“Relawan dalam Pusaran Pilkada DKI Jakarta” - 7 April 2017

  Selasa, 11 April 2017     Engge     JAKARTA

JAKARTA.  Relawan menjadi agen non resmi dalam proses demokrasi tanah air.  Gerakan partai politik (parpol) yang dirasa kurang menyentuh hingga akar rumput dan tidak lagi dipercaya menjadi latar relawan kian berkembang. Relawan bergerilya secara massif yang menimbulkan berbagai potensi pelanggaran pilkada, tidak terkecuali Pilkada DKI Jakarta yang sedang berlangsung. Membahas permasalahan ini, Populi Center bekerja sama dengan Pemuda Katolik mengadakan diskusi Perspektif Jakarta dengan tema “Relawan dalam Pusaran Pilkada DKI Jakarta 2017” di Warung Daun Jakarta, Jumat (7/4). Dalam diskusi ini hadir Ketua Pemuda Katolik dr. Karolin Margret Natasa, Tim Peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan dan Dimas Ramadhan, dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir. Ketua Pemuda Katolik dr. Karolin Margret Natasa mengatakan fenomena relawan sudah mulai terdengar kurang lebih semenjak pemilihan presiden 2014 lalu. Sejak saat itu relawan mempunyai posisi yang cukup menentukan dalam pemilihan kepala daerah di mana relawan berhasil mengumpulkan suara masyarakat. Kondisi relawan ini, lanjut Bupati Landak tersebut, berbeda dengan pengurus partai yang bisa dihitung nominal anggotanya. “Sebesar apa mereka (relawan) itu susah mengukurnya. Relawan ini sebuah komponen yang tidak dapat kita abaikan begitu saja,” ujarnya. Tumbuh besarnya gerakan relawan ini menunjukkan partisipasi publik yang semakin luas. Maka dari itu, dalam UU pilkada yang baru terdapat ketentuan bahwa relawan harus dilaporkan ke KPU. Menurut Karolin, relawan bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, relawan  dapat memenangkan kandidat. Di sisi lain, relawan mudah untuk disusupi oleh kepentingan politik. Relawan berasal dari kata rela. “Seberapa mereka rela juga bisa diukur. Relawan tidak ada garis tertentu yang bisa dipaksakan kepada mereka. Ini berbeda dengan partai,” terangnya. Bagaimana peran relawan perlu dimaksimalkan untuk memastikan proses demokrasi berjalan dengan baik dan demokratis. Oleh sebab itu, ruang publik harus dibuka seluas-luasnya agar masyarakat bisa melakukan pemantauan terhadap jalannya Pilkada DKI Jakarta. Peneliti LIPI Amin Mudzakkir menjelaskan munculnya relawan adalah pertanda kemunduran partai politik dalam memobilisasi massa. Munculnya relawan dalam politik Indonesia saat ini adalah cerminan dari populisme dan bisa dipahami sebagai peluang atau ancaman terhadap demokrasi. Menurut Amin, relawan yang saat ini bekerja beroperasi dengan isu identitas. Hampir semua survei yang dilakukan lembaga polling Jakarta menunjukkan lebih banyak orang memilih gubernur berdasarkan alasan agama dan bukan berdasarkan kinerja. Berdasarkan fakta inilah tidak hanya konsultan dan partai politik, namun relawan pun mengikuti fakta tersebut. “Relawan yang sedemikian tidak terorganisir ini menggunakan isu agama untuk memobilisasi dukungan terhadap calon gubernur,” paparnya. Dalam pengamatannya, relawan pasangan Anies-Sandiaga baik secara langsung atau tidak langsung cenderung untuk menggunakan isu identitas dalam menggiring opini publik. Hal ini tidak terlepas dari relawan yang mempunyai kontribusi terhadap isu tersebut. Sebaliknya, relawan Ahok-Djarot bekerja dalam kerangka kinerja pemerintahan yang dalam praktik lapangannya terkalahkan oleh isu identitas. Dirinya mengakui pesimi dengan peran relawan dalam konteks demokrasi. “Parpol yang dari level bawah pun sudah tidak terkontrol, apalagi relawan yang sebegitu besar. Apa yang menjadi tujuan masing-masing relawan juga berbeda,” imbuhnya. Peneliti Populi Center Dimas Ramadhan menuturkan timbulnya relawan tidak terlepas dari lemahnya keterikatan seseorang terhadap parpol. Pertanyaannya adalah apakah relawan ini bisa meningkatkan angka partisipasi publik dalam pilkada. Kenyataannya, aku Dimas, relawan mampu mengajak masyarakat untuk datang memberikan suara. Dalam peningkatan