Partai Dakwah Sedang Berbenah

2018-02-07T06:52:58+00:00
Indonesia
Ade Ghozaly
Ade Ghozaly
November 14, 2017

Partai Dakwah Sedang Berbenah

JAKARTA. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melakukan perubahan dalam struktur kepengurusannya. Perubahan ini disinyalir sebagai bentuk bersih-bersih partai bernafas islami tersebut dari berbagai kasus yang menerpa kadernya.

Perombakan PKS tersebut menjadi tema yang diangkat Populi Center dan Smart FM Network dalam diskusi bertajuk “Partai Dakwah Sedang Berbenah”, Sabtu (7/11) di Gado-Gado Boplo Menteng. Hadir dalam diskusi tersebut adalah

Wakil Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS Mardani Sera, Ahli Politik Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ali Munhanif, Direktur Eksekutif IndoBarometer Mohamad Qodari, dan dimoderatori oleh Ichan Loulembah.

Wakil Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS Mardani Sera dalam diskusi tersebut mengatakan perubahan yang terjadi pada tubuh PKS tidak membuat partai yang identik dengan warna putih tersebut keluar dari ideologi islam.

PKS melakukan perubahan dalam organisasinya agar lebih rapi. “Kita ingin setiap suara dihitung. Setiap kader punya hak,” ujarnya, Sabtu (7/11).

Pemilihan anggota majelis dilakukan secara demokratis dan berbasis pada jumlah kader. Mengenai arah partai PKS sendiri, ia menekankan PKS tetap menjadi partai dakwah.

Yang jelas saat ini PKS sedang merombak kadernya agar masyarakat bisa kembali memilih PKS. Sera menjelaskan, Presiden PKS Sohibul Iman menekankan bahwa haram hukumnya melakukan money politik.

Money politik merupakan penyimpangan. Maka dari itu, PKS menekankan pentingnya menjadi kader islam yang amanah. “Kader dalam pelayanan,” terangnya.

Ahli Politik Islam dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ali Munhanif menuturkan, partai islam secara luas mengalami transformasi yang terus menerus membentuk identitas politik mereka.

Partai yang muncul pasca reformasi dihadapkan pada tantangan sulit yaitu membangun jaringan massa yang luas dan berdaya tahan lama. Khusus PKS, PKS adalah partai muslim yang muncul pada awal 80-an.

Yang mencolok dari partai ini adalah ketika mereka mendeklarasikan diri sebagai partai dakwah. Ini menjadi dilema politis yang hebat di internal partai karena ketika menjadi partai maka kepentingan politik yang berbicara yaitu perolehan suara.

Sementara, ketika berdakwah yang dijaga adalah integritas, kesantunan, dan kejujuran. “Tampaknya dilema ini yang saya kira dari periode ke periode dicoba untuk diselesaikan di internal mereka,” tutur Ali.

Pada sisi lain, Direktur Eksekutif Indobarometer Mohamad Qodari menyakini kader PKS masih mengalami kegagapan dalam proses transformasi dari gerakan sosial menjadi gerakan politik. PKS belum sepenuhnya selesai dengan proses transformasi.

Tidak mudah bergeser dari gerakan dakwah tanpa suatu kekuasaan dan menjadi anggota dewan atau pimpinan partai dengan segala kekuasaan yang dipegang. Yang dulunya hanya mengaji, sekarang dituntut untuk bisa membuat Undang-Undang atau peraturan daerah.

Untuk hal ini, Qodari menyarankan PKS untuk bisa mengedepankan kader dari kalangan teknokrat. PKS merupakan gudang teknokrat yang berasal dari latar belakang pendidikan S2 dan S3.

“Untuk dunia politik yang lebih luas harus mengedepankan kelompok-kelompok ini,” tandasnya. PKS memasuki satu periode di mana pada kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) PKS tidak menjadi bagian dari kabinet.

Periode ini harus dimanfaatkan PKS untuk melakukan transformasi. Modal kultural PKS yang di dalamnya tidak terjadi konflik seperti yang terjadi pada Partai Golkar menjadi modal besar untuk bisa melakukan pembenahan.