Bisa Apa Setelah KAA?

Bisa Apa Setelah KAA?

Ingatkan Presiden Jangan Lupa Benahi Internal

Sabtu, 25 April 2015 , 13:00:00 WIB – Politik

JAKARTA, GRESNEWS.COM – Indonesia sukses menggelar konferensi Asia Afrika, pidato Presiden Joko Widodo pun mendapatkan sambutan hangat dari peserta KAA. Nampak dari luar Indonesia terlihat memiliki banyak kesempatan untuk berkembang lebih maju lagi. Tawaran untuk berinvestasi ke Indonesia gencar dilakukan. Namun perlu diingat, pemerintah seharus membenahi masalah internal. Misalnya dengan daya tawar terkait kemaritiman. Apalagi Presiden Joko Widodo juga sudah menyatakan sejak awal ingin membangun Indonesia sebagai negara kemaritiman. Persoalannya daya tawar Indonesia ke negara-negara lain tersebut terbentur dengan masalah domestik yang belum selesai dan politik. Peneliti LIPI Adriana Elisabeth mengatakan Indonesia harus memperbaiki semua hal di internalnya. Misalnya Presiden Joko Widodo sejak kampanyenya menyatakan akan fokus di sektor maritim. Sehingga seharusnya pemerintah mulai memfokuskan pada sektor tersebut seperti pengelolaan perikanan. “Kemaritiman harus ditata dan dibangun. Ada masalah disana misalnya kesejahteraan nelayan,” ujar Adriana ‘Bisa Apa Setelah Konferensi Asia Afrika (KAA)?’ di Gado-gado Boplo, Jakarta, Sabtu (25/4). Menurutnya Indonesia memiliki banyak potensi kelautan seperti arus laut Indonesia yang bisa mempengaruhi perubahan iklim. Ia menjelaskan kebijakan dan diplomasi luar negeri Indonesia terhadap negara Asia Afrika akan lebih mudah dilakukan ketika persoalan internal negeri ini sudah terselesaikan. Persoalannya saat ini pemerintah terlalu sibuk dengan urusan politik domestik. Selanjutnya, Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto menilai kalau mau melihat antara Jokowi dengan Jusuf Kalla seharusnya Jokowi bisa lebih fokus terhadap isu luar negeri. Tapi pada faktanya Jokowi saat ini lebih ‘tenggelam’ dalam kegiatan yang bersifat domestik khususnya soal politik. “Misalnya terkait perdagangan internasional Jokowi kurang terlihat fokus atensinya,” ujar Nico pada kesempatan yang sama. Menurutnya, akibat tekanan-tekanan politik domestik, Jokowi terlihat lebih condong memikirkan keselamatan politiknya ke depan dibandingkan persoalan-persoalan yang bersifat internasional. Padahal hubungan antara pemerintah dengan legislatif sudah lebih mencair. Sehingga seharusnya Jokowi mulai keluar dari perspektif tersebut dan mulai melihat apa yang ingin dicapai dengan adanya koridor Asia Afrika paska KAA. Sebelumnya, Indonesia menjadi tuan rumah KAA yang diadakan di Bandung dan Jakarta. Forum KAA ini menjadi momen untuk merekatkan hubungan antara negara-negara berkembang di berbagai bidang.

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Indonesia Semakin Dilirik International Usai KAA

Suci Sedya Utami – 25 April 2015 20:29 wib

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat LIPI Adriana Elisabeth mengatakan Indonesia belum termasuk sebagai negara besar, sama seperti Tiongkok. Meski belum menjadi negara yang kuat secara ekonomi, politik atau militer, namun Indonesia semakin dilirik dunia Internasional dengan pengalamannnya. Namun, menurut Adriana dari sisi politik Internasional Indonesia sangat dinanti oleh dunia. Terutama setelah diadakannya Konferensi Asia Afrika. Indonesia lambat laun kembali diperhitungkan. “Kepemimpinan Indonesia sangat ditunggu. Dalam level Asia Afrika, saya pikir kita punya potensi itu,” ulas Adriana, Sabtu (25/4/2015). Indonesia masih berpeluang untuk bertanding berkancah di dunia internasional. Selain memiliki pengalaman demokrasi yang baik, Indonesia juga pernah menjadi mediator beberapa konflik di Asia Tenggara. Contohnya membantu transisi politik di Myanmar. “Ada juga tim Indonesia yang diundang oleh Mesir untuk sharing bagaimana demokrasi bisa terus dipertahankan di Indonesia. Itu kita bisa share dengan negara-negara Asia Afrika,” ujar dia. Terlebih mengenai permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM). Secara institusional, Indonesia memiliki lembaga HAM yang lengkap, dan secara konstitusional perspektif Indonesia mengenai HAM sangatlah kuat. “Jadi dari icon itu kita punya modal untuk bisa dibagikan, tapi enggak dalam artian menggurui,” jelasnya. SUR

Link berita:  KLIK DISINI 

No Comments

Leave a Reply