elektabilitas peran relawan signifikan. Di sisi lain, dari sisi evolusi perjalanan relawan agak sedikit berubah. Relawan menggunakan cara yang lebih kreatif karena partai agak sulit menjangkau pemilih di luar konstituennya. Peneliti Populi Center lainnya Rafif Pamenang Imawan menambahkan, dalam kaca mata dirinya relawan ada dua tipe. Pertama, relawan yang melihat aktor dan menjadi kunci seperti kemunculan Jokowi yang hadir dengan ide-ide pembaharuannya. “Mereka yang capek dengan parpol beralih ke sosok aktor,” tuturnya. Kedua, relawan yang membasiskan diri pada suatu gagasan tertentu. Relawan dalam kelompok ini berada di luar hirarki parpol. (*) Rafif Persoalan dari kaca mata adminsitrasi ada perosalan serius antara relawan sekaligus anggota partai. Di satu sisi relawan ini betul bisa emmbantu buat senang dan tambah pusing. Ada persoalan serius dari kacamata keilmuwan kita beda istilah relawan dan tidak relawan semakin kabur dari satu pemilu ke pemilu lain. Di 2012 ketika jokowi running ke dki, mana yang relawan sebagai identitas berbeda. Tidak gunakan baju partai tapi baju kotak kotak. 2014 antara partai dan relawan mulai blended. Dulu relawan sbg kekuatan untuk melawan parpol. 2017 ini juga susah mana yang relawan dan mana yang bukan. Relawan ini kekautan sementara atau sebuah dorongan alternatif suara suara yang tidak bisa terfasilitazsi oleh parpol. Mereka datang ketika ada momen electoral atau pemilu. Merka muncul membawa suatu gagasan dan ingin memenangkan sautu kandidat. Di mata pengamatan kami, relawan ada 2 tipe: relawan yang melihat aktor dan menjadi kunci spt kemunculan jokowi yang alternative dengan ide ide penmbahurannya: pemerintahan yg lbh clean. Mereka yg capek dgn parpol beralih ke sosk aktor. Jg ada gerakna relawan yang membasiskan diri pada suatu gagasan tertentu. Mereka ini berada di luar hirarki parpol. Ini dlm exit poll ketikas ebelum jam 1 banyak yg ke anies dan banak yg tidak menjawab dan ternyata relawan badja yang emamng. Ini kita berikan catatan, relawan ini harus jadi indikasi yang baik sebenarnya. Di 2012 2014 pemilu itu seperti pesta, kampanye di medsos, anak muda terlibat. Semua berpesta pora mendiskusikan kebijkana publik tp sekarang mempertajam, bisa jadi skrg pesta bubar. Penting control dari aktor agar tidak ada penyusup yang masuk. Jag nan sampe urusan lebih besar seperti kebhinekaan tercederai oleh penunggang penunggang ini. Bagaimana relawan ini ke depan posisinya?   Caroline margareth Fenomena relawan ini mulai kita dengar sudah kurang lebih dari pilpres 2014 lalu. Sebelum itu kurang kedengaran. Sejak 2014 sampe hari ini pilkada DKI, realwan selalu mempunyai posisi yang cukup menentukan dlm pemilihan pilres atau di daerah. Di awal-awal pilkada dki pernah mendegnar sahabat ini itu dan berhasil mengumpulkan suara masyarakat. Relawan lm suatu proses demokrasi mempunyai kekautan yang cukup besar dan mengejutkan. Pengurus partai bisa dihitung tp kalau relawan sampe sekarang sejauh mana mereka bisa menjadi militant, sebesar apa mereka itu susah emngukurnya. Relawan ini sebuah komponen yang tidak dapat kita abaikan begitu saja. Di uu pilkada yang baru relawan harus dilaporkan ke kpu sebelumnya gak ada. Di satu sisi, adanya tumbuhnya besarnya gerakan realwanini tunjukkan partisipasi publik yang semakin luas. Dalam proses demokrasi ini semakin baik. Ini tidak dapat dipungkiri. Selain perlu diatur, dlm aturan kpu, relawan ini bisa menjadi pisau bermata dua. Bisa untuk menangkan tp sangat mudah untuk disusupi. Salah satu kandiat dki melaporkan relawan A tertentu dan mengklaim itu bukanlah relawan resmi dari kandidat tersebut. Namanya relawan ini sangat mudah untuk disusupi. Realwan in harus dipandang hati hati. Tapi di sisi lain relawan ini bisa bermanfaat. Ini namanya juga rela. Seberapa mereka rela juga bisa diukur. Realwan tidak ada garis tertentu yang bisa dipaksakan kepada mereka berbeda dengan orang partai. Ini bisa jadi terbatas dan bisa memiliki peran yang luas. Kami berharap relawan bisa jadi