Perspektif Jakarta: Etika dalam Media Sosial: Kampanye, Media Sosial, dan Hoax. - 16 Maret 2017

2017-03-24 07:27:26 | Perspektif Jakarta | Penulis : Niki

Maraknya pemberitaan palsu atau populer dengan istilah berita Hoax semakin marak di tengah masyarakat hingga ke lingkungan sosial terdekat seperti melalui teman dan keluarga. Isu ini tumbuh menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan khususnya ketika berita Hoax telah dimanfaatkan sebagai media politisasi khususnya dalam konteks politik Pilkada di Jakarta saat ini. Mengulas isu tersebut Populi Center bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar Indonesia menyelenggarakan diskusi rutin Perspektif Jakarta pada tanggal 16 Maret 2017 dengan tema “Etika dalam Media Sosial: Kampanye, Media Sosial, dan Hoax.”


Diskusi Perspektif Jakarta ini dibuka dengan sambutan oleh Wakil Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Ade Jamal dan menghadirkan beberapa pembicara yaitu Usep S. Ahyar (Direktur Populi Center), Ryan Ariesta (Head of Analyst Politicalwave), dan Damar Juniarto (Regional Coordinator SAFEnet).


Dalam pemaparannya, Usep S. Ahyar menjelaskan bahwa dalam bidang kerja Populi Center yaitu melakukan survei elektabilitas penggunaan media social dan opini masyarakat menyangkut isu Hoax selalu menjadi bagian dalam penelitian. Media sosial saat ini menjadi platform penting bagi penyelenggaraan kampanye. Meskipun kampanye adalah kegiatan yang penting dan ditujukan untuk mempengaruhi pemilih khususnya kepada kalangan pemilih yang lebih rasional, sayangnya dalam kegiatan kampanye juga termasuk didalamnya kampanye hitam dan kampanye negatif. Fenomena kampanye hitam dan kampanye negatif inilah yang biasa dilakukan melalui media social dengan menyerang pihak lain tanpa disertai bukti-bukti relevan.


UU Pemilu  di Indonesia telah mengatur hal-hal yang termasuk dalam kegiatan kampanye hitam yang diantaranya adalah menghina seseorang, agama, dan suku peserta pemilu lainnya. Berbeda dengan kampanye hitam adalah kampanye negative. Tidak seperti kampanye hitam, kampanye negative justru membangkitkan demokrasi serta menstimulasi rasionalitas pemilih. Saat ini penggunaan media social sebagai media kampanye negative menjadi semakin tidak terkendali. Namun, Usep menambahkan, berdasarkan hasil temuan dari survei-survei yang telah dilakukan oleh Populi Center menunjukkan bahwa berita Hoax dalam kampanye politik tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku pemilih masyarakat. Meskipun dari temuan hasil survei Populi Center juga mengkonfirmasi bahwa lebih dari 60 persen responden yang mengaku sering mendengar propaganda-propaganda negative di media social.


Perilaku pemilih di Jakarta secara umum tidak terlalu berpengaruh terhadap Hoax dan lebih berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media social sebagai media penyebaran berita palsu hanya berpengaruh jika pengguna media social tidak cerdas dalam mencerna kebenaran berita dan mudah terpengaruh. Faktor yang diduga menjadi penyebab mengapa masyarakat Indonesia pengguna social media mudah terpengaruh atau mudah menyimpulkan suatu berita adalah karena rendahnya minat membaca. Rian Ariesta menjelaskan bahwa minat membaca penduduk Indonesia sangat rendah hingga menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Indonesia hanya satu peringkat lebih tinggi dari negara Botswana.


Seringkali pengguna media social hanya membaca judul singkat yang tertera tanpa membuka tautan dan membaca keseluruhan artikel. Selain itu, kalangan masyarakat Jakarta yang lebih mudah menyebarkan Hoax adalah refleksi sikap reaktif dan kemarahan sehingga memutuskan untuk membagikan berita hoax hingga dapat memperkeruh suasana. Lebih lanjut, Ryan berpendapat berdasarkan hasil observasi Political Wave berita hoax yang memicu perdebatan di media social akhirnya tidak mampu mempengaruhi atau merubah pilihan pemilih dari pasangan lainnya. Aries menambahkan upaya untuk mengidentifikasi hoax dapat dilakukan dengan hati-hati ketika membaca judul yang provokatif, mencermati alamat situs, memverifikasi fakta dan memverifikasi keaslian foto.


Senada dengan pendapat dari dua narasumber sebelumnya, Damar Juniarto dari SAFEnet juga berpendapat bahwa merupakan klaim yang berlebih jika Indonesia hancur karena hoax. Teknologi termasuk didalamnya social media memiliki dampak positif dan negative terkait erat dengan siapa yang menggunakan. Maka, bukan pula solusi terbaik jika social media atau internet secara keseluruhan ditiadakan atau dilarang. Namun yang terpenting adalah bagaimana membuat peraturan dan etika cyber yang dapat dipatuhi dengan baik oleh para pengguna.