Hanya Bisa Pasrah dengan Tertekannya Rupiah?

Hanya Bisa Pasrah dengan Tertekannya Rupiah?

Pejabat Keuangan Diminta Tak Asal Bicara soal Pelemahan Rupiah

Sabtu, 14 Maret 2015 | 14:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pejabat keuangan negara diminta tak asal berbicara mengenai situasi pelemahan rupiah atas dollar AS yang dihadapi Indonesia saat ini. Pernyataan pejabat yang tidak tepat dinilai malah menimbulkan kekhawatiran publik. “Dengan berbagai macam statement pemerintah selama ini, kalau pemerintah bilang bahwa kondisi ini masih wajar dan menguntungkan, publik akan menilai tidak ada rasa effort (upaya) dan tanggung jawab. Ini persoalan sederhana, tapi butuh model komunikasi yang dibangun,” ujar Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati dalam diskusi Perspektif Indonesia di Jakarta, Sabtu (14/3/2015). Menurut Enny, selama ini pemerintah menyampaikan bahwa pelemahan rupiah dianggap wajar, karena semua mata uang mengalami pelemahan. Namun, ia mengatakan, hal itu sebenarnya hanya berlaku bagi negara-negara yang nilai ekspornya cukup tinggi. Pengamat politik Populi Center Nico Harjanto mengatakan, pernyataan pejabat keuangan negara saat terjadi pelemahan rupiah menunjukan tidak adanya sense of crisis. Dibandingkan memberikan kesan positif, pernyataan pejabat, sebut Niko, malah menimbulkan kebingungan publik. “Pernyataan pejabat seringkali tidak tepat. Orang melihat pelemahan rupiah terus berkelanjutan, sementara belum ada perubahan yang terjadi. Dibutuhkan dirigen untuk mengatasi masalah komunikasi seperti ini,” kata Nico.

Link berita:  KLIK DISINI 

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo diminta untuk menunjuk seseorang sebagai juru bicara yang khusus menangani masalah keuangan. Hal itu dianggap perlu untuk menghindari salah persepsi publik seperti saat terjadi pelemahan rupiah terhadap dollar AS. “Dari awal, sebenarnya sudah sering kali diperlukan juru bicara untuk meneruskan pesan dari pemerintah agar masing-masing pimpinan, pejabat keuangan, atau menteri tidak mengeluarkan pernyataan berbeda-beda,” ujar Direktur Populi Center Nico Harjanto, dalam diskusi Perspektif Indonesia di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2015). Nico mengatakan, pernyataan pejabat keuangan negara saat terjadi pelemahan rupiah menunjukkan tidak adanya sense of crisis. Dibandingkan memberikan kesan positif, pernyataan pejabat, sebut Niko, malah menimbulkan kebingungan publik. Ia menjelaskan, dalam konteks pelemahan rupiah saat ini, pejabat yang menerangkan bahwa situasi ini adalah hal yang wajar sebenarnya menimbulkan persepsi yang berbeda dari publik. Menurut Nico, publik sudah mengetahui bahwa pelemahan rupiah terjadi secara terus-menerus. Namun, tidak ada perubahan yang dilakukan oleh pemerintah. “Reshuffle pejabat mungkin belum, tapi staf yang mendukung komunikasi publik itu butuh segera. Kalau isu-isu keuangan tidak dikelola dengan baik, akibatnya kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin lemah. Isu tidak lagi soal defisit keuangan, tetapi defisit kepemimpinan,” kata Nico.

