Perspektif Indonesia: "Investasi dari Lawatan King Size" - 4 Maret 2017

  Senin, 06 Maret 2017     Rafif     INDONESIA

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia mendapatkan banyak perhatian khusus. Bagi pemerintah Indonesia, kunjungan Raja Salman ini merupakan kunjungan perdana setelah 47 tahun lamanya Raja Arab Saudi mengunjungi Indonesia. Kunjungan kali ini bukan tanpa kehebohan, mengingat rombongan Raja Salman datang menggunakan 7 pesawat, 1.500 rombongan, 10 menteri, dan 25 pangeran. Di luar angka fantastis tersebut, kunjungan ini diikuti pula dengan penandatanganan 11 kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Arab Saudi. Terutama sekali dengan investasi dari Arab Saudi yang mencapai 93 trilliun rupiah. Melihat angka-angka fantastis ini, tidak salah apabila kunjungan kali ini mendapatkan istilah King Size. Pertanyaanya, apa yang dapat dilakukan paska lawatan King Size dari Raja Arab Saudi ini?


Populi Center dan Smart FM Network dalam acara “Perspektif Indonesia” pada tanggal 4 Maret 2017 dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB di Gado-Gado Boplo (Jl. Gereja Theresia No. 41 Menteng, Jakarta Pusat) mengadakan diskusi dengan tema “Investasi dari Lawatan King Size" dengan pembicara  Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar (Peneliti Senior LIPI), Dr. Ninasapti Triaswati (Ekonom UI), Jojo Raharjo (Divisi Komunikasi Kantor Staf Presiden), dan Dr. Ali Munhanif (Pengajar UIN, Peneliti Senior Institut Peradaban). Diskusi ini dimoderatori oleh Ichan Loulembah.


Kunjungan Arab Saudi ke Indonesia ini dapat dilihat dari kacamata berkembangnya interaksi antara Arab Saudi dan Indonesia, mengingat selama ini hubungan yang terbangun bersifat satu arah. Kunjungan ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ekonomi global. Seperti yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar dari LIPI yang mengatakan “Jadi, selama ini hubungannya baru satu arah dari Indonesia butuh apa dari Arab Saudi, sedangkan dari kacamata ekonomi, Saudi selama ini melihat sebelah mata peluang investasi di Asia Timur. Disisi lain, (perkembangan terbaru) Saudi perlu untuk membangun basis ekonomi baru mengingat komoditas minyak turun. Sedangkan di Eropa dan Amerika Serikat muncul gejala-gejala (menguatnya) sayap kanan, anti-immigrant, dan anti-globalisasi. Sekarang semua negara di dunia melihat ke Timur dan Arab Saudi ini terhitung terlambat. Jadi masalahnya bukannya Indonesia dapat apa, tapi bagaimana Arab Saudi dapat memaksimalkan masuk ke Timur. (Lebih lagi) Dari kacamata kultural, Arab Saudi justru ingin belajar islam moderat dari Indonesia atau asia tenggara”. Dengan kata lain, terdapat perbedaan pola relasi antara kedua belah negara yang didorong dari perubahan tata ekonomi global serta kebutuhan internal Arab Saudi untuk membawa reformasi internal menuju Islam moderat.


Berbeda dengan Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar yang menyoroti perubahan tata ekonomi global terhadap pola relasi antar kedua negara. Dr. Ninasapti Triaswati yang merupakan ekonom dari UI lebih mekankan pada kapasitas kelembagaan dari pemerintah untuk dapat memaksimalkan investasi yang masuk dari Arab Saudi. Investasi yang masuk tidak akan meningkatkan perekonomian, apabila kapasitas kelembagaan tidak terbentuk. Dr. Ninasapti Triaswati memaparkan “PR (pekerjaan rumah) terbesar adalah domestic policies dan konsistensi paket kebijakan. Artinya harus ada reformasi kelembagaan dari Indonesia”.


Hal ini diamini oleh Jojo Raharjo dari Divisi Komunikasi Kantor Staf Presiden yang mengutarakan bahwa hal penting dari kunjungan ini adalah inisiasi hubungan dari dua negara yang sedang dibangun. Dari kacamata kelembagaan, pemerintah terus berkomitmen untuk mendorong  perbaikkan kelembagaan, seperti yang diutarakan “Komitmen pemerintah kita sudah cukup baik, terutama soal perbaikan seperti deregulasi, serta hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah kita mulai mendekati Filipina, meskipun masih cukup jauh dengan Malaysia dan Singapore”.


Berbeda dengan ketiga pembicara tersebut, Dr. Ali Munhanif, seorang Pengajar UIN dan Peneliti Senior Institut Peradaban lebih melihat kunjungan ini dari aspek kultural, bahwa terdapat problema internal di negara-negara Arab. Dunia Arab sekarang sedang mendorong reformasi internal menuju Islam lebih moderat. Hal ini terlihat dari kunjungan Raja Salman yang bertemu dengan tokoh agama dan perempuan.


Di akhir diskusi para pembicara menekankan beberapa aspek penting. Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar menekankan fokus Arab Saudi ke dunia timur dapat menjadi momentum Indonesia untuk menjadi pusat Islam moderat, dimana justru Arab Saudi yang dapat belajar dari Indonesia mengenai Islam moderat tersebut. Dr. Ninasapti Triaswati dan Jojo Raharjo kembali menekankan pada pentingnya kelembagaan dan aspek simbolik kunjungan ini. Sedangkan, Dr. Ali Munhanif kembali menekankan pada dua agenda yang sama dari pemerintahan Arab Saudi dan Indonesia untuk mendorong Islam moderat. Artinya, investasi Arab Saudi tidak serta membawa agenda ekonomi, namun juga mendorong perkembangan Islam moderat di dunia.

Berita Terkait


Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Update Kajian Indonesia Timur dan Tenggara

Kawasan timur Indonesia seringkali dilihat sebagai wilayah yang bermasalah, dari ancaman separatisme, daerah rawan konflik, hingga persoalan keterbelakangan. Adakah perspektif yang bisa memberikan energi positif bagi kita dalam memandang Indonesia timur dan tenggara? Populi Center membahas hal tersebut dalam seri kedua Forum Populi dengan tema “Update Kajian Indonesia Timur” pada

  Senin, 31 Juli 2017        Sudi        FORUM POPULI

Potret Konflik Syiah Sampang di Karang Gayam

Sebagai bangsa yang multikuktural, Indonesia dianugerahi kemajemukan baik dari segi sosial budaya maupun agama. Kondisi ini pada satu sisi merupakan nilai plus dalam kerangka memperkaya khazanah bangsa. Namun di sisi lain dapat menjadi ancaman serius terhadap persatuan dan kesatuan bangsa jika kebhinekaan tersebut tidak disikapi secara bijak. Konflik Syiah di

  Senin, 31 Juli 2017        Sudi        ESSAI/OPINI
Top