MENATA POS TEMPUR

MENATA POS TEMPUR

Persaingan Pilpres 2019 semakin memanas. Kedua kubu saling menyusun strategi politik serta beradu narasi untuk merebut perhatian masyarakat. Manuver terbaru, pasangan Prabowo-Sandiaga memindahkan basis pemenangan nasional yang semula di DKI Jakarta ke kota Solo di Jawa Tengah. Pemindahan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk strategi mengingat elektabilitas Prabowo-Sandiaga di wilayah basis PDIP masih rendah. Di sisi lain, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin tetap memilih Jakarta sebagai pusat Tim Kampanye Nasional (TKN). Lalu, strategis atau tidak meninggalkan Jakarta dan menempatkan Jawa Tengah sebagai basis pemenangan BPN? Apakah Jakarta masih potensial untuk dijadikan basis pemenangan TKN?

Untuk membahas persoalan tersebut, Forum Populi Edisi Pemilu 2019 pada Kamis (13/12) mengangkat tema “Menata Pos Tempur”. Dalam edisi kali ini hadir pembicara Dr. Ace Hasan Syadzily (Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf) dan Suhud Alynudin (Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi).

Suhud Alynudin mengatakan bahwa rencana pemindahan markas BPN ke Jawa Tengah adalah hasil dari evaluasi tim setelah BPN melakukan proses sosialisasi selama beberapa bulan. Pemilihan Jawa Tengah didorong oleh selisih suara yang besar antara pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga di wilayah tersebut. Oleh karenanya, wilayah Jateng membutuhkan konsentrasi yang lebih kuat. Lebih lanjut Suhud mengatakan “Berdasarkan gambaran itu, kita melakukan sebuah langkah yang sedikit berbeda,” ujarnya.

Diutarakan oleh Suhud bahwa diharapkan Sandiaga akan lebih banyak berkantor di Jawa Tengah, hal ini sudah dikoordinasikan dengan Badan Pemenangan Daerah (BPD) setempat. Kebijakan ini, akunya, merupakan bentuk keseriusan timnya untuk memenangkan persaingan suara di Jawa Tengah yang merupakan kantong suara PDIP. Harapannya, pemilih yang belum menentukan pilihan suaranya (swing voters) dapat menjatuhkan pilihannya pada pasangan Prabowo-Sandiaga.

Dirinya mengakui Pilpres 2019 adalah persaingan tanding ulang dari Pilpres 2014. Ketika tanding ulang terjadi, masing-masing pasangan telah mengetahui seberapa besar suara yang diperoleh berikut kekuatan dan kelemahan di masing-masing wilayah. Oleh karenanya diperlukan faktor pengungkit yang mendongkrak elektabilitas suara. Pemindahan markas ke Jawa Tengah adalah salah satu pengungkit yang digunakan untuk meningkatkan dukungan suara. “Sejumlah relawan memang kita petakan daerah-daerah mana yang kita cover untuk kampanye tiga bulan ke depan. Harapannya angka selisih bisa semakin tipis,” lanjutnya.

Di sisi lain, Ace Hasan menjelaskan pihak TKN (Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf) tidak terganggu dengan perpindahan markas BPN ke Jawa Tengah. Ia mengakui bahwa pihaknya juga tidak harus melakukan fokus pada daerah-daerah tertentu, hanya karena kompetitor memutuskan merubah lokasi kantor pemenangan. Menurutnya, TKN telah memiliki struktur pemenangan yang kuat dengan mempunyai tim kampanye di tingkat kabupaten/kota hingga tingkat desa. Kesemua lapisan pemenangan tersebut hanya butuh konsolidasi untuk penggalangan suara.

Menurut Ace, secara sosiologis pemilih di wilayah Jawa Tengah telah terbentuk perilaku politiknya. Partai pengusung yang ada di Jawa Tengah seperti PDIP, Golkar, PPP, PKB, serta Nasdem sudah tergolong solid. Pihak TKN sendiri telah melakukan identifikasi wilayah serta kecamatan mana saja berikut tokoh yang memerlukan pendekatan secara khusus.“Jadi tidak ada satu hal yang perlu dikhawatirkan dengan gerakan yang dibuat (BPN). Kita bisa melihat kemantapan Jateng untuk memilih,” tukasnya.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.