garda terdepan untuk menjadi pilkda republic Indonesia. Bagaimana kita memaksimlakn peran relawan untuk memastikan proses demokrasi yang terjadi di ibukota ini berlangsung dengan baik, demokratis, sesuai dengan tujuan awalnya: agar suara rakyat bisa terwakilkan. Perlu dibuka ruang seluas luasnya bagi masyakrat dki untuk memantau proses agar kecurangan bisa dikurangi. Karena jumlah pengawas terbatas, tim partai terbatas, ruang publik lah yang akan bisa mengawaasi secara lebih luas dan terbaik. Jadi apa yang terjadi selama putaran 1 di jakarta bagaimana orang bisa tidak terdapat hak pilih, itu merupakan gambaran kit ahari ini dan ingin kita perbaiki ke depan. Amin muzakir Harus dipahami kemunculanr elawan  itu adalah sebuah pertanda kemunduran partai politik. Peran parpol dalam memobilisasi masa mengalami kemunduran. Munculnya relawan dalam politk Indonesia hari ini adlaah cerminan dari populisme. Persis dari masalha inilah relawan ini bisa kita pahami sebagai sebuah peluang terhadap demokrasi atau sebeliknya bisa menjadi ancaman pada dmeokrasi. Mengapa? Dalam republic Indonesia, realwan dalma pilkdada muncul 2012. Mengapa? Karena populisme itu bisa kita pahami sebagai peluang terhadap demokrasi tapi juga ancaman terhadap demokrasi. Sebagai sebuah ancaman, relawan yang muncul dalam konteks populisme itu bisa kita pahami sebegai ancaman bagi dmeokrasi. Relawan yang kita lihat sekarang ini justru kemudian bekerja atau beroperasi dengan isu identitas. Hampir semua survey yang dilakukan lembaga polling jakarta menunjukkan lebih banyak orang emmilih gubernur berdasarkan alasan agama dan bukan kinerja. Berdasarkan inilah tidak hanya konsultan politik dan partai politik tapi realwan pun emngikuti fakta ini. Relawan yagns edemikiant idak terorganisasi ini menggunakan isu agama untuk memobilisasi dukungant erhadap claon gubernur. Juga bisa kita lihat, relawan pelaung terhadap demokrasi. Partisipasi publik semakin meingkat. Sekarang ini mereka bekejra dengan yang pertama, mereka lebih memperlihatkan bagaimana pentingnya kkienrja dari calon yang mereka usung daripada isu primordial. Dalam pilkada DKI sekarang dgenagn mengerucut pada 2 calon, persisi bermuara pada 2 kandidat ini. Relawan relawan yang baik secar langsung atau tidak langsung berkaitan dengan pasangan paslon anise sandi itu memang saya liaht dan alami cenderung untuk menggunakan isu identitas dalam menggiring opini publik terhadap calon yang akan dipilih dalam pilkada besok. Ini semua tentu saja tidak kebetulan. Hal hal seperti ini adalah bagian yang dilakukan dari para relawan. Relawan dalam hal ini punya kontribusi. Dia mendekatkan wacana yang mungkin pada awalnya bersifat elitis dan masuk dalam keseharian masyarakat. Sebaliknya, jsutru saya lihat relawan yang bekerja untuk pasangan ahok djarot ini yang emmperlihatkan betapa kinerja pemerintahan ini kelihatannya memang terkalahkan oleh isu identitas. Isu yang ditawarkan tidak hanya oleh partai politik dan relawanbadja ini kurang ditanggapi dibanding. Sayatidak tahu, sy kira belum ada satu survey yang persis mengenai sejauh mana kontribusi relawan dalam menciptakan kondisi ini. Yang tejradi di lapangan bukan karder partai. Saya pesimis dengan peran para relawan dalam hal demokratisasi ini. Karena mereka meskipun akar dari demokrasi. Parpol yang dari level bawah pun sudah tidak terkontrol apaalagi relawan yang sebegitu besar, apa yang menajdi tujuan amsing masing relawan juga berbeda. Ini justru jadi ancaman bagi demokrasi. Karean itu konsep partisipasi pun menjadi bermasalah. Pada awalnya partisipasi itu menjadikan sebuah keterlibatan yang lebih baik antara warga dan negara. Seolah olah warga itu degnan sendirinya otomatis mampu membangun dirinya sendiri tanpa membutuhkan intervensi dari negara atau pemerintah.   