KISI-KISI DEBAT PERDANA

KISI-KISI DEBAT PERDANA

Debat calon Presiden (Capres) dan calon Wakil Presiden (Cawapres) semakin dekat. Momen yang seharusnya dapat menjadi ruang bagi pemilih untuk mendengarkan pandangan kedua pasang calon (Paslon) Capres-Cawapres, harus menghadapi persoalan serius. Menjelang debat kedua paslon yang telah terjadwalkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, terdapat isu-isu yang mengarah ketidakpercayaan kepada penyelenggara pemilu. Terdapat isu-isu seperti 7 kontainer surat suara, netralitas dari KPU, hingga kisi-kisi pertanyaan dalam debat kedua paslon. KPU RI berargumen bahwa dengan adanya kisi-kisi pertanyaan, diharapkan debat kedua pasang calon dapat lebih substantif. Pertanyaanya, apakah pemberian kisi-kisi pertanyaan benar-benar menjadi solusi? Mengingat sejauh ini kampenya kedua paslon belum menyentuh substansi.

Untuk membahas itu, Forum Populi Edisi Pemilu 2019 mengangkat tema “Kisi-Kisi Debat Perdana” pada Kamis (10/01/2019) di kantor Populi Center. Dalam diskusi kali ini hadir dua pembicara yakni Dahliah Umar (Ketua, the Election School Project) dan Usep Saeful Ahyar (Direktur Program, Populi Center).

Pada kesempatan pertama, Dahliah Umar mengatakan bahwa debat memiliki posisi penting untuk memberikan ruang bagi pemilih untuk menelisik apa yang tidak dapat diungkap oleh kedua kandidat. Pada kesempatan ini, ketajaman pertanyaan dari panelis menjadi penting. Pada hakikatnya, debat menjadi wadah bagi para pemilih untuk dapat menilai bagaimana pengelolaan emosional dan originalitas dari masing-masing calon. Dahliah mengatakan “Apabila format debat tanpa kisi-kisi, maka originalitas dari masing-masing capres dapat digali. Masyarakat dapat melihat bagaimana emosi dan originalitas masing-masing paslon.”

Meski demikian, Dahliah menekankan bahwa kisi-kisi debat tidaklah perlu diperdebatkan mengingat format ini merupakan salah satu metode saja untuk mengenal lebih dalam kedua pasang calon. Format ini tentu bisa berubah dalam debat selanjutnya apabila dinilai tidak efektif. Dahlia mengatakan “Format debat dengan kisi-kisi pada dasarnya dapat menjadi pesan KPU ke masyarakat, bahwa KPU transparan. Namun, format ini juga memiliki kelemahan, dimana originalitas kedua calon tidak sepenuhnya bisa tergali.”

Pada kesempatan yang sama, Usep Saeful Ahyar mengatakan bahwa pemberian kisi-kisi debat tidak perlu dipermasalahkan, mengingat dengan adanya kisi-kisi maka dapat memberikan daya penjelas yang lebih luas kepada masing-masing kandidat. Usep Saeful Ahyar mengatakan “Dengan adanya kisi-kisi, justru pemilih dapat melihat sejauh mana penguasaan detail antara kedua kandidat. Karena apabila melihat visi-misi, keduanya hampir serupa, justru pembedanya ada pada detail program masing-masing kandidat.”

Di akhir diskusi, Dahliah Umar menekankan bahwa tidka menjadi masalah metode debat yang digunakan, selama metode tersebut diputuskan oleh KPU sendiri. Mengingat persoalan ini dapat berkaitan terhadap kepercayaan masyarakat kepada penyelenggara pemilu. Padahal pada dasarnya tidak ada format debat yang paling baik. Pada kesempatan yang sama, Usep Saeful Ahyar mengatakan bahwa kedua kandidat akan lebih dapat memberikan gambaran pilihan, apabila dapat menjelaskan gagasan yang abstrak, sekaligus menjembataninya dengan detail-detail yang terukur.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.