Bung Karno Lahir Dimana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah

Bung Karno Lahir Dimana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah

Kata Sejarawan, Soekarno Pernah Disebut Lahir di Blitar

Sabtu, 06 Juni 2015 , 12:38:00

JAKARTA – Sejarawan yang telah menulis sejumlah buku biografi Soekarno, Peter Kasenda menegaskan bahwa proklamator Republik Indonesia itu tidak lahir di Blitar. Bung Karno: lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901. “Di Surabaya Soekarno lahir, saya yakin sekali,” kata Peter dalam sebuah diskusi dengan tema Bung Karno Lahir Dimana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah, di Jakarta, Sabtu (6/6). Hal ini disampaikannya menanggapi pidato Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu yang menyebut Blitar sebagai kota kelahiran Soekarno. Pidato tersebut menimbulkan polemik mengenai sejarah hidup presiden RI pertama itu. Peter menjelaskan, memang ada beberapa buku yang menuliskan Soekarno lahir di Blitar. Namun, buku-buku tersebut ditulis setelah rezim Soekarno tumbang dan Orde Baru mengambil alih pemerintahan. “Sebelum 1965 (Orde Lama), buku-buku selalu menulis Soekarno lahir di Surabaya, tapi sesudah 1965 (Orde Baru) ada buku-buku tertentu yang mengatakan di Blitar,” jelasnya. Peter menambahkan, dalam waktu dekat rumah kelahiran Soekarno di Surabaya akan dijadikan museum. Dia berharap langkah itu dapat menegaskan bahwa Soekarno lahir di Kota Pahlawan. (dil/jpnn)

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Salah Sebut Tempat Lahir Bung Karno, Jokowi Tidak Paham Sejarah?

Sabtu, 06/06/2015 13:54 WIB

MerahPutih Nasional – Penulis buku Soekarno Peter Kasenda menilai bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan Presiden yang tidak mengerti sejarah. Hal tersebut dikarenakan, Joko Widodo mengatakan bahwa kelahiran Mantan Presiden Pertama di Indonesia Soekarno itu di Blitar, Jawa Timur. “Menurut saya agak susah. Karena gini diakan seorang Presiden. Karena seorang Presiden harus melihat juga  ke presiden yang sebelumnya. Masa dia tidak mengetahui hal yang paling elementer berkaitan dengan hari lahirnya, lahirnya dimana dan meninggalnya dimana kan keterlaluan,” ujarnya di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu, (6/6). Lebih lanjut Peter mengatakan, ketika melakukan Kampanye. Jokowi merupakan Presiden yang selalu mengagung-agungkan tentang Trisakti dan Nawacita. Hal trrsebut sama persis sewaktu Presiden Soekarno menjadi Presiden. Jadi seolah-olah Jokowi mengetahui semua sejarah tentang Presiden. “Kalau dia nggak pernah sebutkan Nawacita dan Trisakti mungkin tidak terlalu Fatal. Mungkin kesalahan itu bisa dikurangi. Tapi masalahnya Satu dia presiden, kedua dia nawacita, ketiga dia trisakti yang kita tahu itu merupakan ajaran-ajaran soekarno. Tapi dia memang melakukan kesalahan elementer,” sambungya. Penulis Buku Soekarno itu mengatakan bahwa setiap Pidato yang dibaca dengan menggunakan naskah itu harus di seleksi ulang sebelum dibacakan oleh Presiden. Sementara dalam hal ini Peter menganggap bahwa Jokowi tidak membaca terlebih dahulu naskah tersebut. Sehingga terjadilah kesalahan yang fatal. “Saya melihatnya langsung dia bacakan di depan umum. Kenapa tidak dibaca sebelumnya dulu. Wah kenapa ini di blitar yah? Kan dia bisa koreksi,” ujarnya. (Rfd)

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Politikus PDIP Sebut Jokowi Penumpang di Partai