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Dolar Rp 13.000, Pengusaha Perikanan Raup Untung

Dana Aditiasari – detikfinance, Sabtu, 14/03/2015 10:44 WIB

Jakarta -Nilai rupiah masih terus melemah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Namun, kondisi ini membuat beberapa sektor ekonomi nasional meraup keuntungan, salah satunya di sektor perikanan. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Yugi Prayanto‎ mengatakan, sektor industri perikanan adalah salah satu yang paling diuntungkan dengan adanya kondisi terus melemahnya rupiah terhadap dolar. Pasalnya, sektor ini orientasinya ekspor. “Rupiah saat ini, sektor perikanan justru diuntungkan. Karena sektor perikanan kita sebagian besar orientasinya ekspor dan ini menguntungkan,” ujar Yugi di acara diskusi bertajuk Perspektif Indonesia, dengan topik Hanya Bisa Pasrah Dengan Tertekannya Rupiah? di Gado-gado Boplo Menteng, Jakarta, Sabtu (14/3/2015). Yugi mengungkapkan, kandungan lokal pada sektor perikanan bisa mencapai 100%. Artinya, komponen produksi pada industri ini dibiayai sebagian besarnya dalam mata uang rupiah, namun pendapatannya dalam bentuk dolar. Kondisi ini juga berlaku untuk sektor industri lain dengan kandungan lokal yang tinggi, seperti Industri tekstil, dan produk tekstil, serta industri lain dengan bahan baku yang bisa diperoleh dengan mudah di dalam negeri. “Kondisi sebaliknya justru merugikan untuk sektor usaha yang banyak impor, dan kegiatan industrinya memakai dolar,” sambung dia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin ditutup menguat di posisi Rp 13.190 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 13.185 per dolar AS.

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Rupiah Rontok, Jokowi Diminta Evaluasi Menteri Perekonomian

Sabtu, 14 Maret 2015 | 16:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Institute Development of Economics dan Finance (Indef) Enny Sri Hartati meminta pemerintah bergerak cepat dalam mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pemerintah, sebut dia, jangan sampai telat menyelesaikan pelemahan rupiah tersebut. “Presiden Jokowi harus mengevaluasi mana pembantunya yang tidak optimal, yang tidak produktif,” kata Enny dalam diskusi bertema “Hanya Bisa Pasrah dengan Tertekannya Rupiah?” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2015). Enny menuturkan, dibutuhkan pemimpin khusus di bidang ekonomi untuk menyelesaikan persoalan seperti pelemahan rupiah saat ini. Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. “Mesti ada action pemerintah (mengatasi pelemahan rupiah), bukan hanya usulan pertimbangan. Ini harus ada langkah konkret jangka pendek,” tuturnya. Seperti diberitakan, rupiah terus melemah terhadap dollar AS. Pada Jumat (13/3/2015) sore, di pasar spot, rupiah melemah ke posisi Rp 13.205 per dollar AS dibanding penutupan sebelumnya pada 13.183. (Muhammad Zulfikar).

Link berita:  KLIK DISINI 

 

Statement Asal Bikin Pelaku Usaha Bingung

Diterbitkan pada Sabtu, 14 Maret 2015 14:08, Redaksi Online / M. Julheri

JAKARTA – Pengusah meminta para pejabat Bank Indonesia (BI) untuk lebih cermat dalam mengeluarkan pernyataan terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Pasalnya, pernyataan yang terkesan asal-asalan justru membuat para pelaku usaha bingung.Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Yugi Prayanto dalam diskusi bertema ‘Hanya Bisa Pasrah Dengan Tertekannya Rupiah?’ di Jakarta, Sabtu (14/3). Ia mengingatkan para pejabat BI agar tidak asal dalam mengeluarkan pernyataan. “Pejabat BI jangan asal keluarkan statement, nanti pasar modal Indonesia akan bingung. Contohnya, pernyataan yang menyatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar Rp 13 ribu masih aman,” ujar Yugi dalam diskusi ‘Hanya Bisa Pasrah Dengan Tertekannya Rupiah?’ di Menteng, Jakarta, Sabtu (14/3). Yugi menambahkan, melemahnya rupiah  jelas  berdampak pada industri dan para pengusaha di Indonesia. Terlebih, bisnis yang mengandalkan impor pasti akan terkena dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah. “Tentu sangat berpengaruh, dan ini tidak aman untuk mereka. Makanya kita harus menghasilkan program yang tepat sasaran, agar dollar tidak terus menguat,” sarannya.(chi/jpnn)

Link berita:  KLIK DISINI 

No Comments

Leave a Reply