Berburu Emas di Olimpiade

Berburu Emas di Olimpiade

Kemenpora Siapkan Pengganti Proyek Hambalang

Mereka mengusulkan bangun Olimpic Center di Cibubur.

Sabtu, 27 Agustus 2016 | 13:38 WIB, Oleh : Krisna Wicaksono, Dian Tami

VIVA.co.id – Sudah empat tahun mega proyek Hambalang terhenti. Penyebab mandeknya pembangunan kompleks olahraga yang memakan biaya Rp1,2 triliun tersebut adalah karena adanya kasus korupsi.

Namun, Komandan Satgas Program Indonesia Emas, Laksamana (purn) Ahmad Sucipto mengatakan, pemerintah akan membangun Olimpic Center, sebagai tempat atlet Tanah Air mengasah kemampuannya.

“Terus terang saja, Kemenpora memiliki keinginan untuk membangun kawasan Olimpic Center di Cibubur. Itu adalah gagasan Menteri. Enggak mungkin kita bisa membina dengan baik, kalau pusatnya enggak ada. Jadi, Olimpic Center dibuat untuk itu,” kata Ahmad di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 27 Agustus 2016.

Meski baru gagasan, Ahmad menegaskan, bila pembangunan Olimpic Center sudah harus dilakukan pada September mendatang.

“Baru gagasan, belum terlaksana. Tapi, September ini harus sudahlaunching. Sudah dapat persetujuan (dari pihak terkait),” ujar Ahmad.

Ia menegaskan, pembangunan Olimpic Center merupakan pengalihan dari proyek Hambalang, yang hingga kini tak kunjung selesai. “Iya (pengganti Hambalang), tapi dalam skala lebih kecil,” ungkapnya.

Link:  KLIK DISINI 

 

Demi Jaga Tradisi Emas, Indonesia Butuh Rp1 Triliun

Anggaran jadi salah satu faktor pendukung prestasi olahraga Indonesia.

Sabtu, 27 Agustus 2016 | 16:01 WIB, Oleh : Satria Permana, Dian Tami

VIVA.co.id – Kontingen Indonesia baru saja mengembalikan tradisi emas di Olimpiade 2016, Rio de Janeiro. Ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi tokoh utama dalam keberhasilan Indonesia meraih kembali emas di ajang Olimpiade.

Usai keberhasilan Owi/Butet, sejumlah pihak berharap tradisi emas Indonesia bisa berlanjut di Olimpiade 2020, Jepang. Bahkan, mereka juga menginginkan lebih banyak lagi atlet Indonesia yang tampil di Olimpiade 2020 nanti.

Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Ahmad Sucipto menyatakan hal tersebut bisa saja terealisasi jika ada dukungan dana yang mumpuni.

Cipto, panggilan akrab Ahmad Sucipto, menyatakan bahwa setidaknya Indonesia butuh anggaran Rp1 triliun demi meningkatkan kualitas atlet Indonesia. Asumsi tersebut muncul setelah dia meninjau anggaran dari negara-negara Asia Tenggara lainnya.

“Thailand hampir Rp2 triliun, Malaysia Rp1,7 triliun, dan Singapura Rp1,8 triliun. Itu khusus untuk olahraga individu. Sekarang, kita punya 38 cabang olahraga,” ujar Cipto, dalam acara diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu 27 Agustus 2016.

Terkait anggaran di Olimpiade 2016, Cipto pun berani buka-bukaan. Kontingen Indonesia ternyata cuma mengantongi Rp500 miliar demi menghadapi Olimpiade 2016.

“Anggaran yang diberikan di 2016, Rp500 miliar. Dipotong Rp70 miliar untuk paralimpiade. Dipotong lagi sekitar Rp136 miliar. Jadi, sisanya sekitar Rp380 miliar,” kata Cipto.

Dengan anggaran tersebut, Indonesia akhirnya finis di peringkat 46 klasemen medali. Pasukan Merah Putih berhasil mengoleksi satu medali emas dan dua perak.

Link:  KLIK DISINI 

 

Gantikan Hambalang, Kemenpora bangun Olimpic Centre untuk atlet

Reporter : Muchlisa Choiriah | Sabtu, 27 Agustus 2016 11:36

Merdeka.com – Sejumlah fasilitas olahraga di Indonesia semakin memprihatinkan. beberapa daerah, mess dan gedung olahraga untuk para atlet memang tak diperhatikan.

