BLBI yang Nyaris Terlupa

BLBI yang Nyaris Terlupa

Banyak Aset Buronan BLBI di Indonesia Belum Disita

Renatha Swasty    •    23 April 2016 15:24 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur InfoBank Institute Eko B Supriyanto mendesak pihak berwenang tidak hanya fokus mengejar aset buronan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di luar negeri. Banyak aset buronan BLBI yang ada di Indonesia belum disita.

“Sebenarnya enggak perlu mengejar ke mana-mana. cukup di sini juga ada, enggak sulit juga catatannya ada, statusnya ada, tinggal mau atau tidak,” ujar Eko dalam diskusi ‘BLBI Yang Terlupakan’ di Gado-gado Boplo, Jakarta Pusat, Sabtu (23/4/2016).

Aset itu lanjut dia sampai saat ini masih bisa ditemui di jalan sekitar Sudirman-Thamrin. Tapi, pemiliknya tidak diketahui.

“Menarik, kalau kita lihat gedung di sekitar Thamrin-Sudirman, saya teringat waktu 1998, kayaknya bekas bank ini, sekarang punya siapa ya, kayaknya dia (buronan) punya juga deh,” beber Eko.

Eko tak mau merinci buronan dan gedung yang dia maksud. Tapi kata dia, seharusnya aset-aset milik buronan bisa disita.

Dari catatan yang dimiliki, Eko menyebut kala itu BI mengeluarkan Bantuan Likuiditas hingga Rp144,53 triliun. Dari sana dana Rp83 triliun bermasalah, dengan melibatkan 48 bank dan 54 orang buron dan dalam proses penyelesaian.

Meski saat ini masih berstatus buronan, aset seharusnya bisa disita. Di sinilah kata Eko peran pengadilan.

“Banyak di sini, seharusnya bisa. Pengadilan dong harusnya,” kata Eko. (MBM)

Link:  KLIK DISINI 

 

Penangkapan Samadikun Dinilai Bentuk Terima Kasih Tiongkok ke Indonesia

Renatha Swasty    •    23 April 2016 12:38 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota DPR RI Komisi III Syaiful Bahri Ruray menilai, penagkapan buronan korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono lebih dari keberhasilan BIN bekerja sama dengan pemerintah Tiongkok. Negeri tirai bambu dinilai memiliki konsensi politik ekonomi dengan Indonesia.

Syaiful mengatakan, penangkapan Samadikun di Shanghai yang memiliki lima passpor mudah, bahkan terkesan cepat. Padahal, sudah bertahun-tahun dia dikejar.

“Saya rasa ada fenomena lain di belakang itu. Saya kira harus dilihat ini bagian Konsensi RRC terhadap Indonesia,” kata Syaiful dalam diskusi ‘BLBI Yang Terlupakan’ di Gado-Gado Boplo, Jakarta Pusat, Sabtu (23/4/2016).

Politikus Golkar itu melihat, Presiden Joko Widodo memberikan konsesi ekonomi cukup banyak pada Tiongkok. Jika pada Orde Baru, Indonesia melirik Amerika Serikat dan Jerman, tapi pada pemerintahan Jokowi justru mendekat pada Tiongkok.

Hal ini kata dia terlihat dari sejumlah proyek pembangunan yang diserahkan ke Tiongkok seperti listrik, kereta cepat. Satu lagi yang diincar Tiongkok yaitu pembangunan pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia.

Konsesi ini pula kata Syaiful berkaitan dengan program Maritim Seal Pro Jalur Sutra Laut Tiongkok untuk mengamankan pasokan bahan manufaktur yang tengah mencoba jadi kekuatan besar di Asia.

“Saya kira mereka mengorbankan Samadikun belum seberapa dan ini akan ada lagi karena banyak buronan BLBI Inonesia di China. Ada Eddy Tansil yang juga buronan BLBI,” tambah Syaiful.

Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said berpendapat sama. Dia mengatakan,  hubungan ekonomi Indonesia dengan Tiongkok bagus, investasi juga banyak di Indonesia.

“Artinya mereka mau tunjukkan kita mau berterima kasih, kita membantu Anda. Samadikun tidak terlalu sulit untuk didapatkan, tidak ada kepentingan Tiongkok untuk dia,” kata Salim.

Samadikun divonis empat tahun penjara dalam kasus penyalahgunaan dana talangan dari Bank Indonesia atau BLBI senilai Rp2,5 triliun yang digelontorkan kepada Bank Modern menyusul krisis finansial 1998.

Samadikun kemudian kabur ke luar negeri dan menjadi buronan Kejaksaan Agung. Sejak 2003, kepolisian dibantu Interpol melacak keberadaan Samadikun di Singapura, China dan Australia. (MBM)

Link:  KLIK DISINI 

 

Pemulangan Samadikun Hadiah dari Konsesi Proyek Kereta Cepat China

Puji Kurniasari, Sabtu,  23 April 2016  −  10:39 WIB

JAKARTA – Anggota Komisi III DPR Syaiful Bahri Ruray mengungkapkan, pemulangan terpidana buronan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono adalah suatu bentuk pertukaran kerja sama antara Indonesia dengan China.

“China mendapat konsesi listrik yang besar dari proyek kereta cepat (MRT), ini artinya pengorbanan China untuk Indonesia karena Jokowi tengah membangun MRT seperti yang ada di China. Ini bagian dari diplomasi bagian politik ekonomi antara China dan Indonesia,” ujar Syaiful Bahri Ruray dalam diskusi Perspektif Indonesia di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta, Sabtu (23/4/2016).

