“SATU ATAU DUA PUTARAN? GAME CHANGER DI PILGUB JAKARTA.” - 6 FEBRUARI 2016

  Selasa, 21 Februari 2017     Nona     RILIS SURVEI

JAKARTA.  Kontestasi  politik  jelang  Pilgub  DKI  semakin  dinamis  jelang  hari  pemungutan  suara. Berbagai dinamika yang terjadi, seperti debat, kampanye, dan “turun gunung” pemegang kekuasaan tertinggi  partai  untuk  memenangkan  kandidat  yang  diusung,  menjadi  alasan  Populi  Center  untuk kembali  melakukan  survei  mengenai  efek  debat  kedua  yang  juga  menjadi  faktor  pengubah permainan (game changer) di Pilgub DKI, 15 Februari 2017.  

Survei  ini  dilakukan  melalui  wawancara tatap  muka dengan 600  responden di  6  wilayah DKI  Jakarta yaitu  Jakarta  Utara,  Jakarta  Selatan,  Jakarta Pusat,  Jakarta  Timur,  dan  Kepulauan  Seribu.  Survei  ini menggunakan  metode  acak  bertingkat  (multistage  random sampling)  dengan  margin  of error  ±4% pada tingkat kepercayaan 95%.  

Dalam  survei  ini,  Populi  Center  mendapatkan  beberapa  temuan  menarik.  Pertama,  74.3% masyarakat  DKI  menyaksikan  debat  kedua  kandidat Pilgub  DKI  pada  tanggal  27  Januari  2017  lalu. Masyarakat  DKI  menilai  debat  bermanfaat  untuk  mengetahui  visi  misi,  dan program  kerja kandidat (54.7%),  sebagai  pertimbangan  untuk  memutuskan  pilihan  (16.3%),  dan  mengetahui  latar  belakang tiap  kandidat  (7.7%).  Untuk  debat  kedua, 37.2%  pemilih  DKI  menilai  BTP‐Djarot  paling  unggul  pada debat kedua, disusul oleh Anies‐Sandi (28%) di posisi kedua, dan Agus‐Sylvi (12.2%) di posisi ketiga.  

Kedua, 59.5% masyarakat DKI mempertimbangkan visi,misi, dan program dari pasangan calon dalam menentukan  dukungan,  sementara  13.7%  akan mendukung  apabila  suka  dengan  sifat  dan  gaya kepemimpinan  kandidat,  dan  10%  akan  mendukung  apabila  suka  dengan  kandidat.  Temuan  ini menunjukkan bahwa masyarakat DKI sudah semakin rasional mengingat lebih dari sebagian pemilih akan melihat faktor kemampuan untuk menjalani roda pemerintahan DKI Jakarta.  

Ketiga,  27.2%  masyarakat  berharap  Gubernur  dan  Wakil  Gubernur  terpilih  mampu  untuk memberantas  korupsi.  Sementara  15.5%  berharap  akan adanya  peningkatan  pelayanan  kesehatan dan  12.5%  berharap  untuk  penertiban  kampung  kumuh.  Sejalan  dengan  pemberantasan  korupsi sebagai  kemampuan  yang diharapkan  bagi  Gubernur  dan  Wakil  Gubernur  terpilih,  hampir  sebagian masyarakat  DKI  pun  tidak  ingin  calon kandidat  tersangkut  kasus  korupsi.  46.2%  bahkan  mengaku kasus  korupsi  dapat  mengubah  pilihan  mereka.  Temuan  ini  jelas  memberikan  sinyal bahwa  jeratan kasus korupsi akan menurunkan elektabilitas pasangan kandidat dalam kontestasi Pilgub DKI 2017.   

Keempat,  untuk  isu  SARA yang  belakangan  ini  berkembang,  ternyata  tidak  mempengaruhi  pilihan. Hal  ini  terlihat  dari  data  yang  menunjukkan bahwa  71.2%  masyarakat  DKI  mengaku  isu  SARA  tidak mempengaruhi  pilihan  mereka.  36.8%  masyarakat  DKI  mengaku  menyerahkan sepenuhnya  kasus penistaan  agama  terhadap  proses  hukum.  Sementara  untuk  dugaan  kasus  korupsi  Sylviana  Murni, saat  ditanya  mengenai keyakinan  terhadap  dugaan  kasus  korupsi  yang  melibatkan  Sylviana  Murni, 35.3%  masyarakat  DKI  menyerangkan  kasus  tersebut  terhadap proses hukum,  dan  32.8% mendukung  pemanggilan  saat  diberi  pertanyaan  mengenai  sikap  terhadap  pemanggilan  Sylvi  oleh polisi terkait kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Al‐Fauz dan bansos pramuka DKI.  

