“Elit dan Pemilih Terbelah? Peta Pilgub Jakarta yang Makin Mengerucut.” - 30 AGUSTUS 2016 

2017-02-21 08:26:46 | Rilis Survei | Penulis : Nona

 


JAKARTA. Jelang 1 bulan pendaftaran pasangan calon dari jalur partai politik, nama‐nama yang 


bergulir di bursa Pilgub Jakarta semakin merujuk ke beberapa tokoh tertentu. Sejumlah kelompok 


relawan juga sudah mulai muncul mendeklarasikan dukungan terhadap calon tertentu. Hal inilah 


yang menarik untuk diukur, apakah sebenarnya pilihan elit partai sejalan dengan pilihan masyarakat 


DKI Jakarta? Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 400 responden, di 6 wilayah 


DKI Jakarta yaitu Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu. 


Survei ini menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of 


error ±4.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Survei ini juga bertujuan untuk melihat peta politik di 


Pilgub DKI Jakarta 2017 jelang pendaftaran pasangan calon dari partai politik.  


Dalam survei ini, Populi Center mendapatkan beberapa temuan menarik. Petama, sebanyak 76.4 


persen masyarakat DKI Jakarta merasa puas dengan kinerja pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam 


kurun waktu setahun terakhir. Persentase ini meningkat dari survei Juni 2016 yang mencatat 


persentase kepuasan masyarakat DKI Jakarta sebesar 69.8 persen. Sementara itu, data lainnya 


menunjukkan 22 persen masyarakat Jakarta mengaku tidak puas dengan kinerja Pemprov DKI 


Jakarta setahun terakhir. Persentase ini menurun dari survei Juni 2016 yang mencatat ketidakpuasan 


sebesar 28.5 persen.  


Kedua, masyarakat Jakarta mengaku puas dengan kinerja Gubernur BTP dengan persentase 74.3 


persen pada Agustus 2016. Persentase ini meningkat dari Juni sebelumnya yang mencatat kepuasan 


sebesar 71 persen.  Kepuasan kinerja Gubernur BTP ini berbanding lurus dengan kepuasan kinerja 


Pemprov DKI Jakarta. Hal ini berarti kinerja Pemprov DKI Jakarta dan kinerja Gubenur BTP saling 


mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Untuk rapor kepuasan publik terhadap Gubernur BTP, 


pada Agustus 2016, sebanyak 84.7 persen masyarakat Jakarta menyatakan puas terhadap kinerja 


Gubernur BTP. Sebelumnya, pada Juni 2016 sebesar 85.2 persen masyarakat Jakarta mengaku puas. 


Sementara itu, pada April 2016 sebesar 81.5 persen masyarakat Jakarta menyatakan puas, turun dari 


posisi 85.5 pada Februari 2016. Meskipun cenderung fluktuatif, penurunannya tidak signifikan 


sehingga masih relatif stabil.  


Ketiga, untuk penilaian kinerja Pemprov DKI dari indikator program kerja, masyarakat DKI paling 


banyak puas dengan program pelayanan kantor kelurahan (93.4%), pasukan oranye (91%), dan 


pelayanan prima puskesmas dan rumah sakit daerah (88.2%). Sementara itu, program kerja yang 


paling tidak dirasa memuaskan oleh masyarakat yaitu program QLUE Jakarta Smart City (46.7%), uji 


coba nomor kendaraan ganjil dan genap (37%), dan pengendalian harga bahan pokok  (34.2%).  


Keempat, untuk penilaian kinerja BTP dari indikator program kerja, masyarakat DKI paling banyak 


puas dengan program kesehatan (88.3%), pendidikan (87.3%), dan penghijauan (79.3%). Sementara 


itu, untuk program kerja yang paling tidak dirasakan memuaskan oleh masyarakat yaitu program 


pemberantasan korupsi (54%), perekonomian (41.6%), dan kemacetan (24%).   