Dimas Tidak lepas munculnay realwan darilemahnya keterikatan seseoarang tehradap partai politik. Apalagi dengan kinerja parpol yang cenderung lemah di masyarkaat. Orang yang emrasa terikat denganparpol itu sedikit sekali. Kita ada surnas, lembaga mana yang paling dipercaya. Pertma aitu kpk, presiden, ketiga ekmpat tni polri, paropol itu sedikit. SMRC pada januari 2-16 lembaga neaa yang paling bisa dipercaya adalah tni dan palingtidak bisa dipercaya adalah parpol. Artinya, memang penerimaan masyarkat theradap parpol agak kurang sehingga memunculkan relawan. Relawan ini menimbulakn kontribusi yang signifikan. Relawan ini boleh jadi sangat menentukan.bicara soal jakarta saja, tahun 2007 ini waktu itu belum ngetrend. Dalam hal eklektabilitas, memiliki peran yagn siginfikan. Pertanyaanya, apkaha relawan ini bisa meinngkatkan angka partisipasi. Mampu  mengajak orang untuk datang emmberikan saura. Pilpres 2014, cukup gegap gempita, angka partisipasi total 69%lebih renadh dari pileg 2014 yg 75%. Sudah dibantu relawan saja 69%. Kemudian, terkait evolusi ini dalam perjalanan agak sedikit berubah relawan ini, relawan lbih banyak mengidfentifkasi mana relawan mana partai yang bekerja dalam satu tim. Ini dari caranya lebih kreatif karena partai agak sulit menjangkau pemilih di luar konstituennya. Untuk hari ini yang kita rasakan agak semakin kabur yang dilakukan relawan dan partai politik. Rafif Persoalan dari kaca mata adminsitrasi ada perosalan serius antara relawan sekaligus anggota partai. Di satu sisi relawan ini betul bisa emmbantu buat senang dan tambah pusing. Ada persoalan serius dari kacamata keilmuwan kita beda istilah relawan dan tidak relawan semakin kabur dari satu pemilu ke pemilu lain. Di 2012 ketika jokowi running ke dki, mana yang relawan sebagai identitas berbeda. Tidak gunakan baju partai tapi baju kotak kotak. 2014 antara partai dan relawan mulai blended. Dulu relawan sbg kekuatan untuk melawan parpol. 2017 ini juga susah mana yang relawan dan mana yang bukan. Relawan ini kekautan sementara atau sebuah dorongan alternatif suara suara yang tidak bisa terfasilitazsi oleh parpol. Mereka datang ketika ada momen electoral atau pemilu. Merka muncul membawa suatu gagasan dan ingin memenangkan sautu kandidat. Di mata pengamatan kami, relawan ada 2 tipe: relawan yang melihat aktor dan menjadi kunci spt kemunculan jokowi yang alternative dengan ide ide penmbahurannya: pemerintahan yg lbh clean. Mereka yg capek dgn parpol beralih ke sosk aktor. Jg ada gerakna relawan yang membasiskan diri pada suatu gagasan tertentu. Mereka ini berada di luar hirarki parpol. Ini dlm exit poll ketikas ebelum jam 1 banyak yg ke anies dan banak yg tidak menjawab dan ternyata relawan badja yang emamng. Ini kita berikan catatan, relawan ini harus jadi indikasi yang baik sebenarnya. Di 2012 2014 pemilu itu seperti pesta, kampanye di medsos, anak muda terlibat. Semua berpesta pora mendiskusikan kebijkana publik tp sekarang mempertajam, bisa jadi skrg pesta bubar. Penting control dari aktor agar tidak ada penyusup yang masuk. Jag nan sampe urusan lebih besar seperti kebhinekaan tercederai oleh penunggang penunggang ini. Bagaimana relawan ini ke depan posisinya?    

Berita Terkait


Klarifikasi Populi Center tentang Hasil Survei di Provinsi NTT 21 Juli – 29 Juli 2017

Pada tanggal 4 September 2017 yang lalu, beberapa surat kabar yang terbit di Kota Kupang, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Pos Kupang dan Timor Express, memuat sebagian kecil dari hasil survei yang telah dilakukan oleh Populi Center, Jakarta pada tanggal 21 Juli-29 Juli 2017. Meskipun

  Jumat, 08 September 2017        Yudha        PUBLIKASI

“PERSEPSI MASYARAKAT JELANG PILGUB NTT 2018”

Populi Center mengadakan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengetahui persepsi masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur NTT 2018. Survei dilaksanakan mulai tanggal  21  Juli  2017  sampai  29  Juli  2017. Melalui survei tersebut, kami ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat NTT mengenai kriteria calon Gubernur yang diinginkan

  Kamis, 07 September 2017        ade        RILIS SURVEI

Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI
Top