Inggris Memilih Mudik Dari Uni Eropa

Inggris Memilih Mudik Dari Uni Eropa

Ini Alasan Inggris Keluar dari Uni Eropa

Keuangan / Sabtu, 25 Juni 2016 14:06 WIB (MP/ana)

Merahputih Keuangan – Economist, Head of Research Samuel Asset Managemen‎t, Lana Soelistianingsihmegatakan Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa (UE) atau Brexit karena ekonomi mereka cenderung stabil.

“Alasan itu yang mendorong Inggris memutuskan untuk keluar dari UE. Selama ini Jerman lebih banyak membantu EU kalau kita lihat dari komposisi perdagangan. Banyak diuntungkan dari Uni Eropa, kontinental, interaktif dalam aspek melihat komposisinya, 63 persen, ekspor, dan impor inggris itu hanya 30 persen,” ujar Lana saat ditemui usia diskusi Perspektif Indonesia dengan topik “Inggris Memilih Mudik Dari Uni Eropa, di Kawasan Jakarta pusat, Sabtu (25/6).

Lana menambahkan tingkat pengangguran di Inggris hanya 10 persen saja. Sementara UE tingkat pegangguran 10 persen.

“ini berarti UE ini kan sedang struggle untuk keluar dari ekonomi yang melambat, dari tenaga kerja, berkat proses perlambatan di UE, mungkin menambah sentimen untuk keluar, dan dari sisi pertumbuhan ekonomi mereka dapat hanya dapat 2 persen,” jelasnya.

Menurut Lana, Inggris yang vote untuk exit, karena melihat ekonominya kuat dan mandiri. Oleh karena itu, Inggris keluar dari UE pasti akan mengalami perubahan treatmen.

“Dalam setiap poin perdagangan akan semakin rumit dan ini mungkin belum dipikirkan secara matang, di sebagian besar Uni Eropa. Namun implikasinya kalau Inggris keluar dari UE besar kemungkinan Inggris anti UE,” terangnya.

Dampaknya, sambungnya, akan berimbas para turis yang sebagian besar adalah warga dari Uni Eropa. Ditambah lagi para UKM yang selama ini menggantungkan nasib dengan kunjungan turis maka akan berkurang pemasukan bagi para warga Inggris.

“Pendapatan para UKM pun berkurang kalau Inggris keluar dari Uni Eropa. Implikasinya nanti bisa ada pemangkasan pegawai, mungkin mereka semua, Undang-Undang Imigrasi, bisa bekerja dimana saja, jadi di negara Uni Eropa,” pungkasnya. (Abi)

Link:  KLIK DISINI 

 

Inggris Keluar dari Uni Eropa, Dunia Perbankan akan Menahan Kredit

Keuangan / Sabtu, 25 Juni 2016 15:58 WIB (MP/ana)

Merahputih Keuangan – Economist, Head of Research Samuel Asset Managemen‎t, Lana Soelistianingsihmegatakan Isu keluarnya Inggris dari Uni Eropa membuat globalisasi terkonsolidasi, semacam apa yang memberikan kedua belah pihak.

“Terutama isu membuat tidak ada yang istilahnya terabaikan. Kebanyakan dari mereka yang memilih keluar adalah kelompok tua. Hal ini juga yang mendorong nasionalisme mereka tinggi dan tidak melihat manfaat globalisasi tersebut,” ujar Lana saat ditemui usia diskusi Perspektif Indonesia dengan topik “Inggris Memilih Mudik Dari Uni Eropa, di Kawasan Jakarta pusat, Sabtu (25/6).

Menurut Lana padahal kelompok muda yang membayar pajak. Tapi tidak bisa diabaikan bahwa kerjasama-kerjasama perdagangan regionalitas yang ada uni eropa itu tidak memberi dampak yang menyeluruh ya.

“Untuk itu kita mesti berhati dengan situasi Brexit, likuiditas global akan tertahan. Sebagian besar dunia perbankan akan menahan diri karena tidak ingin mengambil resiko,” jelasnya.

