Kabar Terbaru


Anda dapat terhubung dengan kami melalui kanal-kanal berikut:
| | | |

APLIKASI DIGITAL
SURVEI POPULI
SELENGKAPNYA
PUBLIKASI
TERBARU POPULI CENTER
HUBUNGI KAMI

SERI INFOGRAFIK LINIMASA PRESIDEN-PRESIDEN INDONESIA

Abdurrahman Wahid

KATEGORI: Timeline| Politik

Linimasa Sang Pembela Kebhinekaan, Abdurrahman Wahid

Megawati Sukarnoputri

KATEGORI: Timeline| Politik

Lintasmasa Perempuan Presiden pertama Indonesia

Joko Widodo

KATEGORI: Timeline| Politik

Linimasa Presiden Joko Widodo

TESTIMONI

Saya banyak belajar kerja-kerja riset sosial yang efektif dan efisien dari Populi Center. Terutama dari sistem penganggaran yang berbasis pada output tanpa meninggalkan kualitas akademik. Metode penelitian sosial yang dipraktikkan Populi Center seharusnya dapat jadi acuan bagi riset di perguruan tinggi dan lembaga litbang negara. Supervisi penulisan laporan yang serius dan sistematis menjadikan laporan riset Populi Center memiliki kualitas substansi akademik yang sangat baik.
Cahyo Pamungkas, Ph.D Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
ANGKA YANG FASIH BERBINCANG
Populi Center memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan hasil kajian yang terukur secara akurat, mendalam dan bermakna.
KERJA SAMA

Seri Policy Brief Populi Center, No.2. 15 Maret 2021

KATEGORI: Kebijakan| Media

Analisa dan Rekomendasi strategis tentang Usulan Revisi Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Presiden-presiden Indonesia

KATEGORI: Timeline| Infografik

Lini Masa pemerintahan presiden-presiden yang pernah berkuasa di Indonesia dari Soekarno (1945-1967) sampai Joko Widodo (2014-2024)

Seri Policy Brief Populi Center, No.3. 15 Maret 2021

KATEGORI: Kebijakan| Media

Bagaimana membaca dan menempatkan Penurunan Index Demokrasi dan Persepsi Korupsi di tengah pandemi?.

Kelahiran suatu pikiran
sering menyamai
kelahiran seorang anak.
Ia didahului dengan
penderitaan-penderitaan
pembawa kelahirannya

—Tan Malaka

Urgensi Revisi UU ITE

KATEGORI: Diskusi| Media

Apakah UU ITE mendesak untuk direvisi? Apakah revisi cukup fokus pada “pasal-pasal karet”? Forum Populi membahasnya dalam diskusi pada Kamis (18/02/2021).

Spektrum Toleransi/Intoleransi

KATEGORI: Sosiologi| Politik

Desakan reformasi itu pula membuat pemerintahan transisi BJ Habibie merumuskan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1999 tentang Partai Politik, UU Nomor 2 tahun 1999 tentang Pemilihan Umum, dan UU Nomor 4 tahun 1999 tentang susunan dan kedudukan MPR, DPR dan DPRD.

Jakarta voters: leaders are key in cuing policy assessments

KATEGORI: Politik| Pemilu

How do Jakarta voters assess the policies of their government? To investigate the extent to which the Jakarta voters assess public policy using this leader cue, we need to compare the policy support among them in the absence and presence of leader cues.

Anomali Jakarta di Bawah Anies Baswedan

KATEGORI: Politik| Pemilu

Setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, beberapa langkah politik Anies melahirkan kontroversi yang cenderung tidak produktif. Analisa ini didasarkan pada temuan survei kami sebelumnya.

MEMBACA DATA

Pemilu Serentak Tetap tahun 2024

KATEGORI: Politik| Pemilu

Salah satu pembahasan penting dalam usulan revisi tersebut adalah mengenai pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada), apakah akan digelar pada 2022 dan 2023 atau serentak di tahun yang sama dengan pemilihan legislatif (pileg) dan presiden (Pilpres) 2024 sebagaimana UU pemilu No 7 tahun 2017 tentang Pemilu.

Pemilu-pemilu Pasca Orde Baru

KATEGORI: Politik| Pemilu

Desakan reformasi itu pula membuat pemerintahan transisi BJ Habibie merumuskan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1999 tentang Partai Politik, UU Nomor 2 tahun 1999 tentang Pemilihan Umum, dan UU Nomor 4 tahun 1999 tentang susunan dan kedudukan MPR, DPR dan DPRD.

Pemilu-pemilu Orde Baru

KATEGORI: Politik| Pemilu

Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 mengamanatkan bahwa Pemilu seharusnya dilakukan pada tahun 1968. Namun ketika Jenderal Suharto ditunjuk sebagai Penjabat Presiden Indonesia, ia tidak dengan segera menggelar Pemilu untuk mencari pemimpin definitif dengan legitimasi dari rakyatnya.

Pemilu Pertama Indonesia, 1955

KATEGORI: Politik| Pemilu

Pemilu tahun 1955 sering kali dinilai sebagai pemilu paling demokratis yang pernah dilaksanakan dalam sejarah Indonesia. Ini adalah pemilu yang menjadi tonggak sejarah Indonesia menuju arah demokrasi yang, sayangnya, tidak berlanjut sampai rezim Orde Baru berakhir.

Public Opinion &
Policy Research

Empirik. Objektif. Detail. Kreatif.

Klik untuk membuka arsip tulisan-tulisan lain

Arsip Esai-esai Peneliti Populi Center

My RSS Feed

  • Kesenjangan Pembangunan Antara Jawa dan Luar Jawa


    photo-1541276431254-9ad4fd0095cb



    Meskipun Bangsa Indonesia telah 75 tahun merdeka, pemerataan pembangunan dan ekonomi masih menjadi problem yang tidak kunjung selesai. Dengan kata lain, persoalan ketimpangan masih terjadi hingga saat ini. Struktur Indonesia secara spasial masih menghadapi ketimpangan ekonomi antar wilayah. Ketimpangan ini ditemukan dari mulai struktur terkecil wilayah seperti Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, antara pulau bahkan antar kawasan barat dan timur Indonesia.

    Berdasarkan data BPS pada triwulan IV-2020 terhadap pertumbuhan dan konDarin Atiandinaduk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan wilayah, Pulau Jawa memberikan lebih dari separuh (58,75%) terhadap permian Indonesia. Jika ditambah dengan Pulau Sumatera (21,36) maka kawasan Barat dengan dua pulau saja (Jawa dan Sumatera) berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia sebesar 80,11%. Sisanya kurang dari 20 persen di Kalimantan (7,94%), Bali dan Nusa Tenggara (2,94%), Sulawesi (6,66%) serta Maluku dan Papua sebesar 2,35%.
    21 April 21 2021, 20:08
    Politik
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/kesenjangan_jawa_dan_luarjawa.php#unique-entry-id-26
  • Presiden-presiden Indonesia
    Oleh: Dimas Ramadhan dan Erwinton Simatupang
    Peneliti Populi Center

    president-ri


    Sehari setelah Sukarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta Pusat, Putra Sang Fajar tersebut ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai presiden, dan Muhammad Hatta sebagai wakil presiden. Dengan kalimat lain, Sukarno dan Hatta tidaklah dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum (Pemilu) seperti di era reformasi sekarang ini. Di masa awal kemerdekaan itu, sebagaimana dimandatkan UUD 1945, Indonesia menerapkan sistem presidensial. Konsekuensi logisnya, presiden berperan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. George Kahin (1995:190) dalam Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia menyebutkan bahwa Sukarno, Hatta, Amir Sjarifuddin, dan Ir. Surachman membentuk kabinet pemerintahan pertama dalam lintasan sejarah negeri ini pada 2 September 1945.

    Baca Selanjutnya….
    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/presiden-presiden-indonesia.php#unique-entry-id-23
  • Wakil-wakil Presiden Indonesia
    Oleh: Darin Atiandina dan Nurul Fatin Afifah
    Peneliti Populi Center


    para-wapres-ri


    Mohammad Hatta merupakan wakil presiden pertama Republik Indonesia. Tonggak politik Mohammad Hatta adalah perannya dalam mengubah demokrasi presidensial menjadi demokrasi parlementer. Maklumat Wakil Presiden No. X menyatakan bahwa Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebelum terbentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat diserahi kekuasaan eksekutif, yang sehari-hari dilakukan oleh KNIP. Penjelasan terhadap maklumat tersebut yang dikeluarkan pada 20 Oktober 1945 benar-benar mengusung konsep parlementarian. Untuk periode demokrasi parlementer, kepemimpinan nasionalisme masih tetap dilakukan oleh dwi tunggal Soekarno-Hatta. Selain Maklumat No. X, Mohammad Hatta juga mengeluarkan maklumat pemerintah tanggal 3 November 1945 tentang anjuran kepada rakyat untuk membentuk partai-partai politik. Maklumat tersebut bukan saja memberikan pengakuan terhadap arti penting partai politik, tetapi juga menempatkan pemerintah dalam posisi pro aktif ke arah pembentukan partai-partai politik (Kasirun, 2018).

    Baca Selanjutnya…
    21 April 21 2021, 20:08
    Darin Atiandina
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/wakil-wakil-presiden-indonesia.php#unique-entry-id-24
  • Yang Harus Menunda Pilkada Pada 2022 dan 2023
    Oleh: Jefri Adriansyah
    Peneliti Populi Center



    EXIT-POLL_A

    Regulasi penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) di Indonesia cenderung berubah-ubah sesuai dengan tarik ulur kepentingan antar elite politik. Terakhir, perdebatan terkait dengan pemilihan kepala daerah tidak lebih hanya berkutat pada tahun penyelenggaraan. Beberapa pihak beranggapan bahwa pemilihan kepala daerah tetap harus dilaksanakan pada tahun 2022 dan 2023 sesuai dengan jatuh tempo akhir masa jabatan kepala daerah. Namun dalam UU No. 10 tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota telah ditetapkan bahwa Pilkada akan diselenggarakan pada tahun 2024 setelah terakhir dijadwalkan pada 2020. Setidaknya terdapat 101 daerah yang meliputi 7 Provinsi, 76 Kabupaten, dan 18 Kota yang seharusnya menyelenggarakan Pilkada di tahun 2022 diundur menjadi tahun 2024. Kemudian, terdapat 171 daerah yang terdiri dari 17 Provinsi, 115 Kabupaten dan 39 Kota yang menunda penyelenggaraan Pilkada dari tahun 2023 menjadi 2024 karena konsekuensi dari penerapan UU No. 10 tahun 2016.

    Baca Selanjutnya…..
    21 April 21 2021, 20:08
    Jefri Adriansyah
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/menunda-pilkada-2022-2023.php#unique-entry-id-25
  • Anomali Jakarta di Bawah Pemerintahan Anies Baswedan
    Jakarta selalu menjadi pusat perhatian di Indonesia baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan kebijakan publik. Perannya sangat vital sebagai bahan bakar keberlangsungan bangsa ini. Banyak pula aktor-aktor yang menjadikan Jakarta sebagai target atas kepentingan mereka. Tarik ulur kepentingan yang terjadi di Jakarta sering kali menimbulkan adanya berbagai anomali. Sisi lain, aspek keberlanjutan juga patut diperhitungkan untuk menciptakan capaian pembangunan yang lebih optimal. Dikarenakan ada beberapa persoalan yang tidak hanya membutuhkan penyelesaian dalam jangka waktu satu hingga lima tahun, bahkan puluhan tahun, seperti penanganan banjir, pemukiman kumuh, persampahan, transportasi, polusi dan lain sebagainya.

    Baca Selanjutnya….
    21 April 21 2021, 20:08
    Jefri Adriansyah
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/anomali_jakarta.php#unique-entry-id-22
  • Pemilu-pemilu Pasca Orde Baru
    Gelombang reformasi 1998 mencapai puncak dengan mundurnya Soeharto sebagai Presiden yang baru terpilih kembali setahun sebelumnya melalui Sidang Umum MPR RI. Selanjutnya B. J. Habibie yang saat itu sebagai Wakil Presiden menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Naiknya B.J. Habibie sebagai presiden menggantikan Soeharto tidak serta merta meredam tuntutan arus reformasi. Salah satu tuntutan publik setelah reformasi bergulir adalah perubahan pada sistem politik Indonesia yang lebih demokratis.

    Baca selanjutnya….
    21 April 21 2021, 20:08
    Ade Ghozaly
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/pemilu-pemilu-pasca-orde-baru.php#unique-entry-id-21
  • Pemilu-pemilu Orde Baru, 1971-1997
    Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 mengamanatkan bahwa Pemilu seharusnya dilakukan pada tahun 1968. Namun ketika Jenderal Suharto ditunjuk sebagai Penjabat Presiden Indonesia, ia tidak dengan segera menggelar Pemilu untuk mencari pemimpin definitif dengan legitimasi dari rakyatnya. Sebagian kalangan menganggap ini sebagai langkah pengkondisian Golongan Karya (Golkar) sebagai mesin politik Suharto. Terbukti kemudian Golkar menyapu bersih kemenangan pada enam edisi Pemilu selama Orde Baru, yang membuat Suharto berkuasa menjadi Presiden selama lebih dari 30 tahun. Salah satu ciri utama dari pemerintahan Orde Baru ada pada pembatasan aktifitas sosial politik warga negaranya. Dimensi pembatasan aktifitas sosial politik tersebut masuk dalam ranah Pemilu. Salah satu langkah yang diambil pemerintahan Orde Baru ada pada kontrol pembilahan sosial yang relatif plural dalam Orde Lama. Pluralitas politik di masa Orde Lama telah mendorong instabilitas di dalam kabinet, banyak kabinet yang tidak berlangsung lama.

    Baca selanjutnya….
    21 April 21 2021, 20:08
    Dimas Ramadhan
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/pemilu-pemilu-orde-baru.php#unique-entry-id-20
  • Pemilu 1955: Tonggak Demokrasi Liberal di Indonesia
    Pemilu tahun 1955 sering kali dinilai sebagai pemilu paling demokratis yang pernah dilaksanakan dalam sejarah Indonesia. Pemilu ini dilaksanakan pada masa pemerintahan Orde Lama (istilah pemerintahan Orde Baru untuk memberikan label pada pemerintahan Sukarno). Masa pemerintahan Orde Lama tidak terlalu panjang, hanya bertahan selama 20 tahun, terhitung mulai dari tahun 1945 ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan berdirinya negara Republik Indonesia hingga tahun 1965 yang ditandai dengan peristiwa berdarah pemberontakan PKI. Pelaksanaan pemilu demokratis juga berada pada tarik ulur kepentingan politik, termasuk perdebatan sengit antara dwi tunggal, Bung Karno dan Bung Hatta, terutama berkaitan dengan tata laksana politik dan pemerintahan.

    Baca selanjutnya….
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/pemilu-1955.php#unique-entry-id-19
  • Jakarta voters: leaders are key in cuing policy assessments
    How do Jakarta voters assess the policies of their government? Evaluating a public policy involves a complicated process of assessing information and gauging the cost and benefits entailed in the policy. Due to this costly process, most voters prefer to use shortcuts to assess public policy. Among the many shortcuts to use, leader cues might be the easiest one in Jakarta because in this country party positions on issues are not clear.

    Continue…..
    21 April 21 2021, 20:08
    Essai/Opini
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/jakarta_votes_leaders_are_key.php#unique-entry-id-16
  • Spektrum Toleransi/Intoleransi. Dari Demokrasi sampai Tribalisme Media Sosial
    Toleransi dan intoleransi, dengan demikian, dapat dipahami sebagai reaksi tubuh sosial kita terhadap sesuatu yang berbeda, tidak biasa, yang mengganggu, asing, mencemaskan bahkan mengancam. Seperti reaksi alergik pada tubuh biologis, reaksi kita terhadap hal-hal tertentu dalam kehidupan sosial juga berbeda-beda pada masing-masing orang atau kelompok. Ada orang atau kelompok orang yang sangat mudah tersinggung soal agama tapi sama sekali tidak pernah ada masalah dengan praktik-praktik politisasi agama dalam pemilihan umum; ada orang dan/atau kelompok orang yang sangat sensitif terhadap bias gender tapi tidak terlalu terganggu dengan persoalan keyakinan/agama, dan seterusnya. Memberi label "intoleran" kepada kelompok tertentu, dengan demikian, cukup problematis secara konseptual dan membingungkan secara sosial.

    Baca selanjutnya….
    21 April 21 2021, 20:08
    Hikmat Budiman
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/spektrum_toleransi-intoleransi.php#unique-entry-id-18
  • Menyoal Dinasti Politik di Indramayu
    Ade Ghazali


    Kejatuhan rezim Orde Baru merupakan momentum bangsa Indonesia memasuki babak baru kehidupan sosial politik yang lebih demokratis. Pasca-reformasi 1998 sudah dilaksanakan empat kali pemilu, yaitu pada 1999, 2004, 2009 dan 2014. Dalam konteks demokrasi elektoral, terdapat beberapa catatan menarik dalam pelaksanaan pemilu pasca-reformasi. Pertama, komposisi legislatif (pusat) bertambah dengan adanya unsur senator atau Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di mana setiap provinsi masing-masing diwakili empat orang anggota DPD. Kedua, presiden dan wakil presiden serta kepala daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dipilih secara langsung. Ketiga, pemilihan kepala daerah (pilkada) mulai dilaksanakan secara serentak sejak 2015.

    Baca selanjutnya…..
    21 April 21 2021, 20:08
    Essai/Opini
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/MenyoalDinastiPolitikdiIndramayu.php#unique-entry-id-11
  • “Al-Muwathinun” dan sikap Nahdlatul Ulama
    Ade Ghazali



    Sebagai salah satu organisasi yang konsisten menyuarakan moderatisme beragama, perdamaian dan kemanusiaan, Nahdatul Ulama (NU) senantiasa mendorong dan mendukung tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dilandasi kesetaraan hak dan kewajiban warga Negara, termasuk dalam hubungan antar bangsa. Pada tahun 2016, dalam forum International Summit of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) di Jakarta, di dalam salah satu poin deklarasinya, NU secara tegas menawarkan wawasan dan pengalaman Islam Nusantara kepada dunia sebagai paradigma Islam yang layak diteladani. Salah satu inti dari Islam Nusantara ada pada gagasan bahwa agama menyumbang kepada peradaban dengan menghargai budaya yang telah ada serta mengedepankan harmoni dan perdamaian. Selain itu NU juga menyeru siapa saja yang memiliki iktikad baik dari semua agama dan kebangsaan untuk bergabung dalam upaya membangun konsensus global untuk tidak mempolitisasi Islam, serta memarjinalkan mereka yang hendak mengeksploitasi Islam sedemikian rupa untuk menyakiti sesama.

    Baca selanjutnya……
    21 April 21 2021, 20:08
    Essai/Opini
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/%E2%80%9CAl-Muwathinun%E2%80%9DdansikapNahdlatulUlama.php#unique-entry-id-9
  • SBY'S Eroded Presidency
    The first quarter of 2011 shows how pathetic and unsatisfactory is the Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) presidency. He could claimed as the first democratically elected president, but his mediocrity in leadership has brought many unnecessary problems for most Indonesian. Despite his lacking of decisiveness and resoluteness, he often could not respond challenges, problems, and opportunities timely and appropriately. He tended to delay making decisions, especially relating to major issues. He preferred to discuss most issues in a lengthy and direction-less fashion through various government ‘retreat’ programs and coordination and cabinet meetings. Though he is on his second, last term of presidency, SBY remains not an effective leader to build lasting legacies. His list of records on solving repeated people’s problems, envisioning breakthroughs, or putting right people on right position is not quite impressive.

    Continue…
    21 April 21 2021, 20:08
    Nico Harjanto
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/sbys_eroded_presidency.php#unique-entry-id-17
  • Potret Konflik Syiah Sampang di Karang Gayam
    Sebagai bangsa yang multikuktural, Indonesia dianugerahi kemajemukan baik dari segi sosial budaya maupun agama. Kondisi ini pada satu sisi merupakan nilai plus dalam kerangka memperkaya khazanah bangsa. Namun di sisi lain dapat menjadi ancaman serius terhadap persatuan dan kesatuan bangsa jika kebhinekaan tersebut tidak disikapi secara bijak. Konflik Syiah di Sampang Madura bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Bangsa ini telah banyak mengalami berbagai konflik sosial dan agama yang seharusnya dari peristiwa tersebut menyadarkan kepada kita semua betapa berharganya arti sebuah persatuan.

    Lanjutkan membaca…..
    21 April 21 2021, 20:08
    Essai/Opini
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/PotretKonflikSyiahSampangdiKarangGayam%20.php#unique-entry-id-12
  • Upaya Dominasi Orang Dayak: Politik Identitas dalam Dinamika Politik Lokal di Kalimantan Barat
    Dimas Ramadhan


    Pendahuluan

    Tulisan ini merupakan laporan perjalanan dalam survei di Kalimantan Barat (Kalbar) pada 3-8 Mei 2017. Di sela-sela kesibukan memantau 80 Tenaga Pengumpul Data (TPD) survei selama lima hari, penulis berupaya menggali isu-isu lokal yang sekiranya menarik atau luput dari pertanyaan dalam kuesioner. Beberapa pertanyaan kunci seputar dinamika sosial politik Kalbar dibuat bersama Direktur Eksekutif Populi Center Hikmat Budiman dan menjadi acuan bagi penulis dalam melakukan observasi. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan Dr. Ema Rahmaniah (Ketua Program Studi Magister Sosiologi Universitas Tanjung Pura Pontianak), serta obrolan ringan dengan Dr. Hermansyah (pakar hukum Universitas Tanjunpura).

    Baca selanjutnya….
    21 April 21 2021, 20:08
    Essai/Opini
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/UpayaDominasiOrangDayak.php#unique-entry-id-13
  • Pondok Pesantren sebagai Modal Sosial
    Nona Evita

    Pendahuluan

    Pada Juni 2018 mendatang Indonesia kembali akan menghelat Pilkada Serentak di 171 daerah, di antaranya sejumlah daerah di Jawa Timur (Jatim). Hasil survei yang dilakukan Populi Center menunjukkan bahwa Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Saifullah Yusuf dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini mendominasi peringkat pertama untuk tingkat akseptabilitas, popularitas, dan elektabilitas di kedua daerah.

    Membaca persiapan Pilkada di Jatim, ditemukan bahwa modal dasar elektoral saja tidak cukup untuk memenangkan Pilkada. Calon kandidat harus memiliki modal sosial dan mengetahui karakteristik penduduk setempat. Meminjam analisis Piere Bourdieu, modal sosial adalah salah satu aspek sumber daya politik selain modal ekonomi, modal kultural, dan modal simbolik. Modal sosial adalah jaringan hubungan untuk penentuan kedudukan sosial dan biasanya dimiliki oleh tokoh masyarakat. Masyarakat akan mudah percaya terhadap arahan tokoh yang dituakan secara sukarela atas pilihan politik tokoh tersebut. Unsur-unsur yang ada dalam modal sosial di antaranya partisipasi, kepercayaan, norma sosial dan nilai-nilai, resiprositas, dan tindakan proaktif dalam lingkaran sosial.

    Baca selanjutnya….
    21 April 21 2021, 20:08
    Essai/Opini
    https://populicenter.org/gagasan/esai/files/PondokPesantrensebagaiModalSosial.php#unique-entry-id-14

Arsip Review Buku, Novel, Film

My RSS Feed

  • Apakah Kita Perlu Berhenti Makan Ikan?
    Di Indonesia sendiri, seperti yang disampaikan oleh Dr Nani Hendiarti, pejabat di Kementerian Koordiantor Kemaritiman dan Investasi, hasil perhitungan sementara dari Tim Koordinasi Sekretariat Nasional Penanganan Sampah Laut tercatat sebanyak 521.540 ton sampah masuk ke laut pada tahun 2020. Lebih lanjut Dr. Nani menyebutkan bahwa ada 12.785 ton sampah di laut berasal dari aktivitas di laut itu sendiri (VOA Indonesia,28/01/21). ...Karya yang disutradarai oleh Ali Tabrizi ini merupakan wujud dari kekagumannya tentang segala hal yang berhubungan dengan laut, yang seketika persepsinya berubah setelah mengetahui bahwa fakta-fakta yang ia lihat justru memperlihatkan tindakan manusia yang berkontribusi terhadap kerusakan laut. ...Ada pula yang bercerita ketika melakukan penelusuran di atas kapal, ada rasa takut jika nantinya proses penyingkapan fakta justru menjadikannya sebagai seseorang yang harus dibuang di tengah laut karena apa yang coba ia telusuri merupakan isu yang sangat sensitif. ... Ketertarikannya tentang laut tidak hanya didasari dari paus dan lumba-lumba, melainkan semakin seringnya Ali melihat film-film dokumenter yang bertemakan laut dan seakan mengantarkan imajinasinya tentang kehidupan baru yang indah di lautan. ...Penelusurannya tentang sampah plastik di laut juga menunjukkan bahwa sampah-sampah plastik tersebut melalui proses yang panjang akan berubah menjadi mikroplastik yang jumlahnya bahkan melebihi bintang di galaksi bima sakti, atau tepatnya sebanyak 500 kali lipat. ...Namun, setelah beberapa kali melihat fakta tentang plastik di laut, Ali kemudian menemukan fakta lain tentang perburuan paus, yang menurutnya dampak perburuan tersebut bahkan melebihi dampak plastik di laut. ... Perlu diketahui bahwa ketika paus dan lumba-lumba bernafas ke permukaan air, saat itu pula ia turut menyuburkan fitoplankton yang berfungsi sebagai penyerap karbondioksida, bahkan daya serapnya empat kali lipat daripada hutan amazon. ...Dalam hal ini bukan untuk menjaga ekosistem laut, tetapi agar para nelayan tetap bisa mendapatkan ikan dalam jumlah banyak mengingat lumba-lumba menjadi salah satu predator pemakan ikan tangkapan nelayan. Salah satu ikan tangkapan nelayan adalah tuna sirip biru yang merupakan ikan termahal, bahkan di pasaran Tokyo harga satu ekor tuna sirip biru sebesar 3 juta dolar, dan kini populasinya hanya sekitar 3 persen saja di bumi. Tidak hanya tuna, hasil penelusuran Ali menunjukkan industri ikan tersebut juga menangkap hiu yang hanya diambil siripnya, selebihnya tubuh hiu tersebut dibuang begitu saja. ...Penelusuran yang berawal dari wilayah Jepang ini kemudian mengantarkan Ali untuk menelusuri lebih lanjut tentang fakta-fakta lain tentang industri perikanan. ... Selain itu ironi yang ia sebutkan juga terlihat dari ikan-ikan kemasan yang dijual di pasaran yang mendapat label Certified Sustainable Food, yang bahkan setelah ditelusuri kepada pemberi label tersebut, kosnep sustainable food yang dimaksud juga semakin kabur. ... Fakta seperti untuk mendapatkan 8 tuna, para penangkap ikan ini membantai 45 lumba-lumba, dan ironisnya perusahaan tuna tersebut bekerjasama dengan perusahaan yang memberikan label Dolphin Safe. ...Temuan lain yang juga menarik dalam film ini adalah fakta bahwa sebenarnya sebesar 46 persen sampah-sampah yang ada di laut berasal dari industri perikanan itu sendiri, terutama jaring-jaring ikan. ... Perlu pula diketahui bahwa jaring ikan justru lebih berbahaya jika dibandingkan dengan plastik-plastik lain, karena ia dirancang untuk membunuh ikan. ...Meskipun ditemukan fakta jaring ikan lebih banyak jika dibandingkan dengan plastik lain, namun kampanye-kampanye organisasi peduli polusi laut justru terkesan abai akan kondisi tersebut. ... Dari penelusuran ini Ali juga memperlihatkan bagaimana aktor-aktor dari organisasi peduli polusi plastik, pemberi label dolphin safe, yang bahkan sebeernya sangat berkontribusi terhadap perusakaan ekosistem laut. Sering kali pula kampanye-kampanye pemerhati samapah plastik di lautan tidak menyinggung bagaimana praktik penangkapan ikan di lautan, karena pada dasarnya perhatian tersebut juga bertujuan untuk menjaga kelestarian dan ekosistem laut. ...Dari serangkaian kasus tersebut, Ali berusaha menyimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi di laut, baik sampah dan kelestarian ekosistem laut, terjadi karena industri penangkapan ikan itu sendiri. ...Dalam kasus Indonesia, misalnya, beberapa tahun terakhir marak dengan kebijakan menenggelamkan kapal-kapal asing yang secara illegal masuk ke perairan Indonesia untuk menangkap ikan. ...Mengapa persoalan industri penangkapan ikan menjadi penting dalam pengamatan Ali adalah karena gerakan-gerakan ikan di laut ternyata berkontribusi dalam pengurangan panas bumi, sekaligus keberadaannya turut menjaga kelestarian laut. ... Sebagai mana hasil penelitian yang ditampilkan dari filn tersebut, sebesar 93 persen karbondioksida ternyata disimpan di laut berkat bantuan vegetasi di perairan tersebut. kehilangan satu persen saja setara dengan menambahnya emisi gas dari 97 juta mobil. ...Meskipun alasan yang dipaparkan dalam film tersebut logis, namun persoalan tidak memakan ikan nampaknya akan sulit untuk diterapkan. yang terpenting saat ini mungkin benar apa yang dikatakan Ali, yakni mengentikan industri penangkapan ikan semakin bertumbuh banyak, karena konsekuensinya sekali lagi adalah overfishing. ...Tujuannya adalah untuk memberikan perspektif tentang adanya industri penangkapan ikan. Overfishing, sebagai salah satu imbas dari adanya kegiatan tersebut bahkan berimbas pada masalah-masalah lain seperti perbudakan yang terjadi di Thailand, sebagaimana hasil penelusuran Ali di dalam filmnya.
    21 April 21 2021, 20:08
    Hartanto Rosojati
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/seaspiracy.php#unique-entry-id-57
  • Kita Menentukan Kita Sendiri

    ...Namun, hal itu tidak berlaku dengan tokoh kita, seorang anak muda, dalam Tegak Lurus dengan Langit. Bagi tokoh kita, ayahnya adalah penyebab utama kesengsaraan dalam hidupnya: kepergian sang ayah tanpa kabar, perselingkungan dan kematian ibunya, dan hukuman seumur hidup bagi kedua abangnya akibat melakukan pembunuhan. ... Dalam cerpen karya Iwan Simatupang itu, lepas dari nilai-nilai moralitas, kita bisa menemukan tokoh kita yang bertindak menurut kehendaknya sendiri, bahkan secara bertanggung jawab, dengan menuntaskan dendamnya kepada ayahnya. ... Kisah itu masih memiliki relevansi dengan Kooong: Kisah tentang Seekor Perkutut. Pak Sastro, tokoh utama dalam novel itu, mengambil langkah yang tidak biasa. Ia putuskan untuk tidak menghiraukan saran orang-orang di desanya, meninggalkan desa yang dibangunnya, dan menitipkan harta bendanya kepada lurah untuk digunakan penduduk desa. Semua itu ia lakukan hanya untuk mencari seekor burung perkutut yang lepas dari sangkarnya. ...Namun, bagi Pak Sastro, perkutut gule tersebut merupakan pelipur lara setelah ditinggal mati istri dan anaknya. ... Itulah sebabnya, sekali lagi, ia mengayunkan langkah kakinya meninggalkan desa itu untuk mencari burung miliknya itu. ...Selama di perjalanan, ketika bertanya kepada orang-orang, lelaki tua itu tidak bisa mendeskripsikan perkututnya. Ia pun disebut dengan si manusia perkutut, dan tidak jarang pula dipanggil si sinting. ... Ia disebut si sinting karena ia tidak bisa menjelaskan ciri-ciri perkutut yang sedang dicarinya. ...Yang jadi persoalan, kepergian lelaki tua tersebut ternyata telah menghadirkan bencana di desa yang dibangunnya. Di sini, penduduk desa hidup berfoya-foya dari harta benda Pak Sastro, dan kemudian saling tuduh, juga baku hantam, perihal siapa yang harus bertanggung jawab atas penyalahgunaan harta benda tersebut. Karena tidak mendapati titik terang, Pak Lurah pun memutuskan untuk mencari Pak Sastro, dan berencana membawanya kembali ke desa. ... Dari situ, kita tahu bahwa ada kisah saling cari-mencari, Pak Sastro mencari burung perkututnya, dan Pak Luruh serta penduduk desa mencari Pak Sastro. Di lembar penghabisan Kooong: Kisah tentang Seekor Perkutut, penduduk desa, termasuk Pak Lurah, akhirnya bertemu dengan Pak Sastro. Namun, seperti kisah Tegak Lurus dengan Langit, Iwan Simatupang menghadirkan akhir yang mengejutkan: Pak Sastro sudah tidak memiliki keinginan untuk kembali ke desa yang dibangunnya. ... Seperti Pak Sastro, perkutut miliknya juga pergi dari sangkar untuk mencari kebebasan. Yang menarik, Iwan Simatupang mengisahkan keputusan perkutut gule itu meninggalkan Pak Sastro dari sudut pandang burung itu sendiri. Bagi burung tersebut, perlakuan Pak Sastro kepadanya sangat istimewa, bahkan ia sudah disejajarkan oleh Pak Sastro seperti manusia. ... Lagi, di babak penghabisan, kita mendapati bahwa Pak Sastro merelakan burung itu hidup bebas. ... Sebagaimana halnya tokoh kita dalam Tegak Lurus dengan Langit, Pak Sastro mengambil tindakan berdasarkan kehendaknya sendiri. ... Kita juga bukan Pak Sastro yang meninggalkan desa yang dibangunnya dan harta benda yang dimilikinya.

    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/a2ec10be904ca339f33ba048190d456f-55.php#unique-entry-id-55
  • Genderless Society, Apakah Mungkin?

