Kandidat Idaman Warga Jawa Tengah pada Pilgub 2018

  Rabu, 14 Juni 2017     Yudha     RILIS SURVEI

Jelang Pemilihan Gubernur Jawa Tengah  (Pilgub  Jateng) 2018 mendatang, Populi Center melakukan survei untuk mengetahui kesiapan dan preferensi pilihan masyarakat Jateng tentang calon Gubernur dan Wakil Gubernur (cagub‐cawagub). Selain itu, survei dilakukan untuk mendapatkan opini masyarakat mengenai penilaian mereka terhadap kinerja pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng. Survei dilakukan pada 15‐23 Maret 2017, melalui metode wawancara tatap muka dengan 800 responden di 80 desa/kelurahan yang dipilih secara acak di 35 kabupaten/kota, dengan margin of error 3.39% pada tingkat kepercayaan 95%.  

Terdapat beberapa temuan menarik dari survei Populi Center. Pertama, beberapa nama tokoh nasional masuk dalam bursa cagub‐cawagub Jateng. Meskipun sudah dikenal di tingkat nasional, namun tingkat pengenalan dan tingkat kesukaan masyarakat Jateng terhadap sejumlah nama tokoh nasional seperti Sudirman Said dan Marwan Jafar masih belum masuk top five.

Kedua, Gubernur petahana (incumbent) Ganjar Pranowo masih menempati posisi pertama untuk tingkat elektabilitas, popularitas, dan akseptabilitas. Hal ini tidak mengejutkan karena memang belum ada kandidat yang mendeklarasikan diri atau partai politik yang mendeklarasikan kandidat yang diusung untuk maju bertarung dalam Pilgub Jateng 2018. Tingginya elektabilitas Ganjar Pranowo menunjukkkan bahwa tingginya tingkat kesukaandan tingkat penerimaan Ganjar berbanding lurus dengan tingkat keterpilihannya. Tingkat elektabilitas Ganjar sebesar 51,6 persen, jauh diatas nama‐nama lainnya. Adapun nama-nama lainnya adalah mantan Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo (tingkat elektabilitas 4 persen), Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Jateng Yusuf Khudori (2,9 persen), Bupati Tegal Enthus Susmono, dan Bupati Kudus H. Musthofa (1,5 persen). Sementara untuk posisi cawagub Heru Sudjatmoko masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat Jateng. Muncul pula nama mantan  Wagub era sebelumnya Rustriningsih di tempat kedua. Mengenai dugaan korupsi kasus e‐KTP, sebanyak 40.9 persen masyarakat Jawa Tengah tidak percaya bahwa Ganjar terlibat dalam kasus korupsi e‐KTP. Banyaknya masyarakat Jawa Tengah yang tidak percaya keterlibatan Ganjar dalam dugaan kasus korupsi e‐KTP berbanding lurus dengan elektabilitas Ganjar yang masih tinggi.

Ketiga, sebanyak 44,1 persen masyarakat Jateng menyatakan sudah mantap dengan pilihannya dan hanya sekitar 30 persen yang menyatakan masih mungkin berubah. Selain itu sebanyak 46 persen masyarakat menyatakan lebih memilih Gubernur Petahana, sementara untuk calon baru hanya 14,9 persen, dan calon dengan latar belakang Bupati, Wakil Bupati, Walikota, atau Wakil Walikota di Jateng sebesar 7,4 persen.

Keempat, untuk simulasi calon, dalam simulasi 4 empat calon  misalnya, elektabilitas Ganjar diatas 50 persen, jauh mengungguli nama lainnya. Sementara dalam simulasi 2 calon atau head to head, elektabilitas Ganjar bahkan mencapai 60 persen. Meski elektabilitas Ganjar tinggi, namun angka elektabilitas tersebut belum menjamin kemenangan nantinya karena belum jelas siapa saja lawannya yang akan bersaing di Pilgub Jateng 2018 mendatang. Tingginya elektabilitas Ganjar sangat dipengaruhi oleh kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya selama ini. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Gubernur Jateng sebesar 79.51persen, dan ini berbanding lurus dengan mayoritas masyarakat Jateng yang merasa kondisi penghasilannya lebih baik hari ini.