Menurut Lana, Forex Direcet Investment bisa akan mengalami penurunan untuk itu pemerintah harus memperkuat potensi ekonomi domestik.

“Forex direct investment, bisa jadi akan turun, potensi ekonomi domestik harus kita kuatkan,” tandasnya. (Abi)

Link:  KLIK DISINI 

 

Brexit, negosiasi kerja sama ekonomi Uni Eropa-RI berpotensi molor

Reporter : Moch Wahyudi | Sabtu, 25 Juni 2016 13:21

Merdeka.com – Fenomena Brexit atau hengkangnya Inggris dari Uni Eropa diyakini bakal berpengaruh terhadap hubungan kerja sama ekonomi kawasan tersebut dengan negara di kawasan lain. Termasuk di dalamnya rencana peningkatan kerja sama ekonomi secara komprehensif antara Uni-Eropa dengan Indonesia.

Sekretaris Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Chris Kanter menilai Brexit bergulir menjadi isu populer, khususnya, di Uni Eropa. Agar tak ketularan, negara-negara saat ini masih menjadi anggota Uni Eropa diduga bakal menahan diri membuat kebijakan yang berpotensi mengusik ketidakpuasan masyarakat.

“Ini berdampak pada perundingan multilateral dan negosiasi perdagangan bebas dengan indonesia. Masing-masing negara di Uni Eropa berubah attitude untuk menjaga kepentingan masyarakatnya,” kata Chris saat diskusi: Inggris Memilih Mudik dari Uni Eropa, Jakarta, Sabtu (25/6).

Atas dasar itu, menurutnya, penyelesaian negoisasi Comprehensive Economic Partnership (CEPA) antara Uni Eropa dan Indonesia berpotensi melewati target waktu yang telah ditentukan, 2019. Jika demikian, ini dinilai tak menguntungkan Indonesia.

“Untuk menggenjot perekonomian, Indonesia banyak mengandalkan foreign direct investment dan ekspor. Makanya pemerintah mendorong free trade agreement, bahkan hingga ke Amerika Latin,” katanya.

“CEPA merupakan rekomendasi para pengusaha, karena menyimpan potensi ekspor indonesia lebih besar ketimbang free trade agreement lain.”

Saat mengunjungi Eropa April Lalu, Presiden Joko Widodo berinisiati melanjutkan negosiasi CEPA yang sudah mandek hampir 3 tahun. Kerja sama itu memiliki substansi pembebasan perdagangan barang dan jasa, membuka investasi dan pasar di Indonesia.

Link:  KLIK DISINI 

 

Inggris Minta ‘Cerai’ dari Uni Eropa, RI pun Kena Getahnya

Dampak yang dirasa bukan hanya kerja sama perdagangan saja.

Sabtu, 25 Juni 2016 | 14:35 WIB, Oleh : Rochimawati, Fikri Halim

VIVA.co.id – Hasil referendum yang memutuskan keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau dikenal dengan Britania Exit (Brexit) akan berdampak secara tidak langsung kepada perekonomian Indonesia. Untuk itu, Indonesia harus terus menguatkan perekonomian domestik melalui pembenahan-pembenahan komoditas.

Ekonom Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, mengatakan bahwa pengaruh Brexit akan berdampak secara menyeluruh, mulai dari peredaran komoditas global, kredit perbankan, hingga iklim investasi di Indonesia.

“Tidak bisa diabaikan bahwa selain kerja sama perdagangan, Brexit juga akan memberikan dampak yang menyeluruh, seperti komoditas global yang akan tertahan, perbankan akan menahan untuk memberikan kredit, juga FDI (Foreign Direct Investment) ke Indonesia, sehingga kita harus kuatkan domestik,” kata Lana dalam sebuah diskusi bertajuk “Inggris memilih mudik dari Uni Eropa” di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2015.

