Jakarta dan Dunia Memerah Lagi

Jakarta dan Dunia Memerah Lagi

Setelah beberapa saat kehidupan hampir normal, terjadi lonjakan terdampak virus dimana-mana. Di Jakarta, sejumlah pejabat senior dikabarkan positif terjangkit Covid-19. Bagaimana membaca situasi menikung cepat ini?

Populi Center dan Smart FM Network serta didukung The MAJ Senayan membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Jakarta dan Dunia Memerah Lagi”. Diskusi daring ini berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2020 pukul 09.00-11.00 WIB‎. Diskusi dilakukan menggunakan aplikasi Zoom.

Adapun diskusi ini menghadirkan Alamsyah Saragih (Ombudsman RI), Juhaeri Mukhtar, Ph.D (Epidemiolog, University of North Carolina, USA), Baktiar Hasan, dan Ph.D (Senior Biostatistician, European Organisation for Research and Treatment of Cancer, EU), serta dipandu oleh Ichan Loulembah.

Alamsyah Saragih mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa sejak awal tampaknya memang pemerintah terlihat tidak siap dalam menangani wabah ini. Ada dua pilihan, pertama ingin menyelamatkan dulu warga negara sambil mempersiapkan untuk beradaptasi atau menyelamatkan kondisi ekonomi dan politik, karena di beberapa aspek kita berbeda dengan negara lain dalam hal pendanaan penanganan wabah dan lainnya. Pada akhirnya harus diakui kecenderungan kebijakan lebih kepada opsi kedua, yakni menyelamatkan ekonomi. Kebijakan tersebut berpengaruh pada jalannya mekanisme sosial masyarakat Indonesia.

Juhaeri menerangkan bahwa ada perbedaan positive rate di beberapa negara. Ia mencontohkan secara umum di dunia ada lebih 24 juta kasus. Di Amerika memang terbanyak di dunia, sedangkan di Indonesia lebih sedikit. Jika dihitung dari jumlah penduduk, incidence rate di Indonesia jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Amerika. Meskipun demikian kita harus tetap waspada, namun jangan panik.

Baktiar Hasan menjelaskan bahwa COVID-19 adalah penyakit baru, sehingga informasi dan pengetahuan tentang virus tersebut terbatas, bahkan berubah begitu cepat. Namanya penyakit itu pasti ada yang meninggal, dan secara teknis jika sebuah penyakit sudah menginfeksi cukup banyak dalam komunitas dengan sendirinya penyakit itu akan mereda. Hal ini merupakan pandangan dari herd immunity. Jika kita berbicara dengan negara lain, memang harus mencari perbandingkan dengan karakteristik masyarakat yang sama.

Di akhir diskusi Baktiar Hasan menekankan bahwa saat ini kita harus patuh terhadap protokol kesehatan, karena vaksin belum ada. Jangan pernah menganggap enteng tentang virus, kematian, ataupun penuhnya rumah sakit. Jika dilihat dari epidemiologi, yang dibutuhkan dalam penanganan penyakit adalah tersedianya resources, dalam aspek apa pun. Juhaeri menegaskan bahwa kondisi wabah ini akan berlangsung lama, dan ia menekankan bahwa vaksin sudah ada pertengahan 2021. Namun hal tersebut belum tentu seratus persen efektif. Jadi saat ini memang kita harus patuh terhadap ahli dan pemerintah.

Alamsyah Saragih menutup diskusi dengan menjelaskan bahwa tugas pemerintah saat ini adalah tetap fokus pada langkah-langkah untuk menekan peningkatan jumlah orang yang terinfeksi. Jika dalam bidang ekonomi, tetap harus memperketat protokol kesehatan. Dalam hal ini kadang sering disalahartikan bahwa jalannya perekonomian adalah pengenduran protokol. Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan kompensasi sosial untuk mendukung agregat demand. Yang terpenting ke depan adalah harus dilakukan kesepakatan nasional. Kondisi ini berarti harus ada sinergitas antara Presiden sebagai kepala negara, BPK, Gubernur BI, Ketua OJK, DPR, Ombudsman, dan kepala-kepala lain bahwa pada kondisi saat ini logikanya adalah kompensasi dan praktik yang extra-ordinary.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.