Kelima, meski tingkat kepuasan terhadap kinerja Ganjar tinggi, namun masih terdapat beberapa persoalan yang perlu mendapatkan penanganan dari Pemprov Jateng saat ini, yaitu harga bahan pokok yang tinggi (17.9  persen), jumlah pengangguran (15.5 persen), dan biaya pendidikan dasar untuk SD dan SMP (14.0 persen). Adapun sektor pembangunan yang harus menjadi fokus utama dalam pengembangan ekonomi Jateng ke depan menurut responden adalah sektor pertanian (72.4 persen), sektor pariwisata (6.3 persen), sektor perikanan (4.1 persen), sektor perkebunan (3.3 persen), dan sektor pertambangan dan energi (1.5 persen).  

Ketujuh, berkaitan dengan perilaku pemilih, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama ialah  kriteria utama yang menjadi preferensi pemilih dalam menentukan pilihannya dalam Pilgub Jateng 2018. Yang masuk dalam lima besar kriteria masyarakat Jateng ialah berpengalaman memimpin dipemerintah (30.6  persen), merakyat (23.5 persen), bersih dari korupsi (17.4 persen), taat beribadah/beragama (14.1 persen), dan putra daerah (3.5 persen. Kemudian yang kedua ialah terkait kriteria kemimpinan. Kriteria terpenting yang harus dimiliki oleh Gubernur Jateng mendatang adalah kerja/bukti/kemampuan  memimpin  (54.1 persen), anti‐korupsi (25.0 persen), dan seiman/seagama (6.1 persen).  

Kedelapan, PDIP menjadi partai yang masih mendominasi suara pemilih. Hal ini terlihat dari 42.3  persen  masyarakat Jawa Tengah yang memilih PDIP sebagai preferensi partai politik mereka apabila Pileg dilakukan hari ini.

Kesembilan, mengenai pembubaran HTI, 51.2 persen masyarakat Jawa Tengah setuju apabila pemerintah  membubarkan dan melarang kegiatan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hal ini karena 39.3 persen masyarakat menganggap ideologi HTI bertentangan terhadap Pancasila dan UUD 1945.

Kesepuluh, mengenai evaluasi pemerintah di bawah kepemimpinan Joko Widodo, 77.1persen masyarakat Jawa Tengah merasa puas dengan kinerja Joko Widodo. Sementara itu, 57 persen merasa puas dengan kinerja para menteri dari Kabinet Kerja.

Kesebelas, tingkat kepuasan terhadap Jokowi yang tinggi berdampak pada elektabilitas Jokowi yang masih tinggi. Saat diberi pertanyaan terbuka, 43.9 persen masyarakat memilih Jokowi sebagai Presiden apabila Pilpres diadakan hari ini. Kemudian apabila Jokowi berlawanan kembali dengan Prabowo apabila Pilpres dilakukan hari ini, maka Jokowi akan unggul dengan persentase 67 persen atas Prabowo yang meraih persentase 20.6 persen. Selanjutnya, dalam pertanyaan semi terbuka mengenai calon Wakil Presiden, Prabowo Subianto menempati posisi pertama dengan persentase 28.1 persen. Sementara itu, 8.8 persen mendukung Gatot Nurmantyo untuk maju sebagai calon Wakil Presiden. Sebanyak 4 persen menyebut sejumlah nama lain seperti  Ahok, Jusuf Kalla, dan Ganjar Pranowo.  


Contact Person:

Usep S Ahyar   : +62813270424632

Hasil survey selengkapnya bisa dilihat klik disini

Berita Terkait


Klarifikasi Populi Center tentang Hasil Survei di Provinsi NTT 21 Juli – 29 Juli 2017

Pada tanggal 4 September 2017 yang lalu, beberapa surat kabar yang terbit di Kota Kupang, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Pos Kupang dan Timor Express, memuat sebagian kecil dari hasil survei yang telah dilakukan oleh Populi Center, Jakarta pada tanggal 21 Juli-29 Juli 2017. Meskipun

  Jumat, 08 September 2017        Yudha        PUBLIKASI

“PERSEPSI MASYARAKAT JELANG PILGUB NTT 2018”

Populi Center mengadakan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengetahui persepsi masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur NTT 2018. Survei dilaksanakan mulai tanggal  21  Juli  2017  sampai  29  Juli  2017. Melalui survei tersebut, kami ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat NTT mengenai kriteria calon Gubernur yang diinginkan

  Kamis, 07 September 2017        ade        RILIS SURVEI

Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI
Top