Kelima,  ketika diberi pertanyaan terbuka mengenai siapa yang akan dipilih apabila Pilpres diadakan hari  ini,  40.7  persen  responden  DKI  menjawab akan  memilih  Joko  Widodo,  disusul  oleh  Prabowo Subianto  (32.5  persen),  dan  SBY  (7.3  persen).  Temuan  ini  berbanding  lurus  dengan  tokoh yang dipercaya  masyarakat,  dimana  Joko  Widodo menempati  posisi  pertama  (43.8  persen),  Prabowo  di posisi kedua (33 persen), dan SBY di posisi ketiga (11.8 persen). Dengan angka ini, cara turun gunung SBY  dalam  membantu  Agus,  justru  bisa  menurunkan  elektabilitas  Agus  karena  sedikitnya pemilih yang  percaya  pada  SBY.  Begitupun  dengan  ajakan  Prabowo  untuk  memenangkan  Anies  kalau  ingin Prabowo jadi Presiden di 2019. Ini menjadi beban politik sendiri bagi Anies.  

Keenam,  untuk  elektabilitas  pasca  debat  kedua,  elektabilitas  BTP‐Djarot  menempati  peringkat pertama dengan persentase 40%, disusul oleh Anies‐Sandi di posisi kedua dengan persentase 30.3% dan  Agus‐Sylvi  sebesar  21.8%  di  posisi  ketiga.  Sementara  itu,  untuk  tingkat  kemantapan  pilihan, 72.2%  masyarakat  sudah  mantap  dengan  pilihannya,  dan  23.8%  menyatakan  masih  mungkin berubah  dengan  pilihannya.  Berdasarkan  tren elektabilitas,  elektabilitas  Agus‐Sylvi  terus  menurun pasca  debat  pertama  dan  kedua.  Kemudian  untuk  pasangan  kandidat  BTP‐Djarot  dan  Anies Sandi meningkat  pasca  debat  pertama  dan  kedua.  Dengan  tren  seperti  sekarang  ini,  maka  estimasi  kasar untuk  elektabilitas  setelah  debat  ketiga adalah  19%  untuk  Agus‐Sylvi,  46%  untuk  BTP‐Djarot,  dan 34%  untuk  Anies‐Sandi,  sehingga  dengan  mempertimbangkan  plus  minus  margin  of error  masih terbuka peluang satu putaran dengan kemenangan yang tipis.  

Ketujuh,  tren  kepuasan  terhadap  kinerja  Pemerintah  Provinsi  DKI  Jakarta  terus  menurun dibandingkan  bulan  Januari  2017  pasca  debat  pertama. Dari  68.3%  dalam  kurun  waktu  hanya  2 minggu,  merosot  tajam menjadi  43.7%.  Penurunan  tingkat  kepuasan  ini  sebagai  reaksi  masyarakat terhadap  kepemimpinan Plt.  Gubernur  Sumarsono yang  sarat  kontroversi  seperti  percepatan APBD DKI, dan tidak terlalu tanggap terhadap aplikasi pengaduan QLUE, dan sebagainya.  

*** 

Contact Person: Nona Evita (Researcher Populi Center) (HP: 081289614064) 

Klik di sini 

Berita Terkait


Klarifikasi Populi Center tentang Hasil Survei di Provinsi NTT 21 Juli – 29 Juli 2017

Pada tanggal 4 September 2017 yang lalu, beberapa surat kabar yang terbit di Kota Kupang, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Pos Kupang dan Timor Express, memuat sebagian kecil dari hasil survei yang telah dilakukan oleh Populi Center, Jakarta pada tanggal 21 Juli-29 Juli 2017. Meskipun

  Jumat, 08 September 2017        Yudha        PUBLIKASI

“PERSEPSI MASYARAKAT JELANG PILGUB NTT 2018”

Populi Center mengadakan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengetahui persepsi masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur NTT 2018. Survei dilaksanakan mulai tanggal  21  Juli  2017  sampai  29  Juli  2017. Melalui survei tersebut, kami ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat NTT mengenai kriteria calon Gubernur yang diinginkan

  Kamis, 07 September 2017        ade        RILIS SURVEI

Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI
Top