“Koalisi Indonesia Adil Makmur Dapat Apa?”

2018-09-28T03:38:59+00:00
Forum Populi
Engge Kharismawati
Engge Kharismawati
September 28, 2018

Penarikan nomor urut untuk pemilu Presiden telah dilakukan. Pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno mendapatkan nomor urut 2. Berbeda dengan Pilpres 2014, Koalisi Indonesia Adil Makmur yang menjadi nama koalisi pasangan Prabowo-Sandiaga bukanlah koalisi gemuk. Koalisi ini terdiri dari empat partai yakni Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat. Komposisi pasangan Prabowo-Sandiaga pun berbeda dengan pasangan Jokowi-Ma’ruf yang berasal dari elemen yang berbeda, pasangan Prabowo-Sandiaga berasal dari partai yang sama. Dalam prosesnya, Koalisi Indonesia Adil Makmur telah menghadapi turbulensi politik dengan alotnya pembahasan Cawapres, isu Partai Demokrat berdiri di dua kaki, dan perebutan kursi Wagub DKI Jakarta yang menyeret Gerindra dan PKS. Melihat kondisi ini, maka bahasan mengenai efek ekor jas (coat-tail effect) dari Prabowo menjadi penting untuk melihat, partai mana yang sebenarnya mendapatkan keuntungan dari mengusung Prabowo. Atau, partai dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur tidak terlalu mengharapkan efek ekor jas dari Prabowo?

Populi Center mengadakan Forum Populi edisi Pemilu 2019 dengan tema “Koalisi Indonesia Adil Makmur Dapat Apa?” pada hari Kamis, 27 September 2018. Pada edisi kali ini, Forum Populi menghadirkan pembicara Luky Sandra Amalia (Pengamat Politik LIPI) dan Suhud Alynuddin (Direktur Pencapresan PKS) untuk membahas tema yang ditentukan.

Luky Sandra, peneliti P2P LIPI, mengatakan bahwa efek ekor jas bekerja apabila pemilihan Presiden lebih popular dibandingkan pemilihan Legislatif. Dari kacamata teoritik, terdapat dua pendekatan efek ekor jas, yakni pendekatan konvensional (conventional) dan tersebar (diffused). Dalam pendekatan konvensional, partai yang diuntungkan adalah partai yang capres dan cawapres. Dalam pendekatan ini, maka Gerindra adalah partai yang paling mendapatkan keuntungan karena baik Prabowo maupun Sandiaga berasal dari partai Gerindra.

Berbeda demngan pendekatan konvensional, pendekatan tersebar (diffused) bekerja pada sistem presidensial multipartai seperti yang dianut oleh Indonesia, dalam model ini maka keuntungan ada pada partai pengusung capres dan cawapres berikut partai anggota koalisi. Hanya saja, penyebaran efek ekor jas tidak merata di tiap partai anggota koalisi. Bagi Luky Sandra, dalam model ini, keuntungan ada pada partai yang berhasil mengasosiasikan diri dengan capres dan cawapres yang di usung. Luky Sandra, peneliti P2P LIPI, mengatakan “PKS adalah partai yang berupaya keras untuk membangun asosiasi kuat ini sejak awal.”

Sejak awal, PKS telah melontarkan sejumlah nama untuk menjadi calon Cawapres Prabowo, seperti Sohibul Iman, Salim Segaf Al Jufri, dan Abdul Somad. Usaha assosiatif kembali dilakukan pada medio Agustus 2018, ketika memberikan label santri post-Islamisme pada diri Sandiaga Uno, label ini kemudian naik kelas menjadi Ulama pada bulan September 2018. Terbarunya, PKS menekankan komitmen Prabowo untuk memberikan kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta pada PKS, ketika kursi tersebut saat ini justru diperebutkan pula oleh Gerindra. Berbeda dengan PKS, untuk Demokrat dan PAN, kedua partai ini justru terlihat gamang untuk  mengasosiasikan diri kepada Prabowo. Luky Sandra, peneliti P2P LIPI, mengatakan “Dengan tidak mengasosiasikan diri secara kuat, (maka justru itu) akan menyelamatkan suara partainya.” Di sisi lain, nomor urut pasangan Capres-Cawapres tidak signifikan karena hanya akan memudahkan persoalan kampanye pileg saja.

Suhud Alynuddin, Direktur Pencapresan PKS, mengakui bahwa efek ekor jas Prabowo-Sandiaga terhadap elektabilitas partainya terbilang terbatas. Efek ini hanya berlaku terhadap partai yang memiliki capres dan cawapres secara langsung. Oleh karena itu, partai yang dipimpin oleh Sohibul Iman ini akan bertitik tumpu pada mesin politik PKS sendiri. Suhud Alynuddin, Direktur Pencapresan PKS, mengatakan “Lima bulan ke depan ini kami tidak terlalu berharap dari soal pencapresan, tapi ke mesin politik dan isu-isu yang kami bangun.”Dalam hal ini, PKS berkaca pada strategi Pilkada Serentak lalu, terkhusus di wilayah Jawa Barat. Faktor mesin politik partai dan kuatnya isu yang diangkat, dilihat oleh Suhud Alynuddin sebagai faktor yang mendongkrak suara pasangan Sudrajat-Akhmad Syaikhu hingga menempati urutan kedua. Diakuinya, bahwa untuk momen pilpres dan pileg ke depan, PKS masih mencari format yang paling tepat untuk meningkatkan perolehan suara partai politik agar mendapatkan suara maksimal.