Kelima, saat diberikan pertanyaan terbuka mengenai siapa tokoh yang paling layak dipilih untuk 


menjadi Gubernur DKI Jakarta, responden menjawab BTP sebesar 46.8 persen. Sementara itu 


elektabilitas Tri Rismaharini berada di posisi kedua dengan persentase 16.5 persen dan Sandiaga Uno 


di posisi ketiga dengan persentase 7.5 persen. Adapun Yusril Ihza Mahendra dan Ridwan Kamil 


masuk dalam top five tokoh dengan elektabilitas tinggi. Naiknya elektabilitas Risma maupun 


Sandiaga ini tentu dipengaruhi oleh munculnya beberapa relawan pendukung, deklarasi dukungan 


untuk nama‐nama tersebut, maupun kegiatan pra‐kampanye untuk mensosialisasikan mereka.  


Keenam, untuk elektabilitas 4 tokoh, BTP menempati posisi pertama dengan persentase 48.2 


persen, disusul oleh Risma diposisi kedua (26.5 persen), Sandiaga (9.2 persen), dan Yusril (7 persen). 


Sementara itu masih untuk elektabilitas 4 tokoh, posisi BTP juga masih menduduki peringkat 


pertama dengan persentase 53.2 persen, dan posisi kedua ditempati oleh Sandiaga Uno dengan 


persentase 18 persen, Djarot di posisi ketiga dengan persentase 5.5 persen dan Anies Baswedan 


dengan persentase 4.8 persen. Untuk elektabilitas 3 tokoh, apabila BTP, Risma, dan Sandiaga Uno 


bertarung di Pilkada DKI 2017, BTP untuk sementara masih mengungguli elektabilitas 3 tokoh 


tersebut dengan persentase 50.2 persen, kemudian Risma (27,2 persen) dan Sandi (11.5 persen).  


Ketujuh, saat BTP head to head dengan Yusril persentasenya menurun dibanding bulan Juni lalu yaitu 


dari 61 persen menjadi 56.2 persen. Begitupula saat head to head dengan Risma dan Sandiaga. 


Sementara itu, untuk persentase Risma dan Sandiaga sedikit meningkat dibanding BTP. Ini 


menunjukkan bahwa gerakan relawan pendukung Risma dan Sandiaga berperan dalam mendongrak 


elektabilitas mereka.  


Ketujuh, berdasarkan analisa sederhana crosstabulation, partai politik berbasis massa Islam seperti 


PKB, PKS, PAN, dan PPP, cenderung lebih memilih Risma dibanding BTP. Temuan ini tercermin dari 


banyaknya pendukung Risma yang berasal dari masyarakat DKI dengan preferensi partai PKB, PKS, 


PAN, dan PPP. Sementara itu, masyarakat DKI dengan preferensi kepartaian PDIP lebih memilih BTP 


dibanding Risma, padahal sejumlah elit partai PDIP pernah berwacana akan mengusung Risma di 


Pilgub DKI mendatang. Tidak hanya itu, masyarakat dengan preferensi partai Demokrat dan Gerindra 


juga lebih banyak yang memilih BTP dibanding Risma. Hal ini bisa dijadikan pertimbangan sejumlah 


elit partai untuk menentukan siapa calon pilihan rakyat yang akan diusung.  


Sebaliknya, masyarakat dengan preferensi partai berbasis Islam seperti PKB, PKS, PPP, dan PAN 


terbelah saat diberi pilihan antara BTP atau Sandiaga Uno. Masyarakat DKI dengan preferensi PKB 


dan PAN lebih memilih BTP dibanding Sandiaga. Ini menujukkan bahwa Sandiaga belum dapat 


sepenuhnya mengkonsolidasi suara masyarakat DKI dengan afiliasi partai berbasis Islam. Keinginan 


pendukung PDIP juga lebih banyak yang mendukung BTP dibanding Sandiaga Uno. Temuan ini 


sifatnya indikatif mengingat jumlah responden yang terbatas untuk masing‐masing kategori.  


*** 


Contact Person: Nona Evita (Researcher Populi Center) (HP: 081289614064) 


 


Download