Menghitung Formula Ekonomi-Sosial dari Formula E Jakarta

Menghitung Formula Ekonomi-Sosial dari Formula E Jakarta

Lampu hijau perlombaan mobil listrik dunia akhirnya menyala. Kegiatan yang direncanakan prestisius itu makin jelas setelah wilayah Monas akhirnya bisa digunakan. Bagaimana hitung-hitungan keuntungan secara ekonomi, sosial, lingkungan, olahraga dan diplomasi dari kegiatan besar ini?

Populi Center dan Smart FM Network membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Menghitung Formula Ekonomi-Sosial dari Formula E Jakarta”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 15 Februari 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB, bertempat di Pizza Kayu Api, The MAJ Senayan, Jl. Asia Afrika Pintu IX, Senayan, Jakarta.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Dwi Wahyu Daryoto (Chairman of Organising  Committee Formula E Jakarta, Dirut JakPro), Sadikin Aksa (Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia), Irawan Sucahyono (Pengamat Olahraga Otomotif), dan Arief Kurniawan (Wartawan Senior Otomotif). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Mengawali diskusi, Dwi Wahyu Daryoto mengatakan pada dasarnya Formula E ini merupakan kampanye untuk mengajak masyarakat menggunakan transportasi listrik. Alasan kedua, termasuk untuk memberikan pariwisata ke masyarakat. Pemilihan wilayah di Monas untuk menunjukkan bahwa pelaksanaan berada di Indonesia, mengingat Monas merupakan tempat yang iconic. Pelaksanaan ini tentu akan memberikan dampak ekonomi yang tinggi untuk masyarakat di Jakarta.

Arief Kurniawan mengatakan bahwa mengingat sedang naik daunnya Formula E, dapat dipastikan akan menyedot para wartawan dari media internasional. Memang tidak dapat dibandingkan antara Formula 1 dan Formula E. Hanya saja berbeda dengan Formula 1, tidak ada pergantian mobil dari Formula E. Hal yang menjadi tujuan utama dari Formula E adalah untuk mempromosikan penggunaan kendaraan berlistrik.

Irawan Sucahyono mengatakan untuk event otomotif, sudah lama Indonesia tidak memiliki Event kelas dunia. Ini merupakan kesempatan yang langka untuk membuat Event otomotif. Memang Formula E merupakan street circuit, oleh karena itu jalur lintasan yang ada akan bersifat temporer, setelah satu minggu, akan dibongkar jalur lintasan tersebut. Paling tidak, Indonesia memiliki investasi untuk dapat menyelenggarakan Formula E di masa mendatang.

Sadikin Aksa mengatakan bahwa Formula E bukan lagi menjadi bagian dari industri. Apabila dalam Formula 1, terdapat misi untuk mengetes mobil, utamanya untuk memproduksi mobil. Maka dalam Formula E, misinya adalah untuk mempromosikan mobil listrik, mengingat pangsa pasarnya sudah terbentuk. Ke depan, balapan elektrik akan menjadi olah raga balapan di masa depan.

Di akhir diskusi, Irawan Sucahyono mengatakan bahwa Formula E dapat menjadi awalan yang baik bagi dunia otomotif di Indonesia. Kesempatan ini harus dimanfaatkan dan jangan sampai dilewatkan. Arief Kurniawan mengatakan bahwa tidak mudah untuk membuat Event internasional dan Formula E ini menjadi kesempatan untuk menjadikan Indonesia sorotan dunia. Sadikin Aksa mengatakan berterima kasih untuk pemerintah yang telah memberikan ijin mengadakan Event ini. Dwi Wahyu Daryoto mengatakan bahwa Formula E dapat menjadi pesan kunci ke dunia bahwa Indonesia sudah menuju ke mobil listrik.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.