Pening dan Pentingnya Media

Pening dan Pentingnya Media

Banjir informasi menjadi karakter global, media sosial ikut menyiramnya tanpa henti. Publik membutuhkan akurasi dari media massa, apalagi dalam kondisi wabah belum jelas kapan berakhir. Satu demi satu media mengalami kesulitan karena merosotnya ekonomi.

Populi Center dan Smart FM Network bekerjasama dengan the Maj membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Pening dan Pentingnya Media”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 27 Juni 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB. Diskusi dilakukan menggunakan aplikasi Zoom.

Adapun diskusi ini menghadirkan lima pembicara, yakni H. Ilham Bintang (Wartawan Senior, Pemimpin Grup C&R), Uni Zulfiani Lubis (Pemimpin Redaksi IDN Times), Teguh Santosa (Ketua Jaringan Media Siber Indonesia, CEO RMOL.id), Sapto Anggoro (Co-Founder Tirto.id), dan Arief Suditomo (Pemimpin Redaksi Metro TV, Anggota DPR 2014-2019). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Mengawali pemaparan, Ilham Bintang mengatakan bahwa masyarakat pada suatu waktu akan mulai mencari informasi sendiri, bahkan pada suatu waktu masyarakat akan coba untuk membuat berita sendiri. Sebagai contoh, bagaimana sosok seperti Deddy Corbuzier dan Bintang Emon justru membuat berita-berita jurnalistik. Saat ini merupakan situasi dimana media saat ini perannya dapat diambil oleh banyak orang, termasuk orang-orang seperti Goenawan Mohammad. Media mainstream banyak ketinggalan oleh para netizen.

Uni Zulfiani Lubis mengatakan pada saat ini bahkan di Amerika Serikat masyarakat mengatakan bahwa acara seperti Late Night Show dinilai sebagai ruang rujukan terhadap informasi. Banyak kritik bahwa jurnalis yang ada saat ini hanya merekam atau menjadi juru ketik. Saat ini terjadi banyak sekali akselerasi digital terhadap industri media. Termasuk penggunaan teknologi untuk dapat mengakses informasi dan membuat liputan-liputan bisnis. Hal ini telah dilakukan oleh IDN Times yang mayoritas berisikan anak-anak muda millennial.

Arief Suditomo mengatakan bahwa dengan hadirnya over the top, saat ini muncul konsepsi me time dimana masyarakat dapat mengakses berita kapan pun. Konsepsi citizens journalism membuat berita semakin banyak dan beragam. Pada masa lampau ada konsepsi prime time, dimana berita disampaikan pada masa-masa atau jam-jam tertentu. Industri televisi juga harus beradaptasi, termasuk membuat efisiensi dan membuat inovasi-inovasi. Jika melihat Nilson update, dominasi iklan masih dipegang oleh televisi, meskipun perkembangan pesatnya ada di media-media online.

Teguh Santosa mengatakan bahwa situasi saat ini sebenarnya sudah dapat diprediksi jauh-jauh hari. Pada tahun 2017 sudah ada 43.000 media online yang mengambil peran memberikan informasi kepada publik. Hal yang menjadi pening sekarang adalah persoalan quality of journalism dibandingkan persoalan korporasi industri medianya. Media massa bukanlah media yang tanpa salah, hanya saja berbeda dengan media sosial, penyedia media massa dapat ditagih akuntabilitasnya, sedangkan banyak pihak yang bersembunyi dalam anonimitas di media sosial.

Sapto Anggoro mengatakan bahwa di saat pandemik Covid-19 saat ini, industri media dan farmasi naik pertumbuhannya. Hanya saja iklan yang menjadi penyokong media menurun. Persoalan lainnya adalah bahwa media harus menanggung biaya-biaya baru seperti biaya sewa server hingga pembayaran dari iklan yang terlambat dikarenakan pandemik ini.

Di akhir diskusi, Sapto Anggoro mengatakan bahwa media apa pun itu harus memberikan literasi untuk peradaban ke depan. Arief Suditomo menekankan perlunya kualitas dan integritas dari media massa yang ada dengan bisnis model yang baru. Suatu saat masyarakat akan kembali ke media yang dapat dipercaya integritasnya. Teguh Santosa mengatakan bahwa pandemik Covid-19 menjadi kesempatan untuk menunjukkan integritas media massa. Uni Zulfiani Lubis mengatakan bahwa mayoritas masyarakat mengambil data dari media mainstream, terutama terkait dengan pandemik Covid-19. Ilham Bintang mengatakan bahwa pandemik covid-19 membuat para pelaku media harus mengatur media massa yang ada saat ini seperti media yang baru lahir.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.