Ke Timur Haluan Menuju: Sebuah Tantangan Akademis

Ke Timur Haluan Menuju: Sebuah Tantangan Akademis

Yogyakarta. Populi Center bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjasoemantri (PKKH) UGM dalam diskusi dengan tajuk “Ke Timur Haluan Menuju: Sebuah Tantangan Akademis” yang bertempat di PKKH UGM. Diskusi ini untuk membedah buku hasil dari penelitian Populi Center yang dilakukan di kawasan Maluku pada tahun 2018 lalu. Diskusi kali ini dihadiri oleh Prof. Dr. PM Laksono (Guru Besar Antropologi UGM), Saleh Abdullah (Anggota Wali Amanah INSIST), dan Hikmat Budiman (Direktur Eksekutif Populi Center).

Diskusi dibuka oleh Mada sebagai moderator yang menyampaikan bahwa diskusi ini dilaksanakan untuk mengelaborasi bagaimana kita melihat Indonesia Timur dalam bingkai tantangan akademis, sekaligus mempertanyakan urgensi dari kajian Maluku sebagai sebuah daerah penelitian, serta mengapa perlu untuk mengembangkan kajian wilayah ini?

Pada kesempatan pertama, Hikmat Budiman menyampaikan bahwa penentuan Maluku sebagai lokasi penelitian tidak ada kaitannya dengan pretensi apakah Indonesia harus diarahkan ke timur dalam beberapa aspek atau tidak. Hal ini didasari bahwa sebagai akademisi, kita perlu melihat bagian lain yang mungkin secara tidak langsung kita tinggalkan karena lebih banyak melihat konteks di barat atau pun Jawa. Di sisi lain, Maluku menyimpan nilai historis yang sangat panjang dan memiliki pengaruh dengan dunia global, baik dari sisi ekonomi maupun politik.

Pada kesempatan ini, PM Laksono menanggapi buku ini dengan beberapa masukan, di antaranya adalah perlunya kita mengolak-alik maksud dari judul buku Ke Timur Haluan Menuju. Apakah Timur menjadi arah perhatian akademis kita atau tidak, mengapa kita harus ke Timur bukan ke tempat lain?

Dari pandangan ini, PM Laksono menegaskan bahwa sebenarnya semua perhatian akademis tidak perlu kita arahkan harus ke mana, melainkan semua permasalahan ada di depan kita, seperti halnya Maluku. Selain itu, PM Laksono menambahkan bahwa ketika kita berbicara tentang Maluku, tidak bisa kita lepaskan pada konteks global, serta yang tidak kalah penting adalah untuk tidak melewatkan perlunya perhatian antara kesesuaian visualiasi dengan tema-tema yang ingin diangkat.

Saleh Abdullah menambahkan, berdasarkan pengalamannya dalam melakukan penelitian di Maluku, ia melihat bahwa Maluku adalah bentuk yang sangat berbeda dengan karakteristik di beberapa daerah lain di Indonesia. Untuk menjadikan Maluku seperti layaknya pusat perhatian dunia pada masa lampau, Saleh berpendapat bahwa perlunya penguatan dari peran-peran lembaga adat. Hal ini yang juga sedang ia lakukan dengan para aktivis dengan mengadvokasi dan memperkuat masyarakat di wilayah pesisir.

Diakhir diskusi Himat menambahkan bahwa secara konseptual, Ke Timur Haluan Menuju adalah bentuk parodi dari teks-teks besar seperti navigation at loca aromatum. Riset ini juga menjadikan kita untuk melihat bahwa pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusia tidak dapat didikotomikan. –HR-

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.