Lana, yang juga merupakan ekonom Samuel Asset Management, mengatakan bahwa secara implikasi ekonomi diprediksi akan ada pemangkasan pegawai hingga penurunan saham-saham bank yang mayoritas bersumber dari Britania. “Saham-saham bank besar seperti HSBC itu akan langsung turun, seketika itu,” kata dia.

Menurut dia, pemangkasan pegawai akan terjadi di Inggris diantaranya untuk sektor pariwisata. Sebab, Turis yang berkunjung ke Inggris mayoritas berasal dari negara-negara anggota Uni Eropa.

“Implikasinya turis inggris itu sebagian besar adalah dari UE, kalau sudah anti UE, besar kemungkinan turisnya enggak datang lagi, akhirnya pegawai yang menghasilkan kerajinan untuk turis, itu akan terkena dampaknya,” tuturnya.

(ren)

Link:  KLIK DISINI 

 

Inggris Selama ini Dipandang ‘Setengah Hati’ di Uni Eropa

Sejak bergabung dengan Uni Eropa, Inggris tampak kurang berkomitmen.

Sabtu, 25 Juni 2016 | 16:00 WIB, Oleh : Rochimawati, Fikri Halim

VIVA.co.id –  Pemerhati Masalah Luar Negeri, Dewi Fortuna Anwar, mengemukakan bahwa fenomena keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau disebut Britain Exit (Brexit) adalah akibat dari sentimen politik populis yang terjadi di wilayah tersebut. Inggris menurutnya sudah sejak lama ingin keluar dari Uni Eropa.

Ia bertutur bahwa sebagian masyarakat Inggris sudah mengkampanyekan gerakan ini sejak dulu. Bahkan, kata dia, sejak akan bergabung dengan Uni Eropa, Inggris sudah setengah hati.

“Jadi ini sentimen politik populis, karena semakin tidak mampunya Inggris membuat kebijakan. Karena dari dulu sejak awal masuk ke Uni Eropa, Inggris itu setengah hati. Karena Inggris ekonominya kuat, mereka tidak mau diserahkan ke Uni Eropa, lalu ketika masuk ke Uni Eropa juga terjadi perdebatan,” kata Dewi dalam dalam diskusi bertajuk “Inggris memilih mudik dari Uni Eropa” di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 25 Juni 2015.

Dewi yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pemerintahan Sekretariat Wakil Presiden ini menuturkan bahwa sentimen politik ini diperkuat dengan adanya ketidakcocokan antara Inggris dengan Skotlandia dan Prancis yang sudah mengakar sejak dahulu. Walau bagian dari Inggris, mayoritas warga Skotlandia diketahui tetap ingin bersama Uni Eropa.

“Skotlandia itu dalam sejarahnya dulu kan selalu mau dikuasai Inggris, tapi memberontak dan Skotlandia itu selalu dibantu oleh Prancis pada waktu itu. Maka dari itu, pressure untuk mengeluarkan referendum untuk keluar semakin tinggi, jadi ini juga yang memperkuat sentimen tersebut,” tuturnya.

Menurutnya, keputusan Inggris untuk ‘bercerai’ dengan Uni Eropa itu akan memberikan dampak yang signifikan kepada perekonomian Uni Eropa dan Inggris sendiri. Terutama, terkait dengan hubungan Ekonomi dengan negara lain.

“Uni eropa sudah tanda tangan free Trade (Perdagangan bebas) ke sekitar 58 negara, jadi bagaimana benang itu ditarik, ada berapa ribu lembar legislasi yang harus dibaca,” tutur dia.

(ren)

Link:  KLIK DISINI 

 

Akibat Brexit, Pengusaha Kencangkan Ikat Pinggang

Sabtu, 25 Juni 2016 13:28 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) berdampak kepada berbagai negara di seluruh dunia.

Karena kerjasama bilateral dan ekonomi sudah terhubung cukup lama antara Inggris dengan negara lainnya.

Dewan Penasehat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Chris Kanter menilai pengusaha multinasional harus berhati-hati dalam melakukan ekspansi bisnis saat ini.

