“Mencermati Peta Dukungan Putaran Kedua.”

2017-03-06 03:21:31 | Perspektif Jakarta | Penulis : Niki

Pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi sudah dapat dipastikan melenggang ke putaran kedua. Perebutan suara warga ibukota secara keseluruhan dan suara pasangan Agus-Sylvi yang gagal masuk dalam putaran kedua menjadi dinamika yang menarik untuk dicermati dalama beberapa waktu ke depan. Dalam diskusi “Perspektif Jakarta” yang diselenggarakan oleh Populi Center bekerja sama dengan Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI) membahas dinamika tersebut dalam tema “Mencermati Peta Dukungan Puataran Kedua” pada tanggal 2 Maret 2017 di Kantor FORMAPPI. Pembicara yang hadir dalam acara ini diantaranya, Sebastian Salang (Koordinator FORMAPPI), Ray Rangkuti (Direktur Lingkar Madani Indonesia atau LIMA) dan Usep S. Ahyar (Direktur Populi Center).


 


Membaca arah dukungan putaran kedua pasti terkait dengan peta politik, pertimbangan partai, dan rasionalitas pemilih. Selain itu, membaca peta dukungan juga harus berkaca pada dinamika suara pada putaran pertama yang lalu. Ada banyak hal yang mempengaruhi hasil putaran pertama, dimana faktor kunci ada pada swing-voter, atau pemilih yang belum mantap menentukan pilihannya. Swing-voter dapat menjelaskan perbandingan elektabilitas ketiga pasangan Cagub dan Cawagub pada hasil survei dengan hasil real-count Pilkada DKI Jakarta putaran pertama lalu. Swing-voter merupakan kelompok pemilih yang berpotensi untuk dipengaruhi dengan petimbangan-pertimbangan yang rasional, misalnya debat publik.


 


Berdasarkan hasil survei Populi Center, debat pubik adalah faktor penting terutama untuk pasangan nomor urut pertama dan ketiga. Paska debat kandidat pertama terjadi pergeseran suara sekitar 14 hingga 16 persen elektabilitas di ketiga pasangan calon baik berupa peningkatan maupun penurunan. Dari tiga debat publik yang telah terlaksana pada Pilkada putaran pertama, tampak bahwa pasangan Ahok-Djarot tampil lebih unggul dari kedua pasangannya lainnya. Sejak debat pertama, masyarakat dapat melihat kualitas program, visi dan misi, serta pemahaman isu dari para kandidat. Faktor ini ditambah dengan proses pengadilan Ahok dimana kasus dugaan penistaan Agama yang dituduhkan kepada Ahok sudah semakin jelas, berdampak pada meningkatnya elektabilitas Ahok hingga 45-47%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah pemilih rasional di Jakarta cukup tinggi yaitu masyarakat yang lebih concern terhadap program kerja dibandingkan dengan faktor kedekatan identitas.


 


Untuk putaran kedua yang akan datang, timbul pertanyaan besar yaitu kemana suara dukungan 17 persen terhadap pasangan Agus-Sylvi akan berpindah? Untuk dapat membaca perpindahan dukungan tersebut, terlebih dulu kita harus memahami karakter dari perilaku pemilih. “Dukungan kepada kedua pasangan yang akan bertarung di putaran kedua juga ditentukan oleh peta dukungan partai politik yang hingga kini belum tuntas dan masih dalam tahap negosiasi,” jelas Usep Ahyar. Di dalam parpol sendiri banyak faktor yang menjadi pertimbangan, salah satunya yang terpenting adalah tentang keuntungan yang akan mereka peroleh jika memberikan dukungan ke salah satu pasangan calon tertentu, khususnya menghadapi Pemilu Presiden yang akan terlaksana pada tahun 2019.


 


Diduga bahwa partai-partai yang mendukung pemerintah seperti PPP dan PKB akan condong ke pasangan nomor 2. Tapi apakah peta dukungan tersebut akan mempengaruhi elektabilitas?


 


Untuk saat ini masih terbuka peluang bagi kedua pasangan Cagub untuk unggul di putaran kedua meskipun dari hasil survei Populi Center posisi head-to-head Ahok terhadap Anies masih cukup berat. Tidak dapat dipungkiri dalam Pilkada DKI Jakarta, khususnya di putaran kedua nanti, faktor isu agama memegang pengaruh besar terhadap perilaku pemilih. Menurut Ray Rangkuti, Pilakada putaran kedua nanti bukan lagi pertarungan antara program dan visi misi namun lebih kepada pertarungan antar simbol-simbol Agama dan variable kedekatan emosional lainnya seperti etnis.


 


Lebih dari sekedar pertarungan antar simbol Agama, Ray Rangkuti menambahkan, pertarungan di putaran kedua juga terkait dengan kelompok agama moderat versus kelompok agama yang keras dan ekstrem. Dimana dapat kita lihat sekarang pasangan Ahok-Djarot mendapat dukungan dari masyarakat kelompok agama moderat dan pasangan Anies-Sandi mendapat dukungan dari kelompok Agama yang cenderung lebih keras.


 


Sehingga apabila dipetakan 17% suara dari pasangan Agus-Sylvi akan berpindah ke pasangan kandidat nomer 2 atau 3, maka harus pula diidentifikasi apakah 17% masyarakat tersebut memiliki selera agama moderat atau cenderung keras. Menurut Ray, penting bagi pasangan nomor urut 2 untuk menarik dukungan dari warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat wajah kelompok agama yang moderat dan toleran. Sebaliknya, langkah Anies menetapkan Ahmad Hermansyah/Aher sebagai juru bicara pasangan Anies-Sandiaga mempertegas bahwa pasangan tersebut lebih menarik hati kelompok keagamaan non-moderat.


 


Secara keseluruhan Pilkada Jakarta kali ini sangat berpengaruh kepada pilkada di seluruh Indonesia. Sebastian Salang berpendapat bahwa efek dari pilkada Jakarta cenderung positif dimana 101 wilayah di Indonesia yang juga melaksanakan Pilkada hampir tidak ada konflik dan gejolak yang berarti. Kandidat yang kalah dapat menerima kekalahan dengan ikhlas.


 


Menurut Sebastian yang penting untuk dievaluasi pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta adalah pendekatan lebih terhadap golongan golput Jakarta salah satunya dengan upaya memperbaiki administrasi agar masyarakat yang tidak dapat menggunakan hak suara mereka karena masalah administrasi di putaran kedua nanti dapat menggunakan hak pilih mereka. Selain itu kampanye juga masih penting, khususnya bagi pasangan nomor urut 2 untuk tetap dilakukan menjelang putaran kedua ini.



Perlu diingat bahwa jika pada putaran pertama lalu masih ada tiga pasangan kandidat sehingga head-to-head tidak terlalu jelas. Sementara untuk putaran kedua nanti kedua pasangan akan disandingkan sehingga semakin jelas mana program kerja yang lebih baik dan genuine.