“PERSEPSI MASYARAKAT JELANG PILGUB NTT 2018”

  Kamis, 07 September 2017     ade     RILIS SURVEI

Populi Center mengadakan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengetahui persepsi masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur NTT 2018. Survei dilaksanakan mulai tanggal  21  Juli  2017  sampai  29  Juli  2017. Melalui survei tersebut, kami ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat NTT mengenai kriteria calon Gubernur yang diinginkan sebagai pemimpin di wilayahnya untuk periode 2018‐2023. Dengan jumlah responden 800 orang, survei dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error ±  3.39% pada tingkat kepercayaan 95%. 

Survei Populi Center kali ini memperlihatkan beberapa temuan menarik. Pertama, 54% masyarakat NTT merasa penghasilan rumah tangga mereka berada dalam kondisi baik dibanding setahun yang lalu. Sementara itu, 36% mengaku bahwa kondisi penghasilan rumah tangga mereka dalam kategori buruk dibanding setahun yang lalu.

Kedua, 74.3% masyarakat NTT merasa optimis terhadap kondisi masa depan Provinsi NTT dalam lima tahun kedepan. Sementara itu, 12.7% merasa pesimis dan 13.1% cenderung tidak tahu dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan. Sementara itu, 81.2% masyarakat NTT merasa bahwa ada kemajuan dalam pembangunan provinsi NTT dalam setahun terakhir dan 8.1% merasa belum ada kemajuan. Kemudian 6% malah merasa ada kemunduran dalam dinamika pembangunan provinsi NTT dalam setahun terakhir. 

Ketiga, untuk tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintahan provinsi NTT, 65.3% masyarakat NTT puas dengan kinerja pemprov. NTT, sebaliknya 28.7% merasa tidak puas. Berbanding lurus dengan tingkat kepuasan pemprov, tingkat kepuasan terhadap kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur Benny Litelnoni pun berada diangka 68.7%. Sementara yang mengaku tidak puas terhadap kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur petahana ini sebesar 29.4%. Keempat, untuk prestasi yang paling berkesan, 33.5% menjawab program Anggur Merah menjadi kebijakan yang paling diingat, diikuti oleh pembangunan infrastruktur (7.6%). 

Kelima, untuk pengetahuan tentang Pilkada, hanya 39% masyarakat NTT yang mengetahui bahwa 27 Juni 2018 akan dilaksanakan Pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Timur. Meski belum setengah dari masyarakat mengetahui informasi ini, namun 95% akan ikut memilih. Ini menunjukkan bahwa meski informasi mengenai Pilgub NTT belum tersosialisasikan dengan baik, namun antusiasme masyarakat NTT untuk menggunakan hak pilihnya sangat tinggi.

Keenam, untuk kriteria kepemimpinan, 33.3% masyarakat NTT menilai bahwa berpengalaman memimpin di pemerintah menjadi kriteria utama untuk menjadi Gubernur NTT. Berbanding lurus dengan hal ini, 47.9%  masyarakat NTT menilai kemampuan calon adalah hal yang paling menjadi pertimbangan dalam memilih Gubernur NTT periode 2018‐2023.

Ketujuh, untuk tingkat popularitas, Ketua DPD Partai Gerindra, Esthon Foenay menempati posisi pertama untuk tokoh yang paling sering dibaca di Koran (7.3%), paling sering diperbincangkan dengan teman/keluarga dalam seminggu terakhir (14.3%), paling dikenal (64.1%), dan mendapatkan penilaian positif tertinggi sebesar 47.6%. Sejalan dengan hal tersebut, untuk tingkat akseptabilitas, Esthon menduduki posisi pertama untuk kategori tokoh yang dianggap paling layak menjadi Gubernur NTT periode selanjutnya (19.8%), tokoh yang paling disukai (21.3%), tokoh yang paling tegas (13.5%), tokoh yang dianggap paling mampu memimpin (17.9%), tokoh yang dianggap paling berani memberantas korupsi (11.3%), dan tokoh yang dianggap paling bersih dari korupsi (11.5%). Angka Esthon berada di posisi pertama karena memang sampai saat ini baru beberapa tokoh yang mendeklarasikan akan maju dalam pertarungan Pilgub NTT, salah satunya adalah Esthon yang akan berpasangan dengan Christian Rotok.

Kedelapan, meski Esthon menempati posisi pertama untuk mayoritas kategori popularitas dan akseptabilitas, namun untuk elektabilitas, persentase Esthon masih kecil karena hanya memperoleh 20.3%. Itupun yang mantap dengan pilihannya hanya 46.9.%. Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Esthon untuk menjaga dan menaikkan elektabilitas karena beberapa calon lain dapat menjadi kuda hitam seperti Raymundus Sau Fernandez, Marianus Sae, dan Ayub Titu Eki, Mereka berpotensi menjadi kuda hitam karena popularitas, akseptabilitas dan elektabilitasnya juga masuk dalam peringkat 10 besar dan selisih angkanya tidak jauh dari selisih angka Esthon.

Kesembilan, Raymundus Sau Fernandez, Marianus Sae, dan Ayub Titu Eki juga memiliki latar belakang birokrat. Hal ini sejalan dengan latar belakang profesi yang diinginkan masyarakat NTT dalam memilih Gubernur karena 25.9%  menginginkan Gubernur yang memiliki latar belakang birokrat/mantan birokrat. Sementara 19.1% menginginkan Gubernur yang memiliki latar belakang politisi partai.

Kesepuluh, untuk elektabilitas partai, 32.3% masyarakat NTT masih memilih Partai PDIP sebagai preferensi parpol mereka, disusul oleh Partai Golkar (19.5%), partai Nasdem (10.3%), dan partai Gerindra (6%).  

***

Hasil Survey Selengkapnya klik disini


Berita Terkait


Rilis Survei Nasional & Diskusi Media: 3 TAHUN “INDONESIA SENTRIS”: PENILAIAN DARI RAKYAT

Populi Center melakukan Rilis Survei Nasional yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2017

Rilis Survey selengkapnya dapat didownload disini

  Kamis, 02 November 2017        Yudha        RILIS SURVEI

“PERSEPSI MASYARAKAT JELANG PILGUB NTT 2018”

Populi Center mengadakan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengetahui persepsi masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur NTT 2018. Survei dilaksanakan mulai tanggal  21  Juli  2017  sampai  29  Juli  2017. Melalui survei tersebut, kami ingin melihat bagaimana persepsi masyarakat NTT mengenai kriteria calon Gubernur yang diinginkan

  Kamis, 07 September 2017        ade        RILIS SURVEI

Hubungan Mayoritas-Minoritas Agama dengan Negara di Indonesia dan Amerika Serikat

Masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama beragam dalam hal menganut agama. Keberagaman itu bisa menguntungkan, tetapi bisa pula problematik bagi masing-masing negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat sipil menegakkan prinsip toleransi. Ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas belakangan ini jadi semakin menjadi perhatian. Kampanye politik di kedua negara berhasil memobilisasi

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI

Mengelola Radikalisme dalam Alam Demokrasi

Jeffrey Winters dikenal sebagai akademisi dan Direktur Equality Development and Globalization Studies (EDGS) Northwestern University, Amerika Serikat. Selain itu Winters menjabat Chairman of the Board of Trustee The Indonesian Scholarship and Research Support Foundation (ISRSF) dan  Direktur Program Ilmu Sosial di Center for Public Policy Transformation (Transformasi) yang keduanya berkantor

  Selasa, 01 Agustus 2017        Sudi        LAPORAN DISKUSI
Top