    ...Kelompok feminis radikal mengklaim bahwa satu-satunya cara untuk menciptakan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki adalah dengan cara menghilangkan atau meniadakan konsep seks/ gender. ... Shulamith Firestone, misalnya, mengusulkan agar reproduksi alami (in utero) digantikan dengan reproduksi buatan (ex utero) sehingga perempuan tidak perlu memainkan identitas sebagai ibu dan berperilaku feminin, begitu pula laki-laki tidak perlu memainkan peran sebagai bapak dan berperilaku maskulin. Gagasan lain adalah menciptakan kesadaran antara laki-laki dan perempuan bahwa tidak ada hal lain yang membedakan mereka, kecuali jenis kelamin keduanya. ...Buku Feminist Thought, khususnya pada bab dua, membahas mengenai pandangan kelompok feminis radikal yang terbagi menjadi dua kubu, yakni feminis radikal libertarian dan feminis radikal kultural. Bab ini membahas secara spesifik pandangan kedua kubu terhadap peran gender, seks, hingga fungsi reproduksi perempuan. Namun, pada tulisan ini akan lebih banyak mengulas tentang pandangan feminis radikal libertarian dan feminis radikal kultural terhadap gender; keduanya sama-sama berpendapa bahwa akar dari penindasan perempuan adalah sistem gender yang diciptakan oleh masyarakat patriarkal. Satu-satunya cara untuk menghilangkan penindasan tersebut adalah dengan meniadakan seksisme dari sistem gender itu sendiri. ...Untuk memahami pandangan feminis radikal libertarian dan radikal kultural secara lebih mendetail, maka perlu dipahami terlebih dahulu apa yang disebut sebagai seks/gender. Mengacu pada definisi Gayle Rubin, seks/gender adalah seperangkat pengaturan yang dibentuk oleh masyarakat untuk menentukan aktivitas manusia berdasarkan seksualitas atau kondisi biologis jenis kelamin tertentu. Contohnya, masyarakat patrialkal menggunakan fakta-fakta tentang kondisi biologis (kromosom, anatomi, hormon) laki-laki dan perempuan sebagai dasar membangun identitas dan perilaku gender maskulin untuk laki-laki serta identitas dan perilaku gender feminin untuk perempuan. Masyarakat patrialkal menggunakan peran gender yang kaku untuk membuat laki-laki menjadi pihak lebih aktif dengan sifat-sifat mereka yang digambarkan ulet, agresif, ingin tahu, ambisius, penuh dengan rencana, bertanggung jawab, orisinal, serta kompetitif. ... Dengan kata lain, ideologi patriarki membesar-besarkan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, memastikan bahwa laki-laki memiliki peran dominan atau maskulin dan perempuan selalu memiliki peran subordinat atau feminin. ...Oleh karenanya, meniadakan atau menghancurkan sistem seks/gender demi menciptakan kondisi masyarakat baru di mana laki-laki dan perempuan setara di setiap tingkat kehidupan, merupakan salah satu cita-cita dari feminis radikal. ...Salah satu tokoh feminis radikal libertarian, Shulamith Firestone dalam bukunya The Dialectic of Sex, menawarkan gagasan untuk menghilangkan sistem gender yang diciptakan oleh masyarakat patriarkal. Menurut perkiraannya, dibutuhkan lebih dari sekedar reformasi sederhana untuk membebaskan tidak hanya perempuan dari kepribadian feminin, tapi laki-laki dari kepribadian maskulin. ... Firestone mengklaim bahwa cara ini membuat laki-laki dan perempuan tidak perlu menampilkan identitas serta kepribadian yang selama ini terbentuk secara sosial. ... Sebaliknya, laki-laki dan perempuan akan didorong untuk memadukan dan mencocokan sifat serta perilaku feminin dan maskulin, yang kemudian kombinasi ini disebut sebagai androgini. ...Feminis radikal libertarian mendorong perempuan untuk menjadi orang androgini, yaitu orang yang memiliki karakteristik sifat-sifat baik maskulin dan sifat-sifat baik feminin, atau sifat baik-buruk maskulin serta baik-buruk feminin. Masyarakat terbaik versi feminis radikal libertarian adalah masyarakat androgini, di mana baik laki-laki maupun permepuan merangkul nilai-nilai historis feminin dari cinta, kasih sayang, dan berbagi dengan nilai-nilai historis maskulin yakni penuh kontrol, terstruktur, juga posesif. ... Misalnya, sifat-sifat buruk dalam feminin seperti kepatuhan (yang berlebih) atau sifat buruk dalam maskulin seperti agresivitas tidak boleh ikut serta ke dalam androgini. ...Tidak seperti radikal liberal yang mendorong perempuan untuk memiliki sisi maskulin dan feminin, feminis radikal kultural menekankan agar perempuan tetap mempertahankan sifat feminin. Menurut feminis radikal kultural, perempuan androgini adalah perempuan yang terjebak dalam sifat-sifat maskulin dan feminin yang diciptakan oleh masyarakat patriarkal. ...Ia menilai konsep maskulin, termasuk pula konsep feminin yang ada dan berkembang saat ini tidak layak dipertahankan karena seluruhnya adalah produk dari sistem patriarki. ...Kehadiran feminisme radikal merupakan bentuk kritik terhadap gerakan feminis liberal (gelombang pertama feminis) yang hanya memperjuangkan kesetaraan pada hak pendidikan, politik, serta representasi perempuan.

    21 April 21 2021, 20:08
    Darin Atiandina
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/genderless-society-apakah-mungkin.php#unique-entry-id-54
  • Refleksi Pemilu Indonesia Lewat Film Please Vote for Me

    ...Tidak hanya bagi anak-anak yang masih polos, belum memiliki pengalaman sama sekali dengan demokrasi, atau pemilihan umum langsung, orang dewasa di sana pun masih merasa jauh dengan apa yang disebut oleh Presiden ke 16 Amerika Serikat, Abraham Lincoln, sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untk rakyat tersebut. ...Cheng Cheng pertama kali mendengar kata demokrasi dari gurunya, Ms. Zhang, “Berbeda dengan yang sebelumnya, kita akan menggelar pemilihan yang demokratis untuk ketua kelas.” Anak-anak yang baru pertama kali mendengar kata yang berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan atau pemerintahan) itu pun hanya bisa mengangkat alis serta mengerutkan dahi kebingungan. ... Tapi, kini Ms. Zhang menginginkan sesuatu yang berbeda, yakni, ketua kelas bisa dipilih oleh masing-masing anggota kelas lewat pemilihan umum. ...Mereka terdiri dari dua murid laki-laki; Cheng Cheng dan Luo Lei, serta satu murid perempuan; Xu Xiaofei. Layaknya pemilu nyata di sebuah negara demokrasi, tiga orang kandidat ini akan berkompetisi selama kurang lebih dua minggu untuk membuktikan kepada anggota kelas lain bahwa mereka layak dipilih menjadi ketua kelas. ...Seluruh proses pemilihan ketua kelas di sekolah dasar Evergreen Primary School ini direkam oleh sutradara Chen Weijun dan dijadikan film dokumenter berjudul Please Vote for Me (2007). Film ini menjadi unik sekaligus mengasyikan untuk ditonton, selain karena wajah para pemainnya yang menggemaskan, film ini bertujuan untuk menggambarkan realita pemilihan umum di negara demokrasi yang memiliki banyak kelemahan. Kelemahan-kelemahan pemilu yang ingin digambarkan dalam film ini lewat para tokoh utamanya, Cheng Cheng, Luo Lei, Xiaofei, beserta orang tua mereka masing-masing. ...Orang tua Cheng Cheng, Luo Lei, dan Xu Xiaofei senang bukan main ketika mendengar anaknya terpilih sebagai kandidat ketua kelas. ... Oleh karenanya, dalam hal ini justru para orang tua yang lebih bersemangat serta terobsesi untuk memenangkan posisi ketua kelas. ...Setelah ajang unjuk bakat selesai, anggota kelas lebih banyak terkesan dengan penampilan Cheng Cheng, kemudian Luo Lei, dan terakhir Xiaofei. ... Keterlibatan ayah Luo Lei tidak berhenti sampai di sana, ia juga membagikan hadian tiket mid-autumn festival pada semua anggota kelas saat Luo Lei berkampanye beberapa hari sebelum pemungutan suara. ...Ayah Luo Lei ibarat para pemilik modal yang membiayai kampanye seorang kandidat politik demi kepentingan pribadi, yang dalam hal ini kepentingan ayah Luo Lei adalah kemenangan sang anak. Kepentingan pemilik modal bertemu dengan kebutuhan biaya kampanye ini kemudian yang menyebabkan pemilu bukan lagi soal adu gagasan antarkandidat demi kepentingan rakyat, tetapi pertarungan para pemilik modal untuk mengamankan kepentingannya masing-masing. ... Pada Pemilu 2019 lalu, hasil survei LIPI menunjukkan bahwa 40 persen masyarakat menerima uang dari peserta pemilu tetapi tidak mempertimbangkan untuk tetap memilih peserta tersebut. ...Contohnya, dalam film ini, pihak lawan selalu meledek Xiaofei sebagai anak perempuan yang manja, tidak dapat mengontrol emosinya hingga seringkali menangis, dan tidak bisa memipin dengan baik karena dirinya perempuan. ...Isu yang berkembang saat itu adalah, perempuan berkiprah dalam politik dan masuk ke ranah publik untuk menjadi seorang pemimpin adalah menyalahi kodrat dan bertentangan dengan agama. ...Ibu Cheng Cheng adalah seorang produser televisi, ia banyak mengarahkan anaknya untuk bersikap layaknya pemimpin yang demokratis. ...Ia mengarahkan anaknya agar berpidato sesuai dengan teks yang telah ia buat, bunyinya kurang lebih seperti ini “saya akan menjadi manajer, bukan diktator seperti Luo Lei. ...Cheng Cheng juga menghasut teman-teman sekelasnya dengan menyebarkan kampanye jahat bahwa Luo Lei akan terus memarahi mereka jika terpilih sebagai pemimpin. ...Perasaan akan memiliki kebudayaan yang lebih baik dari orang lain sepertinya telah tertanam dan menjadi kultur bagi masyarakat Indonesia.Pilkada DKI Jakarta Tahun 2017 lalu jadi contoh nyata dari politisasi SARA, khususnya agama, sebagai bahan kampanye yang mudah, murah, dan efektif untuk memenangkan pemilu. Tentu saja hal ini tidak hanya mengancam penerapan demokrasi Indonesia, hal ini juga berbahaya untuk masyarakat Indonesia yang plural, multikultural, dan menunjung tinggi toleransi pada perbedaan identitas. ...

    Kompas.com, 29 Agustus 2019, Survei LIPI: Masyarakat Memandang Politik Uang Bagian dari Pemilu, Tidak Dilarang ,https://nasional.kompas.com/read/2019/08/29/05213291/survei-lipi-masyarakat-memandang-politik-uang-bagian-dari-pemilu-tidak?

    21 April 21 2021, 20:08
    Darin Atiandina
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/1896dc52da2de6d702f3835c9c84addc-53.php#unique-entry-id-53
  • Kumpulan Cerpen yang Menolak Sama
    Tentu saja, saya tidak lupa melampirkan cerpen yang berjudul Kemurkaan Pemuda E itu kepada mereka semua. ...Di bagian pembuka Bakat Menggonggong, jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada tersebut menyuguhkan kisah seorang penulis, pemuda E, yang menerima tawaran temannya menjadi pembicara di sebuah seminar. Di bagian akhir kisah itu, ia murka karena tidak memperoleh honor dan perlakuan yang sama dengan pembicara lain. Di sini, pembaca tidak mendapati pembuka yang menarik, seperti karya penulis-penulis lain. ... Kalimat pertamanya saja berbunyi begini: 'Pemuda E mencengkeram tutup toples acar dengan jari-jari tangan kanan dan mencekal bagian bawahnya dengan telapak tangan yang lain...'" (hal. ... Hal lain yang membuat cerpen pembuka itu tidak lumrah ialah gaya menulis Dea. Ia berperan layaknya seorang sutradara yang membawa pembaca ke satu adegan ke adegan lainnya dengan cepat, melompat 'ke sana di masa lalu' dan 'ke sini di hari ini', serta sering kali menyuguhkan kejadian-kejadian yang tidak terlalu berhubungan dengan kisah utama. Juga, sebagaimana penulis kolom media massa, Dea menggunakan kata "kita" dan "kita tahu" untuk memaksa pembaca menerima, atau mengamini, begitu saja situasi yang dideskripsikannya. ...Ia menuliskan ini: "Seekor buaya adalah seekor buaya adalah seekor buaya, dan seorang manusia adalah seorang manusia adalah seorang manusia. ... Afonso Garcia de Solis, misalnya, adalah seekor buaya adalah seorang manusia adalah penjelajah asal Eropa, dan menurut seorang antropolog, adalah seekor ikan baung yang—karena kesialan murni—berakhir sebagai lauk makan siang anak-anaknya sendiri" (hal. ... Kalau tulisan itu terus diikuti, pembaca akan mendapati bahwa tulisan itu 'hanya' laporan perjalanan yang dikisahkan oleh "aku" di Tulang Bawang Barat, Lampung. Di dalamnya, pembaca bisa menemukan alasan "aku" ke sana, kegiatan yang "aku" lakukan, orang-orang yang "aku" ajak bicara, dan apa saja yang mereka omongkan. ...Jika di Kemurkaan Pemuda E pembaca mendapati dialog yang sangat minim, di kisah ini pembaca justru 'hanya' menemukan dialog orang tua Loko. Mereka beradu argumen mulai dari cinta, harta, hak asuh anak, dan pada akhirnya pembaca dibawa ke perdebatan soal lempar koin untuk mengambil keputusan. Barangkali, hanya di karya Dea inilah, pembaca bisa mendapati percakapan yang tidak umum itu. ... Di Kisah Sedih Kontemporer (IX), pembaca hanya menemukan chat, atau mungkin SMS, lengkap dengan sejumlah emoticon dan tanggal pengiriman, antara penyair dan mantan pacarnya. Isinya dimulai dengan serangkaian puisi yang dikirimkan seorang penyair bernama Fredrik kepada mantan pacarnya, Shalani, pada 19 Oktober 2011. ...Dalam Kisah Sedih Kontemporer (XXIV), misalnya, ia menuliskan begini: "Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges dan sinis seperti Maupassant. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges.... dan mengharukan seperti Hemingway dan cerewet seperti Bolano" (hal. ... Menambah anak kalimat dari satu kalimat, mengulangnya dan menambah lagi, dan begitu seterusnya, sangatlah tidak lumrah dalam aturan main penulisan. ...Ketika toko buku dipenuhi kiat-kiat menjadi kaya raya dan tenar dalam waktu singkat, ketika para penulis lain menggunakan gaya penulisan dan teknik penceritaan yang itu-itu saja, menolak sama bisa saja merupakan jurus untuk menarik perhatian pembaca.
    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/kumpulan_cerpen_yang_menolak_sama.php#unique-entry-id-52
  • Pemanfaatan Newsgame Sebagai Bentuk Media Baru
    Theory, Boudaries, Utilization yang ditulis oleh Klaus Meier membahas tentang bagaimana produser berita menciptakan kembali antusiasme di antara masyarakat umum akan konten jurnalistik lewat suatu bentuk jurnalisme baru yaitu newsgame. ... Bogost, Ferrari, dan Schweizer (2010) menjelaskan bahwa tidak seperti media massa pada umumnya, game menampilkan teks, gambar, dan suara yang dapat menghadirkan keadaan dengan menggunakan model yang didesain sedemikian rupa sehingga khalayak dapat berinteraksi secara langsung. Newsgame memberikan pengalaman berbeda dibanding dengan media lainnya. ...Di Jerman beberapa format dalam newsgame, contohnya format kuis seperti di The Taggesschau, sebuah program berita di ARD-TV yang mengadakan kuis berita harian yang mungkin menjadi newsgame di Jerman yang paling lama karena sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun dan masih terus digunakan hingga sekarang (Taggeschau 2016). ... Dari contoh newsgame terkait Pemilihan Presiden di Amerika Serikat tahun 2015, format ini menjadi sangat membingungkan karena menurut Klaus karena khalayak menjadi sulit membedakan mana yang murni karya jurnalistik (netral) atau ajang mengekspresikan opini khalayak (Vobič et al, 2014). Dugaan ini diperkuat dengan pernyataan Gonzalo Frasca, pencetus istilah newsgame, yang menyebut bahwa Frasca tidak percaya jurnalisme obyektif dan newsgame hadir untuk mendorong pemikiran kritis dari para pemainnya karena pemainnya dibuat berpikir dan menghadirkan pengalaman tentang berita dan kejadian terkini. ... Klaus menganggap bahwa nama newsgame membingungkan karena batasan newsgame sebagai bentuk media baru, tidak begitu jelas antara jurnalisme dan non-jurnalisme, serta game dan non-game. ... newsgame atau perbedaan dari konten media lain. Newsgame masih bisa digunakan genre baru ini untuk memberikan citra modern dan inovatif, namun produser berita tetap harus secara jelas menyampaikan informasi sesuai dengan kaidah jurnalistik, terutama jika newsgame dipromosikan dan diedarkan di media sosial. ...Oleh karena itu, topik serius secara khusus harus disertai dengan teks. Newsgame cocok sebagai produk yang berdiri sendiri hanya untuk topik ringan yang mudah dipahami karena untuk topik yang kompleks, newsgame hanya memberikan dorongan emosional khalayaknya. Sementara untuk kriteria keberhasilan, newsgame yang berhasil ditautkan ke topik atau peristiwa terkini akan menjangkau lebih banyak khalayak jika mudah dimainkan dengan waktunya yang tidak terlalu lama. ...Dalam konteks jurnalisme di Indonesia, tulisan Klaus ini menjadi relevan, karena saat ini format newsgame masih belum terlalu banyak dibanding format lain seperti thread, listicle, dan infografis. ... Data Newzoo dan Gamescom Asia tahun 2019 menunjukkan bahwa jumlah gamers di Indonesia menghabiskan total 1,1 miliar USD untuk game tahun 2018, ini menjadikan Indonesia menjadi salah satu pasar game terbesar di Asia Tenggara. ...Namun di sisi lain, dalam topik tertentu seperti topik politik, newsgame bisa mengandung sindiran politik atau propaganda tertentu. Newsgame dapat menjadi salah satu alternatif untuk topik yang kurang diminati namun penting untuk diketahui, misalnya topik politik. ... Namun pada kenyataannya, dari hasil riset yang dirilis oleh Dable Indonesia dalam risetnya yang berjudul Indonesia Media Consumption Trend 2020, tingkat konsumsi berita baik berita umum maupun berita politik menurun. Memang ada banyak hal yang menjadi alasan penurunan tingkat konsumsi berita umum dan berita politik, namun dalam konteks solusi, newsgame bisa hadir menjadi alternatif bentuk baru agar masyarakat lebih tertarik untuk mengonsumsi berita politik. ... Adapun kekurangan dari tulisan Klaus adalah tulisan ini belum menyelidiki bagaimana narasi atau aspek penceritaan pada newsgame yang sesuai dengan kaidah jurnalistik sehingga newsgame bisa diaplikasikan untuk semua jenis informasi. Klaus juga tidak membahas soal after effect dari khalayak tentang newsgame, seperti misalnya feedback yang diinginkan oleh khalayak setelah bermain newsgame atau penilaian menang/kalah atau paling tidak seberapa baik khalayak memainkan newsgame tersebut. Meski belum terlalu banyak, namun studi terkait newsgame harus banyak dilakukan khususnya untuk menghadirkan newsgame yang obyektif yang tentu bisa diaplikasikan untuk semua jenis topik/ informasi.
    21 April 21 2021, 20:08
    Nona Evita Widjanarko
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/pemanfaatan_newsgame_sebagai_bentuk_media_baru.php#unique-entry-id-50
  • Membaca Masyarakat Indonesia
    Buku ini terbit pertama kalinya tahun 1984, namun dengan kelebihannya dalam menjelaskan persoalan sistem sosial, buku ini masih menjadi rujukan bagi mahasiswa semester pertama di Fisipol. ... Pertanyaan utama, mengapa buku tipis ini masih menjadi rujukan, meski persoalan politik kontemporer telah banyak diperbincangkan dari berbagai paradigma, mulai dari Marxisme, Neo-Marxisme, Feminisme, Institusionalisme, New-Institusionalisme, dan banyak lagi. ... Dugaan saya yang kedua ada pada telah usangnya bahasan terkait dengan sistem sosial Indonesia, terlebih pendekatan struktural fungsional yang menjadi pendekatan utama dalam buku ini telah lama ditinggalkan atau mengalami pengembangan. ... Meski demikian, buku ini memiliki banyak kontribusi, terutama bagi para pembaca yang hendak melihat kembali persoalan kebangsaan kita, termasuk menjadi pintu masuk pemahaman teorisasi lanjutan dari struktural fungsional, sebagai contoh teori mengenai modal sosial yang merupakan pengembangan pendekatan struktural fungsional. ...Sebagai sebuah sistem, maka kaitan antara satu dengan lainnya hanya dapat terbentuk apabila terdapat satu nilai (nilai yang sama) yang dipegang. ... Norma (aturan tidak tertulis/informal institution) dalam beberapa hal dapat merupakan aturan yang berasal dari satu kelompok dominan, namun dalam beberapa hal dapat pula merupakan aturan yang berasal dari interaksi antara kelompok yang berbeda. Dalam pandangan pendekatan ini, interaksi antara kelompok dengan identitas berbeda ini disebut dengan afiliasi lintas kelompok (cross-cutting affiliation). ...Pada awal mula perkembangan ilmu sosial mengambil cara pandang positivisme, sebuah cabang filsafat ilmu pengetahuan yang premis dasarnya memberikan jarak antara obyek dan subyek penelitian, mengadopsi prinsip ilmu pengetahuan alam ke dalam ilmu sosial. ...Hal ini direspon dengan mencoba memberikan pendekatan alternatif terhadap pendekatan yang telah ada, salah satunya adalah dengan cara mengombinasikan antara pendekatan struktural fungsional dan teori terkait dengan konflik untuk membaca sistem sosial di Indonesia. ...Tulisan ini membicarakan beberapa aspek sejarah di bagian awal, terutama bagaimana pelayaran hingga perdagangan pada masa kolonialisme yang secara tidak langsung membawa dampak pada majemuknya masyarakat di Indonesia. ...Pada bab 4, pembaca dibawa pada bahasan yang tidak kalah menarik, terkait dengan bagaimana pengaruh dari masyarakat yang majemuk terhadap kepartaian di Indonesia. Pada bagian ini, Nasikun menjelaskan bagaimana pembentukan beberapa partai yang didasarkan oleh beragam isu majemuk tersebut, terdapat partai yang dibentuk atas pengaruh sosialisme, hingga partai yang bernuansa agama seperti partai Kristen atau partai Katolik. Hal ini membawa pada satu bahasan yang menarik, bahwa terdapat dua pemilahan masyarakat yang terbentuk, yakni secara vertikal (berbasiskan kelas sosial) dan secara horizontal (berbasiskan identitas sosial). ...Pada bab 5, Nasikun memberikan bahasan yang menarik terkait dengan model cross cutting affiliation, sebagai perangkat untuk menciptakan komitmen bersama. ...Di bagian pembuka Bakat Menggonggong, jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada tersebut menyuguhkan kisah seorang penulis, pemuda E, yang menerima tawaran temannya menjadi pembicara di sebuah seminar. ...Ia berperan layaknya seorang sutradara yang membawa pembaca ke satu adegan ke adegan lainnya dengan cepat, melompat 'ke sana di masa lalu' dan 'ke sini di hari ini', serta sering kali menyuguhkan kejadian-kejadian yang tidak terlalu berhubungan dengan kisah utama. ...Afonso Garcia de Solis, misalnya, adalah seekor buaya adalah seorang manusia adalah penjelajah asal Eropa, dan menurut seorang antropolog, adalah seekor ikan baung yang—karena kesialan murni—berakhir sebagai lauk makan siang anak-anaknya sendiri" (hal. ...Jika di Kemurkaan Pemuda E pembaca mendapati dialog yang sangat minim, di kisah ini pembaca justru 'hanya' menemukan dialog orang tua Loko. ... Di Kisah Sedih Kontemporer (IX), pembaca hanya menemukan chat, atau mungkin SMS, lengkap dengan sejumlah emoticon dan tanggal pengiriman, antara penyair dan mantan pacarnya. ...Dalam Kisah Sedih Kontemporer (XXIV), misalnya, ia menuliskan begini: "Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis. ... Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges dan sinis seperti Maupassant. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges.... dan mengharukan seperti Hemingway dan cerewet seperti Bolano" (hal. ...Ketika toko buku dipenuhi kiat-kiat menjadi kaya raya dan tenar dalam waktu singkat, ketika para penulis lain menggunakan gaya penulisan dan teknik penceritaan yang itu-itu saja, menolak sama bisa saja merupakan jurus untuk menarik perhatian pembaca.
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/membaca_masyarakat_indonesia.php#unique-entry-id-49
  • Melawan Stigmatisasi Feminisme
    Seksisme, atau dalam bahasa lain dipahami sebagai diskriminasi atas seseorang berdasarkan seks/jenis kelamin atau gendernya, merupakan konsep utama dalam bahasan terkait feminisme. ... Gender mengacu pada karakteristik pria atau wanita yang terbentuk oleh masyarakat atau konteks sosial budaya, sedangkan seks/jenis kelamin merupakan perbedaan biologis antara pria dan wanita. ...Buku karya Bell Hooks dengan judul Feminisme Untuk Semua Orang berusaha untuk bercerita gerakan kelompok feminis yang pada dasarnya juga telah terpolarisasi, meski pada gagasan paling utamanya tetap berakar pada semangat yang sama, yakni melawan sistem patriarki. Buku ini nampaknya ditulis sebagai buku pengantar bagi karya Bell Hooks yang lebih lama dengan judul Feminist Theory: From Center to Margin yang telah ditulis 10 tahun sebelumnya. ...Apabila dapat dibagi ke dalam dua kategori besar, maka bab 1 (Pendahuluan: Mendekatlah Pada Feminisme) hingga bab 5 (Pendidikan Feminisme Untuk Kesadaran Kritis) merupakan bab inti yang memuat banyak kontradiksi terkait gerakan maupun konsep Feminisme. ... Perbedaannya keduanya ada pada kompromi gerakan, feminis reformis pada akhirnya membawa gerakan feminisme pada isu kesetaraan gender, sedangkan feminis revolusioner membawa gerakan feminisme pada tujuan meruntuhkan sistem patriarki. Bahasan lain setelah bab 5 merupakan bahasa tematik terkait dengan kajian maupun pluralistisnya cara pandang dan gerakan dalam feminisme. ...Persoalan terakhir yang disampaikan tidaklah salah, namun hal tersebut mengacu pada bagaimana sistem patriarki mencoba mengatur tubuh perempuan yang seharusnya merupakan kuasa perempuan itu sendiri. Buku ini hadir untuk melawan stigma-stigma tersebut, oleh karenanya tidak mengherankan apabila bahasa dan bahasan yang dipaparkan dalam buku ini sangat ringan. ...Menurutnya hal yang patut dipahami oleh seorang feminis ada pada pengertian bahwa sistem patriarki (sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan atau segala praktik kekuasaan menempatkan laki-laki sebagai pihak yang diuntungkan) tidak hanya dilanggengkan oleh pria, tetapi juga dilanggengkan oleh wanita. ...Pada bab 2 penulis memaparkan secara jelas bagaimana gerakan feminis terpolarisasi ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok reformis dan revolusioner. ... Berbeda dengan kelompok feminis revolusioner yang menekankan perubahan yang radikal terhadap sistem sosial budaya yang ada (tidak hanya dalam ruang lingkup pekerjaan). ...Hooks menyinggung sedikit persoalan konteks wilayah dengan pergerakan feminisme yang melingkupinya, seperti bagaimana perbedaan antara gerakan feminisme di Asia dan Amerika Serikat atau konteks Barat. Baginya persoalan perjuangan feminis di konteks Asia tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya, yang dalam beberapa hal menyangkut pula pada persoalan agama. ...Oleh karenanya apabila hendak menciptakan sistem yang adil bagi laki-laki maupun perempuan, maka agama perlu untuk direformasi atau dalam titik ekstrem direvolusi (perubahan radikal). ...Apabila gerakan feminisme menghadapi tantangan polarisasi antara feminisme liberal dan feminisme Marxis, maka tantangan lain yang tidak kalah pelik ada pada persoalan bagaimana feminisme coba didorong menjadi kajian akademis. Pada tahapan ini, terdapat pemisahan antara feminisme sebagai gerakan dengan feminisme sebagai kajian akademik, bahkan dalam beberapa hal menjadi paradigma maupun metodologi (Hay, 2005). Hooks mengkritik keras bagaimana persoalan akademisasi feminisme dengan fokus utama memberi penjelas pada teori-teori feminisme, akademisasi ini secara tidak langsung membawa deradikalisasi dan depolitisasi gerakan feminisme. ...Tidak hanya itu, Marxisme juga memberikan banyak sekali variasi pengembangannya, termasuk bagaimana menjelaskan variasi relasi kuasa yang didorong pula oleh Marxisme maupun kelompok yang mengkritik/memperbaharui Marxisme ortodoks (bahwa persoalan hanya berkisar pada perjuangan kelas) dikenal sebagai penganut Neo-Marxisme (marxisme yang diperbaharui). ...Hooks dengan cukup tegas hendak mengatakan bahwa akademisasi tersebut telah melemahkan gerakan politik, meski di sisi yang lain akademisasi menurut hemat saya, secara tidak langsung membawa feminisme pada perspektif yang lebih luas lagi. ... Meskipun, kritik dari Hooks tidaklah salah, hanya saja perlu dipahami bahwa dalam banyak hal gerakan-gerakan sosial dapat pula diinisiasi dari universitas. ...Bahkan dalam beberapa hal, terdapat pertentangan keras antara feminisme reformis -revolusioner, homoseksual (lesbian) - heteroseksual, kelas sosial bawah - kelas sosial atas, maupun kampus - non kampus. Sebagai ilustrasi, sangat sulit untuk membangun etos feminisme di antara masyarakat ekonomi kelas bawah, terlebih membicarakan masalah kesetaraan kerja atau hal yang lebih radikal seperti mengubah struktur patriarki. ...Pada bab pertengahan dalam buku ini, setelah bab 5, pembahasan banyak menyoal persoalan kontemporer, yakni terkait dengan bagaimana pekerjaan domestik (ibu rumah tangga) menjadi salah satu pelestari sistem patriarki, mengingat wanita harus menyiapkan sistem atau lingkungan yang nyaman bagi pria. ...Sebagai sarjana di bidang ilmu politik, topik bahasan terkait dengan feminisme tidak terlalu asing buat saya, meski saya tidak mendalami gagasan ini secara mendalam, paling tidak saya memahami beberapa prinsip dasar dalam cara pandang ini.
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/melawan_stigmatisasi_feminisme.php#unique-entry-id-48
  • Oase Pertempuran Sehari-hari
    Saling membandingkan diri, hujatan, cyber bullying, patah hati, menghadapi stres di jalanan, tekanan pekerjaan, seluruh persoalan-persoalan yang menyangkut kesehatan mental, dituangkan oleh Kunto Aji dalam album Mantra Mantra. ...Oleh karenanya dalam salah satu bagian di lagu Rehat terdapat beberapa bagian yang diatur dalam frekuensi tersebut (CNN Indonesia, 23/09/2020). ...Motivasi awal Kunto Aji mengangkat isu mental terutama overthinking dan tekanan mental di kehidupan modern, berawal dari refleksi perjalanan hidupnya, sebuah perjalanan yang kemudian terefleksikan pula pada kehidupan para pendengarnya. ...Kalimat tersebut diulang-ulang hingga pada akhirnya ditutup dengan pesan untuk menghargai diri sendiri, “Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri..”. ...Pada lagu Rancang Rencana, pendengar diajak untuk berbicara dengan dirinya sendiri, sebuah lantunan lirik yang mengena terkait dengan hal ini ada pada lirik “dalam ku ingat.. suara terdengar... jangan berubah… jangan berubah.. dalam ku ingat.. suara terdengar.. jangan berubah.. kau yang ku kenal”, penggalan lirik tersebut seakan merupakan perbincangan dari kepada diri sendiri. Dalam lagu ini, interpretasi yang saya terima ada pada pesan bahwa kita tidak boleh kehilangan diri sendiri. ...Pada lagu Pilu Membiru, Kunto Aji nampak mengajak pendengar untuk melepaskan masa lalu. ... Dalam video pengalaman Pilu Membiru yang dibuat oleh Kunto Aji di kanal Youtube miliknya, terlihat bahwa interpretasi tidak hanya menyoal hubungan antar kekasih, tetapi juga hubungan dengan nenek atau bahkan orang tua. ...Paska lagu Pilu Membiru yang memiliki banyak makna, tiba-tiba pendengar disuguhkan lagu yang sangat mudah interpretasinya dan sangat pop, bagi para pendengar mungkin hal ini dirasa sedikit aneh. ...Setelah lagu ini, Kunto kembali mengajak kita untuk melepaskan persoalan atau beban mental yang ada, melalui lagu dengan judul Rehat. Penggalan lirik dari Rehat yang paling mengena ada pada “tenangkan hati.. semua ini bukan salahmu… jangan berhenti.. yang kau takutkan tak’kan terjadi..”, disusul “yang dicari hilang.. yang dikejar lari.. yang ditunggu.. yang diharap.. biarkan semesta bekerja untukmu..”. ... Lagu ini mengajak para pendengarnya untuk dapat melepaskan dan dalam beberapa hal mengikhlaskan apa yang berada di luar kendali kita. ...Mereka selalu mengatakan bahwa diri kita tidak menjadi manusia di Jakarta, waktu hidup habis di jalan, hidup tidak layak, dan semua keluhan terkait dengan Jakarta. ...Kegundahan perantauan tersebut terlihat dalam lirik “dalam hati aku selalu ingin beranjak pergi.. kota yang sama yang membuat ku tegak berdiri… hingar bingar sudut jalan yang tak kan pernah mati.. kota yang sama yang membuatku merasa sepi”. Jakarta tidak dapat dinafikan merupakan kota yang barangkali tidak ideal untuk ditinggali, namun di satu sisi, kota ini yang membentuk diri kita. Pada barisan kalimat selanjutnya, Kunto Aji menyatakan bahwa kota Jakarta memang ramai, namun di sisi yang lain membuat diri menjadi sepi. ...Mentalitas Jakarta terlihat dalam lanjutan liriknya yang berkata “jangan salahkan barisan panjang di pusat kota… kita bergegas mengejar mimpi-mimpi yang sama..”, pesan paling tegas ada pada lirik “sekeras-kerasnya.. benturkan.. bentuklah dirimu”, sebuah pesan yang nampaknya melekat pada kota Jakarta. ...Lirik dengan kata konon katanya seakan menyerang stigma-stigma yang biasa kita temui dalam hidup, seperti pekerjaan paling ideal adalah PNS, atau kita hal-hal ideal lainnya. ...Hal yang menarik tentu ada pada tema yang diangkat oleh Kunto Aji, terutama terkait dengan kesehatan mental yang menjadi topik utamanya. Hal lain yang menarik ada pada penggabungan antara musik instrumental dan musik pop funk a la tahun 1980. ... Perpaduan antara musik instrumental dan musik pop memungkinkan para pendengar mendapatkan “terapi” yang barangkali tanpa disadari oleh pendengar itu sendiri. ...Khusus untuk lagu Rehat, bagian musik instrumental mengingatkan saya pada grup band Sigur Ros yang berasal dari Islandia (Iceland). ... Maka keunikan Kunto Aji ada pada penggabungan music Pop Funk a la Bruno Mars dengan musik instrumental a la Sigur Ros. ...Album ini patut untuk didengarkan, baik dari sisi musikalitas, pesan dalam setiap lagu, hingga konsep terkait kesehatan mental yang jarang menjadi topik bahasan. ...CNN Indonesia, 23 September 2018, Cerita di Balik Frekuensi 396 Hz dalam Lagu 'Rehat' Kunto Aji, https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180923120517-227-332464/cerita-di-balik-frekuensi-396-hz-dalam-lagu-rehat-kunto-aji, diakses tanggal 29 November 2020
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/oase_pertempuran_sehari_hari.php#unique-entry-id-47
  • Book Review: Meninggalkan Tasik Yang Tenang
    Dengan senang hati dan bersemangat, anak itu pun menuturkan cuplikan roman karya Sutan Takdir Alisjahbana kepada ibunya. ... Jika kita periksa lebih seksama isi novel ini, kita akan menemukan bahwa Tuti adalah tokoh yang tidak jauh dari sikap dan gagasan Sutan Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan yang termasyhur itu. Tuti merupakan "seorang tegap dan kukuh, tak suka beri-memberi, gelisah bekerja dan berjuang untuk cita-cita yang menurut pikirannya mulia dan luhur." ... Dari situ, kita tahu bahwa Tuti, juga Sutan Takdir Alisjahbana, adalah pengikut apa yang diserukan Immanuel Kant di penghujung abad ke-18 itu: Sapare Aude. Apabila manusia ingin lepas dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri, ia mau tidak mau harus berani menggunakan pikirannya sendiri tanpa bimbingan atau panduan orang lain. Menjadi catatan, agar bisa menggunakan pikirannya sendiri, manusia sudah seharusnya diberikan kebebasan (freedom). Oleh sebab itu, menghambat kebebasan seseorang guna mengungkapkan pikirannya terkait apapun merupakan bentuk paling nyata membatalkan progres pencerahan: lepas dari ketidakdewasaan. ...Dari sini, bisa dikatakan bahwa Tuti berdiri di kakinya sendiri, tidak memerlukan, terlebih-lebih tergantung pada, siapapun termasuk orang tuanya, untuk menentukan masa depannya. Singkatnya, ia adalah manusia yang lepas dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri. ...Baginya, kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang terputus dari kebudayaan kerajaan-kerajaan masa lampau, yang pernah berjaya, juga ambruk, di atas kepulauan Indonesia. ... Secara bersamaan, "Sejak dari dahulu, bangsa kita gemar akan sikap yang menganggap dunia ini sebagai yang tiada berarti, yang fana. ... Berangkat dari penjelasan itulah, Sutan Takdir Alisjahbana kemudian mengusulkan agar bangsa Indonesia meniru kebudayaan Barat jika ingin bersaing dengan bangsa Barat. ... Dalam kalimat lain, Sutan Takhir Alisjahbana menuliskan, "Dunia bukan maya, bukan tempat pemberhentian sebentar... daripada menempuh jalan yoga menyuruh menghentikan berpikir, bangsa kita harus lebih banyak berpikir." ... Dalam sebuah wawancara, Sutan Takdir Alisjahbana di usia senjanya menyatakan bahwa pendiriannya mendorong agenda modernitas bagi masa depan Indonesia di tahun 1930-an itu sudahlah tepat. Mayoritas orang, lanjutnya, sepakat dan tidak menyoal bahwa kebudayaan modern tidak lepas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Cukup aman untuk mengatakan bahwa di mata Sutan Takdir Alisjahbana kebudayaan modern yang didengungkannya merupakan pemenang duel gagasan kebudayaan itu. Dengan kata lain, gagasan kubu Sanusi Pane kalah, persis seperti kematian Maria di novel Layar Terkembang. ... Harus diakui, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak datang dari kebudayaan nenek moyang kita di zaman pra-Indonesia, zaman jahiliyah keindonesian itu. ... Di tengah situasi itu, agak keliru jika kita kemudian menyalahkan, terlebih menolak, ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti yang diserukan oleh sejumlah pemikir murung. ... Namun, jika jatuh ke tangan yang salah, ilmu pengetahuan dan teknologi justru menjerumuskan umat manusia menuju ke jurang kehancuran. ... Sementara itu, menaruh rasa percaya begitu saja kepada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh para ilmuwan, tanpa adanya rasa skeptis, bukanlah pilihan bijak. Sebab, keduanya sangat potensial disalahgunakan oleh tangan-tangan jahat, dan pada akhirnya membawa umat manusia ke jurang maut. ... Di kondisi seperti itu, kita sudah seharusnya bukan mengutuk atau memuja ilmu pengetahuan dan teknologi. ...Petang di halaman rumah itu semakin semarak setelah anak laki-laki itu membacakan sejumlah adegan menarik di Layar Terkembang, sembari berlenggak-lenggok, kepada ibunya. ...Sebelum tua menggerogotinya, dan sebelum maut menjemputnya, kata Hasan Aspahani (2016) dalam "Chairil", anak laki-laki itu tuliskan larik-larik yang tidak lekang oleh waktu: "Aku mau hidup seribu tahun lagi".
    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/meninggalkan_tasik_yang_tenang.php#unique-entry-id-46
  • Book Review: Sabda dari Surga
    Di dalamnya, kita bersua dengan satu keluarga Batak Kristen, akan tetapi memiliki pandangan yang berbeda terhadap agama itu: seorang anak lelaki yang sudah enggan bersentuhan dengan agama; ibu yang rutin ke gereja dan mengikuti kegiatan agama; dan bapak yang tampaknya belum beranjak dari praktik Parmalim, sekalipun sudah dibaptis menjadi seorang Kristen. Jika Sitor Situmorang secara terang benderang menggambarkan sikap si anak dan ibu terhadap agama, ia justru secara samar-samar, atau tidak terlalu gamblang, mengilustrasikan keyakinan si bapak. Dalam benak orang Batak (Toba), khususnya mereka yang sudah berafiliasi dengan agama di luar Parmalim, (penganut) agama Parmalim acap kali digambarkan dengan takhayul, mantra, dan makan sirih. ...

