“DEBAT DAN ELEKTABILITAS KANDIDAT.” - 22 JANUARI 2016 

  Selasa, 21 Februari 2017     Nona     RILIS SURVEI

JAKARTA.  1  bulan  jelang  Pemilihan  Gubernur,  KPU  DKI  menggelar  debat  kandidat  calon  Gubernur dan  Wakil  Gubernur  DKI  Jakarta  periode 2017‐2022.  Dalam  debat  tersebut,  para  pasangan  calon memaparkan  visi,  misi,  dan  beradu  program‐program  yang  akan dilakukan dari pertanyaan seputar isu  sosial  ekonomi.  Hal  inilah  yang  mendasari  Populi  Center  untuk  melakukan  survei  lebih  dalam mengenai evaluasi masyarakat terhadap performa pasangan calon dalam debat pertama, baik dalam pemahaman  isu  maupun  penampilan  para pasangan  calon,  serta elektabilitas  kandidat  pasca debat pertama.  

Survei  ini  dilakukan  melalui  wawancara tatap  muka dengan  600 responden  di  6 wilayah  DKI  Jakarta yaitu  Jakarta  Utara,  Jakarta  Selatan,  Jakarta Pusat,  Jakarta  Timur,  dan  Kepulauan  Seribu.  Survei  ini menggunakan  metode  acak  bertingkat  (multistage  random sampling)  dengan  margin  of error  ±4% pada tingkat kepercayaan 95%.  

Dalam  survei  ini,  Populi  Center  mendapatkan  beberapa  temuan  menarik.  Pertama,  masyarakat menilai bahwa pasangan yang paling unggul pada debat pertama, 13 Januari lalu, adalah BTP‐Djarot dengan  persentase  36.5%,  disusul  oleh  Anies‐Sandiaga  di  posisi  kedua  dengan  persentase sebesar 25.5%, dan Agus‐Sylvi di posisi ketiga dengan persentase 17.8%. Sementara itu, masyarakat DKI yang tidak menonton debat adalah sebesar 14.2%.  

Kedua,  untuk penampilan pasangan kandidat pada debat pertama, masyarakat DKI menilai bahwa pasangan  BTP‐Djarot  menempati  posisi  pertama dari segi  pemahaman  permasalahan  Jakarta (44.2%),  program  dan  solusi  yang  paling  jelas  (37.7%),  dan  pemaparan  visi,  misi,  dan  program  yang paling realistis (37.7%). Sementara Anies‐Sandiaga menempati posisi kedua dengan perolehan 22.3% untuk pemahaman permasalahan Jakarta, 26% untuk kejelasan program dan solusi, dan 25.8% untuk pemaparan visi,  misi,  dan program  yang  realistis.  Untuk  kategori  penampilan (pakaian,  cara bicara, gestur),  Anies‐Sandiaga  paling  unggul  dengan  perolehan  persentase  sebesar  31.8%.  Sebaliknya,untuk  pasangan  Agus‐Sylvi,  pasangan kandidat  ini  menempati  posisi  terakhir  di  sisi  pemahaman permasalahan  Jakarta  (15.8%),  kejelasan  program  dan  solusi  (17.7%),  penampilan (19.8%),  dan pemaparan visi, misi, dan program realistis (17.8%).

Ketiga, dari segi pemahaman isu, pasangan BTP‐Djarot dianggap paling tinggi pemahamannya dalam isu  kemiskinan  (30.2%),  kesenjangan  sosial (32.8%),  penanggulangan  kemacetan  (47.5%),  dan transportasi  public  (41.7%).  Sementara  itu,  pasangan  Anies‐Sandiaga  dianggap  paling tinggipemahamannya dalam isu lapangan kerja (33.3%) dan pendidikan (41.7%). Sementara di seluruh isu pada  debat  pertama,  masyarakat  DKI menganggap  bahwa  pasangan  Agus‐Sylvi  paling  rendah pemahamannya.  

Keempat,  kriteria  kepemimpinan  yang  paling  utama  diharapkan  masyarakat  DKI  yaitu  bersih  dari korupsi  sebesar  33.8%.  Kriteria  kepemimpinan ini  juga  berbanding  lurus  dengan  kemampuan  yang paling  diharapkan  dari  Gubernur  DKI  periode  selanjutnya  yaitu  kemampuan  memberantas korupsi dengan persentase sebesar 23%.  

Kelima, dari segi persebaran pemilih dan preferensi kemantapan pilihan, pasangan BTP‐Djarot paling banyak memiliki loyal voters atau pemilih yang sudah mantap dengan pilihannya, dengan persentase sebesar  40.9%.  Sementara  itu,  pasangan  Anies‐Sandiaga  memiliki  loyal  voters  sebesar  29.4%,  dan Agus‐Sylvi memiliki loyal voters sebesar 26.7%.