Sabtu, 6 Juni 2015 10:36 WIB, Tribunnews.com/Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hamid Basyaib menyebut Presiden Joko Widodo atau Jokowi hanyalah penumpang di dalamPDIP. “Jokowi itu penumpang. Diangkut dari halte, bukan diangkut dari terminal,” ujar Hamid dalam diskusi Populi Center dan Smart FM Network dalam Perspektif Indonesia bertajuk ‘Bung Karno Lahir Dimana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah’ di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2015). Karenanya, Hamid menilai Jokowi tidak bisa mengambil tempat yang paling tinggi di PDIP. Ia juga menilai posisi Jokowi tersebut mempengaruhi wibawanya sebagai Presiden. “Dengan credential semacam itu, cukup sulit Jokowi untuk punya tingkat wibawa sebagaimana semua bisa dibawah sayapnya, meski dia Presiden,” kata Hamid. Dari sisi kepemimpinan, Hamid menilai mantan Gubernur DKI Jakarta itu belum kelihatan jelas. Sejumlah kebijakan Jokowi banyak dikritik, diantaranya kebijakan pemangkasan subsidi bahan bakar minyak dan pengembangan energi terbarukan. “Kita tahu leadershipnya cukup disayangkan, belum kelihatan dengan jelas,” tutur Hamid.

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Sejarah Bung Karno Harus Diluruskan

Siang | 6 Juni 2015 14:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS — Pernyataan Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Kelahiran Pancasila pada 1 Juni lalu yang menyebutkan Blitar sebagai tempat lahir Bung Karno menjadi polemik. Perdebatan muncul karena beberapa sejarawan menyebut Surabaya sebagai lokasi kelahiran Soekarno, presiden pertama Indonesia. “Sejarah Bung Karno harus segera diluruskan demi kejelasan sejarah bangsa yang akan diwariskan kepada generasi penerus,” ujar sejarawan Peter Kasenda dalam diskusi “Bung Karno Lahir Dimana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah”, di Jakarta, Sabtu (6/6). Peter mengatakan, sejarah Bung Karno sengaja dikaburkan di Orde Baru demi kepentingan politik. Pengaburan sejarah tak hanya terkait tempat kelahiran Bung Karno, tetapi juga ideologi politik yang dicetuskan oleh proklamator kemerdekaan Indonesia tersebut. Sebagai sejarawan yang sudah beberapa kali menulis buku mengenai Bung Karno, Peter meyakini Bung Karno lahir di Surabaya. “Bung Karno jelas lahir di Surabaya, sesuai dengan pengetahuan sejarah saya. Keterangan tempat lahir Bung Karno di Blitar dipublikasikan di zaman Orde Baru. Ini bentuk pengaburan sejarah yang berbau politik,” tuturnya. Peter mengatakan, pemilihan tempat pemakaman Bung Karno di Blitar juga bernuansa politik. Menjelang akhir hayatnya, Bung Karno menyampaikan kepada keluarganya untuk dimakamkan di Bogor. Namun, pemerintahan Orde Baru tak menyetujuinya sehingga Bung Karno dimakamkan di Blitar. Alasan pemerintahan Orde Baru pada saat itu untuk mendekatkan Bung Karno ke makam ibunya di Blitar. “Ini juga pembelokan sejarah. Sebenarnya pemerintah Orde Baru bertujuan menjauhkan Bung Karno dari kekuasaan di Jakarta,” ujarnya. Menurut Peter, pemerintahan Orde Baru ingin menghilangkan pengaruh politik Bung Karno pasca dia meninggal. Sebab, jika dimakamkan di Bogor yang berdekatan dengan Jakarta, akses untuk ziarah dan mencari pengetahuan tentang Bung Karno lebih mudah, yang berpotensi membangun kekuatan politik. Hal inilah yang dihindari pemerintahan Orde Baru. Pemerintah diharapkan segera mempertegas sejarah mengenai Bung Karno. “Rumah yang menjadi tempat lahir Bung Karno di Surabaya mungkin bisa dijadikan situs sejarah. Ini akan memperjelas polemik yang terjadi sekarang ini (tempat kelahiran Bung Karno),” ucapnya. Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said mengatakan, ada upaya pengaburan sejarah mengenai Bung Karno yang dilakukan pemerintahan Orde Baru. Upaya ini juga terkait dengan pengerdilan pengaruh politik Bung Karno yang sangat berkuasa di Orde Lama. “Sebagai tokoh besar, sejarah Bung Karno memang penuh polemik. Apalagi, dia hidup di beberapa masa politik, seperti pra kemerdekaan, Orde Lama, hingga awal Orde Baru. Jadi, sejarah tentang Bung Karno sulit dilepaskan dari nuansa politik,” ujarnya. (B07)