    "Ia (baca: bapak) masih mengucapkan mantera kalau ada kejadian istimewa dengan diri atau keluarganya... ...Cerpen Sitor Situmorang itu setidak-tidaknya memperlihatkan bahwa kedatangan Kristen di Tanah Batak tidak seutuhnya menggilas Parmalim. ... Bahkan, walaupun sudah dipermandikan menjadi Kristen, terdapat orang-orang yang tetap melaksanakan praktik Parmalim, seperti si bapak dalam cerpen Sitor Situmorang. "Bapak kalau di gereja diberi juga tempat istimewa dekat pendeta, di atas kursi besar menghadap jemaat, sebab ia orang yang dirajakan, pun sebelum zending dan kompeni datang..." tambah Sitor Situmorang. ...Pada 2016, Irwansyah Harahap mempublikasikan hasil penelitiannya di Desa Hutatinggi Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, menjadi sebuah buku berjudul "Hata Ni Debata". Di buku ini, jebolan University of Wellington, Seattle, Amerika Serikat itu mengulas sejarah panjang Parmalim hingga arti penting gondang (gendang) sebagai media ungkap ekspresif spritual bagi penganut agama itu. ...Di tengah penjelasan yang tidak tunggal tersebut, Irwansyah Harahap menyatakan bahwa "... kemunculan ajaran ini berakar pada keinginan untuk mengukuhkan kembali sistem sosial-spiritual lokal Batak Toba dan sekaligus perlawanan terhadap nilai-nilai baru dari misi zending Kristen (dalam hal ini institusi Rheinische Mission-Gessellschaft (RMG) Jerman) dan kolonialis Belanda di tanah Batak" (hal. ... Dari rentetan sejarah panjang, sejak kedatangan kolonialisme hingga masuknya Kristen Jerman menjelang akhir abad ke-19, lalu tegaknya kemerdekaan di negeri ini, nasib penganut Parmalim ternyata tidak berubah menjadi lebih baik. ...Tidak jarang, Parmalim disebut juga dengan istilah Par-Ugamo: "orang-orang yang menjalankan ugamo/'ajaran luhur'"—"sesuatu yang berhubungan dengan alam spiritual-keilahian (partondian)" (hal.136). ...Dalam ajaran Parmalim, terdapat beberapa prinsip dasar etika sosial, dan mereka harus ditampilkan dalam kebersihan dan ketulusan hati terhadap apa yang dimakan, dilihat, dikatakan, dan menghargai "dudukan" (dari sopan santun terhadap yang dituakan hingga menyangkut etika ketika berjalan). Prinsip tersebut juga harus mencerminkan perilaku ritual dan sosial dalam mardebata (berTuhan), maradat (hubungan berlandaskan adat), marpatik (memiliki aturan), maruhum (berpijak pada landasan hukum), dan marharajaon (memiliki landasan wilayah kerajaan/pemerintahan) (hal. ... Hal lain yang bisa diidentifikasi dari agama Parmalim ialah adanya sejumlah abstraksi figur keilahiaan, dan salah satunya adalah Mulajani Na Bolon. ...

    "Sampaikanlah kepada Tuhan kita Debata Mulajani Na Bolon yang telah menjadikan segala apa yang ada. Kita sampaikan sembah pujian-pujian kepadaNya melalui perantara jiwa anakNya yang kita hormati yakni Bapak kita Raja Nasiak Bagi, Raja Tubu (Raja yang Terlahir), Raja Sioloan (Yang Diikuti) di dunia ini... (hal. ...Doa pujian (tonggo-tonggo) itu, kata Irwansyah Harahap (hal. 95), dilantunkan bersamaan dengan alat musik gondang. ... Kalau orang Batak Toba sekadar memakai gondang pada acara atau ritual adat, penganut Parmalim justru lebih tinggi lagi, yakni kegiatan-kegiatan spiritual atau keagamaan. ...Dari buku "Hata Ni Debata", kita bisa menemukan arti penting gondang bagi penganut agama Parmalim. ... Walaupun tidak menjadi cakupan utama risetnya, orang-orang Batak Toba Kristen tidak jarang memainkan gondang, dan mengucapkan kata-kata berkaitan dengan Mulajani Na Bolon di kegiatan adat. ... Lepas dari soal itu, kalau kita menggunakan pemaparan Hikmat Budiman (2010) dalam "Minoritas, Multikultural(isme), Demokrasi: Beberapa Observasi" guna memandang Kristen, boleh dikatakan Kristen baik secara jumlah ataupun signifikansi merupakan mayoritas di dunia, tetapi minoritas di Indonesia. Di Tanah Batak (Toba), Kristen merupakan mayoritas, dan Parmalim adalah minoritas. Dari tumpukan kisah relasi mayoritas-minoritas di manapun, kita dengan mudah menemukan bahwa mayoritas kerap merasa paling benar, mudah mencurigai, gampang membunuh, dan kemudian membusungkan dada atas seluruh tindakan tersebut. ...Ratusan tahun setelah Nommensen undur diri dari kehidupan ini, kita tidak hanya menemukan Parmalim sebagai agama di Tanah Batak, melainkan juga sebagai inspirasi.