Melihat kondisi miris itu, Komandan Satgas Program Indonesia Emas, Laksamana (purn) Ahmad Sucipto mengaku telah mendapatkan informasi bahwasannya pemerintah akan membangun Olimpic Center, tempat atlet berlatih.

“Terus terang saja Kemenpora dalam hal ini menginisiasikan akan dibangunnya kawasan Olimpic Centre di Cibubur,” kata Ahmad di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/8).

Namun, kata dia, Olimpic Centre hanya diperuntukkan cabang olahraga prioritas Indonesia.

“Semisal panahan, angkat besi, bulu tangkis. Jadi akan dikonsentrasikan ke sana,” ujarnya.

“Karena bagaimana juga di Senayan tak bisa, lingkungan Senayan tak bisa. Di Cibubur ini pengganti proyek Hambalang yang skalanya masih direncanakan, tapi kebutuhan fasilitas lingkungan atlet itu sangat mendesak,” tambahnya.

Ditambahkannya, lokasi pembangunan di Cibubur karena lingkungannya masih asri, luas dan cukup strategis. Diharapkan, dengan lokasi yang lebih nyaman para atlet bisa berkonsentrasi.

“Sekitar September rencananya berjalan ini. Nah untuk atletik seperti sepeda dipindah ke Yogya. Atlet lari dipindah ke Cibinong. Biar mereka dilatih di sana, karena lingkungannya juga bagus,” tutupnya.

Link:  KLIK DISINI 

 

Prestasi olahraga Indonesia paling baik di era Orde Baru

Reporter : Muchlisa Choiriah | Sabtu, 27 Agustus 2016 12:33

Merdeka.com – Bulu Tangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang sering kali mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Seperti belum lama ini, torehan emas diraih ganda campuran bulu tangkis Indonesia Tontowi-Liliyana.

Meski demikian, nyatanya medali emas yang diperoleh Indonesia belakangan ini tak ada apa-apanya dibanding pada masa orde lama dan orde baru.

“Kalau olahraga dilihat sebagai prestasi, memang di orde baru prestasi atlet kita lebih bagus, tahun 1992 sampai 1994,” kata Mantan Redaktur Olahraga Budiarto Shambazy dalam diskusi di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/8).

Budi memaparkan, bisa dibongkar catatan tahun 1993-1994, di mana Indonesia mampu juara di luar negeri dengan gelaran Sea Games. Bukan seperti belakangan ini yang hanya sebagai tamu saja.

“Dan kalau ukurannya olimpiade emas, pada tahun 1992 itu kita paling baik dengan urutan ranking ranking 24 bukan ranking 46 (Indonesia menempati posisi 46 daftar akhir peraih medali Olimpiade Rio 2016),” paparnya.

Oleh sebab itu, untuk meningkatkan prestasi para atlet Indonesia, Budi memaparkan butuh strategi untuk membangkitkannya seperti selalu maju mengadakan Sea Games seperti zaman Soeharto dulu.

“Butuh strategis untuk membangkitkan, makanya supaya maju, latihan untuk Indonesia misal mengadakan Sea Games. Dulu Pak Harto diminta memasyarakatkan olahraga cukup bagus,” tutupnya.

Link:  KLIK DISINI 

Ahmad Sutjipto: Tidak Ada Keadilan Sosial Bagi Olahraga

Sabtu, 27 Agustus 2016 17:40 WIB, ‎Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Dilematis ketika olahraga sudah masuk ke dalam dunia industri.

Pada satu sisi kondisi tersebut membuat olahraga tidak lagi berorientasi prestasi melainkan uang, namun pada satu sisi dengan industrialisasi olahraga, kehidupan atlet terjamin.

‎”Olahraga kita sekarang ini memang banyak dijadikan bahan industri yang profesional, suka engga suka, artinya atlet berlaga bukan hanya demi harum bangsa tapi juga memperoleh penghasilan,” ujar Budiarto Shambazy dalam diskusi “Memburu Emas Olimpiade” di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (27/8/2016).

Kondisi tersebut menurut Budiarto dapat menjamin kehidupan atlet. Lantaran timbal balik dari prestasi yang ditorehkan adalah penghasilan yang cukup. Namun dengan olahraga yang berorientasi Industri tersebut peran pemerintah semakin kecil.

