April 2017        Yudha        Publications

“DEBAT MILIK SIAPA” - 11 April 2017

JAKARTA. Pemungutan suara Pilgub DKI Jakarta putaran kedua kian dekat. Debat kandidat menjadi momen penting dalam rangkaian kampanye, mengingat melalui debat diharapkan masyarakat mampu berfikir secara rasional dengan mencermati program-program yang disampaikan dalam debat tersebut. Lantas program apa yang paling tepat menjawab permasalahan ibukota dan seberapa besar debat menjadi referensi pemilih? Untuk membahas isu ini, Populi Center bekerja sama dengan KPUD DKI Jakarta mengadakan diskusi Perspektif Jakarta bertemakan "Debat Milik Si

  Rabu, 12 April 2017        Rafif        Perspektif Jakarta
Top