    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/sabda_dari_surga.php#unique-entry-id-39
  • Book Review: Pertemuan Tanpa Percakapan
    Dari sajak-sajak Chairil yang menyoal agama, yang kerap dijadikan sandaran (terakhir) manusia, Arief Budiman (AB) dalam "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" menyatakan bahwa 'Si Binatang Jalang' lebih dari sekadar mencemooh agama. ... Sebab, ia tidak mau menukarkan, terlebih mengorbankan, apa yang dimilikinya dengan sesuatu yang tidak pasti di masa depan. "'Lagi siapa yang bisa mengatakan pasti di situ memang ada bidadari' yang sama cantik dan genitnya seperti Nina dan Yati," perempuan-perempuan yang hadir di kehidupannya (hal. ... Dari pernyataan AB, kita tahu bahwa Chairil memilih yang pasti 'di sini' dan 'di hari ini' daripada yang tidak pasti 'di sana' dan 'di kemudian hari'. ...Bagi kedua sahabat karib itu, mendedah karya sastra secara utuh dan berurutan merupakan prasyarat sebuah karya sastra bisa memiliki makna yang hidup. Dengan kata lain, apabila karya sastra dianalisis berdasarkan kepingan-kepingannya saja, maka makna suasana hati yang utuh akan hilang, dan ia tidak lebih dari sekadar karya yang mati. ...Pada 1976, skripsi tersebut diterbitkan untuk pertama kalinya menjadi sebuah buku dengan judul "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan"—kata pengantar buku itu dituliskan oleh AB pada 1973 di Paris (hal. ... Membaca buku tersebut terbilang seperti perjalanan singkat menelusuri sajak-sajak Chairil, sebab AB menyibak sajak-sajak 'Si Binatang Jalang' secara berurutan dan keseluruhan, sejak pertama kali ia menulis puisi hingga hari-hari menjelang kematiannya—pembahasan yang ditampilkan di buku ini 'hanya' sajak-sajak pada masa awal dan akhir hidup Chairil. ... Dari karya AB ini, saya tidak mendapati gambaran Chairil (remaja) yang begitu terpukau kepada Sutan Takdir Alisyahbana dengan anjuran "menaruh pandangan ke Barat", juga Chairil si pelopor angkatan 45. ...Dari sajak itu, ada dua hal yang disadarinya: 1) manusia tidak akan berdaya menghadapi sang maut; dan 2) sang maut tidak mau berkompromi kepada manusia (hal. ...Pada titik ini, bagi Pangeran Diponegoro, yang lebih tinggi dibandingkan dengan kehidupan itu sendiri adalah kemerdekaan negeri (hal. ... Ketegangan antara berpegang teguh pada prinsip di satu sisi, dan menghadapi hidup ini sebagaimana adanya di sisi lain inilah yang harus dipilih Chairil. Chairil melalui sajak "Tak Sepadan" akhirnya memilih hidup yang tanpa prinsip, yang apa adanya, "yang kering kerontang tanpa warna", walaupun konsekuensi pilihan itu adalah kesepian (hal. ...Seperti di masa ketika pertama kali menerbitkan sajak-sajaknya, Chairil juga bicara tentang kematian menjelang hari-hari kematiannya. Pada 1949 (tahun kematiannya), Chairil di usianya yang ke-27 pertama kali menerbitkan sajak "Mirat Muda, Chairil Muda". Pada akhir sajak itu, ia menyatakan kematian yang sudah semakin dekat: "Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras/ menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati." ... Bagi AB, Chairil di sajak itu, yang menggambarkan Mirat, bukanlah Charil yang sedang terjadi, melainkan suatu pengalaman yang sudah lama lewat. Pada titik ini, kenangan membawanya kembali ke masa lalu, mengingat Mirat, ketika sang maut makin dekat, makin tidak berjarak. ... Yang menarik, tulis AB, kematian di penghujung usia Chairil bukanlah sebuah obsesi seperti di tahun 1942, masa awal ia menerbitkan sajak, melainkan sebagai kepastian, sebab manusia bagaimanapun pasti mati (hal. ...Chairil yang muncul di buku ini adalah sebuah penghayatan AB terhadap sajak-sajaknya. Dengan kata lain, AB melakukan pertemuan dengan Chairil, atau lebih tepatnya pertemuan antara AB sebagai orang yang menghayati dan sajak-sajak Chairil sebagai karya seni. ... Dari perbauran inilah muncul sebuah nilai, nilai Gestalt atau lebih tepat lagi barangkali nilai Ganzheit, yang terjadi antara pertemuan antara subjek dan objek" (hal. ...Dengan segala pengalaman kebudayaannya, AB menghayati sajak-sajak Chairil yang tidak lain dan tidak bukan berangkat dari pengalaman-pengalaman personal Chairil terhadap dunia di sekelilingnya. Oleh sebab itu, Chairil yang muncul di buku ini adalah Chairil-nya AB. Dengan kata lain, ia bukan Chairil ibunya atau gadis-gadis yang pernah muncul di kehidupannya. Dengan atau tanpa sajak-sajaknya, Chairil pada akhirnya adalah sesuatu yang diinterpretasikan secara berbeda-beda oleh setiap orang. ... Sekalipun tulisan AB sangat mengalir di buku ini, dan tulisannya yang paling indah yang pernah saya baca, AB seperti 'mengunci' dan menutup diskusi soal apa yang dihayatinya.
    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/pertemuan_tanpa_percakapan.php#unique-entry-id-38
  • Book Review: What is A Bullshit Jobs?
    Sebagai seorang teoritikus sosial, beberapa karyanya cukup fenomenal, yang salah satunya akan saya ulas dalam tulisan lebih lanjut, yakni Bullshit Jobs (2018). ...Karena perusahaan IT tersebut tidak memiliki logistik, maka perusahaan tersebut mempekerjakan subkon yang mengerjakan manajemen personalia, dan Kurt bekerja di sana. ...Karena itu Kurt harus menyewa mobil, mengendarainya ke barak, memberitahu petugas bahwa ia sudah sampai, kemudian mengisi formulir, melepas instalasi komputer, memasukkannya ke kotak, dan meminta petugas dari perusahaan logistik membawa kotak tersebut ke ruangan yang akan ditempati tentara A tersebut. ...Alih-alih tentara A memindahkan komputernya ke ruangan lain yang berjarak kurang lebih 5 meter, seseorang harus menyewa mobil dan mengendarainya selama kurang lebih 4-6 jam, mengisi banyak dokumen dan membuang uang para pembayar pajak sekitar empat ratus euro (Graeber, 2018:39-40). ... Pada akhirnya apa yang dituliskan Graeber adalah Kurt beranggapan dan membenarkan bahwa yang ia kerjakan sebenarnya tidak memiliki tujuan apapun. Hal ini yang kemudian mengantarkan Graeber memberikan kesimpulan awal tentang apa itu sebenarnya bullshit Jobs, yakni pekerjaan yang sama sekali tidak berguna, tidak perlu, bahkan tidak akan ada yang kemudian memperhatikan jika orang yang memiliki pekerjaan itu menghilang (Graeber, 2018:42). ...Berdasarkan penelitiannya sendiri, Graeber menyimpulkan ada sekitar 37 hingga 40 persen dari populasi pekerja di suatu negara menganggap apa yang mereka kerjakan adalah bullshit jobs (Graeber, 2018:50). ...Tidak hanya Kurt yang menjadi cerita dari Graeber, selanjutnya ia coba memberikan gambaran tentang pekerjaan apa yang bisa dikategorisasikan sebagai bullshit jobs atau tidak, meskipun apa yang ia jelaskan juga dapat dipertentangkan karena sifatnya yang subjektif. Oleh karena itu, Graeber mencoba menjelaskan sebuah pekerjaan dari sudut pandang para pekerja itu sendiri, karena tidak ada yang mengerti dari sebuah pekerjaan daripada pekerja itu sendiri. ...Ketika Graber mendefinisikan bullshit jobs sebagai pekerjaan yang tidak berguna atau bahkan tidak ada manfaatnya di masyarakat, ia justru menolak anggapan bahwa mafia pembunuh bayaran sebagai seorang bullshit jobs. Seperti yang kita ketahui bahwa mafia pembunuh bayaran memang tidak memiliki dampak positif bagi masyarakat, bahkan cenderung merusak dan tidak bermanfaat, namun sekali lagi hal tersebut tidak lantas menjadikannya sebagai bullshit jobs menurut Graeber. ... Kurang lebih apa yang diajarkan Sokrates adalah ketika definisi dari kita sendiri menghasilkan sesuatu yang tampak salah bagi kita secara intuitif, itu karena kita tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang kita pikirkan (Graeber, 2018:51-52). ...Akan tetapi sejauh apa yang didapat Graeber, ketika seorang mafia pembunuh bayaran bersedia menceritakan apa yang sebenarnya mereka kerjakan, mereka akan cenderung terbuka. Bahkan mereka tidak akan berpura-pura bahwa apa yang ia kerjakan sangat bermanfaat bagi masyarakat, atau mengklaim apa yang mereka kerjakan sangat membantu setidaknya bagi timnya. ... Ia kemudian menyempurnakan bahwa bullshit job bukan hanya pekerjaan yang tidak berguna atau merusak, melainkan ada sifat kepura-puraan. ... Namun jika kemudian ada yang bertanya tentang pekerjaan kita dan kemudian kita berusaha menjelaskan apa yang kita kerjakan, itu bukan berarti pekerjaan kita adalah bullshit jobs. Seperti apa yang dijelaskan Graeber, kepura-puraan dan kenyataan memiliki perbedaan yang sangat tipis, namun masuk akal secara etimologis ketika bullshit bagaimanapun merupakan sebuah ketidakjujuran (Graeber, 2018:53). ...Beberapa diskursus di atas diakui oleh Graeber memang bersifat subjektif, namun ia juga beranggapan bahwa satu-satunya alat ukur untuk mengetahui konsep tersebut adalah subjektifitas dari para pekerja yang menjadi sumber argumentasi Graeber. ... Karena pada dasarnya sebuah pekerjaan yang sama bisa saja sebagai bullshit job, namun di waktu lain bisa saja bukan. Meskipun demikian kembali lagi Graeber menegaskan bahwa jika dibandingkan dengan social value, perspektif dari para pekerja adalah hal yang paling dekat dan akurat untuk menilai (Graeber, 2018:57-58). ...Terlepas dari cara kerja social value dalam memberikan standar paradigmatik tentang sebuah pekerjaan, Graeber lebih menyoroti bahwa hal tersebut juga dipengaruhi aspek ekonomi yang menimbulkan masalah sosial lain. ... Parahnya, pada level-level tertentu terkadang dibuat shit jobs, yang bagi Graeber adalah pekerjaan yang nyata, namun keberadaannya justru untuk mendukung mereka yang terlibat pada bullshit jobs (Graeber, 2018:76). ...Sampai di sini, bullshit jobs Graeber masih belum menemukan pengertian yang utuh, meskipun dari awal tulisan Graeber selalu menitikberatkan sebagai sebuah pekerjaan yang tidak berguna. Apa yang diperdebatakan dan diulas di atas hanyalah kegelisahan awal Graeber di buku Bullshit Jobs (2018) pada chapter pertama. Selanjutnya Graeber menjelaskan secara lebih kompleks tentang apa itu bullshit jobs, kategorisasi, dan bahkan ditarik pada perdebatan politik sebagai salah satu instrumen hadirnya bullshit jobs.
    21 April 21 2021, 20:08
    Hartanto Rosojati
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/what_is_a_bullshit_jobs.php#unique-entry-id-35
  • Film Review: Battle in Seattle
    Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjadi bagian dari sebuah organisasi mahasiswa ekstrakampus besar di negeri ini, yang tidak hanya paling lugas lambangnya – banteng ketaton –, tetapi juga pemikirannya, menurut saya. ... Entah kebetulan pula, setelah sekian lama bergabung dalam organisasi tersebut, secara tidak sengaja saya menemukan arsip-arsip “lawas” Eyang saya dan banyak di dalamnya mengulas ideologi yang sama. ...Terlebih ketika mengingat mahasiswa pernah berperan penting menumbangkan rezim Orde Baru di tahun 1998, kemudian aksi turun ke jalan seolah menjadi sebuah keharusan. ... Hal pertama yang wajib dilakukan sebelum melakukan aksi salah satunya adalah Machtsvorming dan Machtwending, bagaimana penggalangan kekuatan dilakukan dan penggunaan kekuatan yang telah digalang tersebut. ... Dua paragraf awal tersebut hanyalah sepenggal memori masa lalu saya yang seolah hidup kembali ketika melihat film yang diperankan oleh Michelle Rodriguez (Lou) dan Martin Henderson (Jay). Film yang mengambil latar asli akan sebuah kejadian aksi demonstrasi pada Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (WTO) di Washington, Amerika Serikat tahun 1999. Dalam kejadian aslinya, protes terhadap WTO dilayangkan oleh lebih dari 40.000 demonstran yang terdiri dari aktivis lingkungan, HAM hingga organisasi buruh dan menjadikan aksi tersebut sebagai salah satu demonstrasi terbesar di Amerika Serikat. ... Berbeda dengan film-film lainnya, cukup susah untuk penikmatnya mengenal betul nama masing-masing karakter, terlebih saya yang sukar menghafal nama orang yang baru dikenal terlebih karakter di film yang tercatat baru saya tonton kembali, setelah pertamakali saya simak mungkin lebih dari 5 tahun silam. Memang sang sutradara tidak berusaha untuk menonjolkan masing-masing karakter dalam film tersebut, Praktis hanya Lou, sosok seorang perempuan berambut ikal panjang dan Jay pria dan aktivis lingkungan di dalam film tersebut yang bahkan tak lebih dari hitungan jari disebut namanya dalam dialog di film tersebut. ...Saya selalu mengingatkan kepada kawan-kawan yang lain agar tetap mengawasi dan menjaga diri, jangan sampai ada yang tercecer, bahkan ketika provokasi hadir dan pada akhirnya berakhir ricuh, karena situasi yang tidak terkendali. ... Pada beberapa scene tampak ia beradu argumen dengan seorang demonstran yang bernama Johnson yang diperankan oleh Channing Tatum yang tiba-tiba memecah kaca toko-toko yang berada di jalanan Seattle. ...Ia bertugas untuk membuat aksi protes menjadi chaos, yang pada akhirnya membuat polisi memiliki alasan untuk melakukan tindakan lebih tegas untuk membubarkan demonstrasi yang direncanakan berjalan damai tersebut. Nampak di awal aksi, demonstran bersikap tertib meski mereka melakukan blockade terhadap persimpangan jalan di Seattle menuju Paramount Theater, tempat berlangsungnya Konferensi WTO. ... Salah satu cara memecah lingkaran yang dibuat para demonstran tersebut tentu dengan menghancurkan pipa atau tabung beton yang menghubungkan masing-masing tangan demonstran tersebut. Tindakan tersebut membuat banyak delegasi Menteri dalam konferensi WTO yang diselenggarakan di Seattle tidak dapat menuju Paramount Theater. ...Tanpa dasar yang jelas polisi tidak dapat membubarkan aksi tersebut, satu-satunya jalan tentu dengan membuat demonstrasi yang berlangsung menjadi aksi anarkis sehingga tindakan tegas dapat dilakukan. ... Mungkin sebagian dari mereka juga ada yang tidak sepakat dengan kebijakan-kebijakan WTO, akan tetapi mereka tetap harus menjalankan tugasnya sebagai aparat keamanan. Film ini mengungkap dengan baik realitas demonstrasi bahwa dengan massa yang begitu banyak tidak ada jaminan aksi berjalan tanpa kericuhan. ...Wanita yang sedang mengandung buah hati berusia 5 bulan tersebut harus menahan pedihnya gas air mata yang mulai ditembakkan oleh polisi yang mencoba mengurai para demonstran. ...Hari itu nampak tidak hanya menjadi bencana bagi WTO tetapi juga dirinya, istrinya harus tersungkur karena ulah oknum polisi, profesi ayah janin yang dikandung Jean. ...Di luar sisi lain demonstrasi yang seringkali muncul tanpa sengaja, namun film ini mampu menampilkan realitas apa adanya yang terjadi dalam sebuah aksi massa. Tidak hanya dilema yang harus dihadapi oleh Dean yang tetap harus bertugas menjaga keamanan di tengah istrinya yang terbaring lemas, Ella seorang reporter berita yang diperankan oleh Charlize Theron turut merasakan tekanan bahwa apa yang ia laporkan dan lihat secara langsung tidak selamanya ditampilkan begitu adanya kepada para pemirsanya. ...Dari beberapa scene yang terlihat menonjol dari film “Battle in Seattle”, pesan yang ingin disampaikan sejatinya adalah adanya upaya-upaya terselubung untuk melakukan sentralisasi kapital. ...Akhirnya pertumbuhan ekonomi yang berupaya dikejar oleh negara-negara di dunia melalui liberalisasi besar-besaran di semua sektor kehidupan hanya menghasilkan angka-angka pertumbuhan yang fana. ... Karena kritik beberapa orang tersebut pula yang pada akhirnya kini membuat pertumbuhan ekonomi tidak lagi menjadi ukuran Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menentukan status sebuah negara apakah tergolong negara maju, berkembang, dan miskin.
    21 April 21 2021, 20:08
    Jefri Adriansyah
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/battle_in_seattle.php#unique-entry-id-34
  • Book Chapter Review: Cara Barat Memandang Timur: Orientalisme
    Sudah seperti kebiasaan bagi saya dan kedua orangtua saya untuk menghabiskan akhir pekan dengan menonton film di ruang tengah rumah kami. ... Sore itu kami menonton London Has Fallen (2016), sebuah film yang bercerita tentang misi sekelompok teroris untuk membunuh para pemimpin dunia yang menghadiri pemakaman Perdana Menteri Inggris di London serta aksi agen secret service, Mike Banning (diperankan oleh Gerrard Butler), untuk melindungi Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher dari serangan tersebut. Layaknya kebanyakan film produksi barat lainnya, yang diposisikan sebagai pihak penyerang dalam film ini adalah orang Timur Tengah, sang penjahat berasal dari Pakistan. ...Komposisi film yang terdiri dari barat-pahlawan serta timur-penjahat mengingatkan saya pada salah satu karya Edward W. ... Buku dengan tebal 396 halaman tersebut terdiri dari tiga bagian utama, yakni the scope of orientalism, orientalist structures and restructures, orientalism now. Tulisan ini akan mengulas bab pertama dari buku Orientalisme: the scope of orientalism. ...Orientalisme berasal dari kata ‘Orient’ yang merupakan bahasa Prancis dan memiliki arti yang merujuk kepada bangsa-bangsa Timur. ... Jadi, bisa dikatakan bahwa orientalisme adalah suatu paham atau aliran yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan bangsa Timur (dalam hal ini Timur Tengah) sebagai objeknya. ...Kurang lebih Edward Said memiliki definisi yang sama akan orientalisme; ‘By ‘Orientalism’, I mean several things, and all of them interdependent: oriental studies or area studies, style of thought between the orient and occident.’ Studi atau penelitian terkait orientalisme dilakukan oleh selain orang Timur terhadap berbagai disiplin ilmu ketimuran, mulai dari bahasa, agama, sejarah, hingga permasalahan sosio-kultural bangsa Timur. Mereka yang mengajarkan, menulis, dan meneliti Timur, baik orang yang bersangkutan adalah antropologi, sosiologi, maupun sejarah, disebut sebagai orientalist. Menurut Edward, sejak dahulu dunia timur telah menjadi wilayah yang memiliki pemandangan eksotik, kaya akan sumber daya alam, serta tradisi yang unik dan mistik. Hal ini lah yang kemudian memunculkan keinginan dari orang-orang Barat untuk mengkaji lebih lanjut akan wilayah Timur. ...Yang pasti, hampir semua orientalist menggambarkan the occident atau bangsa Barat menjadi pihak yang lebih superior dan the orient atau bangsa Timur menjadi bangsa pihak inferior. ... Di mata Barat, mereka yang tinggal di Timur tidak mampu menjaga diri mereka sendiri, malas, penuh nafsu, tidak rasional, kasar, tetapi juga eksotis dan misterius. ...Mengapa hingga saat ini orang Timur selalu diidentikan dengan sesuatu yang buruk dan mengapa pula orang Barat selalu dianggap seribu langkah lebih maju dari pada orang Timur. ...Bab 1 Orientalisme pada intinya berbicara bahwa pengetahuan Barat tentang Timur tidak pernah netral, mereka bias dalam memahami Barat dan Timur. ... Dalam perkembangannya pun kajian Timur berubah menjadi sebuah hegemoni yang memunculkan perspektif bahwa Barat memandang Timur bukan secara apa adanya (obyektif) tetapi bagaimana seharusnya menurut Barat (subyektif) dan tentunya dengan menggunakan standar Barat. ...Bangsa Timur berfungsi sebagai cermin bagi Barat yang ingin melihat dirinya jauh lebih tinggi serta kuat dengan menggambarkan Timur sebagai masyarakat yang tidak beradab. Orientalisme juga merupakan cara Barat untuk menunjukkan pada khalayak bahwa Barat memiliki peradaban dan kebudayaan yang lebih maju dan lebih baik dari bangsa-bangsa lainnya. ...Sebagian dari masyarakat Indonesia mungkin sudah tidak asing dengan serial-serial televisi Hollywood yang ditayangkan di kanal televisi berbayar seperti Fox, Foxcrime, AXN, dan sebagainya. ... Dalam serial tersebut, di beberapa episode yang berhubungan dengan tindakan terorisme di Amerika Serikat, hampir selalu pelakunya digambarkan berasal dari Timur Tengah dan merupakan pemeluk agama Islam. Tidak jarang pula di sejumlah episode, ditampilkan kalimat-kalimat bahasa Arab seperti Assalamualaikum atau Allahuakbar yang semakin menegaskan identitas pelaku teror tersebut di dalam serial tv tersebut. ...Misalnya, dalam perdagangan internasional, sebagian dari kita --atau setidaknya saya sendiri-- menganggap produk yang dihasilkan negara-negara barat menghasilkan kualitas yang lebih baik dibandingkan produk yang dihasilkan negara timur. Contoh signifikan yang terjadi pada saat ini, walaupun memiliki kualitas yang sama, konsumen Indonesia memiliki kecenderungan untuk membeli gawai seharga 8 juta rupiah yang diproduksi barat ketimbang gawai yang diproduksi China. ...Melalui buku ini, Edward mendorong agar bangsa timur segera mendapatkan kebabasan dan kemerdekaan akan dogma-dogma negative yang melekat pada dirinya.
    21 April 21 2021, 20:08
    Darin Atiandina
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/cara_barat_memandang_timur.php#unique-entry-id-33
  • Article Review: Keberagaman dan Modal Sosial di Abad 21
    Dalam kedudukan yang kurang lebih sama, kita dapat menempatkan E Pluribus Unum setara dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sebuah prinsip yang menekan elemen pentingnya keberagaman. Artikel oleh Robert Putnam ini dibacakan ketika beliau menerima penghargaan Johan Skytte Prize di tahun 2006 dari Uppsala University. ...Penghargaan ini diberikan oleh departemen ilmu politik di Uppsala University di setiap tahunnya, terutama kepada ilmuwan politik yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu politik. Di luar bahasan terkait selebrasi tersebut, artikel ini memiliki pengaruh yang besar pada diskusi mengenai modal sosial (social capital), terutama dalam konteks keberhasilan artikel ini mendorong kajian-kajian yang lebih serius mengenai modal sosial. ...Fokus utama artikel ini ada pada persoalan masyarakat dan keberagaman, terutama di negara-negara utara, atau yang dikenal sebagai negara-negara industrialis maju. ...Tantangannya ada pada bagaimana dalam jangka panjang, sebuah negara mengelola keberagaman tersebut, sehingga keberagaman tersebut dapat berpengaruh positif bagi persoalan seperti kebudayaan, ekonomi, fiskal, maupun pembangunan. Topik bahasan yang dipaparkan Putnam, membawa kita pada bahasan terkait modal sosial, sebuah konsepsi yang memang telah melekat dan membawa Putnam menerima penghargaan Johan Skytte Prize. ...Riset awal Putnam terkait modal sosial ada di Italia, ketika melihat bagaimana struktur sosial di Italia Utara dan Selatan membentuk modal sosial yang berbeda pula. ... Hasil dari studi Putnam tersebut menunjukkan bahwa Italia bagian utara membentuk jejaring sosial yang melintasi identitas kelompok yang berbeda, atau yang disebut dengan bridging social capital, sedangkan Italia bagian selatan membentuk jejaring sosial yang eksklusif, atau disebut dengan bonding social capital (Putnam, 1994; 2000). Pembeda utama dari kedua wilayah tersebut ada pada struktur sosialnya, Italia bagian utara memiliki setting sosial masyarakat industri yang memungkinkan interaksi masyarakat yang lebih egalitarian. Berbeda dengan Italia bagian selatan yang memiliki corak patron-klien yang kuat, mengingat di wilayah ini masih terdapat beberapa struktur kerajaan dan banyaknya kelompok mafia. ...Dengan mendasarkan pada dua kategorial terkait modal sosial tersebut, Putnam mengelaborasi bahasan terkait dengan keberagaman dan modal sosial. Dalam artikel ini, Putnam mengelaborasi dua teorisasi terkait bahasan ini, yakni contact dan conflict theory. Contact theory menekankan bahwa keberagamaan akan menurunkan perbedaan antara kelompok masyarakat yang identik dengan atribut kita, seperti atribut etnis, agama serta atribut tribal lainnya, dan mendorong solidaritas lintas kelompok, atau yang biasa disebut dengan bridging social capital. Pada sisi yang berbeda, Conflict theory menekankan bahwa keberagaman akan menguatkan perbedaan serta mengeraskan solidaritas dalam kelompok, atau yang disebut dengan bonding social capital. ...Pada artikel ini, Putnam menambahkan satu kategori yang menjelaskan bahwa keberagaman dapat menurunkan solidaritas ke dalam maupun solidaritas keluar, atau dengan kata lain menurunkan bridging social capital dan bonding social capital pada saat yang bersamaan. ... Baginya dalam jangka waktu yang pendek, akan terdapat benturan antara masyarakat terkait keberagaman, namun dalam jangka panjang, keberagaman akan berpengaruh positif terhadap aspek-aspek eksternal seperti demokrasi, ekonomi, maupun budaya. ...Untuk studi-studi terkait dengan hal ini, dibutuhkan process tracing untuk melihat bagaimana konstruksi sosial di wilayah tersebut terbentuk dari waktu ke waktu. ...Pada bahasan lebih mendalam, artikel Putnam menekankan pada bagaimana sebuah negara mengelola kebijakan integrasi imigran untuk dapat menyatu dengan warga yang telah ada sebelumnya. ...Pada tahun 2014, ketika saya masih mengambil perkuliahan dalam bidang Ilmu Politik di Uppsala University, terdapat satu peristiwa penusukan dari imigran terhadap ‘warga lokal’. ...Cerita berujung pada kemenangan Donald Trump dengan tagline Make America Great Again, disertai dengan tawaran kebijakan membuat tembok di perbatasan Amerika Serikat dengan Mexico, serta persoalan mengenai imigrasi. ...Meski dalam konteks yang berbeda, persoalan keberagaman telah menjadi subyek bahasan yang krusial, terutama di abad 21 ketika keberagaman menjadi isu yang tidak dapat dihindarkan. ...Konstruksi data ini pada dasarnya mirip dengan bukunya yang berjudul 'Bowling Alone' dengan fokus utama pada menurunnya tingkat keterlibatan individu pada assosiasi-assosiasi di Amerika Serikat. Bangun data kuantitatif yang disusun di setengah bagian awal artikel hendak menunjukkan persoalan homogenitas dan heterogenitas, terutama dikaitkan dengan proporsi teoritiknya terkait pengelolaan keberagaman dalam jangka panjang dan jangka pendek. ...Pada konteks ini, artikel ini diletakkan sebagai salah satu titik acuan bagi ilmuwan yang hendak melakukan penelitian terkait dengan modal sosial dan keberagaman. ...D. (2007). E pluribus unum: Diversity and community in the twenty‐first century the 2006 Johan Skytte Prize Lecture.
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/keberagaman_dan_modal_sosial.php#unique-entry-id-32
  • Film Review: Cerita Suram Dari Gotham
    Pengeroyokan ini menjadi titik masuk pada bahasan yang konstruktif dan dalam batasan tertentu dekonstruktif terhadap apa yang disebut baik dan apa yang disebut buruk yang berada di sepanjang film ini. Relativitas terkait dengan hal baik dan buruk tersebut tentu mengingatkan kita pada filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche yang mempertanyakan kembali terkait dengan kebenaran. Sedikit berbeda darinya, film ini tidak sama sekali membahas terkait nihilisme, melainkan masuk pada antagonisme dan kontektualitas akan baik dan buruk tadi. ...Setting film ini ada pada tahun 1981 dengan tokoh utama Arthur Fleck, seorang badut berusia 40 tahun yang menderita kelainan otak. ...Arthur menemukan surat-surat dari Penny ibunya, kepada Thomas Wayne bahwa anak yang dikandungnya (Arthur) merupakan anak dari hubungan gelapnya ketika menjadi pembantu di keluarga Wayne. ...Memang betul bahwa persoalan kesehatan mental menjadi salah satu sisi yang banyak diulas, namun di sisi lain persoalan sosial yang melingkupi film ini patut untuk diperhatikan. ...Layaknya film dengan latar heroisme pada umumnya, Arthur dengan penuh harap dan percaya diri meyakini bahwa persoalan sosial ekonomi di kota Gotham yang saat itu ricuh, dapat diselesaikan andai Thomas Wayne menjadi Walikota. ...Terdapat narasi yang mengatakan bahwa solusi ada pada bentuk masyarakat komunis, yakni masyarakat tanpa kelas ketika distribusi kesejahteraan diberikan secara merata, tanpa melihat kontribusi terhadap masyarakatnya. Solusi berbeda ada model sosialistis, ketika distribusi kesejahteraan ditentukan oleh bagaimana individu tersebut berkontribusi ke masyarakat. ...Memang tidak dijelaskan secara spesifik persoalan pendekatan penyelesaian masalah dalam film Joker, hanya saja naratif alternatif kekacauan ada pada model-model tersebut. Arthur dari semula dianggap sebagai orang dengan gangguan mental, idealisasi terhadap normalitas yang dipandang Arthur, menjadi kesadaran bersama massanya. ...Kondisi absennya negara inilah yang disebut dengan anarkisme, adapun orang yang melakukan tindakan tanpa adanya aturan negara ini disebut dengan tindakan anarkis. ...Dalam situasi yang serba kacau, pemimpin karismatik selalu hadir, baik itu berada di sisi yang dianggap baik maupun sisi buruk. Arthur yang semula mengharapkan keselamatan dari situasi yang serba kacau kepada established elite, pada akhirnya menjadi simbol terhadap perjuangan akan ketertiban yang diupayakannya. ...Konstruksi terkait kebenaran selama ini diidentikkan dengan Batman, atau superhero yang selama ini kita anggap benar. Film Joker ini justru menceritakan realitas dan konstruksi kebenaran dari pihak yang selama ini kita anggap buruk. ...Hal ini mengingatkan saya pada satu buku dengan judul Revolution 2.0, sebuah memoar yang menceritakan bagaimana revolusi di Mesir dilakukan dengan propaganda di media sosial. Penulis buku tersebut merupakan salah satu orang yang melakukan propaganda dalam melawan rezim otoritarian. ...Apa yang ditampilkan dalam film Joker menunjukkan bahwa pada dalam upaya melawan rezim yang diklaim benar dan hegemonik, maka dibutuhkan ruang-ruang alternatif. ... Film Joker ini mengusik kembali keyakinan kita akan kebenaran, bahwa segala hal pada dasarnya adalah konstruksi. Secara tidak langsung film ini mendekonstruksi ulang citra hegemonik kita bahwa Batman adalah pihak yang benar dan Joker adalah pihak yang selalu salah. Pada dasarnya tidak ada beda antara Batman dan Joker, pembeda hanya berada pada dimana keduanya berpijak dan pada pijakan mana di antara keduanya yang dianggap normal oleh citra yang hegemonik. ...Banyak hal yang membuat kita berfikir ulang, sebagai contoh, apakah solusi terkait dengan kepemimpinan kita melalui pemilu selama ini hanya sebuah seremoni yang tidak menjadi solusi tepat bagi masyarakat. ... Pada sisi yang lain, kehadiran pemimpin karismatik seperti Joker, menjadi penting sebagai simbol bagi satu lapisan kelas yang tertindas, bagi kelompok-kelompok yang tidak terdengar. Film ini menunjukkan bahwa barangkali memang dibutuhkan satu Langkah radikal untuk dapat mengatasi persoalan atau mengeluarkan suara-suara yang dianggap minor, ketika mekanisme yang dianggap normal dan ajeg tidak dapat menjadi solusi bagi pewujudan keadilan.
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/cerita_suram_dari_gotham.php#unique-entry-id-30
  • Book Review: Sekeping Mozaik Sjahrir Di Parapat
    Salah satunya ialah buku Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan: Peranan Kelompok Sjahrir yang ditulis oleh J.D Legge. ... Dalam karyanya Nationalism and Revolution in Indonesia, yang terbit pertama pada 1952, Sjahrir ditampilkan Kahin sebagai arsitek pergeseran sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer. ...Di spektrum yang lain, Ben Anderson dalam Java in a Time of Revolution: Occupation and Reistance 1944-1946, yang terbit pertama pada 1972, justru beranggapan bahwa Sjahrir dan pendukungnya hanya berada di wilayah pinggiran kekuatan politik negeri ini, bukan wilayah inti. ... Bagi Anderson, para pemuda radikal ibu kota, yang sebagian besar dari mereka menganggap Tan Malaka sebagai pemimpin, merupakan kelompok paling berpengaruh dalam sejarah proklamasi kemerdekaan. ...Sementara itu, Anderson, sekitar dua puluh tahun setelah karya Kahin muncul, menjadikan sekelompok pemuda yang tengah berapi-api menyongsong berbagai kemungkinan yang terjadi ketika mendapat kabar Jepang mengalami kekalahan perang sebagai episentrum penelitian. ...Setelah melalui berbagai pertimbangan, disepakati bahwa Sukarno dan Hatta bekerjasama dan menerima jabatan yang diberikan Jepang sambil sedapat mungkin memanipulasi berbagai kegiatan untuk tujuan mencapai kemerdekaan. ...Salah satu pertanyaan mendasar yang diajukan dalam buku ini ialah seberapa ‘bawah tanah’ gerakan Sjahrir di masa itu, mengingat ia tidak pernah ditangkap oleh Jepang? Kegiatan Sjahrir dalam mengadakan kunjungan ke berbagai tempat, serta diskusi-diskusi politik yang dilakukan dengan para pemuda jelas terpantau oleh pihak Jepang. Namun, tidak seperti Amir Sjarifuddin yang tertangkap dan sempat divonis hukuman mati - Sukarno dan Hatta kemudian meminta agar Jepang merubah vonis tersebut menjadi hukuman penjara - Sjahrir dengan leluasa bergerak menghimpun pendukungnya, yang mengindikasikan bahwa tokoh tersebut memang tidak dianggap penting oleh Jepang. ...Legge kemudian menaruh perhatiannya pada profil para pendukungnya, dan bagaimana kelompok tersebut terbentuk dan berperan di kemudian hari, dengan mewawancarai orang-orang yang dianggap dekat atau menjadi bagian dari kelompok Sjahrir: Cara berpikir teoritis sebagai pedoman aksi, serta kecenderungan yang lekat dengan nilai-nilai demokrasi Barat, yang sering diidentikkan dengan istilah ‘aliran PSI’. ...Sejak organisasi tersebut dibubarkan dan para pemimpinnya dibuang ke beberapa tempat, Sjahrir terus menjaga komunikasi dengan sejumlah mantan anggotanya, membahas banyak hal mulai jalannya situasi politik, baik dalam maupun luar negeri, termasuk mencermati jalannya perang yang sedang terjadi akibat munculnya fasisme di Eropa dan konsekuensinya bagi tujuan kemerdekaan. ...Secara cukup terperinci, Legge memetakan berbagai pengorganisiran pemuda yang dilakukan kelompok Sjahrir: Andi Zainal membentuk perkumpulan dan kelompoknya sendiri di Jakarta, dan kemudian di Makassar; Sulistiyo dan Hamid Algidiri di Surabaya; Ruslan Abdulgani dan Murdianto membentuk kelompok diskusi kalangan pelajar menengah yang secara sembunyi-sembunyi mengajak untuk menolak ‘Japanisasi’ dalam kegiatan pendidikan; Sudarsono, Soegra, dan Sukanda di Cirebon membentuk organisasi yang pengaruhnya mencapai Pekalongan; Soebadio di Tegal; Soenarto di Brebes; dan yang juga cukup penting, Djohan Syahroezah, keponakan sekaligus loyalis Sjahrir, mengorganisir dan membentuk serikat buruh minyak di Wonokromo dan Cepu, Jawa Timur. ... Sementara itu, di ibu kota, rekrutmen kalangan pemuda salah satunya diarahkan pada berbagai asrama mahasiswa yang ada saat itu. Anderson menjelaskan bahwa paling tidak terdapat tiga asrama yang menjadi pusat kegiatan politik pada masa pendudukan Jepang, yaitu asrama mahasiswa kedokteran di Prapatan 10, Asrama Angkatan Baru di Menteng 31, dan Asrama Indonesia Merdeka di Kebon Sirih 80. ...Namun, Legge berpendapat, para pemuda yang direkrut menjadi pengikut Sjahrir tidak dapat dipisahkan secara tegas dengan kelompok pemuda lainnya, sebab kelompok-kelompok tersebut sering bekerjasama dalam berbagai kesempatan. Meskipun demikian, lanjut Legge, di antara bentuk-bentuk perlawanan simbolik terhadap Jepang, yang cukup mendapat perhatian ialah pemogokan kuliah yang dilakukan oleh Soedjatmoko, Soedarpo, Soebianto, dan beberapa nama lainnya yang memang menjadi kelompok Sjahrir. Selain tiga nama tadi, beberapa rekrutmen Sjahrir yang di kemudian hari memiliki peran penting dalam dinamika politik dalam negeri ialah Ali Budiardjo, T.B Simatupang, dan Hamid Algadri. ...Dari hasil uraiannya, Legge menyebutkan bahwa kegiatan bawah tanah serta rekrutmen yang dilakukan Sjahrir dan kelompoknya bukan dilandaskan pada suatu ideologi yang koheren, melainkan sebuah pengorganisasian yang longgar yang dilakukan melalui kontak-kontak pribadi. Hubungan para pemuda dengan Sjahrir lebih kepada perkawanan, di mana seorang yang sudah lebih dulu kenal, melakukan pengamatan dan seleksi terhadap mahasiswa lain yang dianggap berpotensi atau mempunyai kesadaran politik yang lebih tinggi, untuk kemudian memperkenalkan mereka dengan Sjahrir. Satu hal yang khas dari kegiatan bawah tanah dan kelompok-kelompok diskusi yang dibentuk ialah bahwa mereka memandang situasi internasional dari sudut konflik antara demokrasi dan fasisme, dan memposisikan Jepang di kubu fasis. ...Sekalipun demikian, saat itu tidak ada gerakan perlawanan efektif dengan basis yang luas dan pimpinan yang terpusat, tidak ada tindakan kekerasan yang terorganisasi, tidak ada kegiatan gerilya, bahkan tidak ada pemogokan kerja sebagaimana pernah terjadi di masa pendudukan Belanda. ... Persiapan tersebut berupa perekrutan para pemuda dan perumusan strategi jangka panjang, yang dilakukan dengan asas Pendidikan Nasional Indonesia namun dengan berbagai penyesuaian situasi, dengan keyakinan kuat bahwa kekalahan Jepang tidak terelakan lagi. ...Bagi saya, yang perlu menjadi perhatian ialah kegiatan bawah tanah Sjahrir bukan sekedar persiapan menuju kemerdekaan, melainkan juga membangun basis politik bagi dirinya sendiri. ... Bagi Sukarno, lebih baik bekerjasama dengan Sjahrir dengan memberinya jabatan perdana menteri, sekalipun pernah mengkritiknya dengan keras sebagai unsur fasis Jepang dalam pemerintahan republik pertama, daripada berhadapan langsung dengan Tan Malaka dan kelompoknya yang semakin meluas dan radikal. ...Atas persetujuan Sukarno tersebut, Sjahrir pun didaulat menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia pada usia 36 tahun, yang kemudian memimpin jalannya perundingan sebagai bagian dari upaya mempertahankan kemerdekaan.
    21 April 21 2021, 20:08
    Dimas Ramadhan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/sekeping_mozaik_sjahrir_di_parapat.php#unique-entry-id-29
  • Book Chapter Review: Merangkai Modal Sosial
    Bagaimana informasi (yang kini bisa kita representasikan dengan kuota internet) benar-benar merasuk ke dalam relung-relung kehidupan manusia khususnya generasi z yang sejak lahir telah dihidangkan dengan era informasi tersebut. ...Dalam era transisi memasuki era informasi, banyak hal yang harus mulai dipikirkan, karena faktanya apa yang didambakan para futurolog bahwa perubahan menuju masyarakat informasi akan menciptakan kesejahteraan dan kedewasaan demokrasi, tapi fakta yang muncul tidak selalu demikian. ...Salah satu hal yang sangat dikhawatirkan oleh Fukuyama dalam era informasi ini adalah ikatan mutual masyarakat yang semakin memudar, bahkan cenderung individualis (hlm. ... Di balik semua kecemasan-kecemasannya, setidaknya Fukuyama masih menaruh rasa optimis bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, pada waktunya nanti akan terjadi upaya penataan ulang terhadap semua pelemahan-pelemahan atas komunalitas yang muncul akibat proses transisi dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi. ...Menyinggung persoalan individualisme, Fukuyama mengungkapkan bahwa hal tersebut pada dasarnya adalah persoalan yang problematik, banyak pihak baik yang berada pada garis ideologis kiri maupun kanan mencoba menghancurkan aturan-aturan yang tidak adil, tidak relevan atau ketinggalan zaman dengan mencoba memaksimalkan kebebasan personal, namun secara bersamaan hal tersebut berusaha diraih dengan upaya-upaya kooperatif baru yang memungkinkan mereka bisa merasakan hubungan dengan orang lain dalam sebuah komunitas. ...Fukuyama juga melihat great disruption dari adanya gejala tingkat kejahatan dan kekacauan sosial yang meningkat, begitu juga dengan menurunnya keluarga dan kekerabatan sebagai sumber kohesi sosial dan menurunnnya tingkat kepercayaan (hlm. ... Meski Fukuyama juga menyebutkan ada beberapa negara seperti Jepang dan Korea yang cenderung bersifat outlier karena tidak menampilkan gejala fase transisi yang disertai peningkatan kejahatan dan kehancuran keluarga. ...Berbeda dengan beberapa pihak yang mungkin hanya melihat statistik kejahatan yang meningkat hanya sekedar laporan biasa, Fukuyama mencoba untuk mempertanyakan mengapa hal itu terjadi dalam kurun waktu yang singkat dan masif di beberapa negara. ... Namun, kedua hal tersebut tidak selamanya berkorelasi, hal ini juga dibuktikan dari beberapa temuan penelitian bahwa perubahan struktur usia masyarakat tidak berhubungan dengan peningkatan jumlah kejahatan secara lintas negara atau cross sectional. ...Ia justru melihat urbanisasi dan lingkungan fisik yang berubah tidak terlalu signifikan menjadi penjelas atas tingkat kriminalitas yang semakin membuncah di tahun 1960-an. Meski, Paul Vidal de la Blanche, sempat mengatakan bahwa aglomerasi yang turut disertai adanya urbanisasi yang juga menjadi sebab berkumpulnya banyak orang di suatu kawasan turut menciptakan ekternalitas negatif di daerah perkotaan yang salah satunya berakibat pada tingkat kejahatan yang meningkat. ...Hal tersebut dikarenakan lingkungan yang terlalu beragam secara kultural, linguistik, relijius, atau etnis tidak pernah bisa bersama sebagai komunitas yang mampu menegakkan norma-norma informal di antara para anggotanya. ...Mencoba menelisik lebih dalam, Fukuyama melihat bahwa kekerasan dan setidaknya, ketidakpercayaan bisa muncul akibat perubahan yang terjadi dalam struktur keluarga. Bahwa keluarga telah mengalami perubahan yang dramatis akibat dua pergolakan pada tahun 1960-an dan 1970-an akibat adanya revolusi seksual dan feminis (hal. ... Kejahatan, kehancuran keluarga, dan lenyapnya kepercayaan merupakan ukuran-ukuran negatif dari social capital dan mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam berasosiasi demi tujuan-tujuan kooperatif, dan tingkat kepercayaan mereka. ...Hal kontradiktif sekali lagi diungkapkan oleh Fukuyama terkait dengan pengaruh tingkat kelahiran yang menurun terhadap kehidupan keluarga dan social capital (hal. ... Ia mengatakan bahwa seharusnya tingkat kelahiran yang menurun dapat meningkatkan tatanan sosial, karena kekacauan sosial secara tipikal merupakan produk anak-anak muda yang berdarah-panas, namun disisi lain keamanan sosial menjadi berkurang. ...Merosotnya keluarga inti di Barat memiliki pengaruh negatif yang sangat kuat terhadap social capital dan terkait dengan peningkatan kemiskinan bagi masyarakat bawah dalam hierarki sosial. Salah satu akibat yang paling penting dari merosotnya social capital dalam keluarga adalah merosotnya human capital pada generasi-generasi berikutnya. ... Ada kecenderungan masyarakat menjadi enggan untuk bersosialisasi bahkan hanya sekedar untuk keluar rumah akibat kecemasan tinggi akan menjadi korban kejahatan, pada akhirnya hal tersebut berdampak pada tingkat komunalitas warga. ... Great disruption merupakan versi transisi yang diperbarui dari gemeinschaft menuju gesellschaft yang terjadi selama abad ke-19, hanya saat ini terjadi ketika kita bergerak dari ekonomi industri menuju ekonomi informasi (hlm. ... Fakta menunjukkan bahwa kebudayaan dan kebijakan publik memberi kontrol tertentu kepada masyarakat atas kecepatan dan tingkat kehancuran pada akhirnya bukanlah jawaban atas pertanyaan bagaimana tatanan sosial seharusnya dimapankan di awal abad ke-21. ...Social capital adalah sebuah pesan yang coba disampaikan oleh Fukuyama sebagai kunci menghadapi transisi dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi. ... Untuk mencapai itu semua dibutuhkan kepercayaan untuk memunculkan yang pada akhirnya menjadi suplemen penting dalam hidup masyarakat di negara yang menerapkan sistem demokrasi. Hanya saja thesis-thesis yang disampaikan oleh Fukuyama terkait dengan penyebab runtuhnya tatanan komunalitas dan kekacauan yang timbul di berbagai negara di era transisi menuju masyarakat informasi memiliki dasar validitas yang lemah.
