Bisakah Negara Mengendalikan Harga

Bisakah Negara Mengendalikan Harga

Ekonom Nilai Pemerintah Lemah Soal Keakuratan Data Daging

Sabtu, 4 Juni 2016 12:51 WIB, Yurike Budiman/Tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –  Ahli Ekonomi Nawir Messi menyayangkan kekurang akuratan data yang dimiliki Pemerintah sehingga tidak mampu mengantisipasi stok daging sapi yang berimbas pada naiknya harga daging sebelum puasa.

“Ini terjadi karena tidak lepas dari logika ekonomi yang dimana Pemerintah tidak mengambil kebijakan tidak berdasarkan basis data yang akurat,” ujar Nawir Messi dalam dialog Perspektif Indonesia yang digelar oleh Smart FM bersama Populi Center di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (4/6/2016).

Pernyataan Nawir yang juga anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ini menanggapi keluhan pengusaha sapi atau daging terkait pernyataan Pemerintah yang blunder mengenai target harga daging sapi diturunkan hingga Rp80.000 per kilogram.

Pengusaha merasa pernyataan Pemerintah tidak cocok dengan kualifikasi daging sapi yang diinginkan.

Patokan Pemerintah harga daging sapi segar sebesar Rp80.000, padahal menurut pengusaha harga tersebut masuk kualifikasi daging secondary atau daging beku.

Nawir mengatakan, kelemahan data Pemerintah tersebut sudah terjadi sebelumnya pada lebaran tahun 2015 lalu.

“Tidak hanya bicara puasa, catatan saya, seperti daging, saya kira selama sekian tahun harga-harga tidak pernah turun. Hampir secara permanen beberapa komoditas tidak pernah turun sejak lebaran tahun lalu. Konsekuensinya kita hadapi situasi jauh lebih berat saat puasa ini,” ucap Nawir.

Penulis: Imanuel Nicolas Manafe

Editor: Johnson Simanjuntak

Link:  KLIK DISINI 

 

Pengusaha Nilai Pemerintah Tidak Nyambung Targetkan Harga Daging Sapi

Sabtu, 4 Juni 2016 11:38 WIB, Tribun Jogja/ Angga Purnama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pelaku usaha di bidang daging, Yustinus Satmoko menilai Pemerintah blunder atau tidak sambung terkait target harga daging yang ditetapkan beberapa waktu lalu.

“Yang ditargetkan Pemerintah itu daging segar, tapi patokannya harga daging beku. Itu enggak nyambung,” ujar Yustinus dalam dialog Perspektif Indonesia yang diselenggarakan oleh Smart FM bersama Populi Center di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (4/6/2016).

Yustinus yang juga sebagai Presiden Direktur Tiga Tunggal Adi Mulya ini mengatakan, harga daging segar memiliki perbedaan dengan harga daging beku.

Daging beku atau daging secondary, kata Yustinus, memiliki harga standar di Luar Negeri yaitu Rp80.000. Sementara, daging segar itu hampir menyentuh angka Rp 120.000.

“Itu saja harga Rp120.000 dapat untungnya mepet,” kata Yustinus.

Diberitakan sebelumya, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa harga daging sapi harus mencapai Rp80.000 sebelum lebaran.

“Kira-kira tiga minggu lalu saya perintahkan kepada menteri. Caranya saya tidak mau tahu, tetapi sebelum lebaran harga daging harus dibawah Rp80.000,” kata Presiden.

Penulis: Imanuel Nicolas Manafe

Editor: Johnson Simanjuntak

Link:  KLIK DISINI 

 

Maksud Jokowi Minta Harga Daging Rp80 Ribu Per Kilo

Amal Nur Ngazis, Raudhatul ZannahSabtu, 4 Juni 2016, 13:50 WIB

VIVA.co.id – Harga komoditas, khususnya pangan jelang bulan Ramadan, terus merangkak naik. Harga jual pasar sembako yang tinggi jelang Ramadan yang terjadi tiap tahun disebutkan mengikuti tiga alur yaitu persaingan, penawaran, dan permintaan.

Sementara itu, kebijakan Presiden Joko Widodo yang menginginkan harga daging Rp80 ribu per kilogram bertujuan agar rakyat Indonesia tidak membeli daging dengan harga mahal.

“Harga Rp80 ribu yang disebutkan Pak Jokowi itu harga yang bisa diterima secara internasional, supaya rakyat kita tidak membeli daging dari tetangga,” ujar Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Suharso Monoarfa, dalam diskusi bertema ‘Bisakah Negara Mengendalikan Harga?’, di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu, 4 Juni 2016.

Terkait kebijakan harga daging tersebut juga menuai tanggapan dari KIBIF, sebuah perusahaan produsen daging sapi berkualitas. Managing Director KIBIF Yustinus Sadmoko, menuturkan harga daging saat ini memang belum bisa dikendalikan.

“Harga daging yang Rp120 ribu per kilogram saja hitungannya sudah mepet, kalaupun dipaksakan dengan harga Rp80 ribu per kilogram kita harus mensubsidi berapa banyak lagi,” ujar Yustinus.

Menurutnya, rakyat itu membutuhkan daging dengan harga terjangkau. Untuk itu, kata dia, harus ada persediaan yang cukup dan harga yang sesuai dengan target pasar.