“Semua serba industri artinya keterlibatan pemerintah semakin kecil, bukan karena mereka engga mampu tapi olahraga diberikan ke industri demi penghasilan dan prestasi,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Ketua Satlak Prima, Ahmad Sutjipto tidak menampik jika olahraga yang sudah masuk ke dalam industri dapat menghidupi kebutuhan sendiri tanpa bantuan pemerintah. Namun menurutnya tidak semua olahraga dapat masuk ke dalam industri.

 

“Olahraga-olahraga prestasi itu bisa menghidupi sendiri apabila sudah masuk ke industri tapi kan tidak semua industri menerima,” katanya.

Menurut jenderal purnawirawan angkatan laut tersebut, terdapat beberapa cabang olahraga yang tetap membutuhkan bantuan pemerintah meski telah menorehkan prestasi. Terutam olahraga yang sedikit mengundang penonton.

‎”Yang memiliki branded karena mengundang penonton banyak dia bisa hidup sendiri, dia jual kaos sendiri. Tapi kaya lompat jauh walaupun juara dia harus dibantu karena tidak menghasilkan uang,” paparnya.

Menurut ahmad tiadak ada keadilan sosial dalam olahraga. Ada beberapa olahraga yang datangkan keuntungan namun ada juga yang tidak menghasilkan keuntungan. Oleh karenanya pemerintah masuk untuk dapat membina olahraga yang selama ini tidak menghasilkan pundi-pundi uang.

“Oleh karenanya pemerintah harus masuk membantu untuk jenis-jenis olahraga yang tidak punya kemungkinan menghidup sendiri,” jelasnya.

Link:  KLIK DISINI 

 

Budiarto Shambazy: Tunjangan Pensiun Buat Atlet Cuma Ilusi!

Sabtu, 27 Agustus 2016 15:39 WIB, Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat olahraga, Budiarto Shambazy, pesimistis dapat memenuhi janjinya memberikan dana pensiun kepada atlet.

“Kalau ada pemerintah memberikan jaminan masa tua untuk atlet, itu hanya ilusi,” ujar Budiarto dalam sebuah diskusi di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/8/2016).

Budiarto menyoroti rencana pemerintah melalui Kemenpora yang akan memberikan bonus kepada peraih medali pada ajang Olimpiade.

“Jadi kalau memberikan dana kaya kemarin Kemenpora memberikan peraih medali dapat Rp 20 juta tiap bulan, itu pemerintah harus serius, karena butuh dana besar, jangan menjanjikan, itu ilusi.” tambah Budiarto.

Budiarto menyarankan pemerintah untuk fokus kepada pembinaan atlet nasional. Menurutnya jika atlet berprestasi maka animo masyarakat besar dan industri akan memberikan dana sponsor.

Peraih medali emas dan perak pada Olimpiade Rio 2016 mendapatkan bonus masing-masing Rp 1 miliar dan Rp 500 juta. Para peraih medali juga mendapatkan dana pensiun sebesar Rp 20 juta bagi peraih medali emas dan Rp 10 juta untuk peraih medali perak tiap bulannya.

Penulis: Fahdi Fahlevi

Editor: Reza Gunadha

Link:  KLIK DISINI 

 

Budiarto Shambazy: Pemerintah Harus Dukung Rio Haryanto

Sabtu, 27 Agustus 2016 15:34 WIB, Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat olahraga, Budiarto Shambazy, menilai seharusnya mendukung langkah atlet Indonesia untuk berprestasi di ajang internasional.

Budiarto mencontohkan kasus didepaknya pebalap Indonesia Rio Haryanto dari ajang Formula 1 oleh timnya Manor Racing.

Menurutnya pemerintah harus mendukung Rio agar dapat menarik industri untuk mensponsorinya.

“Sekarang kebanggan kita Rio Haryanto, walau ada pro kontra. dia bisa mengajak pembalap muda ikut maju F1. Rio harapan kita. jadi kalau prestasi itu maju, maka industri muncul,” ujar Budiarto dalam diskusi di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/8/2016).

“Jadi prestasi menjadi sebuah referensi memicu supaya kita lebih hebat lagi. Hanya prestasi yang membuat semua kita hidup.”

Penulis: Fahdi Fahlevi

Editor: Reza Gunadha

Link:  KLIK DISINI 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.