    21 April 21 2021, 20:08
    Jefri Adriansyah
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/merangkai_modal_sosial.php#unique-entry-id-28
  • Film Review: What makes us human?
    Meskipun demikian, raut wajah bahagia terpancar dari wajahnya karena mereka hidup dengan damai, meskipun Aicha hidup dengan teman baiknya yang juga menjadi istri dari suaminya. ...Dengan itu, ia merasa dirinya miskin, baik fisik maupun mental karena tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi istri dan anaknya. ...Meskipun sudah punya banyak uang ia tetap sedih karena ia tidak bisa menyediakan obat untuk anaknya yang sedang sakit, bukan karena tidak mampu membeli, namun karena obatnya tidak tersedia. Saat Robert khawatir dengan tidak adanya obat untuk anaknya, di belahan bumi lain seperti Armadou dari Senegal lebih khawatir ketika besok ia tidak bisa makan. ...Saat ia masih kecil, ia harus melihat orang tuanya dibawa oleh orang tidak dikenal, kemudian ia berlari, mencari, dan menemukan ibunya terbunuh dengan bayonet. ...Cerita ini kemudian berlanjut ke Yossef, seorang laki-laki yang masih terlihat remaja bahkan berkata, “Aku tidak takut mati”. ...Kejadian itu menimpa dirinya, dengan mata berkaca-kaca, ia bercerita bahwa suatu waktu ia harus melihat keluarganya dipotong hidup-hidup. ... Setelah terpisah ia harus hidup sendiri hingga pada suatu ketika ia ditemukan oleh orang lain, dan orang lain tersebut memberitahukan kepada yang lainnya untuk mengeksekusinya. ...Dari berbagai cerita mengenaskan di atas, bahkan orang rela membunuh demi membalaskan dendam, ada cerita lain yang cukup mengubah pandangannya tentang perang. ... Pada saat itu, dalam pandangan Caleb, orang yang sedang beradu mata dengannya bukanlah seorang teroris, bukan pemberontak, ataupun orang Iraq, ia hanya orang yang sedang ketakutan. ... Bahkan Peter, seorang yang berasal dari USA juga bercerita apa yang akan tertinggal dari sebuah pertempuran adalah perasaaan bagaimana sesama manusia saling membunuh. ...Jika ia membunuh, itu hanya akan menimbulkan rasa sakit yang lain karena melakukan kekerasan pada orang lain. ...Kemudian pada cerita lain, seorang gadis kecil berambut keriting diikat ke belakang berkata bahwa ada yang pernah berkata kepada dirinya, ia tidak akan pernah memiliki suami. ... Sambil menangis, Maimona, gadis kecil dari Senegal inipun juga berkata mungkin perkataan itu mungkin saja benar bahwa tidak akan pernah ada pria yang akan mencintainya ketika ia berkata terinfeksi virus HIV AIDS. Di samping cerita kepedihan ini, Bara, seorang pria dewasa yang juga berasal dari Senegal berkata bahwa ia bahagia hidup dengan istrinya. ...Di tempat lain, Prasad dari India menilai bahwa kebahagiaan menurutnya adalah ketika saat dia memiliki makanan dan mempunyai 5 katha tanah atau sebesar 650m2. ... Lain lagi bagi Rute dari Brazil yang menceritakan bahwa memiliki tempat tinggal, mesin cuci, atau anaknya yang berusia 15 tahun menyelesaikan sekolahnya dan terus berlatih serta belajar untuk hidupnya adalah beberapa contoh kebahagiaan menurutnya. ...Di sisi lain Raelison yang berasal dari Madagascar juga bercerita bahwa kehidupannya sulit ketika hasil tanamannya terkena hujan es, atau Sophy dari Cambodia yang menghardik sebuah perusahaan yang menhancurkan rumah dan tanamannya, yang membuat kehidupannya juga rusak. ...Bagi Sonam, seorang perempuan dari India tersebut menegaskan bahwa ia hidup di dunia ini adalah untuk memberikan kelahiran bagi satu atau dua anak, sehingga ketika ia tua nanti ada yang merawatnya. Bagi Jonathan, seorang pria muda dari Amerika yang mulai bertanya pada dirinya sendiri tentang kehidupan di usia 15 tahun menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tujuannya masing-masing dalam hidup. ...Apakah seperti cerita Jonathan di atas yang meyakini bahwa yang harus dilakukan manusia adalah untuk bahagia, melakukan sesuatu yang benar, dan menolong orang lain? Salah satu alat ukur untuk melihat kodrat manusia mungkin saja dengan agama, meskipun agama juga dapat dipertentangkan, namun dengan kacamata tersebut setidaknya manusia tidak mempercayai dan mendengarkan diri sendiri. Dengan agama, manusia menjadi manusia ganda yang jatuh ke dalam sistem salah dan benar, dosa dan tidak dosa, sehingga dengan itu dia akan mencari cermin atas sesuatu yang diyakini (Cassirer, 1990:19). ...Seperti yang diperlihatkan dalam film ini, bentangan alam sekaligus cerita-cerita dari para manusia dari berbagai belahan bumi tersebut adalah untuk memberikan gambaran tentang cerita kehidupan manusia, sekaligus berperan untuk menjadi bahan berdialektika tentang apa yang harus dikaji dari sejumlah cara hidup yang dilalui oleh manusia-manusia yang ditampilkan. ...HUMAN The Movie (Director’s cut version) memiliki durasi 3 jam 11 menit 5 detik, namun film Human yang saya review kali ini adalah extended version yang dibagi ke dalam tiga volume.
    21 April 21 2021, 20:08
    Hartanto Rosojati
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/what_makes_us_human.php#unique-entry-id-27
  • Book Review: Membatalkan Yang Tunggal di Tanah Batak
    Beberapa tahun sebelum saya kembali ke tempat dengan nostalgia yang paling dalam tersebut, ada tertulis: Arjuna dan Jean-Claude van Damme, yang ditemani Washington Nadeak, menjelajahi Tanah Batak. Bagi Arjuna, perempuan yang sama sekali tidak mempunyai masa lalu dengan Tanah Batak itu, kunjungan tersebut layaknya menancapkan jejak kenangan untuk masa depan. ...Selama melintasi sebagian besar Tanah Batak, kami membicarakan banyak hal: dari sejarah orang Batak sampai agama di Tanah Batak; dari silsilah Batak hingga kisah tempat-tempat di Tanah Batak. Tidak ketinggalan, sepanjang perjalanan menuju kota di mana Iwan Simatupang—seorang sastrawan yang kental dengan pandangan eksistensialisme—menghabiskan sebagian masa remajanya itu, kami singgah di sejumlah tempat unik atau bersejarah. ...Pasalnya, beberapa tahun lalu, saya mengirimkan adik dan ibu saya sejumlah buku, juga karya sastra, dan salah satunya adalah karya Remy Sylado berjudul "Perempuan Bernama Arjuna 4: Batakologi dalam Fiksi." ...Kedatangan Arjuna dan Jean-Claude van Damme, pasangan suami-istri, ke Tanah Batak bertujuan untuk menuntaskan wasiat ayah Jean-Claude van Damme sebelum meninggal dunia: mencari orang bernama Jeanne Claudia Batubara di Pematang Siantar (hal. ...Di warung kopi tersebut, Nadeak menjelaskan ciri khas budaya Batak kepada Arjuna dan Jean-Claude van Damme: Dalihan na tolu—makna harafiahnya adalah 'tiga tungku sejerangan'. Semua Batak, entah itu Toba, Angkola/Mandailing, Simalungun, Dairi, dan Karo, memang memiliki penyebutan yang berbeda untuk menerangkan dalihan na tolu. Dalam adat Batak Toba, istilah yang digunakan adalah dongan sabutuha (teman atau saudara semarga), boru (saudara perempuan dan pihak marga suami, keluarga perempuan pihak ayah), danhula-hula (keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu). ...Untuk menentukan hubungan kekeluargaan itu, orang Batak selalu menanyakan marga (hal. 29) ketika berkenalan dengan orang Batak lainnya, sebagaimana sepenggal lirik lagu Batak berjudul "Si Gulempong": Jolo sinukkun marga... Asa binoto partuturan (Tanyakan dulu nama keluarga... ...Setelah bermalam di Pematang Siantar, kabar suka cita pun datang kepada Arjuna dan Jean-Claude van Damme: Nadeak mengetahui di mana Jeanne Claudia Batubara berada (hal. ... Menurut Regina, kakaknya diberi nama Jeanne Claudia karena ayah mereka berteman baik dengan ayah Jean-Claude van Damme. Setelah Jean-Claude van Damme lahir, ayah Jeanne Claudia juga ingin memberikan nama Jean-Claude kepada anaknya. ...Masalahnya, nanti ketika pihak istri misalnya menjadi hula-hula, yaitu keluarga yang menjadi tinggi, fungsi boru sebagai anggota keluarga yang kawin dengan putri semarga, akan hilang, dan hak boru akan menjadi dongan sabutuha dengan hula-hula tersebut" (hal. ... Walaupun tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa, berjumpa dengan Jeanne Claudia Batubara, pertemuan dengan Regina tampaknya membuat Jean-Claude van Damme puas. ...Bagi Arjuna, menerima Allah melalui sejarah Nabi Ibrahim—dengan silsilahnya yang menurunkan Nabi Muhammad di satu pihak dan Almaseh Isa ibni Maryam di pihak lain—merupakan dasar menerima kesungguhan ayat Al-Kafirun 6: "Lakum dinukum waliya din" (hal. ...Bagi Arjuna, "jika pengetahuan tentang kebenaran telah dipolitisir di bawah jangkauan statistik dengan membanding-bandingkan perkara mayoritas, maka kebenaran asasi dalam pengertian yang sederhana dan sejati yang notabene menjadi tumpuan awam, karuan terluka oleh tindak tanduk kepalsuan dalam penampilan lahiriah orang-orang berkuasa" (hal. ... Dari sini, Arjuna kemudian berpendapat: agaknya Tuhan lebih menghargai orang-orang ateis, walaupun secara terang benderang menyangkal kebenaran ilahi, dibandingkan dengan orang-orang berpenampilan bagai nabi, tetapi kelakuan tidak sesuai dengan tampilan (hal. ...Secara khusus, suami Arjuna itu ingin berkunjung ke Barus dan Silindung, sebab pada tahun-tahun awal mempelajari historiografi Protestan di Tanah Batak, dua nama tempat itu tidak jarang disebut (hal. ...Lebih jauh, Nadeak memberikan jawaban terkait pertanyaan Arjuna tentang bangsa Belanda yang menjajah di satu pihak dan menyebarkan ajaran kasih, kebebasan, dan perdamaian dalam syiar Injil di pihak lain. ...Beberapa jam sebelum meninggalkan Padangsidimpuan, saya mengambil novel "Perempuan Bernama Arjuna 4: Batakologi dalam Fiksi", juga sejumlah buku lain milik ibu saya, dari lemari buku, dan memasukkannya ke dalam tas saya. ... Kendati jalan cerita di novel ini tidak cemerlang—untuk tidak mengatakan biasa saja, Remy Sylado berhasil membuat saya iri—dalam makna yang positif—sekaligus kagum atas kemampuan dan pengetahuannya mengulas hal-hal yang berkaitan dengan orang dan budaya Batak, seperti lagu dan instrumen Batak (hal. 119-123), cerita rakyat asal usul orang Batak (hal. 131), penyebutan jam dalam bahasa Batak (hal. 135), ulos (hal. 197), dan lain-lain. ...Di samping itu, ia juga memberikan catatan pelengkap di akhir novel ini untuk menjelaskan berbagai nama-nama besar yang muncul di sepanjang cerita: dari Albert Camus sampai Iwan Simatupang, dan dari Sun Yat Sen hingga Amir Syarifuddin Harahap. ...Sebagai ilustrasi, Nadeak dan Nilson—adik Nadeak—menjelaskan budaya merantau, dan pembangunan kuburan megah di kalangan orang Batak kepada Arjuna dan Jean-Claude van Damme (hal. ... Setibanya di Bandara Kualanamu, sebelum menuju Jakarta, saya hentikan sejenak membaca novel ini, dan kemudian memutar lagu "O Tano Batak" yang diaransemen Viky Sianipar, dan dinyanyikan Tetty Manurung dan Victor Hutabarat.
    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/membatalkan_yang_tunggal.php#unique-entry-id-25
  • Book Review: Membaca (Kembali) On Political Equality
    Secara ideal, lanjutnya, demokrasi minimal memiliki karakteristik seperti ini: 1) partisipasi yang efektif; 2) kesetaraan dalam memilih (voting); 3) pemahaman terkait kebijakan yang relevan dan konsekuensinya; 4) kontrol terhadap agenda kebijakan; 5) inklusi; dan 6) pemenuhan hak-hak fundamental (hal. ... Meminjam ungkapan Diamond (2015:12-13), di tengah suatu masyarakat yang jumlahnya terbatas, katakanlah tidak melebihi 10.000 orang, melaksanakan, mengelola, dan mencapai kesepakatan melalui diskusi tatap muka dari seluruh warga lebih memungkinkan dibandingkan dengan suatu masyarakat yang angkanya melebihi 10.000 orang. ...Dalam "Politics Economics and Welfare: Planning and Politico-Economic Systems Resolved into Basic Social Processes", Dahl dan Lindblom (1953:41) menjelaskan bahwa kesetaraan politik merupakan kontrol terhadap keputusan pemerintah yang dilakukan secara bersama-sama, sehingga tidak ada preferensi satu warga negara yang diuntungkan atau dirugikan lebih besar dibandingkan dengan preferensi warga negara lainnya. ... Keterbatasan penalaran tersebut menjadikan Dahl berbeda titik tolak dengan sebagian besar filsuf, seperti Immanuel Kant, dalam menjelaskan penggerak utama keadilan atau tindakan moral, dan lebih memilih mengikuti David Hume. Jika Kant menekankan akal sebagai pemandu keadilan, Dahl justru menegaskan kekuatan perasaan (feelings) dan gairah (passion), seperti bela-rasa (compassion), cemburu, kemarahan, dan kebencian, sebagai pembimbing tindakan moral (hal. ... Pada sisi lain, ia juga bisa dipicu oleh rasa takut orang-orang dengan privilise terhadap kekerasan atau revolusi (hal. ... Terlepas itu empati atau rasa takut, tampak jelas di benak Dahl bahwa emosi memainkan peran sentral dalam menggerakkan orang-orang baik itu dengan privilise ataupun mereka yang tersubordinasi. ...Untuk mengetahuinya, terdapat sejumlah hambatan fundamental terhadap kesetaraan politik yang perlu diketahui, seperti: 1) distribusi sumber daya politik, keterampilan, dan insentif; 2) keterbatasan waktu untuk mengurusi soal-soal publik (hanya sebagian kecil populasi yang terlibat dalam mempengaruhi keputusan politik); 3) dilema ukuran unit sistem politik (semakin kecil unit politik, semakin potensial partisipasi terjadi); 4) ekonomi pasar melahirkan persoalan serius, seperti kemiskinan dan pengangguran, pada beberapa warga negara, dan pada akhirnya berimplikasi terhadap ketidaksetaraan politik di antara warga negara; 5) eksistensi sistem internasional, seperti IMF dan Bank Dunia, yang bisa saja penting, akan tetapi tidak demokratis; 6) krisis, entah itu disebabkan perang, kelaparan, bencana alam, dan lain-lain, bisa menyebabkan negara-negara yang belum mapan demokrasinya tergelincir ke dalam kediktatoran, sedangkan negara-negara yang mapan demokrasinya bisa terjerumus ke dalam kekuasaan eksekutif yang terlalu besar (hal. ... Dari keseluruhan hambatan itu, Dahl mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah hambatan yang mungkin saja semakin meningkat, dan pada akhirnya, menyebabkan ketidaksetaraan politik yang semakin memburuk di AS. ... Banyak penduduk AS yang beranggapan bahwa biaya waktu yang dihabiskan untuk menekan ketimpangan dalam sumber daya politik terlalu besar, sebab mereka memandang manfaat yang diperoleh terlalu kecil, bahkan tidak ada. ...Terlebih, pengalaman AS sudah memperlihatkan bahwa ancaman terorisme telah menyebabkan kontrol dan penangkapan warga dan bukan warga AS, bahkan dengan cara-cara yang mencederai hak dan kebebasan (hal. ... Di sisi lain, Dahl juga menjelaskan bahwa ketidaksetaraan politik mungkin saja semakin menurun selama ada keinginan politik untuk merealisasikan sejumlah kebijakan. ... Pertama, kebijakan langsung yang bisa mereduksi ketidaksetaraan politik, yang terdiri dari reformasi keuangan kampanye, reformasi pemilihan umum, dan reformasi penetapan batas-batas wilayah ke dalam pengelompokan konstituen (redistricting reform). Sementara itu, kebijakan tidak langsung yang bisa mereduksi ketidaksetaraan politik adalah jaminan kesehatan universal, program peningkatan tabungan orang miskin, peningkatan upah minimum, dan akses pendidikan tinggi terhadap orang miskin (hal. ...Pada titik ini, mereka akan menemukan bahwa keterlibatan politik lebih bermanfaat daripada menghabiskan uang, waktu, dan energi terhadap barang dan jasa yang diproduksi kapitalisme (hal. ... Tentang ini, Dahl mengilustrasikannya melalui orang-orang dengan privilise, seperti gerakan Students for a Democratic Society (SDS), yang terlibat dalam aksi warga negara (civic action) (hal. ... Bagi Dahl, jika semakin banyak penduduk AS menyadari bahwa kekayaan tidak membawa kebahagiaan, maka mereka mungkin menemukan bahwa kualitas hidup mereka bisa ditingkatkan dengan aksi warga negara. ... Meskipun begitu, ketika semakin banyak orang menyadari bahwa terdapat kekosongan dalam budaya konsumerisme, dan memberikan penghargaan terhadap aksi warga negara, mereka akan semakin mendekatkan AS ke tujuan yang jauh dan sulit dipacai tersebut (109-120). ... Dari segi substansi gagasan, kendati Dahl menjelaskan bahwa demokrasi minimal memiliki sejumlah karakteristik, akan tetapi ia juga menegaskan bahwa demokrasi ideal, juga kesetaraan politik yang utuh, tidak akan pernah terwujud di dalam realitas kehidupan manusia. ... Pada titik ini, Dahl bak ilmuwan politik yang (seperti) kurang percaya diri, atau mungkin terlalu hati-hati, untuk memberikan kepastian kepada pembaca, khususnya pembuat kebijakan, kaum intelektual, dan warga negara yang tertarik pada politik, terkait sistem politik (baca: demokrasi) yang membawa kebermanfaatan kepada khalayak banyak. ...Seperti diketahui, aktor politik, seperti politisi, partai politik, dan gerakan politik, tidak jarang memainkan aspek psikologi untuk memperoleh dukungan politik, walaupun ketidakadilan relatif rendah—untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada. ... Keberhasilan populis terkadang tidak lepas dari kemahiran atau kecerdikan mereka dalam memainkan emosi pemilih, bukan (hanya) digerakkan oleh persoalan ketimpangan sosial dan ekonomi. ... Lepas dari keterbatasan itu, buku ini layak dibaca bagi siapa saja yang tertarik dengan politik, terkhusus demokrasi dan kesetaraan politik. ... Dalam sebuah prediksi yang kelam, Fukuyama (2020:28-29) menyebutkan bahwa pendemi ini bisa saja berdampak pada kebangkitan fasisme—dalam ramalan yang cerah, ia menyatakan bahwa pandemi bisa saja menghidupkan kembali demokrasi. ...Edgell, A. B., Grahn, S., Lachapelle, J., Luhrmann, A., dan Maerz, S. F. 2020. An Update on Pandemic Backsliding: Democracy Four Months After the Beginning of the Covid-19 Pandemic.
    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/membaca_kembali_on_democracy.php#unique-entry-id-24
  • Film Review: Jurnalisme Investigasi: Mengungkap Kejahatan Pedofilia dalam Lindungan Institusi Agama
    Pada tahun 1976 di Boston terjadi kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh seorang pastor katolik bernama Jhon Geoghan. ... Ibu Korban berbincang dengan pimpinan tertinggi gereja di Kota Boston terkait kasus yang sedang menimpa dua anak dibawah umur ini. Pimpinan gereja tersebut memohon kepada sang ibu untuk menyelesaikan kasus tersebut mengingat sumbangsih gereja kepada kehidupan keluarganya sangatlah besar, dia meyakinkan bahwa akan memberhentikan pastor dari gereja. ... Keluarga korban hanya diberikan janji bahwa sang pastor mendapatkan sanksi pemberhentian tanpa ada jaminan kelak di kemudian hari tidak akan ada kasus serupa terjadi lagi. ...Film Spotlight yang di sutradarai oleh Tom McCarthy menceritakan tentang investigasi jurnalis dalam mengungkap kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh pastor katolik di Kota Boston, Amerika Serikat. ... Setelah Baron membaca kolom Globe tentang seorang pengacara, Mitchell Garabedian (Stanley Tucci) yang mengatakan bahwa dia memiliki cukup bukti bahwa Kardinal Bernard Law sebagai Uskup Agung Boston tahu bahwa pastor Jhon Geoghan melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak dan gereja tersebut memilih melindungi dan tidak melakukan apapun. ... Tugas untuk menghubungi Garabedian diambil oleh Michael Rezendes (Mark Ruffalo), sementara rekan-rekannya, Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) dan Matt Caroll (Brian d‘Archy James) menelusuri kasus- kasus lain yang dinilai memiliki pola yang sama. Baron pun mengambil langkah hukum untuk membuka segel terhadap dokumen yang menyatakan bahwa Gereja Katolik mengetahui kasus pastor-pastor ini. ...Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh John Jay College of Criminal Justice, riset awalnya (2004) mempelajari sifat dan ruang lingkup masalah selama kurun waktu 1950-2002. ... Selain itu, 81% dari korban antara tahun 1950 dan 2002 adalah laki-laki, rupanya karena banyak pelecehan terjadi secara “situasional” dan karena “ada kesempatan”. ...Berdasarkan penelitian statistik 6% dari seluruh pastor melakukan hubungan seksual dengan anak-anak, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa sebanyak 90 pastor di Boston (dari 1500 total jumlah pastor) termasuk pedofil dan hebefil. ...Eric Macleish (Billy Crudup) adalah pengacara yang ditunjuk pihak Gereja Katolik untuk mewakili mereka terkait tuntutan dari para korban kepada pastor. ... Namun lambat laun akhirnya diketahui bahwa sikap Macleish ini sebagai akibat dirinya tidak memiliki pilihan sejak The Boston Globe menolak untuk membantunya terkait 20 daftar nama pastor yang diduga melakukan pelecehan seksual. Sikap Macleish ini justru membuat dia sebagai pengacara yang tidak banyak membantu korban dan memberi banyak keuntungan bagi keuskupan. ...Dari pihak yang akhirnya memutuskan untuk memberikan manfaat bagi keuskupan, Garabedian merupakan salah satu pengacara korban yang cukup gigih membela korban dengan tidak mengajukan mediasi tertutup. ...Ketika Rezendes datang menemui Garabedian, dia menolak untuk membantu investigasi Spotlight karena menurutnya Rezendes sama saja seperti jurnalis yang lain, hanya ingin mencari informasi untuk diberitakan bukan untuk mengungkap kasus yang sebenarnya. Rezendes meyakinkan Garabedian bahwa investigasi Spotlight bermaksud untuk mengungkap kebobrokan sistem gereja yang bertahun-tahun melindungi para pelaku pedofil. ... Para pelaku tidak mendapat sanksi yang berat, setelah mereka pindah dari satu paroki ke paroki lainnya kejadian yang sama akan terus berulang. ...Pihak-pihak yang ditunjuk untuk membantu keuskupan di antaranya Wilson Rogers, pengacara yang menemani Anthony Benzevich dan menghadapi tuntutan Globe, dan Jim Sullivan, pengacara yang secara resmi mewakili Gereja Katolik dalam kasus kekerasan seksual oleh pastor terhadap anak- anak. ...Tim Spotlight lain yaitu Sacha bertemu dengan mantan pastor Ronald Paquin yang diduga pernah melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak. ...Para pastor-pastor pedofil yang dicabut dari parokinya memiliki pola yang sama, yaitu berpindah lebih cepat dari satu paroki ke paroki yang lain (2-3 tahun atau sesuai terbongkarnya kasus) dengan keterangan Sick Leave, Unassigned, Absent of Leave, Emergency Response, dan lain sebagainya. ...Dari daftar 87 orang pastor yang di berikan Spotlight kepada Sullivan, dia mengkonfirmasi semuanya adalah pelaku pelecehan seksual. ...Pengaruh ini muncul dan sangat beragam tergantung bagaimana proses negosiasi makna yang dilakukan khalayak terhadap film itu, jika negosiasi maknanya lemah maka semakin besar pengaruh yang diterima khlayak terhadap film tersebut (McQuaill dalam Wahib, 2018). ...Spotlight mulai mencetak hasil investigasi beruntun sejak awal 2002 hingga 2003 yang memuat ratusan bahkan ribuan kesaksian korban dan keluarga korban, serta penelusuran bukti-bukti yang menyatakan tindakan keuskupan memindahkan pastor-pastor pedofil tanpa melakukan apapun. Film ini menunjukkan fenomena pastor-pastor dalam lingkup Gereja Katolik yang melakukan kekerasan seksual pada anak-anak dan remaja tanpa konsekuensi apa pun.
    21 April 21 2021, 20:08
    Nurul Fatin Afifah
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/jurnalisme_investigatif.php#unique-entry-id-23
  • Book Review: Islam dan Demokrasi dalam Pandangan PKS dan HTI
    Perbenturan kepentingan PKS dan HTI terasa jelang pemilihan umum; ketika PKS berjuang menjaring sebanyak-banyaknya pemilih muslim, terutama di perkotaan dan kampus-kampus, HTI mengkampanyekan agar umat islam Indonesia menolak demokrasi, termasuk pemilu. ...Sementara itu di dalam negeri, kelompok gerakan islam politik muncul bukan saja terpengaruh beberapa peristiwa diatas, melainkan juga oleh dinamika hubungan negara dan islam. Penulis buku menyebutkan beberapa peristiwa utama yang melatarbelakangi kemunculan gerakan revivalis islam, yaitu kekalahan terus menerus kelompok islam politik hingga sebelum tahun 1980an; represifitas negara terhadap aktifis dakwah kampus dan kalangan islam pada umumnya pada tahun 1980an; mulai diakomodirnya kepentingan umat islam oleh negara pada awal tahun 1990an, dan; tumbangnya Orde Baru dan kemunculan berbagai organisasi/kelompok sebagai wujud demokratisasi di tahun 1998, termasuk diantaranya PKS dan HTI. ...Pada tahun 1990an, ketika Orde Baru mulai berkompromi dengan kalangan islam, gerakan tarbiyah telah berhasil menempatkan orang-orangnya di posisi strategis di organisasi kemahasiswaan di kampus-kampus besar. Di saat yang hampir bersamaan, kalangan intelektual islam di Indonesia mulai bersentuhan dengan ide-ide gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir, yang dibawa oleh para sarjana lulusan Timur Tengah dan Mesir yang dulu diinisiasi Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDiI). ... Para lulusan Timur Tengah inilah kemudian aktif terlibat di gerakan tarbiyah di kampus-kampus, dan gencar menerbitkan buku-buku karangan tokoh IM seperti Sayyid Quthb, Hasal Al Banna, dan lain-lain. ...Ketika akhirnya Orde Baru tumbang, para aktifis gerakan tarbiyah memanfaatkan momentum perubahan sosial politik tersebut dengan mendirikan Partai Keadilan, yang pada tahun 2003 kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera. ...Dalam diskursus hubungan islam dan negara, persoalan kedaulatan rakyat selalu menjadi perdebatan karena pengakuan terhadap hal tersebut seringkali diartikan menegasikan sumber hukum yang diwariskan nabi, yaitu Al Qur'an dan Hadis. ... Meski demikian, PKS berpendapat saat ini belum ada sistem ideal yang dapat menjamin terlaksananya penerapan hukum-hukum Allah setelah era Nabi Muhammad dan para sahabat. ...Keterlibatan PKS dalam demokrasi dilandasi oleh prinsip bahwa islam menuntut agar setiap muslim untuk memberi perhatian pada seluruh persoalan umat dengan memanfaat sarana demokrasi. ...Secara garis besar, pemikiran PKS yang moderat tentang demokrasi banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir, seperti Hasan Al Banna dan Yusuf Qardhawi. ... Fikih ini menjadi pijakan bagi PKS untuk melakukan kompromi dan toleransi atas berbagai realitas yang ada hari ini, yaitu sistem politik yang kufur atau tidak sesuai dengan Syariah islam. ...Jika PKS banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh IM, sikap dan pandangan HTI terhadap demokrasi dipengaruhi oleh tokoh utama dan pendirinya, terutama Taqiyuddin Nabhani dan Abdul Qadim Zallum. Dari pandangan kedua orang tersebut, HT secara organisatoris berpendapat bahwa kaidah yang ada dalam demokrasi tidak dikenal dalam islam, sehingga penggunaan istilah tersebut dapat menimbulkan kerancuan interpretasi, yang berpotensi bertentangan dengan islam. ...Secara politik, HT berpendapat demokrasi adalah kedok bagi negara-negara kafir barat untuk melakukan penjajahan kepada negeri-negeri muslim, dengan demikian siapa pun yang mendukung demokrasi berarti turut mendukung upaya kolonialisasi negara barat. ...Pengaruh Quthb, yang merupakan salah satu tokoh IM, nampak pada pandangan HT mengenai istilah demokrasi dan sumber kedaulatan. Bagi Quthb, seorang muslim harus meletakan islam diatas semua ideologi buatan manusia, karena semua buatan manusia bersifat temporal dan dapat berubah sewaktu-waktu, sementara ajaran islam, yang didalamnya telah mengatur segala urusan, berlaku sepanjang masa. ...Pandangan PKS dan HTI terhadap demokrasi banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh intelektual Mesir dan Timur Tengah, yang membuat keduanya memiliki pandangan yang lebih kritis dalam menilai demokrasi. Oleh sebab itu karakter keduanya juga berbeda dengan organisasi atau partai politik berbasis pemilih muslim di Indonesia, seperti NU, Muhammadiyah, PPP, PAN, PKB dan lainnya. ...Namun karena demokrasi telah menjadi kenyataan objektif yang tidak terhindarkan, maka PKS melakukan kompromi, bahwa keterlibatan dalam demokrasi bersifat sementara sambil melakukan dakwah dan perbaikan-perbaikan aturan agar sesuai dengan syariat islam. Sayangnya, meski pun penulis buku mendapatkan data primer melalui wawancara dengan tokoh-tokoh utama PKS, tidak disebutkan contoh-contoh kiprah PKS dalam sistem demokrasi dengan cara pandang seperti itu. ... Namun jika melihat terbitan tahun buku ini, yaitu 2006, barangkali memang belum ada yang bisa ditunjukkan karena baru dua tahun setelah pemilu 2004, pemilu pertama setelah bertransformasi menjadi PKS, yang kemudian menghasilkan fraksi di DPR. Satu hal yang perlu dicatat ialah bahwa penerimaan PKS terhadap demokrasi bersifat sementara, karena sistem ideal berdasarkan islam belum ada setelah era Nabi Muhammad dan para sahabat. ...Satu hal yang menarik dari uraian buku ini ialah bahwa pada perkembangannya HT, paling tidak di Indonesia, sedikit menggeser pandangannya terhadap keterlibatannya dalam sistem demokrasi. Dalam sebuah wawancara antara penulis buku dengan salah satu narasumber dari HTI, disebutkan bahwa bukan tidak mungkin suatu saat HTI berpartisipasi sebagai partai politik peserta pemilu.
    21 April 21 2021, 20:08
    Dimas Ramadhan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/islam_dan_demokrasi_versi_pks_dan_hti.php#unique-entry-id-22
  • Film Review: Menghapus Mitos Menstruasi Lewat Film Pad Man
    “Jika hati bersih, semua akan bersih,” begitu kata Gayatri ketika suaminya, Lakshmikant Chauhan, memarahi dirinya yang menggunakan kain kotor saat menstruasi. Lakshmi merasa begitu kesal sekaligus sedih saat mengetahui istri yang teramat ia cintai itu menggunakan kain kotor sebagai ganti dari pembalut. ... Penelitian mengungkapkan 89% perempuan di India masih menggunakan kain ketika menstruasi, sisanya sebanyak 2% menggunakan kapas (2%), 7% menggunakan pembalut, dan 2% menggunakan abu ketika menstruasi (Pallapothu, 2018). ... Mitos, kesalahpahaman, serta stigma di India akan menstruasi yang membutakan kesehatan perempuan adalah isu yang coba diangkat dalam film Pad Man. ...Dia adalah seorang aktitivis sosial dari sebuah desa kecil di Tamil Nadu yang memperkenalkan pembalut berbiaya murah untuk perempuan di India. ... Kehidupan pernikahan keduanya mulai diuji ketika sang suami mulai mempersoalkan praktik menstruasi yang tidak sehat yang dilakukan oleh sang istri. ...Padman menjadi film yang menarik karena cukup berani mendemonstrasikan praktik menstruasi yang tidak sehat di India sebagai konsekuensi dari mitos, kesalahpahaman, serta stigma negatif akan menstruasi. Selama ini diskusi tentang perempuan, tubuh perempuan, apalagi soal cairan tubuh perempuan di India tidak menjadi topik yang umum untuk dibahas, bahkan dianggap menjijikan atau seringkali dijadikan bahan komedi misoginis. ... Jika laki-laki melihat kain tersebut, baik dalam keadaan kering atau pun sebaliknya, laki-laki bisa kehilangan kemampuan untuk melihat alias buta. Mitos yang lain, jika seekor anjing, ular, atau sapi menemukan kain bekas menstruasi yang harus dibuang dengan cara dikubur di tanah, maka pengguna kain tersebut tidak akan bisa hamil (Garg, Goyal, & Grupta, 2012). ...Dua mitos tersebut membuat perempuan diharuskan untuk mencari tempat tersembunyi untuk menyimpan kain, yang sering kali kondisinya cukup gelap, lembab, serta tidak higienis. ... Hal ini dipraktikan oleh Gayatri di awal film, ia menjemur kain menstruasi yang baru saja dicucinya di bawah baju lain. ... Penggunaan kain yang lembab ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang serius, seperti infeksi saluran reproduksi, penyakit radang panggul, bakteri, kanker serviks, HIV/AIDS, interfilitas, kehamilan ektopik, bahkan hingga kematian (Garg et al, 2012). ...Perempuan harus mengisolasi diri, tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hadir dalam kegiatan keagamaan, menghadiri kegiatan keagamaan, perkawinan, berhubungan seksual, atau sekedar menyentuh anggota keluarga laki-laki di rumah (Garg et al, 2012). ... Ini artinya, sebut saja menstruasi berlangsung selama lima hari, perempuan di India kehilangan waktu untuk produktif selama 60 hari atau 2 bulan dalam satu tahun hanya karena menstruasi. ...Selain karena harganya mahal, alasan Gayatri adalah takut kepada sang mertua yang pasti akan marah besar dan menyalahkannya jika mengetahui anak laki-lakinya itu ikut campur urusan perempuan, apalagi menyoal menstruasi. ...Lakshmi memutar otak dan mencari akal supaya Gayatri bisa hidup sehat dengan pembalut tanpa perlu khawatir akan harganya yang mahal. ... Gayatri yang selama ini menjadi kelinci percobaan Lakshmi untuk mencoba pembalut buatannya pun sudah lelah dan meminta suaminya untuk berhenti. ...Ia tidak hanya ingin menciptakan pembalut murah untuk istrinya, tapi juga untuk adik perempuannya dan seluruh perempuan di India. Selain pendidikan serta kesadaran akan kesehatan yang rendah, kemiskinan adalah penyebab lain perempuan di India, terutama mereka yang tinggal di perdesaan atau daerah-daerah tertinggal, tidak memiliki akses untuk pembalut. ...Mesin buatannya pun disebar ke seluruh desa di India dan berhasil mempermudah kehidupan perempuan untuk mengakses pembalut murah yang higienis. ...Stigma soal menstruasi dan manajemen menstruasi adalah dua masalah penting yang berhubungan dengan perempuan, yang biasanya keduanya itu saling berbanding terbalik satu sama lain. ... Contonya karya seniman Vanessa Tiegs dan Petra Paul, keduanya menggunakan darah menstruasi di kanvas untuk membuat karya seni yang indah dan menarik, museum virtual Harry Finley di mana ia mengumpulkan cerita perempuan dan artefak budaya tentang menstruasi, Ani DiFranco (1993) Blood in the Boardroom, dan buku Inunt Muscio (2002). ...Lewat film Pad Man, pesan yang ingin disampaikan bahwa masalah yang terjadi di kehidupan perempuan, seperti stigma buruk akan menstruasi serta praktik menstruasi yang tidak sehat, penyelesaiannya bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan. ... Perubahan sosial dan transformasi sikap mengenai topik-topik yang dianggap tabu seperti menstruasi dapat terjadi jika laki-laki ikut berpartisipasi di dalamnya.
    21 April 21 2021, 20:08
    Darin Atiandina
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/menghapus_mitos_menstruasi_lewat_film_padman.php#unique-entry-id-21
  • Book Chapter Review: Demokrasi Madisonian: Upaya Menentang Para Tiran
    Meski begitu, banyak pihak menganggap demokrasi sebagai sistem kontestasi yang paling manusiawi karena kemampuan komprominya dengan hal-hal antagonistik dan kemampuan menghindarinya dari kemungkinan pertarungan fisik yang dapat menimbulkan kucuran darah layaknya suksesi kepemimpinan dimasa kerajaan. ...Robert A. Dahl mengulas bagaimana James Madison (Presiden ke-empat Amerika Serikat) meletakkan dasar-dasar demokrasi yang sangat menjunjung tinggi hak-hak individu serta menjadi peletak dasar tatanan sistem pemerintahan di negeri Paman Sam yang kemudian lebih dikenal dengan teori demokrasi “Madisonian”. ...Buah pikiran Madison terkait demokrasi tertuang dalam The Federalist Papers yang berisi kumpulan 85 essai bersama Alexander Hamilton dan John Jay untuk mendukung ratifikasi Konstitusi Amerika Serikat. ... Sangat jarang pemimpin politik memiliki penjelasan teoritis yang runtut, logis dan jelas seperti apa yang disampaikan Madison dalam The Federalist Papers. ...Melalui beberapa asumsi Dahl mencoba menggambarkan apa yang diungkapkan Madison terkait demokrasi, tirani, hak alamiah dan faksi. ... Hipotesis 1 menyatakan bahwa jika tidak dikendalikan oleh kontrol eksternal, setiap individu atau kelompok akan melakukan tirani terhadap orang lain. ... Dahl mencoba melakukan kontruksi ulang atas pemaknaan tirani oleh Madison yang dalam The Federalist Papers dinyatakan sebagai akumulasi semua kekuasaan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif di tangan yang sama, apakah satu, beberapa atau banyak. ...Dari hal tersebut muncul hipotesis 2 yang menyiratkan bahwa akumulasi kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif di tangan yang sama cenderung menanggalkan kontrol eksternal yang pada akhirnya menyiratkan munculnya tirani. Sayangnya, tidak ada pemaknaan dan batasan jelas mengenai hak alamiah itu sendiri, sedangkan pembatasan hak tersebut tanpa persetujuan juga merupakan awal dari sebuah tirani. Untuk lebih memperjelas hal tersebut, Madison menyertakan dua asumsi tambahan yakni hipotesis 3 yang menyatakan bahwa jika tidak dikendalikan dengan kontrol eksternal, sebagian kecil individu akan melakukan tirani atas sebagian besar individu. Sebaliknya, pada hipotesis 4, Madison berpendapat, jika tidak dikendalikan oleh kontrol eksternal, mayoritas individu akan melakukan tirani atas minoritas individu. Alexander Hamilton pun pernah berujar bahwa “berikan semua kekuatan kepada banyak orang, maka mereka akan menindas segelintir orang dan berikan semua kekuatan kepada segelintir orang, maka mereka akan menindas banyak orang”. ...Madison dalam hipotesis 5 mensyaratkan dua hal yakni pertama, akumulasi semua kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif di tangan yang sama, baik satu, beberapa atau banyak, apakah turun-temurun, menunjuk dirinya sendiri, bahkan berdasarkan pemilihan, haruslah dihindari. ...Pada hipotesis 6, disampaikan bahwa pemilihan yang dilakukan terlalu sering tidak akan memberikan kontrol eksternal yang cukup untuk mencegah tirani. ... Oleh karenanya, dalam perkembangan sejarah pemerintahan di Amerika Serikat, mekanisme check and balances juga diupayakan untuk menghindari tindakan-tindakan tirani. ...Hipotesis 8 menjelaskan bahwa jika faksi terdiri dari kurang dari mayoritas, maka hal tersebut dapat dikontrol dengan penerapan prinsip republik dalam pemungutan suara dalam badan legislatif, yakni mayoritas dapat menjatuhkan suara minoritas. ... Terakhir, sebagai penutup hipotesis 10 memaparkan bahwa untuk membuktikan bahwa pada kondisi banyak pemilih dengan beragam kepentingan, faksi mayoritas cenderung sulit muncul dan jika memang ada, sangat sulit untuknya bertindak dalam satu kesatuan. ...Mencoba memperjelas secara detail dari setiap asumsi terkait demokrasi yang dibangun Madison, Dahl mengulas bagaimana Madison menggambarkan kontrol eksternal dapat melakukan pengekangan terhadap tirani dengan pembagian kekuasaan melalui hubungan timbal baliknya dan saling kontrol satu dengan yang lain. Pembagian kekuasaan akan memberikan jaminan bahwa ambisi individu dalam satu departemen akan menangkal mereka yang lain melalui mekanisme reward and punishment. ...Kedua, pentingnya kontrol eksternal secara konstitusional terkesan melebih-lebihkan, Dahl juga menilai bahwa premis yang digunakan dalam melihat proposisi tentang perilaku politik atau syarat-syarat demokrasi non-tirani adalah salah. ...Jika hal tersebut dimaknai sebagai hak individu untuk melakukan segala sesuatu maka langkah negara untuk menahan beberapa individu melakukan apa yang diinginkan merupakan bentuk tirani. ...Upaya pendefinisian hal-hal lain juga harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena pendefinisian hak alamiah dan batasan-batasan lain dalam pemikiran Madison yang tidak begitu jelas melalui faksi mayoritas dalam pemerintahan, sama saja menyalahi pandangan Madison terkait faksi mayoritas. ...Di satu sisi, Madison secara substansial menerima gagasan bahwa semua warganegara di dalam republik harus diberi hak yang sama, termasuk hak untuk menentukan arah umum kebijakan pemerintah. ...Meski dalam beberapa hal tidak begitu detail Madison memberikan pedoman dalam menghadirkan republik non-tirani akan tetapi, melalui pemaknaan mendalam atas hipotesis Madison, Dahl memberikan gambaran-gambaran yang dapat membantu memahami apa yang masih nampak kabur dari asumsi-asumsi dasar yang dikeluarkan oleh Madison. ... Bagi Dahl memaknai semua pandangan dalam cara pandang Madisonian perlu dilakukan dengan menjadikan kesetaraan politik sebagai tujuan yang harus dimaksimalkan, yaitu mendalilkan bahwa tujuan setiap warga negara dalam republik harus diberi nilai yang sama dalam menentukan kebijakan pemerintah.
    21 April 21 2021, 20:08
    Jefri Adriansyah
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/demokrasi_madisonian.php#unique-entry-id-20
  • Book Review: Mirah dari Banda
    Bukan untuk membuat Banda seakan menyeramkan, namun ada sebuah cerita yang ingin digambarkan Rambe bahwa di balik keindahan yang dinikmati dari tokoh-tokoh yang dimasukkan ke dalam tulisan, ada pula cerita pilu di balik keindahan tersebut. ...Sudah lebih dari dua tahun, Wendy dan suaminya berada di Indonesia, tepatnya di tanah Sumatra karena Matt bekerja di salah satu perusahaan tambang di sana. ...Sebelum sampai Banda, saat masih berada di dalam pesawat di atas ketinggian, Jack menyebutkan Banda sebagai tubuh yang cantik jelita, akan tetapi di dalamnya mengalir darah merah seperti semua darah semua manusia. ...Di bagian pertama ini, penulis memperlihatkan bagaimana para tokoh tertarik tentang kepulauan yang memiliki keindahan alam yang luar biasa, meskipun cerita-cerita sejarah disisipkan dalam alurnya melalui pengetahuan Jack. ...Ketertarikan terhadap Mirah berawal dari penglihatan yang tidak biasa dari Wendy ketika ia ingin berterima kasih kepada juru dapur tersebut karena sudah menyiapkan hidangan yang begitu enak. ... Kisah Mirah tidak kemudian diceritakan pada bagian selanjutnya, yaitu ketiga dan keempat, melainkan pada bagian tersebut penulis dengan cukup detail menceritakan bagaimana Banda dalam lingkaran rempah, mulai dari kemasyuran dan kejatuhannya. ...Tidak lupa penulis juga menceritakan bagaimana cerita tentang perkeniers, sang penjaga kebun pala yang ditunjuk oleh Belanda, dari masa jawa hingga keruntuhannya. ...Hingga pada akhirnya mereka dibawa ke atas kapal dan tibalah di tanah rempah, yang kemudian diketahui adalah Banda. ...Sampai di tanah Banda, Yu Karsih dipekerjakan di kebun pala yang dikelola Tuan Coci, sang pengurus perken (kebun, dalam bahasan belanda) yang memiliki darah campuran Ambon-Portugis. ... Di saat yang bersamaan ada pula Tuan Besar, sang pemilik kebun yang juga tertarik dengan Yu Karsih, kedudukannya di atas Tuan Coci. Mirah melihat sosok Tuan Besar sebagai pelindung yang sangat baik karena pada akhirnya Tuan Besar memulangkan Tuan Coci ke Ambon karena berperilaku kasar dengan Yu Karsih, meskipun itu adalah alasan di balik ketertarikannya dengan Yu Karsih. ...Mengetahui hal tersebut, Tuan Besar yang kemudian diketahui namanya Johan Kelus Setin tidak lantas marah, meskipun sang Tuan Besar juga menyukai Yu Karsih dan sudah menjadikanya sebagai gundik atau prampuang piara. ...Tuan Besar sering bepergian ke Jawa, di saat itu pula rumahnya semakin tidak terurus, banyak laki-laki Belanda lain bermain ke rumahnya, bahkan menginap. ...Ia sudah tidak bersama dengan Yu Karsih yang selalu diikutinya, di sisi lain Lawao sebagai salah seorang pengharapannya tidak kunjung datang. Sebagaimana para pekerja-pekerja lain atau kuli kontrak lain, Mirah yang mungkin hidupnya lebih beruntung karena hidup di Rumah Tuan Besar pada dasarnya juga adalah seorang pekerja kontrak yang seakan tidak memiliki pilihan hidup lain selain mengikuti apa kata tuannya. ...Meskipun tidak menikah secara resmi dengan Tuan Besar, dari hasil hubungannya itu lahirlah anak perempuan dan kemudian laki-laki yang secara berurutan bernama Lili dan Weli. ...Saya lebih suka hidup seperti burung walor di hutan pala. (h. 216)”