“Bagi saya, agar harga pasar bisa dikendalikan itu satu, yaitu memperhatikan target harganya dan harus menyediakan bahan pangannya (daging) dengan cukup,” ujar Yustinus. (ase)

Link:  KLIK DISINI 

 

Kenaikan Harga Bahan Pokok Baru Terjadi di Era Orde Baru

Adhitya Himawan , Nikolaus Tolen : Sabtu, 04 Juni 2016 12:57 WIB

Suara.com – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Suharso Monoarfa mengatakan bahwa kenaikan harga barang-barang pokok menjelang lebaran baru mulai terjadi pada masa Orde Baru. Kata dia, pada masa Orde lama yang dipimpin oleh Bung Karno, tidak ditemui adanya kenaikan harga bahan pokok menjelang hari raya lebaran.

“Itu sudah banyak orang mengatakan kita hadapi dari masa ke masa (fenomena kenaikan harga bahan pokok), siapa pun presidennya. Mulai dari zaman Pak Hartao dan seterusnya sampai sekarang. Kita tidak pernah dengar hal itu pada zaman Orde lama. Memang ada antrian, tapi bukan hanya jelang lebaran, tapi itu hanya  antri minyak tanah,” kata Suharso dalam diskusi bertajuk Bisakah ‘Negara Mengendalikan Harga’ di Gado-Gado Boplo Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu(4/6/2016).

Namun, dia juga mengakui bahwa ada banyak faktor sehingga masalah tersebut muncul hingga saat ini. Kemampuan ekonomi banyak orang yang mulai meningkat, membuat banyak orang ingin kembali ke kampung halalaman mereka untuk mudik pada saat menjelang lebaran.

“Dulu tidak ada yang meledak seperti saat ini ingin kembali ke kampungnya. Namun, sekarang orang kan sudah banyak yang mampu, sehingga pulang kampung ini menjadi tradisi,” kata Politisi Partai Persatuan Pembangunan tersebut.

Diketahui, sebelumnya Presiden Joko Widodo sudah menegaskan bahwa kesetabilan harga menjelang lebaran dan pada saat lebaran nanti harus bisa terwujud. Dia pun meminta agar, harga daging sapi tidak boleh melebihi angka ratusan ribu rupiah per kilogramnya.

Link:  KLIK DISINI 

 

 

Daging Sapi Segar Dipatok Rp 80 Ribu Tak Masuk Akal

Nusanews.com – Patokan harga Rp 80 ribu untuk daging sapi segar dipandang sangat tidak realistis.

Menurut pelaku usaha di bidang daging sapi, Yustinus Satmoko, pemerintah sudah salah dalam menetapkan harga daging sapi.

“Kalau pemerintah menetapkan harga daging sapi beku sampai Rp 80 ribu bisa, tapi kalau Rp80 ribu untuk daging segar nggak bisa,” ujarnya dalam diskusi dengan topik ‘Bisakah Negara Mengendalikan Harga?’ di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (4/6)

Yustinus menerangkan, di negara manapun harga daging segar pastinya lebih mahal. Terlebih biaya untuk mengimpor sapi dari luar memakan biaya yang besar.

Presiden Direktur Tiga Tunggal Adi Mulya itu menjelaskan harga impor sapi hidup bisa mencapai 3 dolar AS perkilogram, dan itu pun belum termasuk pajak bea masuk impor sebesar 5 persen, PPH 2,5 persen, penghitungan kurs, serta ongkos untuk penganguktan sapi dari pelabuhan ke kandang

“Jadi harga daging sapi segar itu bisa sampai Rp 115 sampai Rp 120 ribu. Itu juga keuntungannya kecil sekali. Jadi bukan pengusahanya yang nakal-nakal. Belum lagi kalau yang dipotong lebaran ini lebih mahal lagi, itu import-nya bulan Januari-Februari,” ujarnya

Lebih lanjut, Yustinus menambahkan, mahalnya harga dagin sapi ini juga karena permintaan pasar. Hal ini juga yang mendorong banyak sapi yang dipotong selama bulan puasa hingga lebaran nanti sehingga suplai sapi pun menjadi berkurang.

“Kalau harga sapi tetap, harga dagingnya yang naik, karena konsumen banyak jadi diwaktu lebaran ini yang motong sapi juga banyak. Akhirnya suplai kurang, semakin mahal lagi harga dagingnya,” ujar Yustinus. (rm)

[Nusanews.com]

Link:  KLIK DISINI 

 

Pemerintah Terlambat Umumkan Impor Daging ke Publik

1Berita.com, JAKARTA – Ahli ekonomi Nawir Messi menilai Pemerintah terlambat mengumumkan akan melakukan impor daging sapi kepada publik.

“Seharusnya tiga atau empat minggu lalu Menteri Perdagangan atau Menteri Pertanian memberikan sinyal bahwa Pemerintah akan impor (daging) sekian,” ujar Nawir dalam dialog Perspektif Indonesia yang digelar oleh Smart FM bersama Populi Center di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (4/6/2016).

Apabila Pemerintah telah mengumumkan impor jauh hari sebelum memasuki bulan Ramadan, maka pasar akan mendapatkan indikator yang akurat terkait stok daging sapi.

“Bahwa kalau misalnya saya tahan stok saya, maka saya akan dihajar impor yang masuk. Nah ini menurut saya tidak dilakukan Pemerintah. Ada statement Pemerintah akan impor, tapi apa?” kata Nawir.

Nawir yang juga anggota KPPU ini menilai tindakan spekulatif yang dilakukan pasar tersebut lantaran kebijakan pemerintah yang tidak jelas terkait berapa besaran impor yang akan dilakukan.

“Dengan demikian jangan berharap tidak terjadi tindakan spekulasi di pasar dengan pelepasan stok tanpa ada clearance direction yang jelas dari kebijakan bahwa Pemerintah akan mengimpor secara total sampai akhir tahun,” kata Nawir.

Link:  KLIK DISINI 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.