Keenam,  dari  hasil  survei,  debat  pertama  mempengaruhi  elektabilitas  kandidat.  Hal  ini  terlihat  dari temuan  survei  kami  yang  menunjukkan  bahwa elektabilitas  BTP‐Djarot  dan  Anies‐Sandiaga meningkat  pasca  debat,  yaitu  BTP‐Djarot  dengan  elektabilitas  36.7%  di  posisi  pertama  dan  Anies‐Sandiaga dengan  persentase elektabilitas  28.5%  di  posisi  kedua.  Sebaliknya,  elektabilitas  Agus‐Sylvi menurun  tajam dari  32.2%  pada  bulan Desember  2016  menjadi  25%  pasca  debat.  

Temuan  menarik dari  elektabilitas  pasca  debat  adalah bahwa  terjadi  peningkatan  pada  angka  undecided voters,  dari 8.5  persen  pada  bulan Desember  2016  menjadi  9.8  persen  pasca  debat  pertama.  Peningkatan undecided voters pasca debat dapat memberi signal positif karena debat membuat pemilih menjadi rasional  dan  cenderung  wait  and  see  performa  seluruh  kandidat  di  debat  kedua  dan  ketiga, khususnya dalam menjawab pertanyaan seputar isu yang perlu diselesaikan di Jakarta, dalam bentuk format jawaban program yang implementatif dan tidak sekedar wacana semata. 

Ketujuh,  5  hal  yang  menjadi  isu  yang  perlu  segera  diselesaikan  adalah  kemacetan  (26.7%),  harga bahan  pokok  yang  tinggi  (20.5%),  jumlah pengangguran  (15%),  biaya  pendidikan  dasar  (7.8%),  dan biaya  berobat/  kesehatan  (7.5%).  Dari  5  isu  tersebut,  isu  yang  belum  dibahas  di debat  pertama, sebaiknya dibahas di debat kedua dan ketiga, karena masyarakat DKI perlu mengetahui pemahaman para kandidat mengenai permasalahan Jakarta yang paling mendesak.

Kedelapan,  masyarakat  DKI  semakin  rasional  karena  visi  misi  dan  program  pasangan  kandidat menjadi pertimbangan utama dalam menentukan dukungan terhadap pasangan calon Gubernur DKI mendatang,  dengan  persentase  sebesar  49.2%,  disusul  oleh  kriteria  lain  seperti  sifat  dan  gaya kepemimpinan (18%) dan tingkat kesukaan terhadap cagub/cawagub (17.7%).  

Kesembilan,  terjadi  penurunan  tren  kepuasan  terhadap  kinerja  Pemprov  DKI  Jakarta  dibawah kepemimpinan Plt. Gubernur DKI Sumarsono. Selama masa kepemimpinannya sebagai Plt. Gubernur DKI,  Sumarsono  kerap  mengeluarkan  kebijakan‐kebijakan  yang  kurang  memuaskan  seperti  dana hibah untuk  Bamus  Betawi  tanpa  melakukan  audit  efektivitas  penggunaan dana  dan mempercepat APBD.  Hal  ini  berdampak  pada  tren  kepuasan. Saat  ini  masyarakat  yang  menilai  puas  terhadap kinerja  Pemprov.  DKI  dibawah  Plt.  Sumarsono  berada  di  angka  68.3%,  yang  sebelumnya berada  di angka 72.5% di bulan Desember 2016, 73.1% di bulan November 2016, 67,5% di bulan Oktober 2016 dan 76.4% di bulan September 2016.  


***


Contact Person: Nona Evita (Researcher Populi Center) (HP: 081289614064)


Download

Berita Terkait


Klarifikasi Populi Center tentang Hasil Survei di Provinsi NTT 21 Juli – 29 Juli 2017

Pada tanggal 4 September 2017 yang lalu, beberapa surat kabar yang terbit di Kota Kupang, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Pos Kupang dan Timor Express, memuat sebagian kecil dari hasil survei yang telah dilakukan oleh Populi Center, Jakarta pada tanggal 21 Juli-29 Juli 2017. Meskipun

  Jumat, 08 September 2017        Yudha        PUBLIKASI

“PERSEPSI MASYARAKAT JELANG PILGUB NTT 2018”

Populi Center mengadakan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengetahui persepsi masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur NTT 2018. Survei dilaksanakan mulai tanggal  21  Juli  2017  sampai  29  Juli  2017. Melalui survei tersebut, kami ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat NTT mengenai kriteria calon Gubernur yang diinginkan

  Kamis, 07 September 2017        ade        RILIS SURVEI

Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI
Top