    ...Mereka pun terpisah kembali, beruntung Mirah ditemukan kapal putih besar milik Belanda dan kemudian dikembalikan ke Banda, ke rumah Tuan Besar, sedangkan Lawao pergi entah ke mana, atau mungkin sudah mati. ...Tuan Besar kabur, Weli anak laki-laki dari pria Belanda dibawa Jepang, entah untuk apa dan ke mana. ... Berlanjut dengan anak perempuannya, meskipun sudah pergi dari tanah Neira, tepatnya ke Banda Besar, Jepang mendapat kabar bahwa ada seorang anak perempuan Indo-Belanda yang bersekolah pergi ke Banda Besar. ...Saat itu pula, Mirah kembali dipertemukan dengan Lawao yang ternyata masih hidup namun berada di bagian pulau lain. ...Mirah masih beruntung menjadi gundik seorang Belanda meski tidak bisa bergerak bebas, namun Lili yang dibawa Jepang memiliki cerita yang lebih pedih. ...Yang Wendy ketahui dari keluarga barunya (Higgins) adalah ia merupakan anak dari seorang laki-laki Jepang yang baik dan ibu yang baik pula keturunan Indo-Belanda (p.20). ... Yang Wendy sadari adalah ia begitu tertarik dengan kisah hidup Mirah tua, yang mengingatkan akan dirinya sebagai seorang anak perang, sama-sama tidak tahu nama kampung halaman dan nama asli ibu-bapaknya. Begitu pula dengan Mirah, dalam hati dan tak pernah diucapkan kepada Wendy, sosok Wendy mengingatkannya pada Lili karena memiliki rambut keriting, kulit putih, dengan dagu terbelah seperti anaknya yang dibawa Jepang.
    21 April 21 2021, 20:08
    Hartanto Rosojati
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/mirah_dari_banda.php#unique-entry-id-19
  • Book Review: Menyoal Instrumen Kebijakan Publik
    Dewasa ini kajian terkait dengan kebijakan publik berujung pada dua paradigma besar, meski saat ini sedikit usang, dua paradigma tersebut yakni government dan governance. ...Paradigma government melihat bahwa negara merupakan aktor yang paling menentukan dalam proses pembuatan kebijakan publik, sebaliknya paradigma governance menekankan pada bekerjanya jejaring (multi aktor) dalam proses pembuatan kebijakan. ... Apabila persoalan kebijakan publik sering dilekatkan dengan bagaimana struktur kebijakan dalam klasifikasi Etzioni yang membagi kebijakan dalam tiga kategori besar yakni coercive, remunerative, dan normative. ...Dalam penerapannya, implementasi dari kebijakan ini sangat bergantung pada kapasitas institusional dari pemerintahan tersebut untuk dapat menegakkan aturan hukum. Kelemahan dari instrumen ini ada pada persoalan legitimasi mengingat penekanannya pada kapasitas pemerintah dalam menegakkan aturan dan tidak mengindahkan konsensus dengan masyarakat. ...Pemerintahan SBY dapat menjaga daya dukung (legitimasi) dari masyarakat dengan kebijakan BLT, namun di sisi lain, terdapat persoalan tidak adilnya penerima program BLT. ...Melalui instrumen ini, pemerintah dapat dengan mudah membangun konsensus dengan masyarakat, namun pada saat yang bersamaan, instrumen kebijakan ini dinilai tidak efektif dikarenakan tidak memiliki daya paksa. ... Kebijakan ini dapat berhasil di masa pemerintahan Orde Baru (Orba) ketika diikuti dengan aturan (regulasi) yang ketat, saat ini program KB tidak dapat dikatakan berhasil mengingat banyaknya keluarga yang memiliki anak lebih dari dua. ...Sedikit kembali ke depan, klasifikasi instrumen kebijakan dalam buku ini didasarkan pada pandangan bahwa kapasitas organisasi masih memegang peranan penting dalam mengimplementasikan kebijakan. ... Klasifikasi instrumen dalam buku ini justru menekankan pentingnya peranan negara dengan instrumen kebijakannya (paradigma government). Agar kebijakan dapat terimplementasikan dan pada saat yang bersamaan membentuk basis legitimasi yang kuat, Vedung menjelaskan pentingnya melakukan kombinasi antara satu instrumen kebijakan dengan instrumen kebijakan yang lain (ibid: 53). ...Oleh karenanya strategi untuk mengganti-ganti kombinasi instrumen kebijakan menjadi hal yang sangat penting agar tujuan dari kebijakan yang disusun tercapai (Doelen, 1998, dalam Vedung 1998:129). Pada hal yang berbeda, implementasi dari model instrumen kebijakan juga perlu untuk memperhatikan konteks kebijakan tersebut diimplementasikan. ... Efektif tidaknya sebuah kebijakan tidak bergantung semata pada penggunaan instrument kebijakan, melainkan bergantung pada konten dari instrumen kebijakan yang diambil (Arentsen, 1998, dalam Vedung, 1998). ...Klasifikasi kebijakan dalam buku ini memberikan banyak masukan, terutama terkait dengan bagaimana sebuah pemerintahan dalam mengimplementasikan kebijakan publik. Selebihnya, kritik terhadap buku ini dapat ditebak, klasifikasi instrument kebijakan yang terdapat dalam buku ini sudah tergolong usang, terutama untuk melihat perkembangan pemerintahan dewasa ini. Kategorisasi instrumentasinya masih cukup relevan, namun pengaplikasiannya dalam konteks modern tidak lagi relevan, terutama mengingat proses pembuatan kebijakan melibatkan banyak aktor, seperti dalam paradigma governance. ...Beberapa pengkritik yang berasal dari ilmuwan yang berpijak pada paradigma governance, antara lain ada pada studi Kall (2010) yang mencoba merevisi model klasifikasi instrument kebijakan. Dalam cara pada pandang Kall, instrumen informasi masuk kategori soft steering policy instrument, instrumen subsidi/insentif ekonomi sebagai medium steering policy instrument, dan instrumen regulasi sebagai hard steering policy instrument (Kall, 2010:109). Dalam cara pandangnya, budaya organisasi dan preferensi politik menjadi faktor utama yang menentukan steering policy instrument (Kall, 2010:225). Berbeda dengan pendekatan dari Vedung, instrumen kebijakan yang dikerangkai oleh Kall menekankan pada kecenderungan untuk menggunakan salah satu instrumentasi, tanpa menggunakannya dengan kuasa penuh. ...Dalam kacamata yang berbeda, Barret (2004) mengkritik cara pandang yang menekankan pada bagaimana dimensi politik dan ideologi perlu untuk dipertimbangkan. Masih dalam cara pandang governance, ia berargumen bahwa dengan berlakunya beberapa konsep manajemen modern seperti New Public Management (NPM) yang sudah menjadi norma global dalam mengimplementasikan kebijakan berbasis jejaring, maka pada dasarnya tidak lagi menjadi terlalu relevan untuk melihat konteks politik dan ideologi sebuah negara. ...Meski sekilas nampak berbeda, namun ilmuwan dari pihak paradigma government maupun governance mengamini bahwa pentingnya kapasitas organisasional dalam mengimplementasikan kebijakan. ...Dalam pandangannya, pemerintah tidak dapat mengatur sepenuhnya sebuah pembuatan kebijakan, bagaimanapun juga kapasitas pemerintahan terbatas dalam mengeksekusi kebijakan, baik dari sisi kemampuan organisasi maupun anggaran.
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/menyoal_instrumen_kebijakan_publik.php#unique-entry-id-18
  • Book Review: Pembiayaan Perang dan Pembentukan Negara
    Demikian thesis statement Charles Tilly (selanjutnya ditulis Tilly) di bukunya yang berjudul “Coercion, Capital, and European States, AD 990-1990” dalam upaya menjelaskan bagaimana pembentukan negara di daratan Eropa. Di antara banyak hal yang berkembang dan berperan penting pada kurun waktu 990-1990, terdapat dua komponen penting pembentukan negara, yakni kapitalisme dan militer/instrumen paksaan. ... Dalam buku ini, Tilly memberikan deskripsi menarik terkait bagaimana proses menjadi (menggunakan process tracing) sebuah negara. ...Tidak heran apabila kemudian sejarah Eropa daratan dikenal sebagai sejarah tanah berdarah, pembantaian, ekspansi wilayah, hingga hilangnya suku lain demi perebutan pengaruh. ...Sengitnya pertempuran yang terjadi antar komunitas, hingga Martin Scorsese mensutradarai Gangs of New York, sebuah film yang bercerita bagaimana perebutan kekuasaan di five points kawasan Manhattan. ...Dalam upaya membangun argumentasinya, Tilly menggunakan pendekatan process tracing dengan melacak perkembangan historis materialismenya, antara perkembangan kapitalisme dan militer. ...Meminjam istilah Louis Althusser, seorang filsuf Marxis, dengan perangkat kekuasaan tersebut, negara telah memiliki apparatus ideologis dalam diri gereja dan apparatus represif dalam diri militer (Althusser, 2007). ... Proses pembentukan negara dalam argumentasi Tilly, berada pada tiga cara dominan, meliputi tendensi perkembangan melalui jalur militer, melalui jalur penguatan kapitalisme, atau melalu jalur kombinasi antara keduanya. ... Perkembangan kapitalisme yang berada di kota-kota kecil pada akhirnya mendorong perluasan wilayah untuk mendapatkan pengaruh. ...Pada kombinasi model ini, kota yang telah berkembang kegiatan ekonominya, semakin membutuhkan pula keamanan untuk menjamin aktivitas ekonomi yang ada tidak terganggu. ...Tilly coba untuk keluar dari penjelasan yang telah ada dengan mengatakan bahwa proses pembentukan negara merupakan tarik menarik antara proses pembentukan dari bawah dan dari atas. ...Perkembangan ini tidak dapat lepas dari tantangan untuk melindungi pengembangan kapitalisme yang telah ada dari kekuatan eksternal. ... Fase internal menyoal konsolidasi ke dalam, fase eksternal menyoal bagaimana kekuasaan dikelola demi ambisi yang lebih besar, seperti ekspansi wilayah negara. ...Upaya mempertahankan perkembangan kapitalisme sembari tetap melakukan ekspansi wilayah di Eropa daratan, pada akhirnya mendorong terbentuknya sistem-sistem penunjang lainnya, seperti sistem sewa dan pajak. ... Fokus utama ada pada bagaimana negara-negara terbentuk di kawasan ini, mengingat struktur kekuasaan di negara dunia ketiga merupakan konsekuensi dari terbaginya dunia dalam dua blok besar, blok barat dan timur dalam periode perang dingin. ...Sebagai sebauh karya, buku ini memberikan gambaran yang utuh dengan argumentasi yang meyakinkan, terutama bagi para pembaca yang hendak mengetahui bagaimana sebuah kajian dengan pendekatan process tracing dilakukan. Selain proses penulisannya yang memakan waktu yang tidak sedikit, kerangka yang dibangun oleh Tilly masih relevan dalam hal membaca bagaimana negara-negara sulit terbentuk atau terkonsolidasikan di era modern. Pada masa modern ini, paska kolonialisme, banyak negara-negara yang kesulitan untuk mengatur secara internal negaranya, maupun secara terus menerus menghadapi tantangan global (kepentingan ekonomi politik internasional) dalam upaya konsolidasinya. ...Stabilitas politik dan eksploitasi pada politik identitas memegang peranan penting dalam konsolidasi kekuasaan, terlebih terdapat benturan yang kuat antara ikatan-ikatan agama di Somalia dan agenda internasional. ...Terdapat intervensi kekuasaan internasional melalui UN untuk dapat mendorong perubahan dari atas (top down ) di negara ini. ... Penjelas bahwa pembiayaan perang (dalam kasus ini menciptakan stabilisasi dalam negeri) memang relevan, namun Tilly tidak melihat bahwa suku dan ideologi dapat memainkan peranan penting dalam menghambat pembentukan negara. Meski memiliki kekurangan, kerangka dari Tilly banyak membantu kita untuk melihat bagaimana proses dan elemen pembentukan sebuah negara. Limitasi dari kajian dari Tilly ada pada perlunya secara hati-hati melakukan kontekstualisasi untuk membaca bagaimana negara modern saat ini. Tilly telah menjelaskan bahwa pembiayaan perang menjadi faktor yang membentuk sebuah negara, namun Tilly lupa bahwa ekspansi dari negara-negara di Eropa daratan tidak hanya berada di wilayah itu saja. ...Oleh karenanya, dengan melihat upaya penjelasannya, kerangka penjelas dari Tilly relevan dalam menjelaskan unsur-unsur pokoknya, namun kehilangan daya penjelasnya dalam konteks negara-negara post-colonial.
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/pembiayaan_perang_dan%20pembentukan_negara.php#unique-entry-id-17
  • Book Review: Sisi Lain Si Tukang Kritik Profesional
    Dalam tulisan itu, GM menulis tentang sikap AB yang dulu dikenal dengan nama Soe Hok Djin dalam menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). ...Buku berjudul “Arief Budiman (Soe Hok Djin): Melawan Tanpa Kebencian” mencoba untuk menghadirkan kehidupan, ide, dan proses pengembaraan intelektual AB kepada orang-orang, terutama generasi yang tidak sempat mengenalnya. Bagi mereka yang belum mengenal atau hanya mengenal AB dari karya-karyanya, sejumlah tulisan, memorabilia foto, dan komik tentang AB di buku ini sedikit banyak bisa lebih membantu untuk mengenal AB. ...Pasalnya, buku yang ditulis oleh 22 penulis (terdiri dari keluarga, kawan dekat, dan para pengkritik AB) – tidak termasuk puisi Gus Mus, surat menyurat elektronik AB, dan komik tentang AB – memotret beragam kisah kehidupan AB. Oleh sebab itu, tulisan ini hanya mengangkat sejumlah kisah AB, yang setidaknya menurut saya menarik, di buku ini. ...Jeanne Sumual, anak paling bungsu, menuturkan bahwa AB dan Gie tidak saling tegur sapa selama bertahun-tahun, bahkan sampai adik langsungnya itu meninggal dunia, diduga ‘hanya’ karena rebutan laci. ...Ketika menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), tulis GM, AB tetap rakus melahap buku, terutama karya-karya Albert Camus dan Sartre. ...GM – yang kerap mengutip Camus di Caping – bahkan pertama kali mengenal peraih nobel sastra pada 1957 itu dari AB. Kecintaan dan pemahaman Arief Budiman terhadap filsafat, juga seni, memang tidak banyak ditemukan di mahasiswa lain, yang lebih dekat dengan slogal “buku, pesta, dan cinta”. ...Saat itu, Leila Chairani mengolok-olok teman-teman AB dengan kalimat ini: “Malu ah, si Hok Djin (baca: Arief Budiman) ditahan tuh, kaliah bebas aja” (hal. ...Orang tua Leila Chairani hanya mau memberikan lampu hijau kepada AB dan Leila Chairani apabila AB bersedia masuk Islam, dan mereka berdua menyelesaikan studi mereka. ...Persoalan itu baru bisa diatasi ketika Mochtar Lubis bersedia untuk memberikan pernyataan bahwa AB adalah seorang Muslim yang baik (hal. ...Pasalnya, beasiswa yang diterimanya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan empat orang, terdiri dari AB, Leila Chairani, dan dua anaknya yang saat itu masih balita. ...Tidak hanya itu, ketika AB selama tiga tahun tanpa penghasilan karena dipecat secara tidak hormat dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Leila Chairani masih setia menemaninya (hal. ... Hingga tubuh AB ringkih karena penyakit parkinson, Leila Chairani tetap setia berada di samping AB. Setiap akhir pekan, tulis Wes Budiman, Leila Chairani selalu membawa AB mengelilingi Melbourne dengan mobil atau trem. ...Ketika menjalani seleksi Kepala Pengkajian Indonesia di Universitas Melbourne, tulis Bela Kusumah Kasim, AB memakai baju lengan pendek, celana yang masih kelihatan baru, dan sepatu kucel – tanpa dasi dan jas. ...Bahkan, ketika berhasil diterima di Universitas Melbourne, AB tetap tidak mau membawa tas, dan lebih memilih menggunakan tas kresek, sekali lagi tas kresek, untuk membawa bahan kuliahnya. ...Kalau bukan karena ketidakpedulian AB terhadap penampilan, gaya hidup sangat sederhana yang tidak lazim itu boleh jadi didasari oleh alasan ideologis. ...Buku ini, seperti disinggung sebelumnya, mengulas beragam kisah kehidupan AB. Pada satu sisi, karena ditulis oleh banyak orang, kisah tersebut menjadi berwarna, dan menghadirkan sosok AB berdasarkan pengalaman-pengalaman personal tiap penulis. ... Contoh lain adalah kisah asmara AB dan Leila Chairani yang diulas oleh sejumlah penulis, walaupun pembahasan paling banyak dipaparkan oleh Leila Ch. ...Pasalnya, sebagaimana ditulis GM, ketika menjadi mahasiswa baru, AB sudah membaca karya Sartre dalam Bahasa Inggris (hal. 125), bahkan menerjemahkan karya Camus (hal. 123-125) (saya menduga AB menerjemahkan karya Camus yang Bahasa Prancis, sebab GM menyebut L'Étranger, bukan The Stranger). ...Yang patut diapresiasi dari buku ini adalah bahwa buku ini menghadirkan sejumlah tulisan, meskipun tulisan lama yang diterbitkan kembali melalui buku ini, yang mengkritik AB. Dengan begitu, buku ini tidak terjebak pada sisi heroisme AB semata. ...Baginya, juga teman-temannya, AB merupakan “rekan seperjuangan”, sebab AB mau mendukung kegiatan politik mahasiswa, dan memperkenalkan teori dependesia dan ide sosialisme di bawah suasana represif Orde Baru (hal. ...Tulisan Celli di buku ini tentu akan menjadi lebih menarik jika dilengkapi dengan pembahasan yang cukup mendalam tentang kedekatannya dengan AB. ...Dari beragam tulisan yang tersebar di media pasca wafatnya AB, saya kira Ignas Kleden sangat mumpuni untuk membahas pemikiran AB. Pasalnya, ia mengapresiasi terobosan AB di bidang sastra. ... Pada titik ini, Ignas Kleden secara seimbang menilai pemikiran dan sepak terjang AB. Adapun kisah kehidupan AB bisa ditulis GM atau Ariel Heryanto. Sebab, dua orang itu punya hubungan yang sangat dekat AB. Dengan buku biografi itu, juga karya-karya AB, AB (akan) abadi.
    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/sisi_lain_si_tukang_kritik.php#unique-entry-id-16
  • Book Review: Manusia dan Tanah Minahasa
    Dalam pemaparannya, Graafland melukiskan alam Minahasa mulai dari jalan, pemukiman, penampilan penduduk pribumi, serta lingkungan geografis yang sebagian besar masih perawan. Hal yang paling menarik dari tulisan ini adalah terkait tata kehidupan sosial, bahasa, sistem kepercayaan, mitologi dan legenda, nilai-nilai yang hidup di tengah rakyat, serta persentuhan rakyat dengan perdaban dari luar, dalam hal ini dengan masyarakat Cina dan Eropa, termasuk dengan agama Islam dan Kristen. ...Pulau-pulau di utara Minahasa sepertinya dulu menyatu dengan Kepulauan Sangihe, dan lebih ke utara lagi dengan daratan yang lebih besar, yang menurut tafsiran cerita rakyat Sangihe adalah Filipina. Di Sangihe dan Bolang ada cerita tentang bekas-bekas pemukiman, dan cerita itu tidak bertentangan dengan letak pulau serta posisi gunung-gunungnya. Penamaan pulau yang sangat masuk akal berasal dari kata sangi, yang dihubungkan dengan cerita rakyat yang terjadi di masa lampau. ...Baru sekitar tahun 1820 istilah tersebut mengandung arti geografis atau etnis saat digunakan dalam masa kolonial, (landstreek van Manado. Asal etimologis kata minahasa tidak benar-benar jelas, tetapi ada kesepakatan di antara ilmuwan dan orang awam bahwa berbagai sumber linguistik, semua mengacu pada penyatuan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpisah secara kultural dan linguistik, pada proses ’menjadi satu’. ... Mereka ingin menyatukan semua suku agar dapat membentuk pemerintahan pusat supaya wilayah tersebut dapat tenang dan lebih mudah diatur (Henley dalam Weichart : 2004). ...Meskipun para sejarawan menyatakan bahwa Minahasa yang menyatu secara politis dan sosial belum berusia tua (kurang dari 200 tahun), cerita rakyat mengklaim bahwa semua orang Minahasa asli merupakan keturunan dari pasangan leluhur mitologis, Toar dan Lumimuut. ... Terpisah satu sama lain, keturunan Lumimuut membentuk suku mereka sendiri dengan bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Meskipun ada keragaman bahasa dan budaya, diyakini bahwa pada intinya Minahasa memiliki asal yang sama, secara fisik terwujud dalam figur ’ibu’ Lumimuut. ... Mereka dapat mengaku telah memperkenalkan kembali keadaan asli, sekalipun dalam kondisi yang sangat berbeda dan juga melibatkan para pendatang (Weichart : 2004). ...Saat ini, mayoritas penduduk Minahasa beragama Kristen dan di antara berbagai kongregasi yang ada, GMIM (Gereja Masehi Injil di Minahasa) adalah yang terbesar. ... Orang Spanyollah yang membawa agama tersebut ke daerah ini, dan kompeni juga selalu berusaha menyebarkannya sejauh tidak bertentangan dengan pandangan mereka. Dengan demikian Kristen sudah ada sejak zaman Montanus dan Valentijn yang menerobos masuk ke daerah Sangir dan Manado, bahkan di sana-sini telah mencapai pantai utara. ...Minahasa diperintah langsung oleh pusat, namun untuk beberapa hal masih berada dibawah kekuasaan Belanda yang diatur dalam Keresidenan Manado. ... Daerah lain yang belum ada pejabat pemerintah, pemerintahan dilaksanakan oleh raja dan para kepala negeri, serta raja dan para tokoh kerajaan. ...Pada Tari Cakalele ini orang Minahasa yang lemah lembut dapat memberingaskan muka sedemikian rupa seakan-akan mau memakan orang hidup-hidup, atau sekurang-kurangnya menikam atau menakut-nakutinya. ...Orang-orang Minahasa mengerjakan kebun bersama-sama, saling membantu atau dalam bahasa Minahasa disebut mapalus yang dapat diartikan dengan gotong royong. ...Bila pergi atau kembali dari kebun, setiap orang yang bertemu atau berpapasan di jalan maka akan bersalaman atau mengangkat tutup kepala. ...Solusi lain, jika ia telah bekerja di beberapa kebun, si pemilik kebun yang telah digarap harus bekerja di kebun orang yang berhalangan itu hanya sesudah masa mapalus lewat. Bila ia termasuk orang yang kebunnya telah dikerjakan, ia harus membayar pekerjaan mereka yang menggarap tanahnya dengen memberi seorang pengganti, jika tidak mau membalas dengan cara itu, dia dapat melakukannya sendiri tahun berikutnya. ...Di tempat lain, orang membiarkan buah itu jatuh sendiri dan membusuk. dan di tempat lain lagi, orang memetik dan membawa kopi itu ke rumah, tetapi membiarkannya membusuk. ...Menurut cerita dari orang-orang Minahasa, cara mengerjakan kopi di sini adalah cara Brazil, hanya bedanya orang-orang di sini tidak memiliki alat yang memadai untuk pengerjaan besar-besaran. ... Jika kopi tidak mempunyai warna yang diinginkan, pucat, keabu-abuan, atau hitam, itu disebabkan karena yang dipetik adalah buah yang tidak masak, atau musimnya yang tidak menguntungkan, atau kurang hati-hati ketika mengeringkannya.
    21 April 21 2021, 20:08
    Nurul Fatin Afifah
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/manusia_dan_tanah_minahasa.php#unique-entry-id-15
  • Article Review: Bahasan Teknis Implementasi Smart City di London
    Artikel yang berjudul Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities yang ditulis oleh Claire Thorne dan Catherine Griffiths membahas tentang upaya pemerintah Inggris yang seperti banyak pemerintah lainnya yang menempatkan implementasi sistem Kota Cerdas menjadi agenda prioritas. ...Bagian pertama berisi paparan soal sejarah revolusi industri dari masa ke masa yang pada akhirnya membawa sampai ke titik di mana dunia dihadapkan pada big data dan open data yang mendorong adanya inovasi agar dapat memanfaatkan data tersebut. ... Dari pengembangan ini, kemudian ada platform baru, segala hal yang berkaitan dengan internet (Internet of Things), media sosial, konektivitas seluler yang hampir ada di mana-mana. ...Kondisi ini dapat dilihat menjadi tantangan bagaimana membuat sistem lama bekerja dengan mudah dengan teknologi baru, sambil merancang kota yang dapat menawarkan peningkatan kualitas kehidupan bagi warga. Harapan ini yang ditawarkan oleh revolusi digital di mana tercipta kota masa depan yang lebih besar, lebih cepat, lebih mudah dan dapat terwujud dengan integrasi platform, produk, dan proses digital dengan infrastruktur kota dan ruang kota. ...Justifikasi kecerdasan adalah apa yang dibutuhkan oleh kehidupan nyata, di mana kunci dari kecerdasan adalah keterlibatan (engagement) dan bahasa yang digunakan. ... Claire Thorne dan Catherine Griffiths juga mengkritik soal 6 elemen kota cerdas: smart economy, smart mobility, smart environment, smart living, smart governance, dan smart people. ... Di bagian ketiga, artikel ini membahas soal bagaimana membuat suatu kota menjadi cerdas. ...Figur di atas adalah kerangka yang ditawarkan Claire dan Catherine dalam artikel ini sebagai upaya menjawab bagaimana mewujudkan kota cerdas. ...