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Sejarawan: Bung Karno Lahir di Surabaya, Bukan di Blitar

Sabtu, 6 Juni 2015 10:22

WARTA KOTA, MENTENG – Sejarawan yang juga penulis bukuSoekarno, Peter Kasenda menegaskan presiden pertama Indonesia bukan lahir di Blitar, melainkan lahir di Surabaya. Dirinya mengoreksi pernyataan presiden Joko Widodo yang mengatakan tokoh proklamator itu lahir di Blitar. “Bung Karno lahir di Surabaya. Bukan di Blitar,” kata Peter dalam diskusi bertema ‘Bung Karno Lahir Dimana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah’ di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6//6/2015). Peter mengakui, terjadi kekeliruan mengenai tempat lahir Bung Karno apalagi setelah tahun 1965. Menurutnya, sebelum terjadinya prahara tahun 1965, buku-buku yang beredar di Indonesia selalu menyebutkan Bung Karno lahir di Surabaya bukanlah di Blitar, namun setelah tahun 1965 ada buku-buku yang menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar. “Ada buku-buku yang diproduksi oleh negara setelah tahun 1965 menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar. Itu berarti ada yang menggeser seolah-olah sejarah Bung Karno dikaburkan,” tuturnya. Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo menghadiri peringatan puncak Hari Lahir Pancasila di Alun-alun Blitar, Jawa Timur, Senin (1/6/2015). Saat berpidato, Presiden ke-7 RI tersebut mengaku selalu mengalami hal yang sama saat datang ke kota tempat Soekarno dimakamkam. “Setiap kali saya berada di Blitar kota kelahiran proklamator kita, Bapak Bangsa kita, Bung Karno hati saya selalu bergetar. Getaran ini senantiasa muncul karena di kota ini, kita secara bersama-sama menghayati, semangat yang bersumber pada ide dan gagasan besar bung Karno,” kata Jokowi.

Penulis: M Zulfikar, Editor: Dian Anditya Mutiara

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Sejarawan: Bung Karno Lahir di Surabaya

Sabtu, 6 Juni 2015 10:11 WIB, TRIBUN BALI/RIZAL FANANY

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sejarawan yang juga penulis buku Soekarno, Peter Kasenda menegaskan presiden pertama Indonesia bukan lahir di Blitar, melainkan lahir di Surabaya. Dirinya mengoreksi pernyataan presiden Joko Widodo yang mengatakan tokoh proklamator itu lahir di Blitar. “Bung Karno lahir di Surabaya. Bukan di Blitar,” kata Peter dalam diskusi bertema ‘Bung Karno Lahir Dimana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah’ di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6//6/2015). Peter mengakui, terjadi kekeliruan mengenai tempat lahir Bung Karno apalagi setelah tahun 1965. Menurutnya, sebelum terjadinya prahara tahun 65, buku-buku yang beredar di Indonesia selalu menyebutkan Bung Karno lahir di Surabaya bukanlah di Blitar, namun setelah tahun 65 ada buku-buku yang menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar. “Ada buku-buku yang diproduksi oleh negara setelah tahun 65 menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar. Itu brarti ada yang menggeser seolah-olah sejarah Bung Karno dikaburkan,” tuturnya. Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo menghadiri peringatan puncak Hari Lahir Pancasila di Alun-alun Blitar, Jawa Timur, Senin (1/6/2015). Saat berpidato, Presiden ke-7 RI tersebut mengaku selalu mengalami hal yang sama saat datang ke kota tempat Soekarnodimakamkam. “Setiap kali saya berada di Blitar kota kelahiran proklamator kita, Bapak Bangsa kita, Bung Karno hati saya selalu bergetar. Getaran ini senantiasa muncul karena di kota ini, kita secara bersama-sama menghayati, semangat yang bersumber pada ide dan gagasan besar bung Karno,” kata Jokowi. Jokowi juga teringat dengan pidato Bung Karno 1 Juni 1945 dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Saat itu Soekarno menyatakan bahwa Pancasila berkobar-kobar dalam dadanya berpuluh tahun. “70 tahun lalu dihadapan BPUPKI beliau menyatakan, diterima atau tidak terserah saudara-saudara, tapi saya sendiri mengeri seinsyaf-insyafnya, bahwa ngga ada satupun negara yang bisa menjelma (merdeka) dengan sendirinya,” kata Jokowi.

