KAMPUS DAN PEMILU 2019

KAMPUS DAN PEMILU 2019

JAKARTA – Dibanding beberapa Pemilu masa reformasi sebelumnya, kali ini komunitas akademik seperti hilang. Perdebatan publik yang bergemuruh dan terbelah tak mendapatkan koridor obyektif yang biasanya muncul dari kampus. Masih adakah peluang mendorong perdebatan publik dari kampus?

Populi Center bekerjasama dengan Smart FM dan didukung the Atjeh Connection membahasnya dalam acara diskusi radio Perspektif Indonesia dengan tema “Kampus dan Pemilu 2019”. Diskusi ini dilaksanakan pada tanggal 12 Januari 2019, pukul 09.00 – 11.00 WIB bertempat di the Atjeh Connection di Gedung Sarinah, Lantai UG di Jl. MH. Thamrin No.11,  Menteng, Jakarta Pusat.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Dr. Sri Nuryanti, MA (Peneliti LIPI, Pengurus AIPI, Komisioner KPU 2007-2012), Zuhairi Misrawi (Jurubicara Capres-Cawapres 01), Dahnil Anzar Simanjuntak (Jurubicara Capres-Cawapres 02) dan Afrimadona, PhD (Pengajar Ilmu Politik UPN Veteran, Peneliti Senior Populi Center). Diskusi ini dipandu oleh host Perspektif Indonesia, Ichan Loulembah.

Pada kesempatan pertama, Sri Nuryanti mengatakan bahwa kampus memiliki peranan penting untuk dapat mendorong masyarakat memahami persoalan dalam Pilpres. Poin mengenail peran penting dari dunia Kampus dikuatkan oleh pernyataan Zuhairi Misrawi yang mengatakan “Kampus adalah salah satu elemen dari Civil Society, sedangkan demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang sehat didukung oleh civil society yang sehat pula. Kampus harus dapat mendorong proses demokrasi yang baik tersebut.”

Hal ini diamini oleh Dahnil Anzar Simanjuntak yang mengatakan bahwa demokrasi yang baik itu membutuhkan raw material yang baik. Saat ini pasar politik di Indonesia bersifat asimetris, sehingga membutuhkan saringan informasi yang cukup. Dahnil mengatakan “Dalam hal ini, orang-orang yang dapat menyaring informasi dalam pasar politik yang asimetris adalah orang rasional, dalam konteks ini dunia kampus mengambil peran tersebut (menyaring informasi untuk publik).”

Dalam perspektif yang berbeda, Afrimadona memberikan gambaran bagaimana dunia kampus dan politik di Amerika Serikat. Afrimadona mengatakan “Politik dan dunia kampus pada idealnya tidak dapat dipisahkan. Jika dipisahkan, kita tidak dapat memahami apa yang terjadi (dalam kontestasi politik). Di luar negeri, ilmuwan itu biasa masuk untuk mempengaruhi atau mendesain kebijakan. Termasuk ilmuwan menjadi partisan politik, itu adalah hal yang biasa.” Politik dan dunia kampus, terutama akademisi, tidaklah tabu dan sudah menjadi kelaziman dalam politik modern.

Di akhir diskusi, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan bahwa keadaban politik di Indonesia harus ditinggikan dengan mengadu gagasan, dimana untuk dapat menghasilkan keadaban politik tersebut ada dengan membangun kader politik yang organik dari partai politik. Dalam hal ini akademisi dapat membantu mendorong terbentuknya kader organik tersebut. Di sisi lain, Zuhairi Misrawi mengatakan bahwa selain peran kampus, dalam pemilu 2019 ini perlu semua pihak untuk dapat membuat program-program yang dapat dipahami dengan baik oleh publik.

Pada konteks ini, Afrimadona mengatakan bahwa dunia kampus dalam Pemilu 2019 dapa menjadi pihak yang memberikan pencerahan kepada public apakah janji-janji politisi tersebut dapat ditepati atau tidak. Di akhir, Sri Nurhayanti memberikan satu penegasan penting bahwa saat ini penyelenggara pemilu dan peserta memiliki tantangan penting untuk menjaga integritas dalam berkompetisi. Termasuk didalamnya mendorong kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan pemilu.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.