Bahkan menurut Chris akan banyak penundaan investasi akibat dari Brexit.

“Hampir semua perusahaan besar akan mengencangkan ikat pinggang,” ujar Chris di Jakarta, Sabtu (25/6/2016).

Menurut Chris dampak utama Brexit terhadap investasi dari asing (Penanaman Modal Asing).

Karena saat ini Indonesia butuh modal dari negara luar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 5,1 persen di akhir 2016.

“Pertumbuhan ekonomi dilandaskan beanyak pada FDI (Foreign Direct Investmen),” kata Chris.

Chris meminta pengusaha dan pemerintah berhati-hati dalam mengambil langkah dan regulasi akibat adanya Brexit.

Chris memberi contoh pada saat ini banyak saham perbankan anjlok sampai 20 persen.

“Memang harus berhati-hati, Brexit sendiri saham-saham perbankan turun 20an persen. Sejauh mana nih mereka ada yang colapse nggak,” kata Chris.

Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama

Editor: Johnson Simanjuntak

Link:  KLIK DISINI 

 

Inggris Tinggalkan Uni Eropa, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

By Erabaru – 25/06/2016

JAKARTA – Inggris telah menggelar referendum yang hasilnya menyatakan Inggris harus keluar dari perkumpulan masyarakat Uni Eropa.  Hasilnya, suara antara pro dan anti Brexit adalah 52 % berbanding 48 %, lalu bagaimana dampaknya bagi Indonesia?

Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Chris Kanter menilai dampak secara langsung dalam sesaat tak ada bagi Indonesia. Apalagi keadaan perekonomian Indonesia sudah terkena dampak atas perekonomian global sebelum brexit terjadi mulai komoditi dan pertumbuhan yang menurun serta nila tukar rupiah terhadap dolar AS Rp 13.000 bertahan selama setahun.

“Kalau dampak langsung sesaat itu tak ada,” katanya usai diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/6/2016).

Menurut salah satu pengusaha papan atas nasional ini, pemerintah sudah banyak melakukan banyak langkah untuk mengatasi dinamika ekonomi seperti proses pemberlakuan Tax Amnesty dan pembangunan infrsatruktur. Namun demikian, jika kembali ada gejolak baru dan berpengaruh secara global maka dikhawatirkan juga turut berdampak dengan Indonesia.

Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN)  di masa Presiden Yudhoyono ini menilai jika kemudian gejolak yang terjadi menyebabkan defisit neraca berjalan (current account deficit) hingga menyebabkan angka tiga maka pemerintah memangkas anggaran mencapai Rp 50 triliun seperti saat ini. Jika selanjutnya terjadi pemangkasan dalam jumlah besar, maka dinilai tak baik oleh karena itu pemerintah harus mewaspadai gejolak akibat Brexit.

Namun demikian, langkah yang perlu dilakukan melihat kembali perundingan-perundingan terhadap Uni Eropa. Tentunya pada masa mendatang, akan lebih sulit dalam tahapan-tahapan negosiasi. Pasalnya, negara-negara Eropa sekarang tentunya belajar dengan Inggris.  Jika kemudian negara-negara Uni Eropa tersebut membuat perjanjian dengan negara luar, tentunya negara-negara Eropa itu kembali melihat pada aspek di dalam negeri mereka masing-masing.

Faktor memproteksi diri lebih kuat ke dalam, ujar Kanter, ini juga dikarenakan negara-negara tersebut diantaranya akan memasuki proses politik di masing-masing negara.  Tentunya dinamika politik yang berkembang di negara-negara masing menjadi pertimbangan sendiri seperti apakah perjanjian tersebut berpengaruh ke negara mereka atau dipersoalkan rakyat mereka.

Bagi Kanter, banyak potensi yang bia dimanfaatkan oleh Indonesia atas pasar Inggris. Akan tetapi tentunya yang paling utama adalah pasar masyarakat uni eropa. Kanter berpendapat selama ini di Uni Eropa negara yang paling banyak berminat dalam FDI (Foreign Direct Investmen) adalah Inggris yang mana sebelumnya selalu didominasi oleh Jerman.

