Perspektif Indonesia 20 Mei 2017: Meraba Peluang Kebangkitan di Panggung Dunia

  Selasa, 30 Mei 2017     Engge     INDONESIA

JAKARTA. Tidak bisa dibantah jika Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara pemain penting dunia. Beberapa lembaga internasional membuat proyeksi Indonesia akan besar, bahkan masuk lima besar dunia dalam satu dekade mendatang. Apakah kondisi domestik kita siap? Apa yang perlu dipersiapkan untuk menjadi besar?


Untuk membahas lebih lanjut persoalan tersebut, Populi Center bekerja sama dengan Smart FM Network mengadakan diskusi Perspektif Indonesia dengan tema "Meraba Peluang Kebangkitan di Panggung Dunia" di Restoran Gado-Gado Boplo Menteng, Sabtu (20/5). Dalam diskusi ini hadir Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Firmanzah, Pengamat Sosial Politik Rocky Gerung, dan Wartawan Senior Nasihin Masha.


Prof. Dr. Firmanzah mengatakan kekayaan alam Indonesia melimpah namun belum tergarap secara maksimal. Jika infrastruktur yang saat ini digalakkan pemerintah bisa dilakukan secara efektif maka potensi Indonesia yang terpendam bisa termanfaatkan penuh. Pembangunan infrastruktur sendiri sudah digalakkan sejak 2011. Dengan adanya kenaikan peringkat Indonesia menjadi layak investasi atau Investment Grade dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poors (S&P) maka investasi yang masuk ke tanah air akan semakin kencang.


"Terlepas dari dinamika pilkada terakhir, bangsa kita ini luar biasa," ujarnya. Permasalahan yang saat ini melanda Indonesia adalah persoalan yang memecah belah kerukunan. Menurut Firmansyah, Indonesia memiliki slogan Bhinneka Tunggal Ika. Bukan bhinneka-nya yang perlu ditekankan, namun tunggal ika-nya.


Menurutnya, kondisi Indonesia sudah bhinneka dengan berbagai kemajemukan yang ada. Yang perlu ditekankan khususnya kepada generasi muda adalah bagaimana mempersatukan masyarakat yang mozaik ini. "Ini yang harus kita promote. Kita ini over politisasi. Kita tidak mengetahui batas mana yang politik dan non politik," imbuhnya.


Wartawan Senior Nasihin Masha menjelaskan, Indonesia yang bisa bertahan hingga sekarang ini lebih dikarenakan orang Indonesianya sendiri. Apapun situasi yang dihadapi, orang Indonesia bisa menerima dan beradaptasi dengan hal tersebut. Saat ini, akunya, Indonesia sedang berkejaran dengan waktu. Surplus demografi yang berakhir di tahun 2030 perlu dimanfaatkan, yang mana apabila tidak dimanfaatkan maka akan menjadi beban.


Nasihin mengakui Indonesia bila dibandingkan dengan jaman Belanda tidak mengalami perubahan dari sudut peta dunia. Pertama, Indonesia adalah pemasok bahan baku dunia yang semua adalah raw material atau bahan baku mentah. Kedua, Indonesia adalah pemasok tenaga kerja dari dulu hingga sekarang. Ketiga, Indonesia adalah pasar untuk negara industri.


"Ketiga ini kalau kita potret, di sinilah saya melihat kita ini lambat. Lambat sekali memanfaatkan segala momentum yang kita miliki sehingga kita tidak bisa akseleratif," jelasnya. Dirinya menegaskan permasalahan yang dihadapi oleh negara berkembang itu adalah permasalahan pemerintahan dan pemimpin. Ia melihat begitu Indonesia mendapatkan pemimpin yang bagus maka akan ada akselerasi.


Pemerintah atau negara harus beradaptasi terhadap perubahan dan tidak memaksakan apa yang ada di kepala mereka. Pengamat Sosial Politik Rocky Gerung melihat pada persoalan politik yang saat ini mendera tanah air. Ucapan Presiden Jokowi yang mengatakan kata "gebuk" terhadap berbagai organisasi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, menurutnya membuat permasalahan baru.  


Seluruh persoalan politik dalam negeri seolah-olah bisa digebuk dengan satu kata yaitu Pancasila. "Seluruh optimisme yang disodorkan oleh para ekonom bisa batal kalau digebuk oleh terminologi itu," tuturnya. Prinsip ini menimbulkan pesimisme pada publik.


Saat ini, lanjutnya, dunia masuk pada tataran perkembangan yang luar biasa di mana orang sudah berbicara mengenai start up economy. Perkembangan seperti ini jika diganggu oleh terminologi tersebut akan menahan imajinasi masyarakat terhadap sistem dunia baru tersebut. Oleh karena itu, Dosen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI ini menghimbau agar pasokan-pasokan pemikiran konseptual dari lingkungan presiden harus terus tersedia. Tidak hanya tersedia, namun juga harus terkoneksi dengan keadaan di luar. (*)




Berita Terkait


RILIS MEDIA - KANDIDAT IDAMAN WARGA JAWA TENGAH DI PILGUB 2018

Jelang Pemilihan Gubernur Jawa Tengah  (Pilgub  Jateng) 2018 mendatang, Populi Center melakukan survei untuk mengetahui kesiapan dan preferensi pilihan masyarakat Jateng tentang calon Gubernur dan Wakil Gubernur (cagub‐cawagub). Selain itu, survei dilakukan untuk mendapatkan opini masyarakat mengenai penilaian mereka terhadap kinerja pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng. Survei dilakukan pada 15‐23 Maret

  Rabu, 14 Juni 2017        Yudha        RILIS SURVEI

Membedah Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia

Kelas menengah muslim Indonesia masih terus berupaya membangun ruang eksistensi dan ruang idealitas, serta perlu membangun gagasan konstruktif alih-alih hanya di arena konsumtif. Demikian dipaparkan Wasisto Raharjo Jati dari Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI dalam diskusi Forum Populi, 7 Juni 2017 di Jakarta. Diskusi ini membedah buku karya Wasisto Politik

  Jumat, 09 Juni 2017        Yudha        PENULISAN

“Merancang Pemilu Plus Plus”

Jakarta, Permasalahan jumlah daerah pemilihan dan anggota parlemen yang akan ditambah seakan menjadi salah satu jalan dalam sistem demokrasi kita. Apa saja konsekuensi dan komplikasinya? Kali ini Populi Center membahasnya dalam tajuk Perspektif Indonesia dengan tema “Merancang Pemilu Plus Plus”. Diskusi ini dihadiri oleh Ir Muhammad Lukman Edy (Ketua Pansus

  Jumat, 09 Juni 2017        Anto        INDONESIA

Perspektif Indonesia 20 Mei 2017: Meraba Peluang Kebangkitan di Panggung Dunia

JAKARTA. Tidak bisa dibantah jika Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara pemain penting dunia. Beberapa lembaga internasional membuat proyeksi Indonesia akan besar, bahkan masuk lima besar dunia dalam satu dekade mendatang. Apakah kondisi domestik kita siap? Apa yang perlu dipersiapkan untuk menjadi besar?


Untuk membahas lebih lanjut persoalan tersebut,

  Selasa, 30 Mei 2017        Engge        INDONESIA
Top