    Skills – membina kumpulan orang yang memiliki keterampilan khusus

    Appetite – kesiapan dan kesediaan warga untuk mengadopsi teknologi baru dan intervensi cerdas dengan cara membuat populasi memiliki literasi digital yang baik dan saling terlibat satu sama lain.

    Data – informasi yang disesuaikan dan dipersonalisasi, dapat diakses oleh individu, bisnis, dan pemerintah secara real-time

    ... Di bagian kelima artikel ini adalah bagian krusial karena membahas satu per satu studi kasus penerapan Smart City di kota London dalam indikator-indikator yang sudah dipaparkan di bagian ketiga. Namun dari 5 indikator, Claire dan Catherine hanya membahas 2 indikator saja yaitu enablers dan implementation environment. Dari sudut pandang enablers, secara keahlian, kota London berusaha menciptakan lingkungan cerdas, bekerjasama dengan institusi pendidikan tinggi merespon kebutuhan dengan digital dan penawaran pendidikan dan penelitian cerdas. ... Ini yang menjadi tantangan kedepan untuk melatih pemasaran untuk memberi informasi kepada publik tentang integrasi dan manfaat masa depan kota London yang lebih cerdas. ...Secara infrastruktur, tidak semua rumah tangga dan individu di kota-kota Inggris mampu atau ingin terhubung secara digital dan masih banyak yang belum terjangkau akses internet. ...Proyek penelitian ini fokus kepada integrasi dan adaptasi real-time, lintas sektoral (transportasi, dataset kota energi, air dan limbah) untuk memungkinkan inovasi model bisnis dan mengubah perencanaan, manajemen, penggunaan layanan dan sumber daya kota. ... Dengan menghubungkan warga, sektor bisnis, dan pemerintahan kepada kecerdasan real-time dan pengambilan keputusan cerdas, diharapkan proyek ini dapat memonitor dan mengontrol pelayanan publik menjadi lebih baik, meningkatkan pelayanan kesehatan, meningkatkan produktivitas dan kualitas layanan publik, memunculkan model bisnis baru, pemusatan data satu pintu, dan tentu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. ...Claire dan Catherine berhasil keluar dari bahasan soal konsep smart city yang sampai saat ini masih belum didefinisikan secara jelas. Dameri dan Sabroux (2014) dan Cocchia (2014) mengkonfirmasi argumen ini dengan menyebut bahwa hingga saat ini tidak ada definisi pakem dari kota cerdas dan hingga saat ini sulit sekali untuk mendefinisikan smart city. ... Perdebatan ini tidak ada di dalam tulisan ini dan menurut saya dengan tidak adanya perdebatan tersebut, tulisan ini menjadi komprehensif dan aplikatif untuk dibaca oleh pengambil kebijakan untuk selanjutnya dipelajari lebih lanjut bagaimana pemerintah Inggris khususnya pemerintah kota London menerapkan kota cerdas. ... Secara keseluruhan, artikel ini layak direkomendasikan untuk pemangku kebijakan maupun pembaca yang sedang menulis kajian tentang smart city karena artikel ini juga mengungkap potensi-potensi kegagalan smart city di Inggris, di mana potensi ini juga mungkin terjadi di Indonesia. Potensi tersebut adalah masih banyak asumsi masyarakat yang menganggap bahwa kata-kata smart city hanya branding dan tidak ada manfaat apa-apa untuk masyarakat. Di sini tantangan yang harus dihadapi berbagai para stakeholders untuk membuat pemasaran smart city menjadi lebih mudah dicerna semua kalangan, tidak hanya berkutat pada tataran konsep semata.
    21 April 21 2021, 20:08
    Nona Evita Widjanarko
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/teknis%20implementasi%20smart-city_london.php#unique-entry-id-14
  • Book Review: Meminum Makanan A la Rote
    Judul Buku: Panen Lontar; Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu ...Penelitianya dimulai karena ketertarikannya dengan pohon lontar, meskipun tanah di Rote dan Sawu terbilang kering, namun pohon lontar tumbuh subur di daerah tersebut. ... Konteks ekologi dan historis sangat terlihat dalam karya yang dibuat James Fox pada buku ini. Pendekatan historis yang digunakan James Fox tidak lepas dari pengaruh Evan Pritchard dan juga pernyataan tegas dari Louis Dumont bahwa sejarah adalah gerakan dari suatu masyarakat untuk mengungkapkan dirinya dalam bentuk yang sesungguhnya (Dumont, 1937:21). ...Untuk menjelaskan perubahan ekologi dalam kehidupan masyarakat di Pulau Rote dan Sawu, melalui karyanya James Fox membagi ketiga bagian sub bahasan. ... Istilah busur luar ini dipilih mengingat aktivitas ekonomi di pulau-pulau kecil seperti Rote dan Sawu tidak terlepas dari gugusan pulau yang lebih besar di sekelilingnya. Apabila dilihat, bentukan gugusan pulau di bagian selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini terlihat seperti busur, mulai dari Pulau Sumba di sebelah barat hingga Pulau Timor di sisi timur. ... Pelacakan antropo-historis ini coba ia rangkai dengan cukup rapi hingga dapat menjelaskan bagaimana kondisi sosial-ekonomi pada masa persekutuan dagang Hindia-Belanda. ...Proses adaptif masyarakat setempat dengan berbagai cara digambarkan James Fox dengan cukup runut hingga pada akhirnya istilah lapar biasa adalah agenda satu-dua bulan yang biasa dialami oleh masyarakat Timor. ...Di antara kedua pulau besar tersebut, terdapat pulau-pulau kecil lain yang juga memiliki dinamika lain terkait dengan kondisi alam, sosila, dan ekonominya. ... Di sini James Fox juga menampilkan catatan sejarah Belanda tentang curah hujan di Rote dan Sawu yang terbilang sangat rendah. ...Wijngaarden (1890) sebagaimana yang dikutip James Fox dalam tulisannya bahkan menjelaskan bahwa Sawu tidak memiliki daun-daun yang hijau atau tanaman. ... Yang menarik perhatian James adalah jika dibandingkan dengan pulau-pulau besar seperti Timor dan Sumba, kepadatan penduduk di Rote dan Sawu terbilang cukup padat jika dihitung per kilometernya. ...Peternakan memang sangat penting, namun secara khusus mereka tidak dipelihara oleh masyarakat Rote dan Sawu, melainkan dibiarkan saja berkeliaran begitu saja, karena lahan pertanian masyarakat Rote atau Sawu biasanya sudah terlindungi oleh tanaman-tanaman berpagar sehingga tidak dapat merusak lahan pertanian dan perkebunan. Hewan yang umum dijumpai di kawasan pulau-pulau kecil tersebut adalah kerbau dan babi, kerbau karena memang untuk mendukung lahan pertanian dan perkebunan, sedangkan babi karena hewan tersebut dapat diberi makan dengan limbah dari pohon lontar. ...Dari sini, terlihat bagaimana James Fox berusaha menjelaskan bahwa apa yang terjadi di pulau-pulau besar tersebut juga dipengaruhi oleh kedatangan bangsa Eropa yang memiliki model perekonomiannya sendiri. ... Rote misalnya, karena kemandiriannya terhadap pengolahan pohon lontar dan sistem pengorganisasian masyarakat dalam aktivitas ekonomi, pada akhirnya masyarakat Rote memiliki cara hitungan kerja yang patut dicontoh oleh beberapa daerah. ... Makanan tidak putus, istilah tersebut sering digunakan sebagai pola berpikir masyarakat Rote seperti halnya yang dijelaskan James bahwa bukan berarti panen akan selalu berhasil, melainkan masyarakat selalu menghitung kegagalan dalam setiap aktivitas ekonominya. ... Inilah yang kemudian melandasi bagaimana mekanisme kerja ekonomis di balik pohon lontar di Rote berbeda dengan para pemanen lontar di Madura, atau di India selatan seperti halnya yang dijelaskan James Fox pada bagian akhir. ...Mengambil contoh di Rote, pada kunjungan sembilan jam saya di Rote memang sangat terlihat bahwa hewan-hewan seperti kerbau dan babi dibiarkan begitu saja, namun di sepanjang jalan yang terlihat ada aktivitas pertanian, terlihat pula tanaman-tanaman berpagar untuk melindungi dari hewan-hewan berkeliaran. Satu hal lain yang juga menarik adalah cukup sulit untuk mencari sarapan pagi pada waktu itu, bukan tidak ada, melainkan masih banyak yang belum buka, atau mungkin mereka tidak biasa makan? ...Jika dilihat di era-era saat ini dan juga berdasarkan pengalaman kedatangan saya di Rote, jelas menunjukkan bahwa masyarakat setempat masih memakan nasi. Meskipun demikian, dari Rote sebenarnya masyarakat dapat mempelajari bahwa pada masa tersebut, ketergantungan masyarakat terhadap lontar yang sangat tinggi menjadikan hidup mereka sangat ramah lingkungan. ... Selain itu kelestarian lingkungan di Rote menjadi salah satu model yang perlu diterapkan di beberapa wilayah pertanian dan perkebunan di Indonesia. ...Hingga pada akhirnya ketertarikannya terhadap Indonesia Timur khusunya Pulau Rote membuat James menerbitkan karya lainnya tentang Rote, yakni Bahasa, Sastra, dan Sejarah: Kumpulan Karangan Mengenai Masyarakat Pulau Roti (1986).
    21 April 21 2021, 20:08
    Hartanto Rosojati
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/menimum_makanan_ala_rote.php#unique-entry-id-13
  • Article Review: Kenormalan Baru Hanya Sebatas “Click Bait”?
    Sebagai sebuah fenomena, kenormalan baru muncul atas respon masyarakat Amerika terhadap GFC dengan mulai menyederhanakan hidup mereka, mulai berfikir untuk lebih banyak menabung dan merenungkan jauh lebih kedepan atas keberlangsungan hidup mereka. ...Mengawali diskusinya, ia menunjukkan bagaimana 54 persen warga Amerika kini merasa lebih cemas terhadap hidupnya dibanding beberapa tahun sebelumnya dan 57 persen memiliki kecemasan atas masa depan keluarganya lebih dari sebenarnya. Etzioni mencoba menanyakan apakah setelah GFC, orang akan mencari kembali gaya hidup lamanya dan tetap menjadikan konsumerisme sebagai sumber kepuasan hidup atau mereka mulai mencari sumber-sumber kepuasan baru dari penggalian makna atas sebuah hubungan, budaya dan spiritual yang kemudian disebut sebagai new normal?. Meski berkaca pada kejadian resesi sebelum GFC, yakni pada tahun 1990-1991 dan 2002, nampak sebagian besar orang Amerika tetap kembali pada gaya hidup normal mereka sebelum resesi terjadi dan tetap menjadikan konsumsi sebagai jalan kepuasan hidup mereka. ... Pada rentang 2008 hingga 2010, jajak pendapat yang dilakukan oleh Newport (2009) dan Pew Research Center (2010) menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Amerika mulai mengurangi pengeluaran mereka, dengan membeli barang yang lebih murah atau meminimalisir konsumsi alokohol dan rokok, bahkan membatalkan atau memotong rencana liburan mereka. Begitu juga dengan hasil survei Corso (2010), pasca GFC, warga Amerika lebih jarang pergi ke salon untuk menata rambut mereka (38 persen) begitu juga dengan menggunakan dry cleaning (24 persen). ...Meski hasil jajak pendapat Euro RSCG Worldwide pada rentang Oktober-November 2009 menunjukkan adanya kekawatiran akan menurunnya kualitas hidup orang Amerika dengan 85 persen mengatakan masyarakat telah menjadi malas secara fisik. ...Singkatnya, sebagian besar orang Amerika mulai menyadari adanya gaya hidup yang berbeda dari pola konsumerisme yang sebelumnya sangat kental dan ada upaya untuk mendefinisikan kembali apa yang membuat hidup menjadi baik. ...Richard Easterlin (1974) dalam studinya melaporkan sebuah fenomena yang sejak itu diberi label "Paradoks Easterlin" yang mengatakan bahwa meskipun pada titik waktu tertentu, pendapatan yang lebih tinggi menghasilkan lebih banyak kebahagiaan, namun dalam jangka panjang (10 tahun atau lebih) meningkatnya pendapatan suatu negara tidak menjamin kebahagiaan warganya turut meningkat. ...Hubungan manusia pada akhirnya memiliki peran penting pada kebahagian, sebaliknya, orang yang secara sosial terisolasi cenderung kurang bahagia dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi, suasana hati yang negatif, kesedihan, permusuhan, ketakutan akan evaluasi negatif, dan persepsi stres. ...Amitai Etzioni menekankan bahwa selama ini mencari kebahagiaan dalam pola konsumerisme bisa jadi adalah sebuah hal semu, karena hal tersebut tidak akan pernah menemui titik akhirnya, dalam makna akan selalui ada yang yang lebih kaya ketika kamu mengejar kekayaan itu. ... Resesi Hebat (GFC) telah memaksa banyak orang Amerika untuk menghadapi pertanyaan apakah mereka dapat beradaptasi dengan kehidupan yang lebih keras dan apakah mereka dapat menemukan sumber kepuasan lainnya. Dari berbagai hasil survei menunjukkan bahwa proses menuju era new normal mungkin terjadi meski secara jangka panjang perlu pembuktian lebih mendalam yang turut disertai promosi untuk menahan laju konsumerisme tersebut, sebagai pembuktian bahwa tidak ada upaya kembali pada kebiasaan lama old normal. ... sebagai respon atas artikel Amitai Etzioni (The New Normal) tidak begitu sepaham bahwa hasil survei yang digunakan dalam bangunan argumentasi Etzioni betul-betul mencerminkan bahwa masyarakat Amerika telah menuju new normal pasca GFC. ... Kedangkalan Etzioni dalam memaknai hasil survei secara lebih komprehensif semakin nampak ketika Best mengatakan bahwa tidak terlalu mengejutkan untuk mengetahui bahwa sebagian besar responden survei memandang standar hidup mereka memuaskan. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Pew Center pada Juni 2008 menemukan 36 persen responden sangat puas dengan standar hidup mereka, dan 43 persen lainnya menyatakan diri agak puas. Hal tersebut sedikit lebih baik dari jajak pendapat Desember 1996 yang masing-masing menunjukkan angka 35 persen dan 40 persen terkait tanggapan sangat puas dan agak puas (Pew Research Center, 2011). Best juga mengkritik sangat mudahnya Etzioni menyatakan bahwa konsumerisme sebagai sumber utama kepuasan warga Amerika namun tidak menunjukkan jejak pendapat mana yang mendukung argumentasi identitas materialisme tersebut ketika sebaliknya ia mencatat bahwa survei secara konsisten menunjukkan bahwa kebanyakan orang mengatakan mereka menghargai keluarga, komunitas, dan agama. ... Sejalan dengan apa yang disampaikan Best, memang bangunan argumentasi yang disampaikan Etzioni sangatlah dangkal jika ingin menjawab pertanyaan yang ia tetapkan dalam artikelnya tentang new normal, bahwa ada pencarian sumber kepuasan baru diluar identitas materialisme. Setidaknya secara statistik, analisis berbasis seri waktu atau time series dibutuhkan untuk menjawab apakah memang terjadi perubahan gaya hidup dalam memaknai kebahagiaan dengan membandingkan ex-GFC dan post-GFC (difference in difference). ... Terlalu jauh apabila Etzioni pada akhirnya juga menyimpulkan jika sebagian besar orang Amerika mulai menyadari adanya gaya hidup yang berbeda dari pola konsumerisme yang sebelumnya sangat kental dan ada upaya untuk mendefinisikan kembali apa yang membuat hidup menjadi baik. ...Pada akhirnya, tanpa disadari kini new normal yang terlanjur semakin popular sebagai istilah untuk menggambarkan perubahan perilaku sebagai respon terhadap suatu kondisi tertentu (krisis) telah kehilangan maknanya. ... Karena bagi saya pribadi proses adaptasi yang terjadi atas kondisi krisis sebagai hal yang wajar, dan itu ditunjukkan dari argumentasi Best yang sebenarnya dalam data rentang waktu, tidak bisa dipastikan bahwa penggalian sumber kepuasan hidup yang tadinya bersifat material menuju hal yang lebih imateriil yakni ikatan hubungan antar personal, budaya dan spiritual adalah akibat dari adanya GFC. ...Sedikit mengkontekskan pada krisis COVID-19 yang tengah terjadi saat ini dan mulai digemborkannya new normal sebagai sebuah hal yang harus dilakukan masyarakat, tentu hanya sebagai sebuah pemaknaan semu. Karena sejatinya ketika new normal diletakkan pada keharusan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, bukankah dari dulu ketika ada wabah atau kondisi kesehatan yang tidak baik, kita memang sudah dituntut untuk lebih menjaga kesehatan seperti anjuran para dokter atau mantri?
    21 April 21 2021, 20:08
    Jefri Adriansyah
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/kenormalan_baru.php#unique-entry-id-12
  • Article Review: The Tragedy of the Commons
    Artikel berjudul The Tragedy of Commons yang ditulis oleh Garret Hardin secara garis besar berbicara mengenai fenomena populasi manusia yang semakin hari terus mengalami peningkatan, akan tetapi, tidak berbanding lurus dengan sumber daya yang ada di dunia untuk memenuhi kebutuhan populasi tersebut. Seperti apa yang dikatakan Thomas Malthus, Hardin mengibaratkan pertumbuhan penduduk seperti deret ukur (1,2,4,8…), sementara pertumbuhan sumber daya sama seperti deret hitung (1,2,3,4,5…). ...Sama seperti judul artikel yang ditulisnya, tragedy, menurut Hardin seluruh sumber daya di dunia akan berakhir dengan tragedi. ... Padang rumput ini yang disebut Hardin sebagai sumber daya bersama atau commons. Hardin mengatakan tragedi akan terjadi begitu para penggembala mengetahui hewan ternak mereka bisa secara bebas memakan rumput di padang tersebut. ... Kedatangan penggembala dan ternak akan terus berulang dan jumlahnya akan terus bertambah sampai akhirnya rumput di padang itu habis, berakhir punah karena tidak sanggup lagi menanggung beban populasi ternak. ...Hardin mengatakan alasan para penggembala membawa ternak sebanyak-banyaknya ke padang rumput tersebut karena setiap individu memiliki kebebasan serta tendensi untuk memaksimalkan sesuatu yang mereka rasa membawa manfaat secara langsung ke kehidupan mereka. Kemudian, individu juga cenderung berpikir, apabila padang rumput itu habis atau rusak, semua penggembala akan menanggung akibatnya secara bersama -–kehabisan makan ternak secara bersama. ...

    Each man is locked into a system that compels him to increase his herd without limit—in a world that is limit. Ruin is the destination toward which all men rush, each pursuing his own best interest in a society that believes in the freedom of the commons.