Namun demikian, setelah Inggris meninggalkan Uni Eropa para investor kini sedang mengencangkan ikat pinggang untuk melihat sekitar 2 atau 3 tahun dampak dari Brexit. Para investor ini khawatir akan terjadi gejolak krisis. Akan tetapi, Kanter optimis banyak potensi yang bisa dieksplorasi dengan Inggris untuk dijadikan patner oleh Indonesia.

“Dampaknya (Brexit)  tak besar,  masalahnya dalam perundingan-perundingan EU, pasti akan pelan,” ujar pemilik PT Unggul Cipta Trans, Komisaris Indosat, Presdir Sigma Sembada Group dan Vice President FIATA International. (asr)

Link:  KLIK DISINI 

 

Kadin: Brexit Pengaruhi Perjanjian Perdagangan Bebas

SABTU, 25 JUNI 2016 | 15:04 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chris Kanter mengatakan hasil referendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa tak berdampak langsung terhadap Indonesia. Namun hasil tersebut mengancam perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Eropa (UE).

Chris mengatakan Indonesia baru saja menginisiasi perjanjian Closer Economic Partnership Arrangement (CEPA) dengan Uni Eropa. “Dengan adanya Brexit, negosiasi pasti akan sulit,” kata Chris di Gado-gado Boplo, Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2016.

Menurut Chris, negara UE pasti akan berhati-hati setelah kejadian tersebut. Perjanjian yang awalnya ditargetkan rampung 1-2 tahun, Chris memprediksi, tak akan tercapai. “Mungkin 4-5 tahun baru bisa terlaksana,” kata dia.

Chris mengatakan CEPA sangat penting untuk meningkatkan ekspor Indonesia. Sebab, selama ini ekspor terhambat oleh banyaknya regulasi. Dengan CEPA, ekspor Indonesia diharapkan lebih mudah masuk.

Meski mengancam perjanjian perdagangan, Chris mengatakan Inggris bisa menjadi pasar tersendiri bagi Indonesia setelah keluar dari UE. Indonesia harus segera memanfaatkan momentum tersebut. “Inggris pasti haus mencari pasar baru,” kata Chris

Chris mengatakan pasar ekspor Inggris sebesar 65 persen berada di negara-negara Uni Eropa. Menurut dia, Inggris akan kehilangan pasar setelah keluar dari Uni Eropa. “Mereka pasti butuh outlet baru,” kata dia.

Link:  KLIK DISINI 

 

Kadin Cemas Brexit Pengaruhi Perjanjian Dagang UE-Indonesia

Keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa patut disayangkan.

Sabtu, 25 Juni 2016 | 13:02 WIB, Oleh : Lis Yuliawati, Fikri Halim

VIVA.co.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai hasil jajak pendapat atau referendum yang memutuskan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) akan berpengaruh kepada perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa (UE) dan Indonesia.

Dewan Penasehat Kadin, Chris Kanter, mengatakan Perjanjian European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (EU-CEPA), yang ditargetkan pemerintah terjadi dalam waktu dekat dikhawatirkan mundur hingga empat sampai lima tahun, sehingga akan terjadi ketidakpastian.

“Kalau dampak langsung memang kecil, tapi ini akan berkelanjutan misalnya jadi enggak CEPA dengan EU (Eruropean Union),” kata Chris dalam diskusi bertajuk “Inggris Memilih Mudik dari Uni Eropa”, di Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2015.

Ia mengatakan, pengusaha seperti dirinya sangat berharap perjanjian perdagangan bebas dapat segera terwujud. Sebab, pengusaha sangat haus dengan pasar-pasar baru.

“Kalau pengusaha memang, 4 tahun, 5 tahun kan lama. Kami kanjuga banyak proyek infrastruktur besar, akhirnya FDI (Foreign Direct Investment) juga tertahan, ini kan sebenarnya jualannya pemerintah Jokowi (Joko Widodo),” kata dia.

