Pekerjaan Lama Untuk Pekerjaan Baru

Pekerjaan Lama Untuk Pekerjaan Baru

JAKARTA. Presiden Jokowi mengangkat dua menteri yang telah dicopot sebelumnya yaitu Ignasius Jonan sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Archandra Tahar sebagai Wakil Menteri ESDM. Pengangkatan ini menimbulkan pertanyaan lantaran kedua sosok ini baru saja dilungsurkan dari posisinya sebagai Menteri Perhubungan dan Menteri ESDM.

Untuk melihat pengangkatan ini lebih jauh, Populi Center bekerja sama dengan Smart FM Network mengadakan diskusi Perspektif Indonesia, Sabtu (15/10) bertemakan “Pekerjaan Lama Untuk Pekerjaan Baru” di Gado-Gado Boplo Menteng. Dalam diskusi ini hadir Anggota DPR RI Dito Ganinduto, Mantan Sekmen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dr. M. Said Didu, dan Direktur Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa.

Anggota DPR Dito Ganinduto mengatakan dirinya tidak terkejut dengan penunjukan Jonan dan Archandra dan merasa penunjukan mereka berdua tepat. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana koordinasi kerja di antara menteri dan wakil menteri. “Mereka harus saling mengisi satu sama lain. Bagi tugas,” ujar Dito.

Menurut Dito, jangan sampai adanya dua posisi kepemimpinan di ESDM membuat birokrasi di kementerian tersebut semakin bertambah. Pasalnya, hal ini menyangkut berbagai persoalan yang harus segera diselesaikan di sektor migas, minerba, dan kelistrikan.

Salah satu persoalan yang perlu diselesaikan adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 yang diharapkan segera regulasinya oleh produsen dan investor. Ia menekankan pemerintah kepemimpinan baru jangan membuat kebijakan baru yang kontroversial, apalagi membuat regulasi membutuhkan proses yang lama. Mantan Sekmen BUMN Said Didu menjelaskan, kombinasi dua orang pemimpin ESDM ini bisa menyelamatkan banyak hal.

Said mengenal Jonan sebagai sosok dengan karakter kuat. Hanya saja yang perlu diwaspadai adalah posisi wakil menteri jangan sampai digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk membayang-bayangi menteri.

“Presiden mengangkat Archandra sebagai sikap politik,” terang Said. Mantan Staf Khusus Kemen ESDM ini mengaku, yang membuat dirinya was-was adalah apabila penempatan wakil menteri ini dilakukan untuk melakukan misi khusus di luar sistem. Mengenai pekerjaan yang perlu dilakukan dalam waktu dekat, Said menuturkan duet pasangan ini perlu segera duduk dengan DPR untuk menetapkan berapa cadangan mineral yang ditetapkan pemerintah mulai dari nikel, bauksit, hingga emas.

Direktur Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa menambahkan, tugas wakil menteri menurut peraturannya memang dibutuhkan untuk bisa mengelola birokrasi. Maka dari itu, dibutuhkanlah sosok yang mempunyai pengalaman di birokrasi. Mengacu pada kriteria itu, Archandra bukanlah sosok yang masuk dalam kualifikasi tersebut.

Melihat ini, Fabby menjelaskan Jonan dan Archandra adalah bentuk kompromi presiden yang mempunyai keinginan untuk memastikan ESDM tetap berfungsi dengan tata kelola yang baik. Namun, di sisi lain presiden juga tetap ingin mengakomodasi kepentingan disekelilingnya yang masih ingin mempunyai akses. “Memilih Jonan adalah pilihan objektif dan memilih Archandra adalah pilihan politis,” tandasnya.

Tags:
No Comments

Leave a Reply