Link berita:   KLIK DISINI 

 

Jokowi Harus Klarifikasi, Bung Karno Lahir di Surabaya

JAKARTA – Sejarawan, Peter Kasenda, angkat bicara terkait pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan tempat lahir Presiden Indonesia pertama, Soekarno, di Blitar, Jawa Timur. Menurutnya, Jokowi harus mengklarifikasi dan menegaskan bahwa tempat lahir Bung Karno itu di Surabaya. “Iya, iya, untuk itu dia bisa lakukan klarifikasi, Jokowi kan juga pernah melakukan kesalahan dan dia klarifikasi. Sampai sekarang kita tunggu saja klarifikasi beliau,” ujarnya dalam diskusi ‘Bung Karno Lahir di Mana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah’, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2015). Penulis buku tentang kehidupan dan pemikiran Soekarno itu menuturkan, bentuk klarifikasi dari Jokowi bisa dilakukan dengan membuat buku kecil yang berisikan tentang riwayat hidup dari ‘Putra Sang Fajar’ itu. Termasuk, lanjut Peter, riwayat dari Presiden serta tokoh lainnya. “Atau bisa Presiden Jokowi bikin buku kecil untuk menjelaskan riwayat hidup Bung Karno dan termasuk mantan presiden lain serta para tokoh Indonesia. Kan sudah membangun museum kepresidenan,” tuturnya. Peter mengatakan, pasca-pidato Jokowi di Hari Pancasila 1 Juni lalu, masyarakat masih menunggu klarifikasi Presiden Jokowi mengenai pernyataannya yang keliru menyebut tempat lahir Bung Karno. “Sampai sekarang kan masyarakat menunggu. Apakah Presiden Jokowi akan minta maaf dan mengakui kesalahan beliau atau dia tidak menyatakan minta maaf, tetapi langsung melakukan perbuatan yang memberi kesan dia minta maaf atas kesalahannya itu,” ungkapnya. (fal) (uky)

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Soekarno Dimakamkan di Blitar karena Politik Orde Baru

JAKARTA – Sejarawan Peter Kasenda menegaskan bahwa Blitar merupakan lokasi presiden pertama RI, Soekarno, dimakamkan dan bukan tempat kelahirannya. Ia mengatakan, Soekarno dimakamkan di Blitar karena kepentingan politik pemerintahan Orde Baru dari Presiden Soeharto. “Saat itu istrinya mengatakan Soeharto ingin dimakamkan di Bogor, tetapi oleh pemerintah selanjutnya (Presiden Soeharto) dimakamkan di Blitar. Faktor lain itu karena ingin menjauhkan kegaduhan politik saat itu,” ujar Peter dalam diskusi ‘Bung Karno Lahir di Mana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah’, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2015). Menurut penulis buku tentang kehidupan dan pemikiran Soekarno ini, alasan menjauhkan lokasi pemakaman Proklamator RI itu dari pusat pemerintahan Orde Baru karena terbukti saat ini dengan peziarah yang jumlahnya hingga 500 ribu setiap tahunnya. “Kita harus tahu ziarah politik 400 sampai 500 ribu orang setiap tahun ke makam Bung Karno. Saat berziarah di situ ada dua tujuan. Pertama, rumah keluarga Bung Karno; dan kedua, makamnya,” terang Peter. Hal senada diungkapkan oleh guru besar dari Universitas Pertahanan, Salim Said. Menurut dia, alasan utama presiden kedua RI, Soeharto, memilih memakamkan Putra Sang Fajar di Blitar karena untuk menjauhkan dari pusat kekuasaan Orde Baru. “Soalnya simpel sekali. Soekarno dimakamkan di Blitar karena keputusan Pak Harto itu keputusan politik. Menjauhkan makam Soekarno dari kekuasaan. Itu untuk menghindari ziarah politik atau ziarah benaran,” tutupnya. (fmi)

