JELANG DEBAT KEDUA

JELANG DEBAT KEDUA

Debat Capres-Cawapres pertama sudah berlangsung pada pertengahan Januari lalu. Kini publik akan disuguhkan dengan debat kedua yang akan diadakan pada tanggal 17 Februari 2019. Berbeda dengan format sebelumnya, pada debat kali ini debat hanya akan diikuti oleh calon Presiden. Tema debat pun akan mengulas sejumlah isu penting seperti pangan, sumber daya alam, infrastruktur, energi, dan lingkungan hidup. Akankah debat kali ini lebih atraktif dari debat pertama?

Untuk menjawab hal tersebut Populi Center bekerjasama dengan Smart FM mengulasnya dalam diskusi dengan tajuk Perspektif Indonesia yang berjudul “Jelang Debat Kedua”. Diskusi ini berlangsung di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta pusat dan diulas bersama Dian Islamiati Fatwa, MSc (Juru Bicara Pasangan 02), Chalid Muhammad (Ketua Institut Hijau Indonesia), Fabby Tumiwa (Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform), serta dipandu oleh Ichan Loulembah.

Chalid mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa ada beberapa hal penting dalam melihat tema yang diangkat pada tema kedua. Dalam tema kedua nanti sebenarnya ada tiga komponan yang tidak bisa dilepaskan, yakni energi, pangan, dan air. Ketika ketiga komponen itu berdaulat maka kita bisa mandiri dengan tidak bergantung pada korporasi atau negara lain. Namun hal tersebut juga akan terwujud apabila layanan publik berupa infrastruktur tersedia dengan baik serta akan berjalan maksimal apabila semua pendekatan tersebut dilihat dalam perspektif kelestarian lingkungan.

Dalam melihat tema debat nanti, Fabby Tumiwa melihat bahwa saat ini isu layanan publik berupa energi menjadi hal prioritas, seperti ketersediaan listrik dan BBM. Namun bukan hanya ketersediaannya yang dilihat, pada tataran ini perlunya pemerataan kualitas. Fabby mencontohkan mungkin di Papua sudah mendapat pasokan BBM dengan harga sama, namun kita perlu melihat apakah kualitasnya juga sama dengan BBM yang beredar di Jawa. Seperti halnya listrik, pertanyaan besarnya adalah apakah kualitas listrik sudah merata di beberapa daerah.

Dian Islamiati Fatwa sebagai juru bicara paslon 02, melihat dalam tema debat kedua nanti, Prabowo akan fokus pada tiga hal, yaitu food, energy, and water (few). Dalam hal ini persoalan pangan bukan hanya pada swasembada pangan saja, akan tetapi juga harus menyentuh pada isu kestabilan pangan. Jadi nantinya bukan perkara stop impor atau tidak, namun lebih kepada pengendalian impor. Kestabilan ini salah satu langkahnya adalah membangun infrastruktur desa dan meningkatkan kapasitas petani, sehingga petani juga tidak hanya mencangkul tanah namun juga menjadi petani yang mencangkul digital. Tujuannya agar petani juga memahami prosedur pemasaran yang lebih efektif.

Terkait dengan few yang disampaikan oleh Dian, Chalid menjelaskan bahwa konsep pangan, energi dan air merupakan isu yang sudah ada dan berlangsung 25 tahun lalu. Selama Chalid menjadi ketua Walhi, ia menilai bahwa isu tersebut sudah menjadi urgensi dari pemerhati lingkungan. Namun yang lebih penting adalah langkah kongkrit apa yang bisa membuat isu tersebut teratasi dan berdaulat. Kalau melihat pangan masih dengan menggunakan perspektif bahwa makanan pokok kita beras, maka dapat dipastikan gagal. Hal ini dikarenakan laju pertumbuhan penduduk kita tidak sejalan dengan ketersediaan lahan pertanian. Oleh karena itu Chalid menilai harus ada diversifikasi pangan. Satu hal lain yang disoroti Chalid adalah dengan adanya pembakaran hutan di Indonesia. Chalid mengapresiasi langkah Jokowi yang disebutnya tegas dalam menangani isu lingkungan.

Fabby menambahkan terkait dengan few yang diucapkan Dian, bahwa yang terpenting bukan tema besarnya, tapi bagaimana langkah strategis itu mampu dilakukan. Dalam debat nanti bagaimana capres harus bisa membuat gagasan bahwa pangan, energi, dan air mampu menjadi sektor ketahanan dan kedaulatan. Bukan berbicara menngenai asing dan non asing atau import dan eksport, tetapi harus berbicara mengenai bagaimana negara mendistribusi sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat.

Selain dari sisi pangan dan lingkungan, Dian juga menyebut bahwa banyak jalan yang diresmikan Jokowi kurang tepat guna. Dian menyoroti bagaimana pembangunan jalan tol misalnya, terkadang malah mengabaikan keselamatan. Menurutnya, ada 65 kecelakaan di tol yang dibangun Jokowi dimana 90 persennya terjadi karena ban Meletus yang diakibatkan oleh jalan aspal yang tidak memenuhi standar.

Sebagai penutup, Fabby menyoroti bahwa debat nanti harus bisa berbicara pula terkaiut isu energi terbarukan. Sementara itu, Dian lebih menyoroti terkait dengan bagaimana pemanfaatan pembangunan memiliki manfaat tanpa mengabaikan persolan lingkungan. Di sisi lain, Chalid menitikberatkan pada bagaimana persoalan lingkungan dan sumber daya harus ditangani dengan lebih berdaulat. Indonesia menjadi negara yang sudah mengalami eksploitasi puluhan tahun lalu, oleh karenanya kedaulatan menjadi isu penting.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.