Perspektif Indonesia: Trump dan Retorika Nasionalisme, Patriotisme, Proteksionisme - 12 November 201

  Kamis, 02 Maret 2017     aish     LINTAS BERITA

Trump Sendiri Mungkin Kaget Bisa Menang Pilpres

DUNIA  SABTU, 12 NOVEMBER 2016 , 11:56:00 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Kemenangan Donald Trump di Pilpres Amerika Serikat harus diakui fenomenal dan tidak pernah disangka oleh siapapun, mungkin termasuk oleh dirinya sendiri.

Demikian dikatakan Pendiri Freedom Institute, Rizal Mallarangeng, dalam diskusi "Trump & Retorika Nasionalisme Patriotisme Proteksionisme", di Menteng, Jakarta, Sabtu (12/11). 

"Trump menang. Jangankan kita atau Hillary Clinton, Trump sendiri mungkin kaget. Di awal dia mulai, dia enggak pakai tim besar dan banyak bicara agak ngawur. Dulu kita masih anggap pernyataannya ungkapan kemarahan untuk mengingatkan para elite. Tapi semakin lama makin serius," kata Rizal.

Dia mengatakan, kemenangan Trump adalah pertanda dunia sedang berubah. Soal perubahan ke lebih baik atau buruk, masih harus ditunggu lebih jauh. Yang pasti, Trump sudah berhasil memahami dan mendapatkan hati mayoritas rakyat AS.

"Kelihatannya dia berhasil mengerti dan mendapat arus bawah psikopolitik yang banyak orang tidak mengerti," ucap Rizal.

Banyak orang mengatakan, lanjut Rizal, Trump mengerti dengan baik isi hati orang-orang yang dimarjinalkan oleh sistem dan mereka yang kehilangan pekerjaan karena sistem.

"Kenapa Trump bisa mengerti? Trump itu kan pemborong (pedagang). Bapaknya menyuruhnya untuk memulai dari bawah. Dia banyak bergaul dengan tukang. Dia bicara dengan tukang batu dan tukang semen. Jiwa rakyat yang begitulah yang mayoritas saat ini dan dia pahami," ucapnya.

Namun demikian, bagi Rizal, Trump sendiri adalah simbol paradoksnya politik AS. Dia menjadi perwakilan kelas bawah atau pekerja kasar, di lain sisi ia sendiri memiliki gaya hidup super mewah. [ald]

Link:  KLIK DISINI 

 

Kalau Trump Jalankan Programnya, Bisa Disebut Kesintingan

EKBIS  SABTU, 12 NOVEMBER 2016 , 10:00:00 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Kemenangan Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat pasti akan berpengaruh pada dinamika hubungan ekonomi AS dengan Indonesia.

Selama ini, AS sangat penting bagi perkeonomian dunia. Dalam jaringan perekonomian, AS ada di tengah dan paling sentral. Siapapun yang berdagang pasti harus berhubungan dengan AS.

"Ini menjadikan perekonomian mereka sangat penting. Kalau dia batuk, kita meriang. Kalau ini (kemenangan Trump) bukan batuk lagi," ujar Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Dr. Yose Rizal Damuri dalam diskusi "Trump & Retorika Nasionalisme Patriotisme Proteksionisme", di Menteng, Jakarta, Sabtu (12/11).

Indonesia memiliki kerjasama erat dalam hal ekonomi dengan AS. Indonesia mengekspor dengan nilai US$ 18-19 juta dollar ke AS. Sedangkan, mengimpor US$ 8 juta dollar dari AS.

"Untuk beberapa produk, AS masih sangat penting bagi kita. Ada produk yang pasarnya 50 persen di AS," tegasnya.

Dia menyorot moto kampanye Trump yaitu "Make America Great Again". Artinya, semua harus untuk Amerika. Bisa diterjemahkan, semua pekerjaan yang lari dari AS harus kembali ke AS. 

"Kalau kebijakan-kebijakan tadi dilakukan, misalnya 50 persen dari wacana ia keluarkan seperti meninjau ulang perdagangan, mau enggak mau perusahaan-perusahaan AS yang tadinya keluar dan beroperasi di negara lain, akan kembali dan melakukan pekerjaan-pekerjaan tadi di dalam negerinya," terangnya.

Dengan begitu, perekonomian AS menjadi tidak kompetitif, mubazir, dan biaya produksi sangat tinggi, ditambah kondisi perekonomian melemah. Depresi ekonomi bisa meningkat berkali lipat dampaknya pada dunia.

"Kalau perkeonomian dunia melemah, inflasi dan biaya produksi makin tinggi, maka Indonesia akan terkena dampaknya," tambah Yose Rizal.

Dia berharap, program-program ekonomi Trump hanya retorika untuk menarik suara di Pilpres AS.

"Kalau benar Trump jalankan program-program kampanyenya, bisa dikatakan itu penyakit jiwa, atau kesintingan," selorohnya. [ald] 

Link:  KLIK DISINI 

 

Akankah Trump Membuat Pengaruh AS Berkurang Di Banyak Kawasan?

POLITIK  SABTU, 12 NOVEMBER 2016 , 11:05:00 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Anomali situasi global bisa saja terjadi setelah kemenangan Donald Trump di Pilpres Amerika Serikat. Artinya, jika Trump benar-benar merealisasikan idenya menarik AS dari perekonomian global.

"Bila negara menarik diri dari ekonomi global akan merugikan negara tersebut. Inisiatif AS menarik diri atau proteksionisme itu akan sangat krusial dan berdampak besar," kata Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan (P2K2) Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri, Leonard Hutabarat, dalam diskusi "Trump & Retorika Nasionalisme Patriotisme Proteksionisme", di Menteng, Jakarta, Sabtu (12/11). 

Menurut dia, jika Trump terlalu nasionalistik dalam kebijakan-kebijakan pemerintahannya, maka pengaruh AS akan banyak berkurang di banyak kawasan, termasuk di Asia Pasifik, dan lebih luas lagi berkurang dalam aspek politik internasional. 

"Ketika Amerika yang selama ini dominan lalu keluar dari sebuah kawasan, tentu akan ada aktor-aktor baru memgambil ruang yang kosong," ujarnya.

Terkait Indonesia, ia mengatakan ketergantungan negara ini pada AS sangat besar dalam banyak hal termasuk dalam bidang investasi.

Kalau Trump menjalankan proteksionisme, Indonesia harus membuka wilayah-wilayah baru untuk membuka pasar produk dan jasanya, misalnya Eropa Tengah atau Amerika Latin.

"Kemenlu akan memonitor kebijakan yang akan diambil oleh Trump ke depan," jelasnya. [ald]

Link:  KLIK DISINI 

Berita Terkait


Klarifikasi Populi Center tentang Hasil Survei di Provinsi NTT 21 Juli – 29 Juli 2017

Pada tanggal 4 September 2017 yang lalu, beberapa surat kabar yang terbit di Kota Kupang, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Pos Kupang dan Timor Express, memuat sebagian kecil dari hasil survei yang telah dilakukan oleh Populi Center, Jakarta pada tanggal 21 Juli-29 Juli 2017. Meskipun

  Jumat, 08 September 2017        Yudha        PUBLIKASI

“PERSEPSI MASYARAKAT JELANG PILGUB NTT 2018”

Populi Center mengadakan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengetahui persepsi masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur NTT 2018. Survei dilaksanakan mulai tanggal  21  Juli  2017  sampai  29  Juli  2017. Melalui survei tersebut, kami ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat NTT mengenai kriteria calon Gubernur yang diinginkan

  Kamis, 07 September 2017        ade        RILIS SURVEI

Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI
Top