Menurut Syaiful, pemulangan terhadap Samadikun itu merupakan peristiwa yang sangat aneh karena dalam penanganannya tidak seperti penangkapan seperti koruptor pada lainnya.

Pasalnya, dalam pemulangan Samadikun sangat terlihat jelas kedua tangannya tidak diborgol seperti koruptor lainnya. Bahkan pemulangannya dijemput oleh Kepala BIN Sutiyoso dan Jaksa Agung HM Prasetyo.

“Agak aneh saat penangkapannya, tidak sama dengan lainnya. Ini juga sebenarnya bukan persoalan mudah menangkapnya tapi kenapa lama ditangkap. Itu artinya ada fenomena lain di balik semua ini,” kata Syaiful.

Untuk diketahui, Samadikun adalah buronan terpidana kasus BLBI yang telah melarikan diri selama 13 tahun setelah Mahkamah Agung memvonis hukuman empat tahun penjara setelah mengetahui ada penyalahgunaan dana talangan senilai 2,5 triliun rupiah. Saat itu, Samadikun berperan sebagai Komisaris Utama PT Bank Modern yang menerima dana talangan, atas perbuatannya tersebut kerugian negara mencapai Rp169 miliar rupiah. (kri)

Link:  KLIK DISINI 

 

Samadikun Wujud Terima Kasih China Bukan Prestasi Kejagung-BIN

Puji Kurniasari, Sabtu,  23 April 2016

JAKARTA – Pemulangan terpidana buronan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono dinilai bentuk rasa terima kasih pemerintah China Indonesia, karena telah menerima kesapakatan bisnis pembangunan Light Rail Transportation (LRT) kereta cepat Jakarta-Bandung.

“Saya tekankan ini hubungan Indonesia dengan Tiongkok, jadi artinya mereka (China) tunjukkan kita (China) tau terima kasih, so kita bantu Anda (Indonesia),” ujar Guru Besar Universitas Pertahanan (Unhan) Salim Said dalam diskusi Perspektif Indonesia di GadoGado Boplo, Menteng, Jakarta, Sabtu (23/4/2016).

Selain itu, kata Salim, pemulangan Samadikun prosesnya tidak terlalu sulit karena China tidak memiliki kepentingan untuk menyulitkan pemulangan Samadikun.

“Enggak sulit kok mulangin Samadikun, China enggak punya kepentingan jadi enggak merepotkan buat pulangin Samadikun. Pertanyaannya kenapa baru bisa dipulangkan? Karena China melihat kita (Indonesia) udah punya kekuatan politik kapital,” kata Salim.

Untuk diketahui, Samadikun saat ini sudah ditahan di Lapas Salemba, sebelumnya Samadikun dipulangkan oleh pemerintah China dan dijemput langsung oleh Kepala BIN Sutiyoso serta Jaksa Agung HM Prasetyo.

Samadikun Hartono adalah mantan Komisaris Utama PT Bank Modern selama 13 tahun melarikan diri. Samadikun telah divonis bersalah dalam kasus penyalahgunaan dana talangan atau BLBI sekitar Rp2,5 triliun rupiah dan menimbulkan kerugian negara sebesar Rp169 miliar. (kri)

Link:  KLIK DISINI 

 

DPR: Ada Negosiasi Tingkat Tinggi Soal Pemulangan Samadikun

Dalam era Jokowi, China mendapat kesempatan ekonomi yang bagus.

Sabtu, 23 April 2016 | 14:48 WIB, Oleh : Endah Lismartini

VIVA.co.id –  Anggota Komisi III DPR, Syaiful Bahri Ruray mengatakan, nilai tukar yang diperoleh China atas penangkapan tersangka kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Samadikun Hartono cukup besar. Dalam pemerintahan Jokowi, China mempunyai kesempatan yang bagus dalam bidang ekonomi.

“Ada proses bargaining politik tingkat tinggi antara Indonesia dan China terkait penangkapan Samadikun. Di antaranya China saat ini punya proyek kereta cepat, investasi listrik, juga mengincar bagian timur Indonesia untuk proyek tol lautnya. Ini adalah poin yang sangat menguntungkan, sehingga penangkapan Samadikun menjadi lebih mudah,” ujar Syaiful Bahri, dalam diskusi ‘BLBI Yang Terlupakan’, di Gadogado Boplo, Jakarta, Sabtu, 23 April 2016.

Syaiful juga mengatakan, pemahaman mengenai kasus korupsi antar negara di ASEAN dan juga China belum sama. Akibat beda persepsi ini,  para “perampok” uang negara dapat berkeliaran di luar negeri.

“Dalam kasus ini, Indonesia dan berbagai negara perlu membahas diplomasi tingkat tinggi. Terlebih saat ini perang bukan lagi soal senjata, tetapi menggunakan psikologi yakni melalui kasus korupsi, narkoba dan terorisme,” kata Syaiful.

Selain itu, Ray Rangkuti, aktivis mahasiswa 1998 juga mengatakan, penangkapan Samadikun hanya persoalan kemauan dan keputusan politik. “Saya yakin pemerintah sudah mengetahui 53 sisa tersangka BLBI yang saat ini masih buron di luar sana. Tidak boleh ada pembatasan soal kejahatan BLBI, sehingga tidak ada lagi buron dalam kejahatan ekonomi,” tutur Ray.

Link:  KLIK DISINI 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.