“Debat Kandidat, Perilaku Pemilih dan Elektabilitas” - 26 Januari 2017

  Rabu, 22 Februari 2017     ade     JAKARTA

Pasca debat kandidat pertama, 13 Januari 2017 lalu setidaknya memunculkan 2 (dua) catatan penting. Pertama, substansi pelaksanaan debat itu sendiri yang meyisakan sejumlah catatan dan evaluasi. Meski secara umum perhelatan yang digelar KPUD DKI Jakarta tersebut banyak diapresiasi positif banyak pihak. Kedua, berkaitan dengan bagaimana pengaruh debat kandidat bagi perilaku pemilih?!.

Populi Center mengupasnya dalam program Prespektif Jakarta, melalui diskusi publik pada 26 Januari 2017 di media center KPUD Jakarta, mengusung tema “Debat Kandidat, Perilaku Pemilih dan Elektabilitas”. Diskusi yang banyak dihadiri media tersebut menampilkan 3 (tiga) narasumber; Dahlia Umar (Komisioner KPUD DKI Jakarta), Yayat Supriatna (Pengamat Perkotaan / Panelis Debat pertama) dan Usep S. Ahyar (Direktur Populi Center)     

Dahlia Umar pada awal pemaparan menjelaskan meski debat pertama dipandang berjalan baik, namun dirinya mengakui ada beberapa evaluasi termasuk saran dari berbagai kelompok masyarakat diantaranya : Persoalan durasi yang dirasa kurang (90 menit). Pada debat kedua nanti akan ditambah menjadi 120 menit diluar tayangan iklan komersil. Selain itu dalam debat pertama masih banyak persoalan yang dipaparkan kandidat belum tergali secara maksimal. Mensiasati persoalan tersebut Dahlia menambahkan pada debat kedua nanti moderator akan diberi keleluasaan untuk menggali persoalan yang dirasa belum maksimal dijawab kandidat.  Dalam debat kedua nanti secara format hampir sama. Penambhan 2 (dua) Moderator yakni Imam Prasodjo dan Tina Talisa diharapkan dapat berkolaborasi memandu debat lebih baik. 

Selanjutnya Yayat Supriatna menjelaskan beberapa catatan penting untuk evaluasi bagi debat kedua nanti. Pertama, dirinya menyayangkan para kandidat mengambil sumber data yang tidak sama sehingga yang muncul kepermukaan seolah yang penting tampil beda dan meyalahkan pihak lain. Menurutnya data tidak hanya soal angka namun juga berbicara strategi bagaimana mencapai target tersebut. Sayangnya tidak semua kandidat memahami ini dengan baik. Saat ditanya siapa kandidat yang paling mengerti persoalan dan strategi pada debat perdana lalu?. Secara diplomatis Yayat menjelaskan seharusnya setiap kandidat memahami dengan baik visi misi dan program kandidat lain. Sehingga yang akan nampak adalah bagaimana dia tidak hanya mengkritik kandidat lain namun lebih substantif meyakinkan publik bahwa programnya lebih baik dari yang lain. Pada akhir penyampaian Yayat mengingatkan bahwa program yang diusung oleh setiap kandidat adalah “hutang” yang akan dipertanggung jawabkan saat dia terpilih. Untuk itu dirinya berharap agar program yang ditawarkan adalah yang realistis. “Harusnya setiap kandidat memiliki visi misi program realistis dan berorientasi pada Struktur yang membangun kultur sehinga menyelesaikan persoalan Jakarta tidak hanya sendirian namun berbasis kesadaran dan partisipasi masyakarakat”. Pungkasnya.   

Lantas bagaimana pengaruh debat bagi perilaku pemilih? Usep S. Ahyar menegaskan bahwa pemilih DKI adalah pemilih rasional sehingga dipastikan debat memiliki pengaruh terhadap perilaku pemilih. Setidaknya ini tergambar dalam temuan Populi Center pada survei pasca debat lalu. Pertama, Lebih dari 80% warga DKI Jakarta menyaksikan acara debat. Ini membuktikan antusiasme publik sekaligus sebagai salah satu referensi dalam menentukan pilihan terutama bagi pemilih pemula. terdapat 16% suara swing voters bergerak mengalami perubahan suara pasca debat pertama lalu. Dibandingkan pada temuan survei Desember 2016 lalu dari pergerakan suara pada Survei pasca Debat pertama menyebar pada ketiga kandidat. Ada kandidat yang berkurang dan bertambah suaranya. Berkaitan dengan pelaksanaan debat, Usep mengapresiasi atas kinerja KPUD. Meski demikian dirinya berharap dalam debat kedua nanti akan lebih banyak tergali persoalan yang lebih substansial. “Debat bukan hanya adu program dan argumen, lebih dari itu esensi debat adalah pendidikan politik bagi masyarakat”. Tutupnya.   (AG)

Berita Terkait


Klarifikasi Populi Center tentang Hasil Survei di Provinsi NTT 21 Juli – 29 Juli 2017

Pada tanggal 4 September 2017 yang lalu, beberapa surat kabar yang terbit di Kota Kupang, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Pos Kupang dan Timor Express, memuat sebagian kecil dari hasil survei yang telah dilakukan oleh Populi Center, Jakarta pada tanggal 21 Juli-29 Juli 2017. Meskipun

  Jumat, 08 September 2017        Yudha        PUBLIKASI

“PERSEPSI MASYARAKAT JELANG PILGUB NTT 2018”

Populi Center mengadakan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengetahui persepsi masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur NTT 2018. Survei dilaksanakan mulai tanggal  21  Juli  2017  sampai  29  Juli  2017. Melalui survei tersebut, kami ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat NTT mengenai kriteria calon Gubernur yang diinginkan

  Kamis, 07 September 2017        ade        RILIS SURVEI

Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI
Top