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Masih Dikritik, ‘Keseleo’ Lidah Jokowi soal Bung Karno

Kali ini Presiden dikritik oleh sejarawan.
Ardi Mandiri , Agung Sandy Lesmana : Sabtu, 06 Juni 2015 10:35 WIB

Suara.com – Sejarahwan Peter Kasenda mengkritik pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut jika Presiden pertama Indonesia Soekarno lahir di Blitar. Menurut penulis sejumlah buku yang mengangkat kehidupan dan pemikiran Soekarno itu, sang Proklamator lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 silam. Bahkan menurutnya, Bung Karno tinggal di Kota Pahlawan itu. “Di Surabaya Soekarno lahir, saya yakin sekali. Sebelum 1965, buku-buku selalu menulis Soekarno di Surabaya, tapi sesudah 1965 ada buku-buku tertentu yang mengatakan di Blitar,” kata Peter dalam diskusi ‘Bung Karno Lahir Dimana?: Bagaimana Kita Memperlakukan Sejarah’, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2015). Dikatakan Peter, jika Pemerintah Surabaya berencana membeli rumah yang menjadi tempat lahir Bung Karno untuk dijadikan sebagai museum. “Ini ingin menegaskan bahwa Soekarno lahir di Surabaya dan tinggal di sana. Surabaya tempat lahirnya mau dilestarikan dengan rencana mau dibeli oleh Pemerintah Kota Surabaya,” kata dia. Sebelumnya Jokowi menyebut bahwa kota kelahiran Bung Karno adalah Blitar. Kekeliruan itu diucapkan Jokowi pada Peringatan hari Lahir Pancasila 1 Juni lalu di Blitar, Jawa Timur.  Padahal, yang sebenarnya, presiden pertama Indonesia itu dilahirkan di Surabaya. Anggota Tim Komunikasi Publik Presiden, Sukardi Rinakit, mengaku sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas salah ucap Jokowi  ihwal kota kelahiran Bung Karno. Sukardi juga meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya kepada keluarga Bung Karno. Ke depan, Sukardi berjanji akan berhati-hati dalam memberikan informasi, khususnya yang berkaitan dengan perjalanan sejarah bangsa.

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Sejarawan: Soekarno Lahir di Surabaya

Slamet Riadi Sabtu,  6 Juni 2015  −  11:41 WIB

JAKARTA – Tempat kelahiran Presiden pertama Soekarno menjadi perdebatan setelah peringatan Hari Lahir Pancasila di Kota Blitar pada Senin 1 Juni lalu. Musababnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Soekarno lahir di Blitar. Peter Kasenda, Sejarawan dan  Penulis beberapa Buku Soekarno meyakini, bahwa Bung Karno lahir di Surabaya, Jawa Timur. “Yakin sekali (Soekarno) lahir di Surabaya,” kata Peter dalam diskusi di Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2015). Peter menjelaskan, setelah prahara tahun 1965, banyak buku-buku yang diproduksi oleh negara menyebut bahwa Soekarno lahir di Blitar. Hal itu diyakini ada motif tertentu oleh pemerintah saat ini. Bapak Megawati Soekarnoputri itu dimakamkan di Blitar lantaran sangat mencintai ibunya. Waktu, Soerkarno akan dimakamkam di Bogor, Jawa Barat. “Soekarno lahir di Surabaya dan dimakamkan di Blitar karena sangat mencintai ibunya, dimakamkan berdampingan (dengan) ibunya,” kata dia. Sementara Salim Said, Guru Besar Universitas Pertahanan mengatakan, selain Soekarno sangat mencintai ibunya. Soekarno dimakamkam di Blitar merupakan keputusan politik dari Presiden ke 2 Soeharto. “Menjauhkan dari pusat kekuasaan. Keputusan Pak Harto dimakankam di Blitar keputusan politik,” tegas Salim.

Link berita:  KLIK DISINI 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.