    ...Ilustrasi penggembala, ternak, dan kehancuran padang rumput ini jadi contoh bagaimana pertambahan populasi manusia akan menghancurkan sumber daya di dunia. Menurut Hardin, kebebasan seseorang untuk berkembang biak dan mengeksploitasi sumber daya untuk memenuhi kepentingan individu pada akhirnya akan menimbulkan kehancuran yang dirasakan oleh banyak orang. ...Alasan Thanos melakukan rencana jahatnya itu adalah karena alam semesta ini memiliki sumber daya yang terbatas, sementara populasi terus bertambah. ... Bagi Thanos, membantai setengah populasi di dunia akan membuat setengah populasi lainnya selamat serta sejahtera memaksimalkan sumber daya yang ada. ...Berbeda dengan Thanos, bagi Hardin masalah populasi dan kehacuran sumber daya ini masuk ke dalam kategori ‘no technical solution’ alias tidak bisa diselesaikan dengan solusi-solusi teknis. “They think that farming the seas, or developing new strains of wheat will solve the problem—technologically. ...Satu-satunya cara yang mungkin bisa dilakukan atau mengurangi dampak kenacuran paling tidak, menurut Hardin adalah dengan mengurangi atau menghilangkan kebebasan tersebut. Hardin kemudian memunculkan ide tentang peran pemerintah untuk mengatur kebebasan tersebut atau pengalihan kepemilikan sumber daya tersebut menjadi sumber daya kepemilikan (privatisasi). ...Kritik terhadap tragedy of commons – Hardin pun berdatangan, salah satu pengkritik Hardin yang paling terkenal adalah Elnor Ostrom. ... Kritik pertama yang disampaikan Ostrom terhadap Hardin adalah padang rumput yang diilustrasikan Hardin tidak ada dalam dunia nyata. Menurut Ostrom, akan lebih tepat jika padang rumput Hardin disebut sebagai padang bebas akses dan sumber daya bersama (commons), ...Padahal, commons itu sendiri artinya adalah kepemilikan secara bersama, dia mengakui kepemilikan secara kolektif bukan tanpa kepemilikan sama sekali atau bebas. ...Ostrom dan banyak peneliti lainnya membuktikan peran masyarakat dalam penataan sumber daya bersama tersebut lewat puluhan penelitian selama puluhan tahun. Salah satu bukunya yang terkenal berisi keberhasilan kelompok masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya berjudul ‘Governing the Commons’. Di buku ini, Ostrom mendokumentasikan berbagai contoh keberhasilan kelompok masyarakat di Swiss, Jepang, dan Filipina dalam mengelola sumber daya alam secara kolektif. ...Kedelapan atau yang terakhir, masyarakat harus bisa membangun tanggung jawab untuk mengatur sumber daya bersama di ikatan masyarakat yang paling rendan supaya seluruh sistem bisa saling berhubungan.
    21 April 21 2021, 20:08
    Darin Atiandina
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/tragedy_of_the_commons.php#unique-entry-id-11
  • Book Review: Jalan Baru Memahami Populisme
    Lebih spesifik lagi, apa kriteria yang bisa digunakan untuk menilai apakah satu-dua, atau lebih, aktor politik merupakan populis atau bukan? ...Profesor di Princeton University itu tidak mengikuti, bahkan menyoal, pendekatan umum dalam melihat populisme, yakni kualitas kebijakan yang diajukan oleh politisi atau partai politik, analisis sosiologis yang mengkaji dari sisi kelas, dan aspek sosial-psikologis yang fokus pada perasaan pemilih, seperti kemarahan dan ketakutan (h. 10; h. ... Di sini, populis menganggap diri mereka mewakili rakyat yang secara moral lebih tinggi dibandingkan elite, yang moralnya lebih rendah (19-20). ...Dengan mengikuti logika tersebut, mengkritik elite, atau anti-elite, merupakan kriteria untuk menentukan politisi atau partai politik sebagai populis (3; 20). ... Di sini, populis mengklaim bahwa mereka, dan hanya mereka, yang mewakili, apa yang mereka sebut, ‘rakyat’ (h. 3; h. ... Sebagai ilustrasi, pada salah satu kongres Partai AKP, Presiden Turki Erdoğan memberikan pernyataan ini kepada para pengkritiknya – yang juga merupakan rakyat Turki: “We are the people. ... Alih-alih menyatakan diri sebagai representasi sebagian rakyat, populis justru mengklaim kalau mereka 100% mewakili rakyat (h. ...Dengan kata lain, aktor politik hanya bisa merepresentasikan konstituen mereka, yang dalam hal ini sebagian dari rakyat. ... Meskipun berangkat dari titik tolak yang berbeda, Dzur dan Hendriks (2018: 339), misalnya, mengungkapkan bahwa populisme, lebih tepatnya populisme tebal (thick populism) – bukan populisme tipis (thin populism), tidaklah bersifat destruktif, bahkan bermanfaat, terhadap demokrasi. ... Sebagai gambaran, sejumlah penduduk lokal di Victoria, Australia membentuk organisasi masyarakat karena aktor politik, seperti politisi dan partai politik, mengabaikan penduduk lokal. Organisasi itu, sebagai perwakilan penduduk lokal, bertujuan untuk membenahi demokrasi lokal dengan cara meningkatkan kesadaran politik dan mendengarkan aspirasi penduduk lokal (Dzur dan Hendriks, 2018:340-41). ...Sebagai contoh, ketika Nigel Farage, politisi Inggris, menyatakan bahwa Brexit merupakan “victory for real people”, status orang-orang yang menentang Brexit sebagai rakyat pada akhirnya menjadi tanda tanya (h. ...Sebagaimana ketika berada di luar kekuasaan, populis juga masih mengarahkan serangan mereka kepada elite saat berkuasa, walaupun mereka pada titik itu sejatinya telah menjadi elite. Aktor politik populis, misalnya, kerap menimpakan kegagalan mereka kepada elite di dalam atau luar negeri, dan menempatkan diri mereka sebagai korban. ... Sebagai ilustrasi, Viktor Orbán dan partai pendukungnya di Hungaria mengubah peraturan untuk menempatkan para pendukung setia partai di sejumlah jabatan birokrasi yang seharusnya diisi oleh orang-orang non-partisan (h. ...Pasalnya, di benak pendukung mereka, tindakan itu bukanlah sebuah persoalan, selama korupsi terlihat dilakukan oleh populis, representasi moral ‘rakyat’, kepada ‘kita’ dan bukan kepada ‘mereka’, yang immoral. Tidaklah mengherankan, jika dalam sejumlah kasus, populis justru lebih korup dibandingkan elite yang berkuasa sebelumnya, yang dikritik korup oleh populis (h. ...Di tengah situasi itu, politisi atau partai politik non-populis kerap membangun koalisi dan mengeksklusi aktor politik populis dalam kegiatan politik. ... Kredibilitas populis akan semakin meningkat karena mereka mengklaim kalau aktor politik non-populis membentuk ‘kartel’ politik, dan secara ideologi politisi atau partai politik yang berkoalisi tidaklah berbeda (h. ...Pertama, selama populis tidak mencederai hukum – mengajak untuk melakukan kekerasan, misalnya – aktor politik, juga pelaku media massa, perlu terlibat atau berinteraksi dengan mereka. ... Pada titik ini, aktor politik non-populis bisa terlibat dengan berdiskusi terkait apa komitmen mendasar dari polity (bentuk/proses pemerintahan sipil/masyarakat) (h. ... Kedua, mengidentifikasi siapa aktor politik yang anti-elite dan mengklaim 100% mewakili rakyat dan siapa yang bukan. Di samping itu, Müller juga menekankan pentingnya membatasi kekuasaan orang kaya, dan membangun kontrak sosial baru (new social contract) kepada mereka yang tereksklusi (h. ... Namun, yang perlu digarisbawahi, sejumlah strategi yang diusulkan Müller tersebut berangkat dari pemaparannya tentang sejarah, juga kondisi yang memungkinkan, kemunculan populisme di Amerika Serikat dan Eropa. ...Harus diakui, walaupun tidak berangkat dari kajian empiris yang ketat, buku ini bisa menjadi panduan dan memberikan pemahaman baru secara teoritis bagi siapa saja yang tertarik terhadap tema populisme yang marak, atau bersinggungan, dalam politik belakangan ini.
    21 April 21 2021, 20:08
    Erwinton Simatupang
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/jalan_baru_memahami_populisme.php#unique-entry-id-10
  • Book Review: Jaringan Kekerasan dalam Ruang Sosial
    Terdapat satu benang merah yang menjadi akar utama dari serangkaian kekerasan yang muncul bertubi-tubi dalam masyarakat, Dom Helder Camara menyebutnya dengan spiral kekerasan. ...Ketidakadilan itu terjadi sebagai akibat dari upaya kelompok elit nasional mempertahankan kepentingan mereka sehingga terpelihara sebuah struktur yang mendorong terbentuknya kondisi “sub human”, yaitu kondisi hidup di bawah standar layak untuk hidup sebagai manusia normal. ...Kondisi subhuman ini selanjutnya menciptakan ketegangan terus menerus di masyarakat, mendorong munculnya kekerasan nomor 2, yaitu pemberontakan di kalangan masyarakat sipil. Dalam kondisi sub human itu manusia menderita tekanan, alienasi, dehumanisasi martabat, kemudian mendorong mereka baik yang langsung menderita tekanan struktural maupun anak-anak muda yang sudah tidak tahan lagi dengan kondisi sumpek sub human itu, melakukan pemberontakan dan protes di jalan-jalan. Kekerasan ini terjadi ketika mereka yang tertindas dan anak-anak muda dengan tegas melawan ketidakadilan untuk menuntut dunia yang lebih adil. ...Setelah konflik, protes, dan pemberontakan menyembul di jalan-jalan, ketika nomor 2 coba melawan kekerasan nomor 1, penguasa memandang dirinya berkewajiban memelihara ketertiban, meski harus dengan menggunakan cara-cara kekerasan. ... Dengan kata lain, kekerasan nomor 3 ini adalah penggunaan kekuataan dan cara-cara kekerasan oleh lembaga negara untuk menekan pemberontakan sipil. ...Kekerasan nomor 1 atau ketidakadilan mendorong pemberontakan sipil atau kekerasan nomor 2, selanjutnya hal itu mengundang hadirnya represi negara atau kekerasan nomor 3. ...Dalam kata lain, menurut Galtung, ketidak seimbangan relasi sosial semacam itu terjadi karena adanya perbedaan dalam segi ada (being)), memiliki (having), dan kedudukan dalam suatu struktur (Marzuki, 2006). ...Walaupun kondisi sub-human pada negara maju dan negara berkembang akan sangat berbeda, namun jurang antara kekayaan dan kemiskinan menunjukkan kontras yang tajam dan parah. ...Hal ini berarti bahwa kelompok mayoritas memiliki akses dan interaksi ke dalam struktur jauh lebih banyak dibandingkan kelompok yang lebih kecil. Dalam posisi tersebut, kelompok yang lebih kecil tidak diuntungkan sehingga mereka mati akibat pertukaran yang tidak adil yakni pemerasan (eksploitasi). ...Saat ini egoisme segelintir orang dengan hak istimewa (privilege) mendorong manusia yang tidak terhitung jumlahnya ke kondisi sub-human. ... Ketika hidup semakin tidak memberi harapan, kaum tertindas ataupun kaum muda bertindak untuk melawan, inilah yang disebut oleh Camara kekerasan no 1 yang berakibat pada kekerasan no 2 yaitu pemberontakan. ...Pemberontakan ini tidak hanya dilakukan oleh kaum yang tertindas saaja, kaum muda pun turut mengambil bagian dalam memperjuangkan keadilan. Ketika kaum tertindas sudah terlibat langsung dalam waktu yang cukup lama, namun jatuh dalam fatalisme karena habis harapannya atau mengalami pembungkaman, maka kaum muda turut muncul mengambil peran. ...Gambaran tentang kekerasan dan penilaian atas risiko bahwa seseorang atau kelpmpok masyarakat tertentu akan menjadi target potensial kekerasan, akibat-akibat yang timbul, dan seterusnya (Marzuki, 2006). ...Ketika konflik sudah membuat situasi protes hingga ke jalan-jalan sebagai bentuk melawan ketidakadilan, para penguasa merasa mempunyai kewajiban untuk menjaga dan memulihkan ketertiban umum. ...Intervensi militer Amerika Serikat ke sejumah negara di pelbagai belahan dunia merupakan tindakan kekerasan yang dipicu oleh kepentingan politik dan ekonomi negara adidaya itu. ... Antara tahuh 1789 sampai 1895, tentara Amerika Serikat melakukan intervensi ke negara lain sebanyak 103 kali, kemudian antara 1896 sampai 1945 sebanyak 57 kali, dan antara 1945 sampai 1991 sebanyak 218 kali (termasuk ke Grenada, Panama dan Irak) (Marzuki, 2006). ...Budaya kekerasan yang tumbuh di masyarakat oleh Johan Galtung diklasifikasikan dalam tiga tipe kekerasan yang saling bertalian yaitu kekerasan langsung, kekerasan struktural, dan kekerasan budaya. ... Ketiga bentuk kekerasan ini memasuki waktu secara berbeda, hampir sama dengan perbedaan teori gempa bumi sebagai suatu peristiwa, gerakan lapisan tektonik sebagai proses, dan jalur gempa sebagai kondisi yang lebih permanen. ...Lingkaran setan kekerasan seringkali berawal dari sudut kekerasan struktural yang ditandai dengan semakin mencoloknya perbedaan sosial yang secara perlahan mengambil karakteristik vertikal dengan terjadinya pertukaran dan distribusi yang semakin tidak adil. Kelompok-kelompok sosial yang tidak diuntungkan oleh struktur tersebut lalu secara mandiri mencari dan membuat tindakan-tindakan sosial untuk pemeliharaan dan perlawanan dirinya, salah satunya dengan cara kekerasan langsung. Hal ini tampaknya selaras dengan teori spiral kekerasan yang ditawarkan oleh Dom Helder Camara yang menjelaskan bekerjanya tiga bentuk kekerasan, yaitu kekerasan personal, institusional, dan struktural.
    21 April 21 2021, 20:08
    Nurul Fatin Afifah
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/jaringan_kekerasan_dalam_ruang_sosial.php#unique-entry-id-9
  • Book Review: Politik Popular dan Institusionalisasi Demokrasi di Indonesia
    Hanya saja, apabila kita menggunakan gelombang demokratisasi yang dikemukakan oleh Samuel Huntington sebagai kerangka argumentasi, maka kategorisasi besar berupa negara utara dan negara selatan menjadi relevan untuk membaca perkembangan populisme. ...Berbeda dengan kajian populisme yang ada, terutama dalam melihat perkembangan populisme, rata-rata kajian populisme melihat dilekatkan pada perkembangan konseptual serta studi kasus yang melekat dengan kajian-kajian sosialisme, terutama di kawasan Amerika Latin (Pappas, 2016, h.4-6). ...Buku ini hendak melihat prospek politik popular di Indonesia, terutama dengan melihat dua studi kasus yakni keberhasilan KAJS (Komite Aksi Jaminan Sosial) di Jakarta, serta kasus kontrak sosial di Solo (Model Solo), Joko Widodo (Jokowi) menjadi tokoh sentral dalam kepemimpinan popular. Buku ini hendak melihat peluang untuk menerapkan dua model tersebut (model Solo dan model KAJS) ke dalam konteks yang lebih besar. ...Dalam model kasus Solo, kontrak sosial antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) dengan elemen-elemen masyarakat sipil, telah terbangun lama. ...Hal ini digantikan dengan sosok baru yakni Jokowi yang disandingkan dengan F.X. Hadi Rudyatmo, sosok yang memiliki jejaring yang kuat di dalam internal partai dan memiliki ikatan yang kuat dengan satuan tugas (satgas) partai. ... Meski PDIP memiliki kontrol di parlemen daerah, Jokowi-Hadi Rudyatmo tetap membangun dukungan langsung dari masyarakat melalui interaksi secara langsung. ...Pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012, dukungan kelompok masyarakat sipil progresif seperti Jaringan Rakyat Miskin Kota, lebih banyak mendukung Faisal Basri. ...Oleh karenanya kontrol kebijakan yang popular seperti blusukan, tidak efektif dalam konteks masyarakat di DKI Jakarta. ...Tidak terbangun aliansi antar masyarakat sipil seperti yang terbangun dalam model sosial kontrak di Solo maupun di DKI Jakarta. ... Meski demikian, mengingat dominasi elite yang kuat dalam kontestasi nasional, gerakan-gerakan ekstraparlementer seperti yang terjadi di Solo dan DKI Jakarta tidak dapat terbentuk. ...Keberhasilan dari gerakan ini terletak pada dukungan dan jaringan kuat dari para politisi dan tekanan dari beberapa serikat yang berpengaruh, dibandingkan tekanan yang dihasilkan dari aliansi itu sendiri (ibid, h.23). ...Beberapa organisasi ekstraparlementer seperti aliansi Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) dan aliansi Konsolidasi Nasional Gerakan Buruh (KNGB) banyak mendesak pengaturan terkait dengan UMR pada tahun 2012 dan 2013. ... Dukungan politik tersebut hanya memberikan konsesi kepada elite-elite dari serikat ataupun aliansi buruh, sedangkan tidak memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan dari aliansi yang terbentuk. ...Gagasan utama dalam buku ini ada pada chapter New Challenges and Opportunities, pada bagian ini premis utama yang diutarakan adalah bahwasanya usaha demokrasi deliberatif yang dibangun melalui jalur politik popular di pemilu di tingkat nasional, harus kembali berhadapan dengan dominasi elite. ... Model kontrak sosial yang dilakukan di Solo, tidak mungkin diadopsi pada tingkat nasional, ketika dominasi elite semakin kuat. ...Salah satu jalan yang dapat diambil, terutama untuk mendorong demokrasi deliberatif adalah dengan membangun ruang baru bagi pelibatan atau partisipasi publik. ... Kontrol popular yang diharapkan terjadi dengan model Solo maupun model KAJS tidak terjadi, melainkan kontrol publik muncul pada bentuk-bentuk kebijakan popular (Popular Policies). ...Pertama, terkait dengan popular transaksional, kasus semakin sulitnya menerapkan model pembangunan yang inklusif di kasus Solo, membuat tokoh populis tersebut untuk membuat perjanjian dengan elemen masyarakat sipil secara cepat. ... Kedua, hal yang paling realistis untuk dapat mengontrol pembangunan adalah dengan cara mendorong kontrol secara langsung kepada penguasa menggunakan kekuatan popular/popular control (ibid, h.76). ...Gagasan untuk meletakkan popular control, senada dengan bahasan dari penulis serupa terkait dengan perlunya membangun block democratic yang berisikan para aktivis-aktivis dari elemen masyarakat sipil (Tornquist, 2009). Block democratic tersebut diharapkan dapat memberikan menjadi jalan untuk mendorong kontrol popular, terutama ketika demokrasi tersebut elitis. ...Secara umum, tulisan ini memberikan kontribusi yang menarik, terutama berkaitan dengan aspek politik popular dalam mendorong terbentuknya tata kehidupan demokrasi yang lebih partisipasi (deliberatif). ... Narasi dominan melihat populisme sebagai patologi demokrasi, mengingat sifatnya yang eksklusif, menggunakan retorika yang cenderung intoleran, rasis, dan xenofobia untuk melegitimasi tudingan mereka terhadap kelompok-kelompok yang dianggap tidak sesuai dengan agenda politik kelompok populis (Muhtadi, 2019, h.9). ...Kritik terhadap tulisan ini ada pada ketidakseimbangan antara dua kasus yang diangkat sebagai basis penyokong utama premis terkait politik popular dan institusionalisasi demokrasi. ...Pun demikian ketika berada di ranah provinsi (DKI Jakarta), meski ikatan antara tokoh populis dan elemen masyarakat sipil tidak serta-merta terinstitusionalisasi seperti di kota Solo.
    21 April 21 2021, 20:08
    Rafif Pamenang Imawan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/politik_popular_dan_demokrasi_indonesia.php#unique-entry-id-8
  • Book Review: Quo Vadis Muslim Demokrat Indonesia
    Pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, kita disuguhi dengan ekspresi keagamaan kelompok islam dalam proses elektoral yang belum pernah muncul sebelumnya : memusuhi, bahkan mengancam, figur yang berbeda agama, persekusi kepada orang per orang yang menjadi pendukung kubu lawan di tempat umum, hingga masifnya penggunaan masjid sebagai tempat kampanye dan agitasi politik. ... Dari rangkaian proses elektoral tersebut, muncul istilah Perang Badar meski pun sayup-sayup, seolah umat islam di Indonesia sedang dalam keadaan berperang dengan kelompok lain sebagaimana dialami Nabi Muhammad ratusan tahun yang lalu. ...Umat islam memang menjadi terbiasa dengan praktek prosedural memilih pemimpin atau wakilnya secara langsung dalam koridor demokrasi, namun justru disitulah masalahnya: menjadikan pemilu sebagai arena persaingan di satu sisi, namun di sisi lain tidak menjadikan nilai-nilai demokrasi, seperti prinsip egalitarian, toleransi, sikap saling percaya antar warga, dan lain-lain, sebagai budaya. ...Dari sini muncul pertanyaan mendasar, benarkah nilai-nilai dan budaya islam, setidaknya yang hidup dikalangan umat muslim di Indonesia, tidak sejalan dengan prinsip dan nilai demokrasi yang notabene bersifat profan? ... Dalam Bab Pendahuluan, ia berangkat dari sejumlah literatur yang meragukan, bahkan cenderung menegasikan, kontribusi positif nilai-nilai dan budaya Islam dalam praktek demokrasi, seperti yang disuarakan oleh Elie Kedourie, Bernard Lewis, dan tentu saja Samuel Huntington. Dari pandangan ketiganya kita akan sampai pada sebuah tesis, bahwa Islam bersifat antagonis terhadap demokrasi, dan karenanya demokrasi di negara-negara berpenduduk mayoritas islam tidak akan pernah berjalan dengan baik (hal.14). ...Beberapa ilmuwan sosial politik lain mencoba memberikan alternatif dalam melihat hubungan antara Islam dan demokrasi, termasuk untuk kasus umat islam di Indonesia. Namun menurut Mujani, belum ada satu pun penelitian yang sampai pada kesimpulan yang meyakinkan dan terukur mengenai hubungan islam dan demokrasi. Oleh karenanya penelitian dalam buku ini berupaya membuktikan sejumlah klaim negatif yang muncul mengenai sikap umat muslim dengan nilai dan instrumen demokrasi di Indonesia. ... Untuk membuktikan klaim negatif antara islam dan demokrasi sebagaimana disebut diatas, Mujani memulainya dengan membangun model analisis yang menghubungkan intensitas praktek ibadah dalam islam, dengan (1) modal sosial, (2) toleransi sosial politik, (3) keterlibatan dan kepercayaan terhadap institusi politik, (4) dukungan terhadap sistem demokrasi, dan (5) partisipasi politik. ...Untuk kasus Indonesia, Mujani menunjukkan tidak ada satu pun unsur islam yang memiliki korelasi yang negatif dan signifikan dengan keterlibatan dalam perkumpulan sekuler. ... Dengan demikian, hipotesa pertama yang diukur oleh Mujani, bahwa semakin islami seseorang, cenderung semakin rendah pula keterikatannya dalam aktifitas kewargaan yang sekuler, tidak terbukti di Indonesia. ...Kemudian yang tidak kalah penting ialah sanggahan atas pendapat Huntington, dan juga Kedourie, bahwa konsep negara-bangsa harus dibangun diatas ikatan primordial seperti agama. ... Secara keseluruhan, Islam turut membantu mengintegrasikan umat muslim Indonesia ke dalam sistem politik melalui keterlibatan dalam perkumpulan yang sekular, keterlibatan politik, dan partisipasi politik. ...Sebuah judul di sub-bab terakhir pada bab Kesimpulan, hanya tertulis “Munculnya Demokrat Religius”, yang berisi refleksi penulis terhadap hubungan antara Islam, dengan negara di Indonesia. Pada sub-bab tersebut secara sepintas Mujani menghadirkan kembali tautan antara islam dan negara dalam lintasan sejarah sosial politik di Indonesia, dan menutupnya dengan beberapa kemungkinan lain bagi penelitian selanjutnya. ...Dalam beberapa tahun terakhir kelompok islamis yang intoleran justru semakin aktif dalam kegiatan politik, mulai dari kelompok yang protes terhadap sistem demokrasi, hingga individu yang masuk dalam kompetisi elektoral, baik sebagai aktor politik, atau pendukung utama aktor politik tertentu. ...Pada kurun waktu survei nasional pertama (2001) hingga buku ini terbit (2007) kelompok islam yang memiliki kecenderungan intoleran memang sudah muncul. Dalam Bab Dua tentang “Islam dan Demokrasi: Asal-Usul Intelektual Dan Konteks Makro”, Mujani menghadirkan kutipan pernyataan sikap Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menyinggung hukum Islam terkait kepemimpinan perempuan dalam sosok Presiden Megawati waktu itu. ...Dalam Bab 6 Mujani memang melakukan modeling SES (Socio-Economic Status), namun penyajiannya sebatas untuk mengukur sejauh mana keterlibatan politik dan kepercayaan umat islam pada institusi politik (hal 209), bukan bagaimana umat muslim bertindak merespon kondisi sosial ekonomi dalam proses politik. Saya kira ini sedikit banyak akan membantu memahami sikap intoleran umat islam akhir-akhir ini, karena kita tahu kelompok seperti ini sudah selangkah lebih maju, dari yang tadinya sekedar mengkritik demokrasi, bergeser menjadi penggunaan wacana ketimpangan kesejahteraan yang secara umum dialami oleh umat islam, dan persepsi diskriminasi dalam penegakkan hukum formal. Dari sini, akan muncul pertanyaan besar untuk diperiksa lebih lanjut: apakah sikap intoleran muslim saat ini dipicu oleh proses evaluatif terhadap praktek demokrasi, ataukah adanya agensi yang terlibat didalamnya yang muncul pada waktu-waktu tertentu saja, seperti pada perhelatan pemilu atau pilkada. ...Kritik Airlangga Pribadi (2013) tentang peran kelompok muslim pro demokrasi dalam sistem politik kontemporer juga dapat melengkapi penelitian selanjutnya seputar islam dan demokrasi di Indonesia. Menurutnya, perlu ada evaluasi kritis terhadap elit umat islam yang kini menduduki posisi strategis, baik di pemerintahan mau pun di partai politik, untuk memeriksa apakah mereka masih konsisten dengan agenda keumatan yang progesif, atau justru terserap dan mengukuhkan posisi serta kepentingan elit oligarkis. ... Terlepas dari itu, kelebihan buku ini, seperti halnya buku lain yang dipublikasikan oleh Saiful Mujani, berada pada kekayaan literatur yang relevan dalam menerangkan berbagai konsep yang akan diuji.
    21 April 21 2021, 20:08
    Dimas Ramadhan
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/quo_vadis_muslim_demokrat.php#unique-entry-id-7
  • Book Review: Perang Tagar: Semantik Ilmu Administrasi Negara?
    Saling lempar tagar dalam ilmu administrasi negara dimulai dari terbitnya tulisan David Osborne dan Ted Gaebler yang berjudul “Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector” pada tahun 1991. ...Buku tersebut juga menjadi peletak dasar munculnya paradigma New Public Management (NPM) dalam ilmu administrasi negara. ...Terlebih tidak semua jenis barang adalah barang privat, melainkan ada juga barang publik, barang klub, dan barang komunal yang sudah tentu memiliki cara-cara khusus dalam pengelolaannya dan seluruhnya tidak dapat dikelola oleh sektor swasta, melalui mekanisme pasar. ...Pada chapter 1, yang berjudul Public Administration and the New Public Management, diulas bagaimana pentingnya menghadirkan sebuah perilaku dan penekanan baru dalam sebuah gerakan pembaharuan ilmu administrasi negara yang Denhardt dan Denhardt sebut sebagai New Public Service (NPS). ...Apabila kemudian diterapkan diskriminasi harga oleh pihak produsen layanan kesehatan, maka otomatis tidak semua masyarakat yang mendapatkan layanan kesehatan dengan harga murah akan mendapatkan kualitas layanan yang setara dengan mereka yang mampu membayar dengan harga yang lebih mahal (contoh: penerapan kelas layanan rumah sakit). ...Kepentingan umum dalam NPS dipandang sebagai hasil dari dialog tentang nilai bersama, dibanding NPM yang menekankan pada agregasi atas kepentingan individu. Sedangkan NPS memandang masyarakat sebagai citizen bukan sebagai customers seperti dalam NPM, atau clients and constituents dalam cara pandang OPA. ... Bedahalnya dengan NPM yang melihat persoalan publik hanya dipenuhi melalui penciptaan mekanisme antara agen publik dan privat, layaknya perlombaan perahu naga, pemerintah di depan (steering) dan swasta di belakang (rowing). ...Penekanan Denhardt dan Denhardt adalah pentingnya pemerinah untuk tidak secara ekslusif mementingkan sisi egois individu (customers) dalam mengakses layanan publik yang pada akhirnya menekankan logika “ada uang maka ada barang”, seperti layanan yang diberikan oleh pihak swasta. ...NPM yang popular pada tahun 1980-an hingga 1990-an, melihat pemerintah harus menciptakan arena pasar atas pilihan individu (yang dipandang sebagai customers) yang dalam mengambil keputusan tidak memandang kepentingan sesamanya. ... NPS dalam memandang kepentingan umum mencoba melakukan langkah-langkah deliberatif dengan meletakkan tanggung jawab kepada aparatur pemerintah untuk memastikan penyelesaian masalah publik dijalankan berdasar keadilan dan kesetaraan. ...Kritik pedas terhadap NPM secara gamblang disampaikan bahwa kepentingan umum lebih baik dijalankan dengan aparatur pemerintah yang memiliki kemauan untuk berkontribusi kepada warganegara dibandingkan manajer swasta yang seolah-olah uang masyarakat adalah miliknya. ...Hal ini menekankan pada NPS yang mencoba menggunakan cara-cara deliberatif dan komunikasi kepada publik untuk menentukan nilai dan kepentingan bersama. ... NPS menekankan bahwa program kebijakan tidak hanya harus difokuskan pada efisiensi dengan cara pandang penghematan biaya semata, tetapi bagaimana membuat semua pihak bergerak serempak dalam menyelesaikan persoalan publik nampak lebih efisien dari pada hanya sekedar persoalan penghematan biaya dalam kacamata NPM. ...Denhardt dan Denhardt menekankan bahwa memahami akuntabilitas dalam lingkup NPS tidaklah sederhana, aparatur pemerintah harus lebih memperhatikan pasar, mereka juga harus memperhatikan peraturan perundang-undangan, konstitusi, nilai-nilai komunitas, norma politik, standar prodesi dan kepentingan warganegara. ...Paling tidak, peran pemimpin publik adalah (1) untuk membantu masyarakat dan warganya memahami kebutuhan dan potensi mereka, (2) untuk mengintegrasikan dan mengartikulasikan visi komunitas dan berbagai organisasi yang aktif di bidang tertentu, dan (3) bertindak sebagai pemicu atau stimulus untuk bertindak. ... Diskresi lebih dibutuhkan dalam kepemimpinan publik NPS, dibanding OPA yang lebih kaku dan struktural dan NPM yang mana kepemimpinan tidak melekat pada diri seseorang melainkan keteraturan layanan publik dibentuk dari sistem insentif yang diterapkan. ...Selanjutnya, chapter terakhir berupa praktik-praktik empiris NPS yang ada di Amerika yang menggambarkan bagaimana perlunya memikirkan kembali proses, struktur dan aturan organisasi untuk membuka akses dan partisipasi kepada masyarakat dalam setiap proses tata kelola layanan publik. ... Selain tulisan Denhardt dan Denhardt yang mengkritik NPM, terdapat tulisan Osborne (2010) tentang The New Public Governance yang hadir dalam melengkapi gagasan NPM dan melihatnya sebagai batu pijakan untuk sebuah gagasan baru yang disebut sebagai NPG. ... Namun, tulisan mengenai NPG tak lebih komprehensif dalam mengkritisi NPM layaknya NPS karena hanya berupa tulisan bunga rampai yang diuntai dalam lima pokok bahasan mengenai, sosio-politik pemerintahan, tatakelola kebijakan publik, tata kelola administrasi, tata kelola kontrak, dan tata kelola jaringan. ... Tulisan dalam buku The New Public Service bagi saya memberikan perspektif yang bagus dalam membenahi celah-celah kosong yang tidak mampu dijawab oleh kehadiran NPM dalam pengelolaan kepentingan umum. Meski bagi beberapa pihak seolah perdebatan yang muncul dalam paradigma-paradigma ilmu administrasi negara tersebut tak lebih dari sekedar semantik, akan tetapi dalam praktik administrasi, tulisan Denhardt dan Denhardt begitu juga dengan tulisan Osborn dan Gaebler (1992) dan Osborne (Ed.) (2010) perbedaannya sangat kontras sekali dalam tataran praktik. Hal ini karena paradigma tersebut dibangun atas dasar empiris yang terjadi di era tulisan-tulisan mengenai hadirnya OPA, NPM, NPS dan NPG. ... Begitu juga dengan pengelolaan kesehatan di rumah sakit yang tidak bisa dengan cara NPM yang pada akhirnya cenderung diskriminatif karena menekankan public interest pada personal interest, begitu juga dengan OPA yang sangat strukturalis dan anti diskresi. Pada akhirnya perang tagar yang terjadi antara penggemar OPA, NPM, NPS maupun NPG bukan hanya sekedar persoalan semantik dalam ilmu administrasi negara.
    21 April 21 2021, 20:08
    Jefri Adriansyah
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/perang_tagar_semantik_ilmu_administrasi_negara.php#unique-entry-id-6
  • Film Review: Joshua Wong dan Gerakan Sosial di Hong Kong
    ...Ketika remaja lain seusianya sibuk menghabiskan libur musim panas dengan bermain, Joshua memilih untuk memimpin Scholarism, sebuah gerakan sosial yang memprotes rencana pemerintah untuk menerapkan program Pendidikan Nasional dan Moral (NME). ...Kisah Joshua menjadi pencetus sekaligus pemimpin Scholarism, kemudian keterlibatan pemuda itu dalam serangkaian aksi protes lainnya di Hong Kong diceritakan dengan apik oleh sutradara Joe Piscatella lewat film dokumenter berjudul ‘Joshua Wong: Teenager vs. Superpower’. ...Ada dua gerakan sosial besar yang disorot dalam film ini, yakni Scholarism dan Umbrella Movement. ... Lewat gerakan ini, Joshua mengajak para pelajar di Hong Kong menentang rencana pemerintah untuk menerapkan program Pendidikan Nasional dan Moral. ... Program ini diluncurkan karena pemerintah menilai generasi muda Hong Kong tidak memiliki sikap patriotik dan juga tidak loyal. ...Film ini menceritakan bagaimana Joshua mengajak satu persatu pelajar untuk ikut bergabung dengan cara yang paling oldskul; kampanye di jalan, hingga memanfaatkan teknologi internet. ... Ribuan massa berunjuk rasa dengan mendirikan tenda dan menginap di halaman timur kantor pemerintah pusat atau yang lebih dikenal dengan civic square. ... Akhirnya, setelah beberapa hari memenuhi civic square, Pemimpin Eksekutif Hong Kong CY Leung memutuskan untuk mengabulkan permintaan para demonstran dan program pendidikan nasional akan dibicarakan ulang. ...Scholarism jadi gerakan sosial pertama di Hong Kong yang berhasil menekan pemerintah Beijing sejak 1997, tepatnya setelah Inggris menyerahkan kekuasaan atas Hong Kong kembali China. ...Warga Hong Kong juga memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh warga China, yakni kebebasan berpendapat dan berunjuk rasa. ...Pada 2014 muncul gerakan sosial kedua yang diceritakan di film ini, yakni Umbrella Movement atau gerakan payung. ... Gerakan payung menutut pemerintah agar memberikan hak pilih, yakni kesempatan untuk warga Hong Kong menentukan pemimpinnya sendiri lewat pemilu. ...Warga Hong Kong diperkenankan memilih sendiri pemimpinnya dalam pemilu, namun calon pemimpin yang berhak untuk ikut berkontestasi harus berdasarkan pilihan pemerintah Beijing. ...Victoria Hui (2015) menilai aksi menginap di ruas-ruas jalan di pusat kota yang dilakukan massa umbrella movement tidak efektif untuk menekan pemerintah Hong Kong. ... Menurutnya, cara ini justru menguntungkan pemerintah karena para elit pebisnis yang cukup memainkan peran dalam politik Hong Kong akan mendukung pemerintah untuk menghentikan aksi demonstran. ...Sholarism, umbrella movement, dan gerakan pro-demokrasi yang saat ini berlangsung massif di Hong Kong terkenal sebagai gerakan sosial yang sangat disiplin dan tertib. Demonstran yang ikut unjuk rasa semua berpartisipasi sesuai dengan kapabilitasnya, misalnya demonstran yang berprofesi sebagai dokter dan perawat akan bertugas sebagai tim pertolongan pertama, guru dan professor akan membuka sesi belajar-mengajar, mahasiswa akan membantu siswa sekolah menegah mengerjakan pekerjaan rumah dan sebagainya. ...Mereka tersadar untuk menghadirkan demokrasi di Hong Kong tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan cara ‘jalanan’, melainkan harus masuk ke dalam sistem. ...Ada satu pesan penting yang ingin disampaikan dalam film ini, yakni pemuda memiliki peran penting dalam menentukan proses demokrasi di satu negara. ... Apa yang dilakukan Joshua beserta ratusan pelajar lain di Hong Kong sekaligus mematahkan stigma bahwa generasi muda saat ini adalah generasi yang apatis dan juga pemalas. ...Saat itu, Joshua dan ratusan warga Hong Kong lainnya tengah gencar berunjuk rasa memprotes rencana pemerintah menerapkan UU Ekstradisi di Hong Kong. ... Hampir setiap pekan, Joshua dan ratusan massa pro demokrasi lainnya menggelar unjuk rasa untuk menentang rencana tersebut . ...Dia mengatakan tidak takut sama sekali dan akan melanjutkan perlawanannya sampai keinginannya terwujud, yakni Hong Kong menjadi negara yang bebas menentukan masa depannya sendiri. Joshua juga menyampaikan kepada saya kalimat yang sama persis seperti yang dia katakana dalam film, “Anak muda harus menyadari meskipun kalian Cuma seorang pelajar, belum lulus sekolah atau perguruan tinggi, jika anda mau, maka anda dapat membuat perubahan di masyarakat.”
    21 April 21 2021, 20:08
    Darin Atiandina
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/joshua_wong_dan_gersos_di_hongkong.php#unique-entry-id-45
  • Film Review: Potret Sisi Lain Pilpres 2014
    Awal saya melihat judul film dokumenter ini, saya berpikir kalau film ini akan membahas soal kontroversi Pemilihan Presiden tahun 2014. ... Masih hangat di benak masyarakat Indonesia soal perbedaan hasil hitung cepat antara pasangan calon Presiden nomor urut 1 (Prabowo Subianto-Hatta Rajasa) dan pasangan calon Presiden nomor urut 2 (Joko Widodo-Jusuf Kalla). ...Setelah saya menonton film yang berdurasi 1 jam 15 menit ini, ternyata hal utama dari film ini bukan soal kisruh Pemilihan Presiden 2014 saja. Film yang melibatkan 19 videografer tersebut ingin menggambarkan realitas masyarakat Indonesia yang notabene sebagai pemilih di Pemilihan Presiden 2014 sekaligus ingin memotret reaksi masyarakat terhadap Pemilihan Presiden. ... Saat itu, mayoritas bahasan dan obrolan di media, baik media mainstream maupun media sosial, soal beda hasil hitung cepat dan seolah publik dibuat menunggu siapa pemenangnya dan mengapa bisa terjadi perbedaan hitung cepat tersebut. ...Mereka adalah Suparno dan Sutara yang tinggal di Jakarta, Nita yang tinggal di Ciputat (Kota Tangerang Selatan, Banten), dan Amin Jalalen, penduduk Kabupaten Indramayu (Jawa Barat). Pemilihan tiga lokasi tersebut cukup menggambarkan kehidupan masyarakat di sisi lain Jakarta, di pinggiran Jakarta, dan di daerah, dengan biaya transportasi yang cukup efisien untuk memproduksi sebuah film. ...Di Jakarta yang dikenal sebagai kota megapolitan, dalam film ini digambarkan masih ada, bahkan cukup banyak, daerah-daerah kumuh. ...Potret mengenai usia senja yang masih harus bertempur di dunia kerja dengan menjadi asisten rumah tangga harian seolah mendukung gambaran soal sulitnya memenuhi kebutuhan pokok yaitu pangan meski hidup di pinggiran Jakarta. ...Selain mengikuti keseharian empat tokoh tersebut dan menanyakan apa mimpi serta pilihan politiknya, film ini juga menceritakan soal perjalanan kampanye dari tahun 2009. Namun yang paling dominan digambarkan adalah sesuai dengan judul film yaitu perjalanan kampanye di tahun 2014 hingga beda hasil hitung cepat dan pengumuman pemenang Pemilu Presiden 2014. Imaji perjalanan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden 2014 digambarkan secara hingar bingar seperti kampanye yang dipadati massa dan pidato yang berapi-api, serta beberapa simbol Pemilu seperti pemilihan nomor urut, suasana kantor KPU, suasana pencoblosan di TPS oleh masing-masing calon Presiden, hasil hitung cepat, hasil Pemilu hingga pidato kemenangan. ...Pola interaksi politikus dan masyarakat yang dibangun oleh Dhandy seolah mengamini teori Bruno Latour yaitu politik hal (dalam bahasa Jerman "dingpolitik" dan dalam bahasa Inggris "politics of things" ), sebagai pergeseran makna dari politik praktis (dalam bahasa Jerman dikenal sebagai "realpolitik") atau politik yang tidak berakhlak/ bermoral. Politics of things atau politik-hal pertama kali dikemukakan oleh neologis di Jerman dan diterjemahkan sebagai serangkaian eksperimen yang berisiko dalam menyelidiki apa yang bisa berarti bagi pemikiran politik untuk membalikkan keadaan menjadi lebih realistis. ...Di satu sisi, lewat visualisasi dari potret keinginan masyarakat soal pemimpin negeri, Dhandy ingin memberi pesan kepada para politikus, minimal mereka peduli terhadap kaum menengah ke bawah sehingga hubungan yang terbangun antara politikus dan pemilih kaum marginal merupakan hubungan simbiosis mutualisme: politikus mendapatkan suara dari kaum marjinal dan kaum marjinal mendapatkan keuntungan berupa peningkatan kesejahteraan hidup. Namun di sisi lain, seolah pesimis terhadap politik niat baik tersebut dan kembali lagi ke politik praktis, setelah adegan pidato kemenangan, digambarkan kehidupan kaum marjinal yang tidak berubah. Nita yang masih menjadi asisten rumah tangga harian, Suparno yang masih menjadi buruh bangunan harian, Sutara yang masih menjadi tukang ojek, dan Amin yang masih menjadi petani penggarap. Secara tersirat, film ini membangunkan kita dari mimpi indah akan politik niat baik dan kembali ke realitas nyata politik praktis di mana politikus mementingkan kelompoknya saja dan mengesampingkan tanggung jawab moral terhadap kaum marjinal ini. ...Pesimisnya Dhandy terhadap politikus di negeri ini tidak terlepas dari imaji yang dibangun oleh media tentang politikus. Penelitian telah mengungkapkan bahwa penggambaran media tentang kelompok sosial dapat berkontribusi terhadap pengembangan dan pelestarian stereotip, sehingga memengaruhi interpretasi dan kecenderungan perilaku menuju target stereotip (Oliver, Hoewe, Ash, Kim, Chung, & Shade, 2014). Dalam konteks politik di Indonesia, kelompok sosial ini adalah politikus dan stereotip yang dimaksud adalah perbuatan buruk dari politikus seperti ingkar janji, korupsi, dan hanya mementingkan kelompoknya saja. ...Jika hubungan kognitif yang kuat antara politikus dan korupsi sudah ada dalam ingatan, maka ketika masyarakat dihadapkan pada politik yang tidak bermoral, masyarakat sepertinya sudah lumrah dengan situasi tersebut. ... Setidaknya masyarakat menjadi sadar bahwa mereka tidak boleh bias dalam melihat aktor politik dan membangun masyarakat untuk lebih percaya (trust) kepada aktor politik pilihan mereka. Atau paling tidak dengan menghadirkan harapan akan politik niat baik dalam film, aktor politik yang menonton film ini bisa lebih optimis dalam mengubah stereotip yang melekat pada diri mereka. ...In Badan Pusat Statistik, Agustus 2017
    21 April 21 2021, 20:08
    Nona Evita Widjanarko
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/potret_sisi_lain_pilpres_2014.php#unique-entry-id-3
  • Book Chapter Review: Materialisme dalam Ekologi Budaya
    Namun hal ini tidak sejalan dengan Frans Boas bahwa menurutnya budaya terjadi bukan karena lingkungan secara langsung, melainkan alam hanya sebatas sekat yang menyebabkan hubungan geografis dan budaya berkembang dan sekaligus terhenti. ...Oleh karena itu kita tidak bisa menafikan bahwa unsur geografis juga memiliki pengaruh, meskipun bukan yang utama dalam penentuan kebudayaan. Seorang murid Boas, Wissler, menambahkan bahwa ada hubungan kausalitas yang lebih dalam antara wilayah geografis, sumber makanan dominan, dan tentu praktik budaya. Perspektif ini lebih luas lagi, Wissler menekankan bahwa geografis bukan hanya batas-batas wilayah, tetapi juga terkait dari produksi konsumsi masyarakat. ... Secara geografis berbagai macam kebudayaan mungkin terpisah, namun bisa jadi mereka memiliki ciri kebudayaan yang sama jika dilihat dari bagaimana mereka mengolah makanan, ataupun sangat berbeda. ...Dalam The Economic and Social Basis of Primitive Bands (1936) dalam Moberg (2013), murid Kroeber yakni Steward menyebutkan bahwa praktik budayalah yang memberi ruang bagi orang atau kelompok untuk beradaptasi dengan lingkungan. ... Produksi konsumsi menjadi landasan utama terbentuknya praktik kebudayaan karena sebagian waktu yang digunakan oleh pemburu habis hanya untuk mencari makanan, dan hal ini mungkin sama dengan keterangan Wissler. ...Apa yang diyakini Steward pada dasarnya juga berasal dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan manusia dalam memproduksi yang nantinya akan memunculkan kebudayaan. ... Dalam konteks ini, sebenarnya tidak secara harafiah pada produksi makanan, namun lebih kepada bagaimana manusia menghabiskan waktunya untuk berproduki yang tentunya konteksnya bisa sangat luas. ...Apa yang dijelaskan Steward ini sebenarnya tidak lepas dari pengaruh karya Marvin Harris yang mencampurkan konsep ekologi budaya dengan beberapa aspek teori Marxis. ... Dalam The Rise of Anthropological Theory (1968), Harris menjelaskan bahwa prinsip dalam memahami ekologi budaya tidak lepas dari pendekatan etik dan emik. ... Satu hal yang mungkin diyakini hingga saat ini adalah bahwa interaksi antara alam dan kebudayaan seperti halnya teori materialis yang mengasumsikan bahwa segala sesuatu yang ada dalam sistem budaya terjadi karena berdasar dari hal yang materialistik. ...Dalam perkembangannya, ekologi dalam perspektif materialistik sering dipadukan dengan pendekatan ekonomi politik, sehingga memunculkan diskursus tentang ekologi politik yang salah satunya dipelopori Eric Wolf (1972). Dasar pemikiran Wolf berawal dari kekuatan politik dan ekonomi yang mendorong deforestasi, degradasi lingkungan dan beberapa hal lain yang mempengaruhi alam dan kondisi sosial. Namun tesis utama adalah kekuatan politik selalu berpengaruh pada fungsi ekologis, dan hal ini yang melekat pada pandangan politik ekologi yang diterapkan dalam ilmu-imu sosial dan politik. Sheridan (1988) dalam penelitiannya di barat laut Meksiko, ia menjelaskan bahwa perjuangan lokal antara petani dan peternak atas tanah dan air syarat akan analisis ekologi politik. ...Dalam beberapa pandagan di atas, menjadi tidak relevan ketika siapa yang terlebih dahulu antara alam dan manusia, namun jika dilihat melalui pendekatan ekologi politik, manusia akan selalu memegang kendali dalam ranah kepentingannya masing-masing dalam memanfaatkan sumber daya. ... Ragam kebudayaan tidak mutlak karena kondisi lingkungan sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan sebelumnya, namun kemunculan relasi kekuasaan, ketidakseimbangan, kepentingan, berimbas pada perdebatan bahkan konflik horizontal dan vertical, serta berpengaruh pada perkembangan kebudayaan. Ketika dikaitkan dengan materialism kultural Marx ataupun Harris, sudah sangat jelas bahwa budaya pada akhirnya dipengaruhi oleh ekonomi kapitalisme, yang juga dapat dilihat dalam realitas ekologi politik ataupun ekologi manusia. Seperti halnya Bryant and Bailey (1997:28) dalam Moberg (2013) yang menyimpulkan bahwa setiap perubahaan dalam kondisi lingkungan dipengaruhi secara politik dan ekonomi. ...Mungkin ini yang terlihat melalui fenomena yang terjadi di masyarakat Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada beberapa tahun lalu (republika, 07/08/17). ...Kebijakan dan himbauan dari Bupati TTU terhadap masyarakatnya adalalah sakah satu bentuk bagaimana kekuasaan sedang berupaya untuk menguasai fungsi ekologis karena ada motif materialistik, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Pada akhirnya Moberg ingin memperlihatkan bahwa studi tentang alam juga menjadi satu fakta menarik untuk dilakukan oleh ilmuan sosial karena dalam perjalanannya, studi tentang alam cenderung terpisah dengan ilmu sosial. Meskipun demikian berkembangnya ekologi politik jelas dipengaruhi oleh relasi kekuasaan yang menjadikan lingkungan sebagai obyek yang sedikit banyak berpengaruh pada kebudayaan masyarakat setempat. ...Republika.co.id, 07/08/2017. (diakses tgl 2 Mei 2020).
    21 April 21 2021, 20:08
    Hartanto Rosojati
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/materialisme_dalam_ekologi_budaya.php#unique-entry-id-62
  • Book Review: Dominasi Elite dan Penyalahgunaanya
    Meskipun demikian, faktor kepentingan pribadi dan kelompok menjadikan beberapa individu untuk membentuk ikatan tertentu dalam upaya untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan, pengakuan dan dukungan sosial untuk mempengaruhi dan mendominasi diluar diri dan kelompoknya. ...Relasi patronase di pondok pesantren, dimana patron dalam hal ini adalah dominasi Kyai dengan segala kelebihannya terhadap client (santri) yang memberikan loyalitas penuh, ketaatan dan pengabdian. Pola relasi yang demikian dalam konteks kehidupan pesantren ini saya lebih suka menyebutnya sebagai bagian sikap ta’dzim santri kepada guru (Kyai). Patronase dalam kehidupan pesantren tidak hanya antara santri dengan kyai dan ustadz namun juga terjadi pada sesama santri. ...Bagi santri yang termasuk dalam salah satu kelompok tersebut mendapatkan perlakuan khusus meskipun secara jenjang tingkatan Pendidikan di pesantren masih tergolong junior. ... Sudah menjadi rahasia umum, jika kedua kelompok tersebut melanggar peraturan pesantren misalnya, supremasi hukum bagi keduanya sering kali tumpul karena sikap segan pengurus pesantren. ...Salah satu kasus yang masih hangat adalah dugaan kasus pelecehan terhadap santriwati yang dilakukan oleh oknum Gus (Putra Kyai) salah satu pengasuh pesantren di Jombang Jawa Timur. ... "Kami juga telah mengimbau melalui tokoh-tokoh agama yang ada untuk mengajak yang bersangkutan datang ke Polda Jatim, namun ini ada pihak-pihak lain yang sengaja membuat keruh,". ...Meskipun jika kita telaah lebih dalam soal kepatutan gelar itu disematkan pada seseorang yang mungkin pada dasarnya tidak sesuai dengan kriteria dan akhlak yang tercermin dari tingkah lakunya, namun disengaja atau tidak mereka enjoy dan mengambil banyak keuntungan dari penyematan gelar tersebut. ... Jauh sebelum status silsilah “ke-Habib-anya” dipersoalkan dan terbukti dengan investigasi Rabithah Alawiyah (Organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia) Novel Bamukmin bukanlah termasuk dzurriyah Nabi Muhammad SAW , toh selama ini dia telah meraup banyak keuntungan setidaknya dari status sosial yang selama ini disematkan kepadanya. ...Novel Habib Palsu Tersandung Cinta yang ditulis oleh Ubay Baequni sangat menarik karena tidak hanya diangkat dari kisah nyata namun juga sisi lain kehidupan santri di pesantren. ...Tokoh sentral dalam novel ini adalah sekumpulan santri yang membentuk “geng elit” yang beranggotakan empat orang santri; dua dari kelompok Gus (Gus Fauzi dan Gus Haedar) dan dari Kelompok Habib (Habib Umar Bin Yahya) serta satu santri dari kelompok ahwal yakni Abdul Ghoni. ... Posisi ini bagi santri biasa adalah sebuah kehormatan karena berada pada ring satu elit yang tidak hanya mudah untuk ngalap berkah namun juga akan meningkatkan status sosialnya dimata para santri lainnya. ... Tidak hanya persoalan agama yang dibahas namun juga persoalan umum termasuk juga soal film box office tak luput dari pembahasan utama kelompok elit ini. ...Ketika mereka datang, para santri akan spontan berdiri dan menyalami dengan mencium tangan dan tidak jarang meminta do’a keberkahan dari mereka karena meyakini do’a dari Habib khususnya adalah maqbul (diterima) oleh Allah SWT. Ketika kelompok ini nongkrong di warung pesantren misalnya, santri yang ada dengan serta merta memberikan tempat duduk bahkan segan dengan meninggalkan warung karena khawatir mengganggu mereka. ...Namun tidak bagi Abdul Ghoni, meskipun diajak oleh ketiga sahabatnya yang notabene nya adalah Gus dan Habib, namun dia sadar sebagai santri biasa dia kerap merasa khawatir akan terkena hukuman berat. ...Gus Haedar menemukan momentum yang tepat untuk lebih menancapkan pengaruh yang lebih kuat ketika dia memprotes salah satu hukuman yang akan diberikan kepada santri yang notabene nya adalah Habib muda. ...Orang tua Layla pun mengalami posisi dilematis, disatu sisi dia sudah berniat menjodohkan anaknya dengan anak salah satu kerabatnya yang masih satu fam “Al-Jufri” namun disisi lain dia juga tidak tega melihat anaknya yang tampak lebih memilih Habib Haedar Mubarok Assegaf. ... Novel yang ditulis Ubay Baequni ini sangat menarik menggambarkan sisi lain kehidupan pesantren dan bagaimana dominasi elit digunakan untuk menancapkan pengaruhnya yang tidak jarang dalam prakteknya terjadi peyimpangan dari praktek patronase itu sendiri. ...Tingkah laku santri dari kalangan Gus dan Habaib dengan sebaga khowariqul adat nya berani diceritakan secara gamblang seperti “kebal hukum” perlakuan istimewa, intimidasi terhadap santri diluar kelompoknya, fakta dan fenomena ini dengan lugas diceritakannya. ... Dimana status sosial yang disematkan seperti Gus dan Habib menjadikan ujian yang sangat berat terlebih jika gelar itu tidak tercermin dari prilaku keseharian kita. ...Istilah Sayyid/Syarif dan Habib memiliki makna berbeda meskipun keduanya merujuk pada istilah yang sama untuk silsilah ahlul bait/dzurriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW. ... Sedangkan gelar Habib yang secara bahasa adalah yang dikasihi, hanya untuk Sayyid/Syarif yang memiliki kriteria khusus seperti alim, berakhlak terpuji dan menjadi panutan umat. ...Terlepas dari kekurangan yang ada, novel ini layak diapresiasi sebagai kritik sosial terhadap perilaku elit kuasa yang menyalahgunakannya predikat yang disandangnya untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya entah dia sebagai pejabat, publik figur, pemuka agama bahkan dalam skup yang paling kecil bagi setiap individu kita semua.
    21 April 21 2021, 20:08
    Ade Ghozali
    https://populicenter.org/rana_pustaka/files/dominasi_elite.php#unique-entry-id-61

Populi Center | Jakarta | 2021

© 2021 Populi Center | HUBUNGI KAMI