Ia  menyayangkan keputusan Inggris keluar dari UE. Menurutnya, Inggris masih membutuhkan pasar yang bersifat free flow (arus bebas) dengan negara-negara anggota Uni Eropa. “Inggris ini akan kehilangan pasar EU, yang free flow,” lanjut Chris.

(ren)

Link:  KLIK DISINI 

 

Indonesia Patut Waspadai Ancaman Krisis dari Hengkangnya Inggris

Suci Sedya Utami    •    25 Juni 2016 13:07 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang diputuskan dalam referendum Britania Exit atau Brexit tidak akan berdampak langsung bagi ekonomi Indonesia. Namun demikian, Indonesia perlu berhati-hati karena hasil referendum tersebut bisa menimbulkan krisis.

Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia Chris Kanter dalam sebuah diskusi bertema ‘Inggris Memilih Mudik dari Uni Eropa’, mengatakan, risiko keluarnya Inggris dari Uni Eropa itu bisa terlihat dari pergerakan indeks di negeri Ratu Elizabeth II yang mengalami kontraksi.

Selain itu, sektor perbankan di Inggris ikut terkena imbas. Setidaknya ada tiga bank Inggris yang sahamnya jatuh hampir 20 persen. Menurut Chris, tanda-tanda ini menunjukkan seperti peristiwa krisis di Amerika Serikat pada 2008 lalu, hingga firma jasa keuangan asal negeri Paman Sam yakni Lehman Brothers tutup.

“Artinya moneter di dunia bisa berdampak. Kalau berdampak ya imbasnya ke sini juga. Ini harus diwaspadai. Tapi kalau dampak langsung enggak saya kira,” terang Chris, di daerah Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/6/2016).

Sementara itu, dilihat dari sisi perdagangan di mana pemerintah tengah mengkaji perjanjian kemitraan ekonomi komperhensif atau CEPA Indonesia dengan Uni Eropa, sepertinya akan lebih sulit mencapai negosiasi dan memerlukan waktu yang lebih lama.

Dengan melihat pengalaman Inggris, lanjutnya, tentu ada pikiran menimbang ulang kesepakatan tersebut apakah nantinya akan menguntungkan atau malah merugikan. Namun, untuk berdagangan bilateral, Chris menilai ini merupakan momentum, karena Inggris saat ini sedang haus mencari pasar baru.

Dengan keluar dari Uni Eropa, tambanya, pasar mereka berkurang karena selama ini 63 persen ekspor Inggris adalah ke Uni Eropa. Sehingga pada keadaan ini mereka harus mencari outlet baru.

“Ini kesempatan pemerintah segera ambil momentum lakukan bilateral dengan Inggris. Tapi dengan adanya Brexit, enggak gampang untuk negosiasi CEPA,” pungkas dia. (ABD)

Link:  KLIK DISINI 

 

Apindo: Pemerintah Harus Manfaatkan Brexit Inggris dari Uni Eropa

redaksi2 on Sabtu, 25 Jun 2016 – 14:12

Konfrontasi – Langkah Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit), membawa perhatian seluruh negara. Karena secara ekonomi dan politik akan terjadi perubahan terhadap negara-negara di Eropa.

Sekretaris Dewan Pertimbangan Apindo, Chris Kanter menilai saat ini waktu yang tepat untuk pemerintah melakukan kerjasama dengan Inggris. Karena negara yang memiliki ‘Jam Big Ben’ itu juga sedang mencari rekan bekerjasama pasca keluar dari Uni Eropa.

“Sekarang waktu yang tepat pemerintah segera mengambil momentum lakukan hubungan bilateral dengan Inggris,” ujar Chris di Jakarta, Sabtu (25/6/2016).

Chris memaparkan, saat ini pemerintah Inggris sedang menyusun strategi baru menghadapi persaingan dunia global. Karena sebagai negara yang keluar dari Uni Eropa, Inggris harus berjuang sendiri membangun pertumbuhan ekonomi.

“Karena sekarang mereka (Inggris) haus mencari pasar baru, karena pasar mereka berkurang dengan keluarnya dari EU,” kata Chris.

Chris menambahkan, dari sisi perdagangan Inggris akan kesulitan berjualan ke negara-negara yang tergabung di Uni Eropa.

Walaupun volume ekspor Inggris di pasar Eropa mencapai 63 persen, namun adanya Brexit, membuat Inggris terkena bea masuk jika ingin mengirim barang ke negara-negara tetangganya.

“Pangsa pasar Inggris ke Eropa 63 persen ekspor ke EU, dari total ekspor maka Inggris harus cari free trade karena akan kena pajak bea masuk,” kata Chris. (trbn/mg)

Link:  KLIK DISINI 

 

Inggris Hengkang dari UE, Perbankan Perketat Kredit

Sabtu, 25 Juni 2016 19:43 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  – Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) (Brexit), membuat gempar negara-negara di belahan dunia. Salah satu yang dikhawatirkan adalah gejolak ekonomi global bisa kembali muncul.

Economist, Head of Research Samuel Asset Managemen‎t Lana Soelistianingsih menilai semua perbankan akan memperketat penyaluran kredit, pasca Inggris hengkang dari UE.

Menurut Lana, keputusan perbankan untuk menyelamatkan aset yang bisa bergejolak terhadap perubahan ekonomi global.

“Sebagian besar dunia perbankan akan menahan diri karena tidak ingin mengambil risiko,” ujar Lana di Jakarta, Sabtu (25/6/2016).

Lana pun mengimbau kepada perbankan di dalam negeri untuk tidak sembarang memberikan pinjaman.

Efek dari Brexit, kata Lana berdampak terhadap investasi terutama dari asing sehingga perputaran uang bisa berhenti.

“Untuk itu kita mesti berhati dengan situasi Brexit, likuiditas global akan tertahan,” kata Lana.

Lana menambahkan warga senior Inggris memilih keluar dari UE, tanpa melihat efek lain dari Brexit.

Dalam hal ini para penggerak ekonomi dari kalangan produktif warga Inggris bisa memberikan pengaruh besar terhadap ekonomi global.

“Hal ini juga yang mendorong nasionalisme mereka tinggi dan tidak melihat manfaat globalisasi tersebut,” papar Lana.

Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama

Editor: Sanusi

Link:  KLIK DISINI 

 

Tak Ada Dampak Langsung Brexit, Ekonom: Tetap Hati-hati

SABTU, 25 JUNI 2016 | 15:13 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Ekonom dari Samuel Asset Management, Lana Soelistianingsih, mengatakan dampak referendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) tak terasa langsung di Indonesia. Namun Indonesia tetap perlu berhati-hati.

Lana memprediksi Brexit akan membuat kondisi perekonomian di Uni Eropa bergerak fluktuatif hingga dua tahun ke depan. Salah satunya dampak di sektor investasi.

“Perbankan akan cenderung menahan diri untuk memberikan kredit,” kata Lana dalam sebuah diskusi di Gado-gado Boplo, Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2016. Mereka akan berkonsolidasi dengan likuiditas dan risiko yang ada.

Dengan kondisi tersebut, proyek-proyek Indonesia yang membutuhkan dana luar negeri juga mungkin tertahan. “Foreign direct investment juga mungkin akan turun sehingga perlu menguatkan potensi domestik,” kata dia.

Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa melalui referendum. Warga memilih antara Brexit (Britain Exit) dan Bremain (Britain Remain). Voting digelar pada Jumat, 24 Juni 2016, dan hasilnya diumumkan hari itu juga dengan kemenangan berada di kubu Brexit.

Lana mengatakan salah satu dampak keluarnya Inggris adalah pemangkasan tenaga kerja di Inggris. Perusahaan multinasional yang berbasis di sana harus membuka cabang lain di luar Inggris untuk melayani pelanggan di Uni Eropa.

VINDRY FLORENTIN

Link:  KLIK DISINI 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.